
Zayn membalas tatapan tajam Davan. "Apa jika kamu mengetahui masalahnya, kamu bisa memulihkan kondisi Mama?"
"Ceritakan padaku, apa yang Billa perbuat." Kata Davan penuh penekanan.
"Istrimu terlahir dari wanita yang menyakiti Mama kita dulu." Jawab Zayn tegas.
Davan semakin tidak mengerti.
"Ibunya Billa yang tak lain mertuamu yang sudah meninggal bernama Yasmin, dia adalah anak dari istri kedua Kakek Erick yang sempat mengambil posisi Mama dirumahnya sendiri. Dia juga adalah calon istri Papa yang kemudian kabur dan Mama menggantikannya, setelah dia kabur dan Mama bahagia bersama Papa, dia datang lagi menculik Mama dan menjualnya pada kekasihnya sendiri, beruntung saat itu Papi Tristan dan Om Fariz menyelamatkan Mama." Kata Zayn.
Davan merasa terkejut dengan apa yang diucapkan oleh Zayn.
"Itu tidak benar Kak." Kata Davan menolak kenyataan.
"Sayangnya itu semua benar, Dav. Wanita itu masuk penjara karna perbuatannya, ternyata ia tidak berubah, keluar dari penjara dan menjual dirinya hingga melahirkan istrimu." Kata Zayn tidak suka.
"Hentikan Kak!!" Kata Davan. "Semua tidak ada yang mempermasalahkan asal usul Billa." Kata Davan tegas.
"Ya, semua memang tidak mempermasalahkannya, tapi sayangnya, yang jadi masalah karna istrimu terlahir dari wanita yang banyak menyakiti Mama." Ucap Zayn tak mau kalah.
"Dan apa kau tau, Dav? Kondisi Mama bisa kembali normal hanya jika tidak mengingat masa lalunya dan menjauhkan hal hal yang membuatnya teringat kejadian itu." Zayn berdiri dan meninggalkan Davan yang masih duduk di kafetaria.
Sementara dikamar perawatan Ghea,
"Semua sudah berlalu, Ma.. Tidak ada Yasmin lagi dihidup kita. Yasmin juga sudah meninggal. Kewajiban kita hanya perlu memaafkannya untuk meringankan jalannya. Ikhlaskan lah, Ma.." Fadhil menggenggam tangan Ghea.
"Billa..." Kata Ghea pada akhirnya.
"Takdir membawanya pada kita, Ma.. Aku tau apa yang kamu pikirkan soal Billa. Kita harus berlapang dada menerimanya, lihatlah Billa, dia tidak bersalah, bukan ingin dia untuk terlahir dari seorang ibu bernama Yasmin." Kata Fadhil bijak.
"Sikap Billa sangat baik, dia tidak sama dengan Yasmin, bahkan Yasmin melahirkannya dan memberi kehidupan untuk Billa meski caranya salah. Mana kita tau, jika Yasmin hidup dengan menyesal, namun kondisi membuatnya mau tidak mau untuk tetap berada didunia malam yang sesat." Kata Fadhil lagi.
"Jangan salahkan Billa, dan jangan ceritakan masalah ini pada Davan. Biar Davan bahagia dengan jodohnya." Fadhil terus menguatkan Ghea.
Perlahan Ghea mengangguk, "Billa tidak bersalah. Kamu benar By, Takdir membawanya pada kita."
__ADS_1
Fadhil mengusap rambut Ghea, "Segeralah sembuh, kita pulang berkumpul bersama Anak, menantu dan cucu cucu kita."
Tapi ditempat lain, Perasaan Davan tidak menentu, ia memilih keluar dari rumah sakit untuk menghirup udara malam. pikirannya terus mengingat perkataan sang Kakak, kalimat demi kalimat terasa menghujam jantungnya.
"Kondisi Mama bisa kembali normal hanya jika tidak mengingat masa lalunya dan menjauhkan hal hal yang membuatnya teringat kejadian itu."
Terus saja kata kata itu berputar di pikiran Davan. Hingga ia mengabaikan telpon masuk dari Billa.
Dirumah, Billa tengah merasa tubuhnya semakin lemas. Hingga kini, ia belum menceritakan kehamilannya pada Davan, Davan menginap dirumah sakit dan siangnya akan kekantor sebentar untuk sekedar melihat pekerjaan dan pertemuan penting yang tidak bisa diwakilkan.
Billa memegangi tespek bergaris dua itu, satu tangannya mengusap perutnya yang masih rata. Ingin rasanya Billa datang menemui Davan dan mengatakan bahwa dirinya tengah hamil, namun ia urungkan karna merasa waktunya belum tepat. Billa menuliskan sesuatu dan meletakkannya bersama tespeknya disebuah kotak kecil berwarna biru muda, kemudian mengikatnya dengan pita berwarna putih dan menaruhnya didalam laci nakas.
Dua hari berlalu, Billa merasa kehilangan sosok Davan yang biasanya tidak pernah absen untuk memberi kabar. Bahkan kini Davan menonaktifkan ponselnya.
Billa memasuki walk in closet untuk berganti pakaian, ia ingin mendatangi kantor Davan dan bertemu dengannya.
Dilihatnya PRT yang sedang merapihkan pakaian bersih kedalam lemari Billa.
"Mba Billa pucat sekali."
"Oh iya Mba Billa, Kotak Mba Billa saya rapihkan didalam laci disana." Kata Bibi.
Billa langsung menghampiri tempat yang ditunjukan oleh PRT, Billa membuka dan melihat isinya yang hanya ada beberapa lembar foto bersama sang ibu dimoment tertentu.
"Waktu itu Ibu Ghea melihat foto Mba Billa bersama ibu Mba, dari situ Ibu langsung drop, mungkin Ibu kecapean, Mba." Kata PRT.
Billa mengernyitkan dahinya, "Drop saat melihat fotoku bersama Ibu?" Tanya Billa dalam hati.
Billa segera berganti pakaian, ia ingin bertemu Davan dan bertanya tentang kesehatan ibu mertuanya itu.
Aldrich juga mendatangi kantor Davan untuk melihat kondisi sepupunya itu karna sudah dua hari tidak bisa dihubungi.
"Dav.." Panggil Aldrich.
Davan melihat sekilas kearah Aldrich dan langsung bersandar dikursinya.
__ADS_1
Aldrich duduk bersebrangan dengan Davan dan mengamati wajah Davan yang terlihat menanggung beban.
"Kamu tau ini, Al?" Tanya Davan yang dapat dimengerti oleh Aldrich.
"Kak Zayn memberitahumu?" Tanya Aldrich.
Davan mengangguk. "Kenapa harus Billa, Al. Kenapa harus Billa." Tanya Davan lirih dan meneteskan air mata.
Aldrich tidak pernah melihat Davan sesedih ini, apa lagi hingga Davan mengeluarkan air mata. Bahkan sewaktu berpisah dengan Billa sementara, Davan tidak terlihat serapuh ini.
"Dav, Billa tidak tau apa apa. Billa tidak bersalah." Kata Aldrich.
"Tapi kondisi Mama tidak akan stabil jika terus melihat Billa, sementara Billa akan ada terus bersamaku. Aku juga bingung dengan bagaimana sikapku pada Billa nanti, aku ingin marah mengapa harus Billa anak dari wanita yang pernah menyakiti Mamaku, Al? Kenapa harus Billa?" Kata Davan frustasi meluapkan emosinya.
"Dav, hentikan. Kamu tidak boleh seperti itu, Billa tidak bersalah." Kata Aldrich.
"Billa memang tidak bersalah, tapi Billa akan mengingatkan Mama ke masa lalu yang membuat psikisnya terganggu, aku tidak mau Mama sakit, Al. Aku tidak mau Mama terus terusan dihantui bayang bayang di masa lalu." Jawab Davan dengan nafas tak beraturan.
"Dav.." Panggil Aldrich pelan.
"Al, aku harus bagaimana? Haruskah aku melepas Billa demi kesehatan Mama agar pulih kembali?" Lirih Aldrich. "Kesalahan Ibunya Billa sangatlah fatal, menculik dan hampir menjual Mama pada pria lain, Mama pasti tidak akan pernah bisa sembuh dari rasa traumanya jika terus melihat Billa."
Degg..
Dari balik pintu yang tidak tertutup rapat, Billa mendengar semua percakapan Davan dengan Aldrich. Jam istirahat membuat lantai itu sepi dan sekertaris Davanpun tidak ada ditempat.
Billa memundurkan langkahnya, ia tidak kuat mendengar kata kata yang akan menyakitkan hatinya lagi. Billa melangkah pelan hingga mempercepat langkahnya, ia mulai mengerti mengapa Zayn menatapnya sinis, ia juga mengerti mengapa Davan tidak mengaktifkan ponselnya seolah menghindar, ia juga mengerti apa yang dibicarakan oleh PRT nya tadi, ternyata Mama mertuanya drop karna melihat foto ibunya yang ternyata orang yang pernah menyakitinya.
"Bu.. Kenapa takdir membawaku kedalam keluarga yang pernah ibu sakiti? Kenapa ini harus terjadi saat aku sedang mengandung keturunan keluarga mereka, Bu?" Teriak Billa dalam hati.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Semangatin Billa, Please.. 🥺
Senin, bolahkah aku minta Vote kalian untuk Novelku ini?
__ADS_1