
Chelsea tengah mengantar Tristan keperusahaan DW Group, namun ditengah jalan Chelsea ditelpon oleh Clara yang memintanya untuk bertemu.
Setelah tiba di DW group, Tristan langsung menuju ruangan Fariz, sementara Chelsea memutuskan untuk meminta Aldrich mengantarnya ke kafe, namun Aldrich terus menolak dengan alasan pekerjaannya yang sedang banyak.
Chelsea memasang wajah sedihnya, "Kamu berubah, sudah tidak menyayangiku. Aku akan mengadukanmu pada Davan jika nanti dia pulang." Kata Chelsea.
"Aku banyak pekerjaan, Chel." Jawab aldrich.
"Enam bulan ini kamu slalu gila kerja, Al. Tubuh dan pikiranmu juga butuh istirahat." Ucap Chelsea
Aldrich menghela nafas, "Baiklah Nyonya Zayn, pengawalmu akan setia mengantarmu." Kata Aldrich pada akhirnya dan membuat Chelsea tersenyum.
Diperjalanan, Chelsea memlngajak Aldrich berbicara.
"Mau sampai kapan, Al? Mau sampai kapan kamu terus menyibukan dirimu?" Tanya Chelsea
"Sampai aku melupakan dia, Chel." Jawab Aldrich dengan tatapan fokus kedepan.
"Al, semakin kamu melupakannya, semakin kamu tidak bisa menghapusnya dari ingatanmu." Kata Chelsea.
"Dia terlalu indah untuk aku lupakan, Chel. Belum pernah aku bertemu wanita sebaik itu."
"Namti juga ada, Al. Kamu harus semangat ya." Chelsea menyemangati Aldrich.
"Bye Aldrich, makasih udah anterin aku." Kata Chelsea setelah tiba di kafe dan turun dari mobil Aldrich.
"Pulang minta jemput Kak Zayn aja ya. Jangan pulang sendiri." Kata Aldrich.
"Siapp Bos." Jawab Chelsea yang langsung masuk kedalam kafe.
Aldrich tersenyum, memang sedari dulu, ia tidak pernah bisa menolak permintaan Chelsea. Meski Chelsea tlah menikah, namun mereka tetap bersahabat baik.
"Clara...." Gumam Aldrich saat matanya tak sengaja melihat seorang wanita yang sedang ingin ia lupakan sekaligus yang sedang ia rindukan turun dari ojek online.
Aldrich mematung menatap wajah Clara yang semakin cantik karna pancaran dari hatinya.
"Apa kabar kamu, Ra? Ku harap kamu slalu baik baik saja." Lirih Aldrich kemudian melajukan mobilnya menuju kantornya kembali.
"Chel, sudah menunggu lama?" Tanya Clara yang kini juga duduk bersebrangan dengan Chelsea.
"Belum lima menit, Ra." Jawab Chelsea. "Pesen minum dulu, Ra." Kata Chelsea lagi.
Chelsea memesan jus tanpa gula sedangkan Clara memesan ice coffelatte.
"Kamu masih menjalankan pola hidup sehat, Chel." Kata Clara.
__ADS_1
Chelsea mengangguk, "Iya, tubuhku malah sudah lama tidak bisa menerima fast food, Ra."
"Jadi, bagaimana Ra?" Tanya Chelsea.
"Aku memutuskan bercerai dengan suamiku, Chel. Aku sudah lama shalat istikharah dan mendapatkan petunjuk. Semoga ini yang terbaik." Kata Clara.
Chelsea menggenggam tangan Clara, "Kamu pasti bisa lewati semua ini, Ra."
"Trimakasih, Chel." Balas Clara. "Tapi aku bingung." Kata Clara lagi.
"Bingung kenapa?" Tanya Chelsea.
"Aku tidak tau syarat apa saja untuk mengajukan gugatan cerai." Jawab Clara.
"Kamu tidak pakai jasa pengacara?" Tanya Chelsea.
Clara menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tau berapa harus membayar jasa pengacara, aku tidak percaya diri, Chel. Aku tidak punya tabungan yang cukup." Jawab Clara.
"Ya ampun, Ra.. Kalo masalahnya hanya pengacara, kamu bisa minta tolong Papiku, dia seorang pengacara dan sudah biasa menangani kasus cerai." kata Chelsea.
"Aku malu, Ra. Aku malu menceritakan masalahku pada orang lain. Menggugat cerai karna tidak pernah diberi nafkah lahir maupun batin." Ucap Clara.
"Ra, Papi pasti akan menutupi privasimu, percaya deh sama aku." Chelsea meyakini Clara.
"Tapi aku tidak enak, karna tidak bisa membayar jasa Papi mu, Chel. Papi mu pasti seorang pengacara yang hebat, jam terbangnya sudah tinggi." Kata Clara masih ragu.
Clara menatap wajah Chelsea. "Terimakasih, Chel. Entah dengan apa aku harus membalasnya."
Sementara di kantor. Aldrich terus terbayang wajah Clara, "Dia masih cantik seperti dulu." Gumam Aldrich.
"Beruntung sekali suaminya." Gumam Aldrich lagi. "Harusnya tadi aku ikut masuk sama Chelsea kedalam Kafe, mungkin aku bisa melihat Clara lebih dekat lagi, atau bahkan kami akan berpapasan dengan tidak sengaja." Aldrich terus bermonolog.
***
Hari demi hari terlewati, Clara mendapat ijin kembali untuk bekerja setengah hari, Ragil mengijinkannya karna tau masalah Clara soal perceraiannya.
Chelsea menceritakan detail masalah Clara pada Tristan. Tristan berjanji akan membantu Clara untuk menyelesaikan gugatannya. Bahkan Tristan membantu Clara dengan cuma cuma karna permintaan Chelsea.
"Terimakasih, Om." Kata Clara menjabat tangan Tristan.
"Sama sama, Clara. Om harap setelah masalah ini selesai, kamu dapat melanjutkan hidupmu." Kata Tristan yang diangguki oleh Clara.
"Ra, ayo aku antar sekalian aku mau pulang." Kata Chelsea saat keluar dari kantor pengacara milik Tristan.
"Aku naik ojek online aja, Chel." Jawab Clara. "Lagian aku mau kerumah yang lama, mumpung masih jam kerja, suamiku tidak ada dirumah."
__ADS_1
"Ya udah ayo aku antar." Chelsea terus memaksa sehingga mau tidak mau Clara mengikutinya.
Supir keluarga Tristan mengantarkan Chelsea juga Clara kerumah lamanya, Clara melihat kearah sekitar dan tampak sepi, lampu teras bahkan masih menyala, namun mobil Bisma masih terparkir digarasi.
"Suamimu ada?" Tanya Chelsea.
"Sepertinya tidak ada , Chel. Dia kadang tidak membawa mobil. Lampu teras menyala, kemungkinan memang tidak ada." Kata Clara.
Chelsea mengangguk.
"Aku tidak lama, hanya mengambil sisa barang saja." Ucap Clara.
"Baiklah, aku menunggu disini ya, Ra." Kata Chelsea.
Clara keluar dari mobil Chelsea, ia mengambil kunci cadangan ditasnya, Clara ingin membuka pintu namun ternyata pintunya tidak terkunci.
Lalu Clara membuka pintu yang tidak terkunci itu. Ia mengedarkan pandangannya untuk mencari suaminya namun tidak ada, ia melihat ruang tamu yang cukup berantakan, sedikit aroma alkohol yang masih tercium dan bau asap rokok.
"Ouhhh..." Suara erangan seorang pria yang seperti sedang memadu kasih, namun itu bukan suara Bisma, suaminya.
Dengan langkah kaki gemetar dan rasa penasaran yang tinggi, Clara mendekati kamarnya tersebut, pintu kamar yang tidak tertutup rapat, ia menajamkan pendengarannya, suara asing tersebut semakin jelas terdengar.
"Aku membayangkan kamu memadu kasih dengan istrimu diatas ranjang ini, Bis."
"Tentu saja tidak, bahkan ketika dia hampir bertela*njang pun aku tidak ber na*fffsu untuk menyentuhnya." Suara Bisma yang menjawab.
"Kasian sekali dia, menikah hanya untuk sebuah status dan menjalankan drama pernikahannya. Agar tidak ada orang yang mencurigaimu seperti ini." Kata Sammy.
Clara yang mendengar semua dan melihat dengan matanya sendiri hanya membolakan matanya sambil menutup mulutnya menahan teriakannya, ia melihat sang suami sedang bermain gila dan bermesraan bersama seseorang yang ia kenal bernama Sammy.
"Mass...!! Pekik Clara seketika membuat Bisma dan Sammy menoleh kearah belakang bersamaan, karna posisi mereka membelakangi pintu kamar.
"Clara." Bisma tak kalah terkejut.
"Menjijikan." Ucap Clara lalu ia pergi dari rumahnya, beruntung tas berisikan perlengkapannya sudah ia siapkan disudut ruangan, memudahkan Clara membawa tas nya dan pergi dari rumah.
***
Catatan Othor.
Othor gak terlalu Up soal pemyimpangan Bisma dan sammy ya, karna menurut Othor hal ini sangat sensitif.
Lalu dari mana Othor terinspirasi cerita ini?
Jawabannya dari curhatan seorang teman, yang menikah tapi tidak pernah disentuh oleh suaminya, sampai suatu saat dia melihatĀ suaminya tengah bermesaraan bersama pasangan sesama jenisnya.
__ADS_1
Hanya sebatas itu yang menginspirasi othor, hal selanjutnya adalah murni fiksi belaka.
Barangkali ada teman/orang terdekat readers yang mengalami hal ini juga? Cerita yuk di kolom komentar, siapa tau ceritamu menjadi inspirasi othor selanjutnya.