
Pada akhirnya Amel menolak dengan halus tawaran yang diberikan keluarga Davan. Amel hanya menginap satu malam saja dan tidur bersama Jihan meski dirumah itu terdapat banyak kamar.
"Jadi kau bersama Gibran?" Tanya Amel tak percaya, "Dia kan musuh bebuyutanmu." Kata Amel lagi.
Tiba tiba saja wajah Jihan terlihat sedih. Ia mengingat hubungannya dengan Gibran yang harus segera di akhiri karna merasa tak pantas bersanding dengan Gibran.
"Kau kenapa, Ji?" Tanya Amel yang melihat raut wajah Jihan berubah menjadi kesedihan.
"Ji..." Panggil Amel lagi karna Jihan tak kunjung memberinya jawaban.
Jihan terkesiap, "Ah iya, Mel. Maaf. Aku hanya lelah bekerja." Kata Jihan sambil tersenyum.
"Istirahatlah, Ji." Kata Amel.
Jihan mengangguk, "Kau juga, Mel. Istirahatlah. Pasti lelah duduk di kereta selama delapan jam." Kata Jihan.
Karna lelah, tak membutuhkan waktu lama untuk Amel memejamkan kedua matanya, terlebih kini Amel tidur diranjang empuk dengan pendingin ruangan dan selimut tebal milik Jihan.
Sementara Jihan berkali ia menghela nafas yang terasa berat. Memikirkan soal Gibran, entah alasan apa yang dibuat oleh Jihan untuk memutuskan hubungannya dengan Gibran.
"Gab, maafkan aku." Batin Jihan lalu tertidur.
**
"Eummm." Davan mengerang untuk kedua kalinya.
"Sudah, Mas. Aku lelah." Kata Billa pada suaminya itu.
Davan tersenyum, "Abisnya kamu enak banget." Kata Davan yang belum mau melepaskan diri dari Billa.
"Ishh, inget umur, Mas." Kata Billa tertawa.
"Aku masih kuat, sayang. Bercinta membuatku awet muda." Kata Davan.
"Teori dari mana itu? Malu sama anak udah pada Dewasa. Malah Jihan sudah punya kekasih, dan Jidan udah bawa perempuan kerumah." Kata Billa.
Davan berguling kesebelah Billa, lalu menarik Billa kedalam pelukannya dan Billa menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka.
"Davan menyukai Amel. Right?" Tanya Davan dan Billa mengangguk.
"Kau mengijinkan putra kita untuk menikah dengan orang biasa?" Tanya Billa.
"Orang biasa apanya? setiap orang itu diciptakan luar Biasa, Dear. Yang membedakannya hanya iman dan takwanya saja." Jawab Davan.
"Jika memang Amel tujuan Jidan, aku malah akan menyegerakannya meski umur Jidan baru berusia 23 tahun." Kata Davan lagi.
"Jidan tidak akan mau menikah jika tidak Jihan duluan yang menikah. Jidan ingin menjaga Jihan sampai Jihan berada ditangan pria yang tepat." Ucap Billa.
"Tapi aku berat melepas putriku satu satunya, Dear." Davan mengeratkan pelukannya.
__ADS_1
"Kamu bukan berat melepas Jihan menikah, tapi kamu berat karna calon suami Jihan bukan orang yang kamu harapkan, Alaska." Kata Billa dan Davan tidak bisa mengelak itu.
"Aku menyayangi Alaska, Dear." Kata Davan.
"Tapi Jihan adalah putrimu, dan Gibran bukan pria jahat, Mas." Ucap Billa membela.
Davan mengangguk, "Iya sayang, Maaf. Aku akan berusaha menerima hubungan Jihan dengan Gibran."
Billa beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan sisa percintaannya. Kemudian ia turun kedapur untuk mengambil minum.
Dilihatnya sang putra sulung yang sedang duduk di kursi meja bar seorang diri.
"Kau belum tidur, Jid?" Tanya Billa lalu mengambil botol air mineral didalam kulkas dan duduk didepan Jidan.
"Belum, Bu. Belum mengantuk." Jawab Jidan pada sang ibu.
"Belum mengantuk, atau memikirkan seorang wanita yang sedang tidur bersama Jihan?" Tanya Billa menggoda.
"Ibu..." Jidan merasa tengah terciduk.
Billa tertawa, "Kau putra Ibu. Ibu tau arti tatapan mu pada Amel." Ucap Billa.
"Apa kau menyukainya sejak dulu, Jid?" Tanya Billa.
Jidan tersenyum samar, "Aku menyukainya karna diantara banyak teman, hanya Amel yang baik pada Jihan. Saat itu kami sama sama berjualan asongan souvenir, tapi Amel memberitahu Jihan lokasi penjualan yang ramai hingga kami bertemu dengan Ayah."
Billa mengusap punggung tangan Jidan. "Kau menyukainya sejak saat itu?"
"Kejarlah hatinya." Kata Billa menyemangati.
"Ibu merestui? Bagaimana dengan Ayah?" tanya Jidan ragu.
"Ayah akan bahagia jika melihat putra dan putrinya, menikah dengan orang yang dicintainya." Jawab Billa.
Jidan tersenyum. "Jid menyukainya Bu. Doakan Jid untuk mengejar hatinya."
Billa mengangguk, "Jika Amel wanita yang tepat untukmu, maka kamu akan berjodoh dengannya. Tapi jika Amel bukan untukmu, semoga Allah memberikan jodoh yang terbaik untukmu dan juga untuk Amel."
**
Sebulan berlalu, Jihan tampak terlihat gelisah dengan wajah sedikit pucat.
Alaska dan Beni memperhatikan hal itu.
"Ji, kau sakit?" Tanya Beni pelan.
Jihan menggelengkan kepalanya lalu menatap Alaska.
"Ada apa, Ji?" Tanya Alaska.
__ADS_1
"Bang Ben, bisa tinggalkan kami berdua?" Tanya Jihan pada Beni.
Beni melihat kearah Alaska dan Alaska menganggukan kepalanya. Dengan segera Beni berdiri dan keluar dari ruangan Alaska.
"Ada apa, Ji?" Tanya Alaska mulai serius.
Jihan ragu ingin berkata, namun ia harus tetap mengatakannya.
"Aku belum mendapatkan masa periodeku." Jawab Jihan.
Alaska menghela nafas, ia sudah mempersiapkan diri jika hal ini sampai terjadi, ia tau jika dirinya tidak mengenakan pengaman pada malam itu.
"Aku akan menikahimu." Kata Alaska dengan menatap lembut mata Jihan.
"Bagaimana dengan Gibran? Aku tidak tega menyakitinya." Kata Jihan.
Ada perasaan nyeri dihati Alaska saat Jihan memikirkan perasaan Gibran.
"Bukankah kalian sudah hampir dua bulan tidak bertemu?" Tanya Alaska.
Jihan mengangguk, memang dirinya sudah hampir dua bulan tidak bertemu dengan Gibran, namun masih saling bertukar pesan.
"Bilang saja kalau kau jenuh." Ucap Alaska dengan entengnya.
"Aku tidak bisa sejahat itu pada Gibran. Dia pria yang baik." Bela Jihan.
"Bersiaplah, aku akan membawamu kedokter. Kita periksakan langsung." Ucap Alaska mengalihkan pembicaraan.
Kini mereka berdua berada dirumah sakit dipinggiran kota. Mereka sengaja mencari rumah sakit yang jauh agar tidak terlacak oleh kedua keluarga dan hal itu menjadi kesepakatan mereka.
"Tujuh minggu." Kata dokter saat memeriksa kehamilan Jihan.
"Tunggal atau kembar, dok? Istri saya mempunyai saudara kembar." Kata Alaska antusias.
"Tunggal, hanya ada satu janin." Jawab sang dokter.
Alaska tersenyum. Sementara Jihan ia masih merasa aneh dengan hal ini.
"Dijaga baik baik ya istrinya karna usia kandungannya masih sangat rentan. Hindari hal hal yang membuat lelah." Kata dokter sambil meresepkan berbagai vitamin untuk Jihan.
Alaska dan Jihan keluar dari ruangan dokter, "Tidak usah ditebus vitaminnya." Kata Jihan.
Alaska menoleh kearah Jihan. "Tapi anak kita butuh...."
"Tidak perlu, Kak. Apa yang harus ku jawab jika ada yang menanyakan obat apa yang aku minum?"
Alaska langsung terdiam, ia segera menyelesaikan administrsi dan kembali ke perusahaan.
"Selesaikan segera hubunganmu dengan Gibran, setelah itu aku akan bicara pada Jidan lalu kedua orang tua kita." Kata Alaska.
__ADS_1
Jihan hanya diam, ia masih bingung mengatakannya pada Gibran. Gibran terlalu baik untuk disakiti dan Jihan tidak tega akan hal itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...