
Tiga hari berlalu, Alaska masih enggan masuk kerja, ia tetap tinggal di apartemen. Aldrich pun membiarkannya sampai Alaska merasa lebih baik dengan sendirinya.
Entah nengapa Jihan merasa tidak enak, ia bertanya pada Beni namun Beni tidak memberikan jawaban yang memuaskan.
Hubungan Jihan dan Gibran semakin intens, mereka sering bertukar pesan untuk memberi kabar. Meski berstatus kekasihnya, Gibran tidak pernah bersikap lebih karna ia menghormati Jihan sebagai wanita yang dicintainya.
Hal itulah yang Jidan suka pada Gibran untuk menjadi kekasih saudarinya.
"Bang Beni marah ya sama aku?" Tanya Jihan.
"Tidak, Ji." Jawab Beni masih dengan tatapan lurus kelayar laptopnya.
Jihan kembali diam dan mengerjakan lagi pekerjaannya.
Beni melirik kearah Jihan kemudian menghela nafasnya.
"Apa kau mengkhawatirkan si Bos?" Tanya Beni.
Jihan terdiam, "Aku hanya merasa tidak enak dengannya." Jawab Jihan.
Jelas saja Jihan merasa tidak enak, hari dimana Alaska mengatakan menyukainya, hari itu juga Alaska mengetahui bahwa Jihan sudah resmi menjadi kekasih Gibran.
"Si Bos di apartemennya, kerjaannya hanya mabuk dan meratapi nasibnya yang kalah start oleh Gibran." Ucap Beni tiba tiba.
Jihan menatap wajah Beni, dan Beni mengangguk.
"Dia benar menyukaimu, Ji. Dia juga menyesali perjodohan kalian yang dibatalkan." Kata Beni lagi.
"Kak Al sudah memiliki kekasih." Ucap Jihan.
"Kekasihnya lebih memilih karirnya dari pada ikut pulang bersama si Bos." Jawab Beni lagi.
"Bang Ben tau semua tapi waktu itu slalu pura pura gak tau." Cibir Jihan.
"Karna aku berharap, kau yang menjadi pendamping si Bos." Ucap Beni.
Mereka sama sama terdiam, hingga Beni bertanya sesuatu.
"Apa kau sudah mencintai Gibran?" Tanya Beni.
Jihan mengerdikan bahunya, "Hubunganku belum ada satu minggu." Jawab Jihan.
Keesokan harinya, Alaska kembali bekerja. Ia terlihat sedikit kurus dengan kantung mata yang agak hitam.
Aura dingin terpancar dari sikap Alaska. Terlihat saat ia melihat Jihan yang diantar oleh Gibran dan melewatinya begitu saja.
"Bosmu sudah datang, segera masuk." Kata Gibran.
Jihan mengangguk, "Aku masuk dulu ya, Gab."
"Selamat bekerja, Ji." Ucap Gibran.
Jihan segera menyusul menaiki lift umum, ia segera masuk kedalam ruangannya namun tak ia dapati Beni di mejanya.
Setelah tiga puluh menit, Beni masuk kedalam ruangannya. "Ji, mana berkas untuk pertemuan dengan grup Z?" Tanya Beni.
Jihan mengambil map berwarna biru. "Ini." Kata Jihan sambil memberikan mapnya.
"Aku akan keluar dengan si Bos. Kau standby disini, nanti jam 10 ada meeting dengan divisi perancangan. Bisa handel?" Tanya Beni.
"Koq Bang Ben? Bukannya aku yang harusnya nemenin si Bos?" Tanya Jihan.
Beni menghela nafas, "Bos yang bilang begitu." Kata Beni.
__ADS_1
Jihan kembali meraih mapnya yang tadi diberikannya pada Beni. "Kembali ke tugas masing masing. Aku yang akan mendampingi si Bos."
Beni menghembuskan nafas kasarnya saat Jihan keluar dari ruangan mereka bersama.
Jihan melihat Alaska yang sudah bersiap, "Pak, saya yang tetap akan mendampingi anda." Ucap Jihan.
Alaska hanya melirik sekilas kemudian kembali melihat ponselnya.
Jihan merasa sikap Alaska berubah menjadi dingin, namun ia tetap menjalankan pekerjaannya.
Jihan mengekori Alaska untuk turun ke loby, dan saat masuk kedalam mobil, Alaska masuk begitu saja dan Jihan juga tidak berharap lebih.
Didalam mobil, Alaska hanya fokus menyetir, dan jihanpun hanya diam merasa tidak enak.
"Maafkan aku, Kak." Kata Jihan pada akhirnya, namun Alaska tetap hanya diam.
"Aku tidak ingin mengecewakan Kakak." Kata Jihan lagi dan Alaska masih tetap diam.
Diamnya Alaska membuat Jihan akhirnya berhenti untuk berbicara hingga mereka tiba disebuah coffeeshop untuk bertemu dengan kliennya.
Jihan tetap menjalankan pekerjaannya, namun ia terlihat tidak fokus, hingga membuat Alaska akhirnya turun tangan untuk menjelaskan penawaran yang dibuatnya.
"Fokuslah bekerja jika kau tidak ingin diberhentikan atau dipindahkan kebagian lain." Kata Alaska dingin saat kliennya sudah pergi.
"Maaf, Kak." Ucap Jihan.
Alaska hanya bergeming tidak menanggapi ucapan Jihan.
Mereka kembali kekantor, namun saat dijalan yang jarang orang lalui, mereka mengalami kendala, ban mobil Alaska tiba tiba saja kempes dan terpaksa Alaska menepikan mobilnya.
"Si*al." Umpat Alaska sambil menendang ban mobil.
"Kakak bisa ganti bannya?" Tanya Jihan.
Alaska meraih ponselnya, namun Beni tak juga mengangkatnya. Wajar saja karna Beni sedang meeting bersama divisi perancangan dan mematikan suara ponselnya.
Jihan juga mencoba menghubungi Gibran beberapa kali, namun sama seperti Beni, Gibran pun tengah meeting bersama karyawannya.
Jihan juga menghubungi Jidan, beruntung Jidan mau mengangkatnya. Jihan menceritakan posisi detailnya dan meminta bantuan Jidan, posisi Jidan yang jauh dari lokasi membuat Jidan sedikit lama untuk tiba di lokasi.
"Aku sudah menghubungi Jidan, dia agak jauh dari sini, tapi sudah akan kesini." Ucap Jihan.
Alaska tidak menjawabnya, ia hanya diam dan sikap Alaska itu membuat Jihan sedikit kesal.
"Kakak marah sama aku?" Tanya Jihan pada akhirnya.
"Kenapa harus marah?" Tanya Alaska dengan tatapan lurus kedepan.
"Karna aku sudah menjadi kekasihnya Gibran." Kata Jihan lagi.
Alaska tersenyum sinis. "Kau percaya diri sekali." Ucap Alaska.
Jihan merasa kesal dengan jawaban Alaska lalu sedikit menjauh dari Alaska. Sementara Alaska hanya melihat Jihan dari ekor matanya saja.
Lima belas menit mereka masih menunggu Jidan, sesekali Jihan masih menelpon Beni namun masih tetap tidak ada jawaban.
Alaska, ia melakukan hal yang tidak pernah ia lakukan, mencoba mamasang dongkrak namun tetap tidak berhasil. Alaska sudah seperti anak kecil berusia 5 tahun yang sedang mencoba mainan barunya.
"Daddy Al terlalu memanjakanmu, masa sampai ganti ban mobil aja gak bisa." Cibir Jihan.
Alaska hanya diam, ia masih belum ingin berinteraksi dengan Jihan hingga hatinya pulih kembali.
Brakk
__ADS_1
Seorang pria memukul kap mobil Alaska, membuat Alaska berdiri dibelakang Jihan dan menatap pria bersama dua orang temannya.
"Kalian beraninya ya parkir disini, ini wilayah kekuasaan kami." Kata preman satu.
Alaska langsung menarik tangan Jihan agar berada dibelakangnya.
"Pergi sebelum saya memanggil polisi untuk meringkus kalian." Ucap Alaska.
Tiga preman itu tertawa, "Sebelum memanggil polisi, kalian sudah menjadi mayat duluan." Kata Preman dua.
"Bayar parkir disini, satu juta rupiah." Kata Preman ke tiga.
Jihan maju kedepan, "Kalau mau uang itu kerja, bukannya nodong."
Lagi lagi tiga preman itu tertawa, "Boleh juga nih cewek, bisa buat menghangatkan ranjang kita nanti malam." Kata preman satu.
Alaska kembali menarik tangan Jihan, "Kamu diam saja dibelakangku." Kata Alaska.
"Aku tidak takut sama mereka, Kak." jawab Jihan.
"Mereka bertiga, Ji." Ucap Alaska mengingatkan.
"Bahkan jika mereka berlima pun aku tidak takut, Kak." Ucap Jihan.
"Bayar!!" Kata Preman ke dua membentak.
Jihan menatap sengit preman itu, "Tidak mau." Ucapnya.
Preman itu mau menampar Jihan namun ditangkis oleh Jihan.
"Wohoo.. Boleh juga nih cewek." Kata preman pertama.
Jihan mulai menyerang preman pertama dan memelintir tangannya.
Krekkk
Terdengar suara seperti tulang yang patah di tangan preman pertama.
"Awshhhh." Teriak preman pertama yang kesakitan.
"Mundur, atau aku patahkan tangan tamanmu ini." Teriak Jihan.
Namun bukannya mundur, satu preman ikut menyerang ke arah Jihan, namun Alaska membantu melindungi Jihan.
Jidan datang diwaktu yang tepat, namun saat Jihan lengah, preman pertama balik menyerang Jihan dengan melepaskan diri lalu mengambil sebuah balok dipinggir jalan, ia mengarahkan balok itu kearah Jihan.
"Jihan, AWAS!!" Teriak Jidan.
Bughh.
Jihan melindungi kepalanya dengan kedua tangannya, namun ia tak merasakan apapun, dilihatnya Alaska yang sudah tergeletak dengan pelipis yang sudah bercucuran darah segar.
Jidan segera menendang preman itu dan balik menghajarnya.
"BERANI KAU SENTUH SAUDARIKU, BRENG*SEK!!" Kata Jidan memukuli preman itu secara membabi buta. Kemudian Jihan juga mengambil balok itu dan memukulkannya pada dua preman itu.
"Ji..." Rintih Alaska, dan Jihan menghampirinya.
Tiga preman itu pergi dengan kondisi babak belur.
"Kak Al..."
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1