
Bisma memasak mie instan karna Clara memang sudah tidak pernah memasak lagi dirumah.
"Kata Ibu tadi kamu pergi sama cowok?" Tanya Bisma dingin.
Clara yang berada di dapur untuk mengambil minum pun menjawab dengan santai. "Hanya teman kerja, Ibu mu saja yang terlalu berlebihan dan curigaan."
Bisma tersenyum sinis. "Lain kali jika mau selingkuh, harus pintar. Jangan sampai ketauan keluarga." Kata Bisma yang membuat Clara mengernyitkan dahinya.
"Apa kamu juga seperti itu?" Tanya Clara, "Selingkuh tapi bisa menutupinya." Sindir Clara.
Bisma mengerdikan bahunya, "Aku tidak pernah dekat dengan wanita." Ucapnya percaya diri. "Aku hanya memberitahumu, aku tidak keberatan kamu dekat dengan siapapun, termasuk berselingkuh dariku, hanya saja jangan sampai keluargaku mengetahuinya." Katanya lagi.
Clara menghela nafas. "Kamu sehat, Mas? Dimana ada seorang suami mengijinkan istrinya berselingkuh." Clara menatap tajam Bisma. "Aku tidak tau rumah tangga apa yang sedang kita jalani ini, kamu seperti memainkan sebuah peran dalam dramamu sendiri, Mas."
Bisma hanya diam seperti biasanya, dan slalu enggan menanggapi unek unek Clara.
"Mengapa kita tidak bercerai saja, Mas?" Tanya Clara dingin.
Bisma balik menatap tajam Clara. "Tidak akan ada perceraian." Jawabnya dingin.
Clara memutar malas bola matanya. "Lihat saja nanti."
"Bercerai dariku lalu menikah dengan pria itu?" Tanya Bisma menyelidik.
"Dia teman kerjaku, bukan selingkuhanku. Aku ingin bercerai darimu karna sudah muak dengan dramamu dan ingin mencari kebahagiaanku sendiri." Tekan Clara lalu meninggalkan Bisma yang masih duduk di kursi meja makan.
Sementara di rumah keluarga Dewantara,
Aldrich pulang dengan tak bersemangat, ia merasa tidak lagi memiliki tujuan.
"Al.." Panggil Fariz saat baru keluar dari ruang kerjanya dan melihat putranya berjalan tanpa semangat.
"Night, Pap." Kata Aldrich sambil terus berjalan melewati Fariz.
"Aldrich." Panggil Fariz lagi.
"Al capek Pap, biarkan Al istirahat dulu." Aldrich menutup pintu kamarnya.
Fariz menyusul Aldrich karna merasa khawatir dengan putra satu satunya itu.
Fariz membuka pintu kamar Aldrich dan terlihat Aldrich yang tengah duduk disofa sambil menopang kepalanya dengan kedua tangannya.
"Al.." Fariz duduk di sebrang sofa. "Ada apa, Al?" Tanya Fariz.
Aldrich menyandarkan punggungnya di sofa, kepalanya menonggak keatas dan satu lengannya menutup matanya. "Al lelah, Pap."
"Son, are you okay?" Tanya Fariz yang melihat Aldrich tampak tidak baik baik saja.
__ADS_1
"Dia sudah menikah, Pap." Lirih Aldrich yang belum merubah posisinya. Fariz masih setia mendengarkannya karna kali ini, Aldrich memang tengah membutuhkan teman bicara.
"Al mengejarnya, tiga bulan Al dekat dengannya tapi Al baru mengetahui tadi jika dia sudah menikah, Pap." Kata Aldrich lagi.
Fariz mengerti apa yang tengah dirasakan oleh putranya itu. Baginya ini seperti dejavu saat di masa lalu dirinya mendengarkan Tristan sahabat baiknya curhat soal Ghea yang sudah menikah saat ingin mengejarnya kembali.
Fariz berpindah dan duduk disebelah Aldrich. "Al, percayakah kau dengan takdir?" Tanya Fariz yang sambil menatap kedepan.
Perlahan Aldrich menurunkan lengannya dari wajahnya dan melihat kearah sang Ayah.
"Kamu tau Om Tristan?" Tanya Fariz yang diangguki oleh Aldrich.
"Papap pernah mendengar curhatan Om Tristan, dimana hatinya hancur saat ingin kembali mengejar kekasihnya yang ternyata sudah menikah dengan pria lain." Kata Fariz tanpa menceritakan siapa wanita itu.
"Al, terkadang untuk menjadi dewasa, kita harus bisa menerima takdir yang sudah tuhan gariskan untuk kita. Tidak semua yang kita inginkan atau yang kita butuhkan akan bisa kita dapatkan. Seperti apa yang Papap ajarkan padamu sewaktu kecil, saat kau ingin duduk didekat jendela bus pariwisata saat sekolahmu sedang jalan jalan, namun temanmu tidak ingin berbagi tempat bersamamu." Kata Fariz dengan bijak.
Aldrich hanya diam.
"Al menyukai karakter dia, Pap. Dia berbeda. Al merasa ingin menjadi pria yang slalu berada didekatnya." Kata Aldrich.
"Karna itu kamu nekat menjadi supir di butik Erlasha? Hanya demi dekat dengannya?" Tanya Fariz.
Fariz memang mengetahui misi Aldrich, ia bahkan membiarkan Aldrich melakukan hal yang dipikirnya konyol, Fariz hanya melihat dari sisi lainnya, dimana sang anak akan lebih menghargai sebuah profesi lain, yaitu seorang supir.
Aldrich mengangguk.
"Ikhlaskan dia, Son. Papap yakin akan ada jalan lain untukmu." Kata Fariz.
Fariz berdiri setelah menepuk pundak Aldrich.
"Al mencintainya, Pap." Ucap Aldrich pada akhirnya.
"Al, kamu mau jadi pebinor? Kamu tidak boleh mencintai istri orang." Kata Fariz.
"Al mencintai Clara, bukan mencintai istri orang." Kata Aldrich lagi.
Fariz mengusap wajahnya kasar. "Jika dia jodohmu, tidak akan kemana, Al. Tapi Papap pinta sama kamu, jangan menjadi perusak rumah tangga orang."
Fariz segera meninggalkan kamar Aldrich. "Mengapa menasehati putraku sendiri lebih sulit dari pada menasehati Tristan dulu." Batin Fariz saat didepan pintu kamar Aldrich.
Ditempat lain, Chelsea tengah memikirkan nasib rumah tangga temannya, meski hanya dekat sewaktu di organisai, namun Clara memang salah satu teman yang baik untuk Chelsea.
"Hai.. Mikirin apa?" Tanya Zayn dengan nada lembut.
Chelsea mengusap kepala Zayn yang kini tidur diatas pangkuannya. "Kak, boleh aku menceritakan soal rumah tangga temanku padamu, ada sesuatu yang aku sendiri bingung." Kata Chelsea hati hati.
Zayn beralih duduk menghadap Chelsea. "Masalah pentingkah?"
__ADS_1
"Aku kasian sama dia, Kak. Tapi aku sendiri juga bingung memberikan solusi untuknya." Jawab Chelesa.
Zayn diam tampak berfikir. "Coba ceritakan, mungkin aku bisa membantumu memberi solusi untuk temanmu."
"Dia Clara, temanku saat di organisasi kampus. Dia sudah menikah, waktu itu kita datang ke pernikahannya, Kakak ingat?"
Zayn mengangguk.
"Sudah kebih dari satu tahun dia menikah Kak, tapu Clara bilang, tidak pernah di..." Chelsea seakan ragu mengatakannya.
"Kenapa, sayang?" Tanya Zayn.
Chelsea menatap mata Zayn, "Clara bilang dari awal menikah suaminya tidak pernah menyentuhnya, Kak." Kata Chelsea pelan.
Zayn menaikan satu halisnya, dan Chelsea mengangguk anggukan kepalanya.
"Mana mungkin, Sea." Kata Zayn.
"Tapi itu kenyataannya Kak. Dan setelah satu tahun menikah, Suaminya tidak pernah memberi nafkah lahir juga, bahkan untuk membayar kontrakan slama satu tahun kedepan itu Clara meminjamnya dari tempatnya bekerja." Kata Chelsea.
Zayn mendengarkan cerita Chelsea dengan baik.
"Menurut Kakak itu bagaimana?" Tanya Chelsea.
"Suami yang tidak memberikan nafkah lahir dan batin itu berdosa sekali, Sea. Dan itu jatuhnya sudah dzalim pada batin istri. Bahkan sudah jatuh talak satu, dan Istri bisa menggugatnya jika si suami tidak mau berubah." Kata Zayn.
"Clara juga berfikir seperti itu, Kak. Clara akan mengajukan gugatan cerai namun masih memantapkan hatinya." Ucap Chelsea.
"Kalau begitu, suruh temanmu itu istikharah, minta yang terbaik sama Allah. Insya Allah akan ditunjukan segera jalannya." Kata Zayn.
Chelsea mengangguk anggukan kepalanya, dan Zayn menatap wajah cantik Chelsea.
"Kamu cantik sekali, Sayang." Ucap Zayn sambil mengusap pipi Chelsea. "Sudah selesai?" Tanya Zayn, mengingat satu minggu kemarin Chelsea sedang datang bulan.
"Sudah selesai dari empat hari yang lalu, Kak. Periodeku dua bulan ini tidak teratur, dan bulan ini hanya flek saja." Jawab Chelsea.
Zayn menarik Chelsea untuk duduk dipangkuannya dan menghadapnya, Chelsea mengalungkan kedua tangannya keleher Zayn. "Jangan telalu lelah, Sayang." Zayn mengecup sekilas bibir Chelsea.
"Aku tidak lelah, Kak. Aku hanya mengajar seminggu tiga kali dan itupun tidak sampai seharian." Kata Chelsea.
Chelsea memang bekerja menjadi guru matematika di sekolah swasta ternama, Zayn mengijinkannya agar Chelsea mempunyai kegiatan slama itu tidak membuat Chelsea kelelahan.
"Jika sekarang aku meminta hak ku, apa kamu lelah?" Tanya Zayn.
Chelsea tersenyum, mengecup kedua pipi Zayn bergantian. "Dengan senang hati, suamiku."
***
__ADS_1
"Ada yang masih inget atau kangen dengan cerita persahabatan Fariz dan Tristan? Mampir ya dikarya othor yg lain, yang berjudul TAKDIR CINTA (Ghea&Tristan).