BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 72


__ADS_3

Billa kembali kerumah setelah bekerja, beruntung ia bekerja menjadi sebuah admin toko online shop yang menjual pernak pernik dekorasi rumah, meski gajinya tidak besar, namun cukup untuk biaya hidup mereka bertiga.


"Jid.. Ji.. Dimana kalian?" Billa mencari keberadaan sepasang anak kembarnya itu.


"Sepertinya mereka ridak dirumah." Batin Billa.


"Jid, sepi sekali jualan kita hari ini." Kata Jihan yang melihat barang dagangannya masih banyak dan hanya ada beberapa yang terjual.


"Tidak apa, Ji. Mungkin belum rejeki kita." Jawab Jidan bijak. Jidan memang bersikap lebih dewasa, ia slalu menjadi penguat bagi Jihan.


"Aku tidak bisa membeli sepatu untuk sekolah nanti, Jid. Sepatuku sudah jebol." Kata Jihan sedih.


"Kamu bisa pakai sepatuku nanti, Ji. Jangan pikirkan hal itu."


"Terus kamu bagaimana, Jid?" Tanya Jihan.


"Jangan pikirkan aku, aku adalah Kakakmu, aku akan mengorbankan apapun untukmu." Jidan tersenyum.


"Ck, kau hanya Kakak selisih tiga menit saja, Jid." Kata Jihan.


"Hei.. Kalian menjual apa?" Seketika Jidan dan Jihan yang membawa keranjang berisikan dagangannya langsung nenoleh kearah sumber suara.


"Kami menjual souvenir khas kota ini, Bu." Kata Jihan antusias.


"Berapa harga gantungan kuci ini?" Tanya wanita dengan perut membuncit itu.


"Dua puluh ribu, isinya ada sepuluh, Bu." Jawab Jidan.


"Kalian Kakak beradik?" Tanya wanita itu.


"Kami kembar, tapi tidak identik." Jawab Jidan.


"Dia adalah Kakakku beda tiga menit denganku." Ucap Jihan.


Wanita itu tertawa, "Kalian lucu sekali."


"Mommy, disana ada miniatur borobudur, aku ingin membelinya." Kata seorang anak kecil berusia lima tahun.


"Nanti kita kesana ya, Mana Daddy dan Kak Al?" Tanya wanita itu.


"Sayang, sedang apa disini?" Seorang Pria dengan anak remaja berusia 12 tahun menghampiri wanita itu.


"Aku ingin membeli gantungan kunci di adik kecil ini, Dad. Kita borong semua ya." Pinta wanita itu yang ternyata adalah Clara.


Aldrich melihat kearah keranjang berisikan banyak gantungan kunci dan aksesoris berupa gelang dan lainnya. Kemudian matanya melihat kewajah dua kakak beradik itu.


"Mereka kembar, Dad. Tapi tidak identik." Kata Clara yang memberitahu Aldrich yang terlihat heran.


Namun keheranan Aldrich bukanlah karna kembar identik ataupun tidak. Melainkan wajahnya Jidan yang terasa tidak asing untuknya.


Aldrich berjongkok mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Jidan dan Jihan.


"Berapa usia kalian?" Tanya Aldrich.

__ADS_1


"Kami akan berulang tahun yang ke delapan dua bulan lagi." Jawab Jihan.


Aldrich tampak berpikir.


"Dimana kalian tinggal?" Tanya Aldrich lagi.


Jidan menarik lengan Jihan. " Maaf Pak, kami tidak bisa memberitahu alamat kami." Kata Jidan.


"Tidak apa, Jid. Mereka akan membeli barang dagangan kita, aku bisa membeli sepatu baru untukku." Kata Jihan memelas.


"Diam, Ji, sudah kubilang kamu bisa memakai sepatuku." Kata Jidan tegas.


"Maaf kami permisi." Kata Jidan pada Aldrich dan Clara.


"Jid mereka mau membeli semua barang dagangan kita." Jihan menahan lengan Jidan.


"Ji, menurutlah padaku." Pinta Jidan.


Wajah Jihan berubah murung kemudian ia mengangguk. Jidan merangkul pundak Jihan, "Kita pulang, ya." Ajaknya lembut.


"Tunggu.. Aku akan tetap membeli dagangan kalian. Jangan takut." Kata Clara.


Jihan memasang wajah memohon pada Jidan. Dan akhirnya Jidan mengalah.


Disaat Clara membereskan dagangan kedua anak kembar ini, diam diam Aldrich mengambil foto mereka lalu mengirimkannya pada anak buahnya.


"Cari info tentang anak kembar ini, posisi sekarang didepan toko A jalan X. Cukup cari informasinya saja."


"Berapa?" Tanya Aldrich.


"Gantungan kunci ini satu pak isi 10, harga satu paknya dua puluh ribu. Itu ada 15 pak, Dad. Jadi 300 ribu." Kata Clara.


Aldrich membuka dompetnya dan mengeluarkan lima lembar uang seratus ribuan lalu memberikannya pada Jidan.


"Ini lebih, Pak." Kata Jidan sambil memberikan dua lembar seratus ribuan itu.


"Untuk membeli sepatu kalian." Kata Aldrich yang memang merasa prihatin dengan kondisi sepatu yang Jidan dan Jihan pakai itu.


"Tidak perlu, Pak. terimakasih." Ucap Jidan.


"Berapa keuntungan dari satu pak gantungan kunci ini?" Tanya Aldrich.


"Dua ribu rupiah." Jawab jihan.


Aldrich mengangguk. "Dua ribu dikali 15, berapa yang kalian dapatkan?" Tanya Aldrich lagi.


"Tiga puluh ribu." Jawab Jidan.


"Cukup untuk bisa membeli sepatu adikmu?" Tanya Aldrich.


"Hanya kurang tiga puluh ribu lagi saja, harga sepatu kami enam puluh ribu, dan aku mempunyai tabungan untuk menambahkannya." Jawab Jidan.


"Lalu sepatumu? Kulihat sepatumu juga sudah robek." Kata Aldrich.

__ADS_1


"Aku bisa membelinya nanti jika uangku sudah ada lagi." Jawab Jidan dewasa.


"Mengapa tidak menerima bantuan dariku?" Tanya Aldrich.


"Kami tidak mau mengemis." Jawab Jidan.


"Aku tidak menganggap kalian mengemis, aku memberikan hadiah untuk kalian." Kata Aldrich.


Jidan dan Jihan saling melirik, Jidan menggelengkan kepalanya sementara Jihan mengangguk.


"Ibu akan bertanya, Ji. Jangan buat Ibu bersedih dengan melihat orang kasihan pada kita." Kata Jidan.


Jihan mengangguk. "Maaf Pak, kami tidak bisa menerimanya. Terimakasih sudah membeli dagangan kami." Jawab Jihan yang menurut pada Jidan.


Aldrich melepaskan mereka saat melihat anak buahnya sudah berada dalam pandangannya dan saling memberi isyarat melalui kontak mata.


"Kasihan sekali mereka, Dad. Hanya membeli sepatu seharga enam puluh ribu saja harus bekerja. Sementara uang jajanku sehari seratus ribu." Kata Alaska yang kini berusia dua belas tahun.


Aldrich merangkul putra sulungnya itu, "Bersyukurlah karna Daddy dan Mommy bisa menghidupimu dengan layak, Al." Ucap Aldrich.


Aldrich bersama Clara dan kedua anaknya sedang jalan jalan dikota Jogja, sekalian untuk meninjau proyek yang sedang berjalan untuk membangun sebuah gedung perkantoran di daerah ini.


Clara yang tengah hamil anak ketiga ingin sekali slalu berdekatan dengan Aldrich, membuat dirinya ingin slalu ikut kemanapun Aldrich pergi. Padahal kini usia kandungannya sudah memasuki bulannya untuk melahirkan.


"Ibu pasti sudah pulang." Ucap Jihan sambil membuka pintu rumah.


"Kalian sore sekali baru pulang, Ibu sudah masak untuk kalian." Kata Billa.


Jidan dan Jihan melihat kearah meja, dilihatnya nasi dengan lauk tempe dan sayur bayam untuk makan malam mereka.


"Bu, belilah telur untuk besok kita makan." kata Jidan.


"Harga telur sedang naik, Jid. Ibu tidak bisa membelinya." Jawab Billa merasa bersalah.


Bagaimana tidak, sebagai admin online shop. Gaji Billa memang hanya berkisar satu juta dan itu harus cukup untuk makan mereka selama satu bulan. Beruntung Billa sudah tidak membayar rumah yang dia kontrak karna pemilik rumah merasa kasihan pada Billa, sehingga membiarkan Billa menempati rumahnya asalkan Billa mau mengurusnya.


Jidan memberikan uang hasil jualannya, "Tadi jualan kita ada yang memborong, Bu." kata Jidan lalu memberikan uang sebesar tiga puluh ribu pada Billa.


"Simpanlah, itu uang kalian. Tugas dan kewajiban ibu untuk memberi kalian makan." Kata Billa sambil menahan kesedihannya.


Jidan menarik kembali uang itu.


"Jihan suka tempe goreng buatan ibu." Kata Jihan sambil tersenyum.


Billa mengangguk. "Bersihkan diri kalian, baru kalian makan." Kata Billa tersenyum.


Setelah kedua anaknya berlalu, Billa terduduk dan menunduk dimeja kayu itu, tubuhnya bergetar tanda ia tidak tahan menahan kesedihannya.


"Maafkan Ibu, Jid, Ji. Maafkan Ibu tidak bisa menghidupi kalian dengan layak." Suara itu terdengar lirih, Jidan melihatnya dan mendengarnya. Ia merasa bersalah karna perkataanya, padahal ia hanya ingin membantu sang ibu.


"Bu.. Sebenarnya dimana, Ayah?" Batin Jidan.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2