BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 97


__ADS_3

Jihan tiba dikediaman keluarga Dewantara dan menunggunya diteras, namun Clara menyuruhnya untuk ikut sarapan bersama.


"Kau disini bukan sebagai asisten Alaska, tapi sebagai anakku juga, masuklah Ji." Ajak Clara sedikit memaksa.


Jihan terpaksa mengikuti Clara karna Clara menggandeng tangannya.


"Kak Jihan." Panggil Alika.


Alaska dan Aldrich menoleh kesumber suara.


"Hei, kau kesini, Ji?" Tanya Aldrich.


"Aku menjemput Kak Alaska, Dad." Ucap Jihan.


Aldrich mengernyitkan dahinya, lalu melihat kearah Alaska, yang dilihatnya hanya cuek saja meminum kopi didepannya.


"Kau tidak di jemput Beni, Al?" Tanya Aldrich.


"Beni biar istirahat, Dad. Lagi pula, Jihan kan juga asistenku." Jawab Alaska cuek.


"Semalam juga Kak Jihan yang mengantar Kak Alaska." Sahut Alfiqa yang kini berusia 14 tahun.


Aldrich menyipitkan matanya.


"Tidak apa, Dad. Itu memang tugasku." Ucap Jihan.


"Sudah sudah, Ayo Ji. Kita sarapan dulu." Ajak Clara.


"Tidak, Mom. Tadi Ibu sudah membawakanku bekal. Sayang nanti jika tidak dimakan." Ucap Jihan.


Alaska berdiri, "Dad, Mom, Al berangkat dulu. Ada meeting pagi." Ucap Alaska beralasan agar kedua orang tuanya tidak menahan Jihan lebih lama lagi.


Jihan pun ikut berpamitan.


Aldrich dan Clara mengantar hingga ke teras.


"Apa kau berpikir Alaska mulai tertarik dengan Jihan?" tanya Aldrich pada Clara.


Clara mengangguk, "Ya, kukira putra kita sudah mulai tertarik dengan putrinya Davan dan Billa."


Sementara dimobil yang Jihan kemudikan, Jihan memgemudi sambil membuka lunch box dan mengambil satu potong roti selai kacang buatan sang Ibu, Alaska pun melihatnya.


"Tepikan mobilnya." Ucap Alaska."


"Ada apa, Kak?" Tanya Jihan.


"Aku sedang ingin menyetir, tepikan mobilnya." Titahnya lagi.


Jihan menepikan mobilkan dan Alaska turun lalu mengitari mobil dan membuka pintu kemudi, "Geser." Kata Alaska pada Jihan agar berpindah.


Jihan pun bergeser kekursi disamping kemudi dan Alaska mengambil alih kemudi. "Makanlah, Ji." Kata Alaska dengan tatapan lurus kedepan.


Jihan nengangguk, "Makasih, Kak. Ternyata Kakak baik juga." Ucap Jihan tersenyum. Senyum yang akhir akhir ini mengalihkan perhatian Alaska.

__ADS_1


Mereka kembali sibuk berkutat dengan pekerjaannya, Jihan bersama Beni dalam satu ruangan sementara Alaska berada diruangannya sendiri.


"Ji.. Kamu ada hubungan sama pemilik GAB Travel ya?" Tanya Beni dengan iseng.


Jihan masih menatap layar laptopnya, "Dia teman masa kecilku, Bang Ben."


"Tapi kulihat dia menyukaimu." Ucap Beni lagi.


"Benarkah?" Kali ini Jihan melihat kearah Beni dan tertawa.


"Aku seorang pria, tau cara Pak Gibran menatapmu. Tatapan yang tak biasa, Ji." Ucap Beni.


Jihan menganggukan kepalanya, "Wajarlah, Gab pria single dan aku juga." Ucapnya.


"Bagaimana jika dia menyatakan cinta padamu?" Tanya Beni.


Jihan mengerdikan bahunya, "Tidak ada yang salah dari hal itu. Mungkin aku akan mencoba menjalani hubungan dengan Gab."


"Kau juga menyukainya." Kata Beni.


Jihan tertawa, "Siapa yang tidak menyukai, Gab. Dia tampan, mapan, dan single." Kata Jihan. "Bodoh kalau aku tidak tertarik dengannya." Tambahnya lagi.


"Si Bos juga Mapan dan tampan." Kata Beni.


"Tapi si Bos kan bukan single, sudah kubilang berapa kali, dia memiliki kekasih diluar negri." Jawab Jihan.


"LDR kan mereka? Seiring jalannya waktu, mana tau si Bos sekarang suka sama kamu, Ji." Beni berkata dengan serius.


"Jodoh mana tau, Bang." Jawab Jihan tersenyum.


Namun karna hal itu, membuat Gibran menjadi leluasa mendatangi Jihan, mereka bahkan setiap hari makan siang bersama.


Seperti saat ini, Gibran tengah makan siang bersama di kafe yang letaknya tidak jauh dari tempat Jihan bekerja.


"Ini enak sekali, Gab." Kata Jihan sambil memakan nasi goreng seafood nya.


"Menurutku tidak enak karna aku alergi makanan laut, Ji." Balas Gibran.


"Rugi sekali, padahal udangnya terasa sangat gurih." Kata Jihan lagi.


"Makanan apa yabg kamu tidak suka, Ji?" Tanya Gibran.


"Aku menyukai semua makanan." Jawab Jihan yang memang tidak pernah memilik milik makanan. Sedari kecil, Billa selalu mengajari Jidan dan Jihan untuk menghargai makanan.


"Kalau begitu, pria seperti apa yang kamu sukai?" Tanya Gibran.


Jihan tampak berpikir. "Seperti Jidan." Jawabnya singkat.


"Hei, biasanya seorang wanita, memiliki cinta pertama pada Ayahnya, mengapa kamu malah bilang Jidan?" Tanya Gibran penasaran.


"Karna sedari kecil, Jidan slalu mengalah untukku, melindungiku, dan tidak pernah meninggalkanku." Jawab Jihan. "Aku ingin seorang pria seperti Jidan, slalu mengalah, menjadikanku prioritas, melindungiku, dan tidak pernah meninggalkanku." Ucapnya lagi.


Gibran nengangguk anggukan kepalanya. "Menurutmu, aku orang yang seperti apa?"

__ADS_1


"Hmm.. Sewaktu kecil, kamu orang yang paling menyebalkan." Jihan tertawa, "Tapi sekarang kamu ternyata mengasikan." Ucapnya.


"Masuk kriteria pria yang akan menjadi pacarmu, tidak Ji?" Tanya Gibran.


Jihan menyipitkan matanya, "Kamu menyukaiku, Gab?"


Gibran tersenyum samar lalu menunduk sejenak, sebelum akhirnya menatap wajah Jihan. "Separuh hatiku kosong saat seorang gadis kecil memberikanku burger dan berkata Aku akan merindukan bertengkar denganmu lagi, Gab. Jangan pernah lagi menghina Ibu dan Kakakku. Meskipun tanpa ada Ayahku, aku masih tetap bisa merontokan gigimu." Gibran tertawa setelah memperagakan perkataan Jihan dimasa lalu.


Jihan mengernyitkan dahinya dan Gibran melihat Jihan yang terlihat bingung.


"Sejak saat itu aku merasa kehilanganmu sekali, Ji. Dan mungkin hobiku yang menjahilimu itu untuk menutupi rasa sukaku padamu." Gibran tersenyum


"Hei, Gab.. Saat itu kita masih berusia delapan tahun." Kata Jihan yang tidak percaya dengan perasaan Gibran yang selama ini.


"Aku percaya cinta masa kecil, Ji." Kata Gibran merayu.


Jihan menyengir, "Kamu puitis sekali, Gab."


"Aku menamai GAB Travel itu agar slalu mengingatmu, aku slalu meminta pada tuhan agar diberikan kesempatan untuk bertemu denganmu lagi." Ucap Gibran.


Gibran memberanikan diri menggenggam tangan Jihan dan menatap kedua mata Jihan. "Ji, berilah kesempatan untukku meraih hatimu." Gibran menghela nagas sejenak. "Aku menyukaimu sejak dari kecil, dan kini aku mencintaimu. Aku tidak tau apa aku pantas untukmu, apa aku bisa seperti Jidan untukmu, namun aku akan slalu berusaha tidak menyakitimu dan selalu membahagiakanmu."


"Kamu sedang menyatakan cinta padaku, Gab?" Tanya Jihan.


"Aku sedang memintamu untuk menjadi kekasihku, Jihan Davina." Ungkap Gibran.


"Gab, kamu serius?" Tanya Jihan.


"Aku tidak pernah seserius ini, Ji." Jawab Gibran yakin.


"Tapi perasaanku...." Kata Jihan menggantung.


"Aku ingin kamu juga bisa mencintaiku, tapi aku lebih ingin kamu merasakan semua cintaku, Ji. Tidak apa jika kamu belum mencintaiku, aku akan menunggu." Kata Gibran. "Hanya saja jangan tolak aku, beri aku kesempatan, Ji." Lanjutnya lagi.


Jihan menggigit bibir bawahnya, bingung apa yang harus dilakukannya.


"Kamu pernah berpacaran sebelumnya, Gab?" Tanya Jihan pada akhirnya.


Gibran menggelengkan kepalanya, "Pernah ku coba dekat dengan beberapa wanita, namun tidak berlanjut. Karna aku slalu mengingatmu."


"Kamu cinta atau terobsesi, Gab? Karna cinta dan obsesi hanya berbeda tipis, malah hampir tidak bisa dibedakan." Kata Jihan.


Gibran tersenyum, ia tau jika Jihan bukan wanita yang sembarangan menerima cinta. "Jika ini obsesi, mungkin aku akan langsung mengatakan cinta padamu saat awal awal kita bertemu, Ji. Aku sempat menyelami hatiku lagi saat bertemu denganmu, dan hatiku slalu senang, jantungku slalu berdebar saat akan bertemu denganmu, menurutmu ini cinta atau obsesi?"


Jihan menggelengkan kepalanya samar, "Aku tidak tau. Aku juga tidak bisa membedakannya." Jawab Jihan.


"Jadi...?" Tanya Gibran.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Terima jangan?


Jihan-Gibran,

__ADS_1


Jihan-Alaska.


Kalian tim mana?


__ADS_2