BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BONCHAP 6


__ADS_3

Alika mengerjakan pekerjaannya dengan begitu semangat, Anton sampai heran karna Alika bisa dengan cepat mengerjakan pekerjaannya. Sebagai anak magang tentu saja ini sudah diluar pekerjaannya.


Gibran berjalan menuju ruangan Anton, tempat dimana Alika juga ditempatkan. Gibran melihat Anton yang asik mengobrol dengan Alika, ternyata Alika memiliki wawasan yang luas, jangankan soal bisnis, Alika pun paham membahas manajemen perusahaan.


"Dia benar benar unik." Batin Gibran.


Ekhemm.. Gibran berdehem saat melangkahkan kakinya masuk. Alika merapihkan mejanya dan berdiri.


"Asik sekali ngobrolnya." Kata Gibran.


"Maaf, Pak. Tadi habis bahas soal pekerjaan." Jawab Anton.


Gibran mengangguk, "Saya mau ajak Alika makan siang, kau mau ikut Ton?"


"Ah seeprtinya tidak Pak, saya mau jemput anak saya les dulu, kebetulan istri saya sedang jaga orang tuanya dirumah sakit." Jawab Anton.


Gibran mengangguk, ia memang mengetahui mertua Anton tengah dirawat dirumah sakit, Gibran pun memberikan cuti pada Anton, namun Anton menolaknya dengan alasan banyaknya pekerjaan. Anton hanya meminta ijin di jam istirahat untuk menjemput anaknya dan membawa ke kantor sampai jam pulang kerja Dan tentu saja Gibran sangat mengijinkannya.


Gibran membawa Alika untuk makan siang bersama sesuai janjinya, lagi lagi pandangan semua karyawan tertuju pada Gibran dan Alika, mereka sudah sangat tau jika Gibran memang tlah putus dari Jihan.


"Pak Gibran beruntung, ya. Kemarin sama Nona Jihan, anak dari pengusaha Royal Grand, sekarang sama anak magang, katanya sih salah satu pewaris DW Group." Ucap salah satu resepsionist.


Temannya mengangguk, "Iya, dan wanita wanita yang dekat dengan Pak Gibran rata rata baik dan cantik. Cocoklah mau dengan siapapun."


"Kau benar, Pak Gibran baik, wajar jika dapat wanita baik baik." Balasnya lagi.


Gibran dan Alika memang terlihat sangat serasi, wajah Gibran yang ramah juga Alika yang murah senyum membuat mereka terlihat cocok satu sama lain.


"Kita makan disini?" Tanya Alika saat mereka tiba disebuah restoran.


"Disini steaknya enak." Jawab Gibran.


Alika mengangguk dan mengikuti Gibran, mereka duduk berhadapan dan berbincang setelah memesan makanan.


"Kau tidak suka seafood, Al?" Tanya Gibran.


"Tidak, aku alergi udang. Tapi makanan laut lainnya sih tidak. Hanya saja aku memang kurang menyukainya." Jawab Alika.

__ADS_1


"Kau sama denganku." Balas Gibran. "Aku alergi makanan laut."


"Benarkah? Apa ini artinya kita berjodoh?" Alika tertawa.


Gibran pun ikut tertawa.


"Jika nanti kita menikah, berarti kulkas dirumah kita bersih dar segala macam makanan laut, Mas." Kata Alika bergurau.


"Pikiranmu sudah jauh sekali, Al." Gibran pun tertawa.


"Ya, terkadang aku berpikir terlalu jauh. Aku suka sekali merencanakan sesuatu sedari dini agar dimasa nanti semua lebih tertata." Kata Alika.


"Pernah menjalani hidup yang tidak terencana?" Tanya Gibran lebih dalam.


Alika mengangguk. "Saat ini." Jawab Alika dan Gibran mengernyitkan dahinya karna tak mengerti.


Alika tau jika Gibran ingin mendapatkan jawaban lebih. "Ya, seperti saat ini. Aku menyukai Mas dan magang diperusahaan Mas. Itu semua diluar dari planning aku." Jawabnya jujur.


Gibran menopang dagunya, "Sebelumnya apa rencanamu?" Tanyanya ingin tau.


"Aku magang diperusahaan Grand Royal bersama kak Jidan. Atau aku magang di DW Grup bersama Kak Al." Ucapnya.


Alika ikut menopang dagunya dengan tangannya, "Menjalankan magang di GTT dan mengejar hati CEO nya." Jawabnya tanpa ada yang di tutup tutupi.


Gibran tersenyum, ia sedikit menyukai sikap Alika yang jujur dan sedikit agresif.


"Kau pernah berpacaran, Al?" Tanya Gibran.


Alika menggelengkan kepalanya. "Tidak. Aku tidak suka membuang buang waktu untuk berpacaran tidak jelas." Jawab Alika sambil mengiris steak di piringnya. "Aku hanya ingin berpacaran satu kali, lalu menikah. Itu tujuanku."


"Pernah jatuh cinta?" Tanya Gibran penasaran.


"Aku permah menyukai seseorang, tapi hanya sebatas suka yang mungkin hanya kagum. Bukan dari hati." Jawab Alika.


"Sama aku bukan jatuh cinta?" Tanya Gibran mendalam.


Alika tersenyum tipis, "Sejauh ini masih rasa suka, kagum, dan terpesona. Belum ada sesuatu yang bisa membuat hatiku bergetar." Alika menghela nafas sejenak. "Tapi aku merasa senang jika bertemu denganmu, Mas." jawabnya.

__ADS_1


"Kau membatasi hatimu." Tabak Gibran yang kini menilai Alika sebagai wanita yang penuh hati hati karna tidak ingin mengalami kegagalan. Gibran menilai seperti itu karna mendengar dari cerita Alika hingga menyimpulkannya seperti itu.


Alika tidak menampiknya, ia memang slalu hati hati saat bertindak. "Aku hanya tidak ingin gagal." Jawabnya.


"Kau penuh kehati-hatian, Al. Padahal kegagalan bukan sesuatu yang menakutkan. Justru dengan pernah mengalami kegagalan, kau akan semakin menghargai usaha yang akan kau capai di masa depan." Ucap Gibran.


**


Waktu berlalu, rumah tangga Jidan dan Amel terlihat bahagia, Jidan menjadikan Amel layaknya ratu yang ia hormati. Amel tidak pernah menyangka hidupnya akan berubah seperti ini. Jidan memberikan banyak cinta pada Amel, begitu perhatian dan kasih sayang yang melimpah.


Sesuai kesepakatan dan tanpa paksaan, mereka tetap tinggal dirumah Davan, tentu saja Billa sangat senang. Begitupun dengan Amel yang merasakan kasih sayang seorang Ibu. Billa banyak mengajari Amel memasak terutama makanan kesukaan Jidan.


Sementara itu, Jihan malah betah tinggal dirumah Aldrich.


Aldrich dan Clara yang begitu sangat menyayangi Jihan merasa dirinya sangat nyaman tinggal dirumahnya. Belum lagi Clara yang slalu turun tangan langsung merawat Jove. Ada Alika dan Juga Alfiqa yang setiap hari tak pernah absen untuk mengunjungi kamar Jove baik itu pagi ataupun malam selepas mereka beraktifitas.


Saking begitu menyayangi Jihan dan Jove. Aldrich akan membuatkan rumah percis didepan rumahnya sendiri untuk Jihan dan Alaska tempati. Rumah itu juga Aldrich berikan sebagai hadiah untuk Jihan atas kelahiran Jove.


"Daddy, ini berlebihan." Kata Jihan saat melihat surat tanah atas nama dirinya dan tanah itu akan segera di proses untuk menjadi bangunan sebuah rumah.


"Tidak ada yang berlebihan, Ji. Kau sudah mengandung Jove dan menderita karna perbuatan Alaska." Jawab Aldrich. "Andai kau cerita saat itu, Daddy akan mempercayaimu, Ji. Tidak mungkin Daddy tidak mempercayaimu." Ucap Aldrich.


Jihan tersenyum, "Ji hanya menunggu Kak Al untuk menepati janjinya. Datang dan dengan gentel memberitahu Jidan juga seluruh keluarga atas perbuatannya."


"Untung anak itu tepat waktu kembali ingatannya. Daddy sangat marah Ji. Tapi Daddy bersyukur karna yang dihamili Alaska adalah kau, putri yang Daddy sayangi juga. Andai itu orang lain, tentu saja Daddy akan membuat Alaska menjadi miskin tidak punya apapun. Biar tahu rasa." Kesalnya.


Jihan tertawa, "Daddy lucu sekali."


"Ya, itu benar, Ji. Mommypun akan marah jika itu terjadi pada wanita lain. Mommy akan mencoret nama Alaska dari anak Mommy." Sahut Clara yang begitu asik menggendong Jove.


"Kalian kompak sekali." Cibir Alaska.


"Harusnya Jidan benar benar menghajarmu, Al. Beraninya menghamili Jihan." Kata Aldrich yamg masih saja kesal dengan kelakuan sang putra.


"Itu semua jebakan, Dad. Dan ambil hikmahnya sekarang sudsh ada Jove sebagai anak Alaska dan Jihan." Jawab Alaska santai.


Jihan tengah merapihkan pakaian Jove kedalam drawer, Alaska menghampirnya dan memeluknya.

__ADS_1


"Ji.. Jove sudah sebulan ya?" Tanyanya dengan suara berat.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2