
Sementara di Labuan bajo, Billa tengah merasakan tubuhnya tidak enak sedari semalam. Ia bangun dan tidak menemukan Davan dikamarnya.
"Sepertinya suamiku langsung berangkat kerja." Gumam Billa yang mengetahui bahwa Davan tengah ada rapat penting dengan investor baru untuk memajukan resortnya tersebut.
Billa menutup dirinya yang masih polos dengan mengenakan selimut tebal untuk menuju kekamar mandi. Selama disini, Davan tak hentinya terus menggempur istrinya, bahkan sehabis subuhpun sempat mengulanginya lagi sebelum akhirnya Billa tertidur karna lemas.
"Wajahku pucat sekali." Kata Billa didepan cermin.
Billa dengan segera membersihkan diri lalu turun untuk sarapan di resort.
Billa melihat kalender diponselnya, sudah satu minggu ini ia telat datang bulan. Tanpa berpikir panjang, ia berjalan keluar area resort untuk mencari apotik.
Billa membeli obat asam lambung dan juga tespek, sesuai saran dari apoteker, ia harus memastikan dirinya negatif sebelum meminum obat asam lambung.
Dengan tidak sabar, Billa mencoba tespeknya dan hasilnya bergaris dua, terlihat wajah Billa yang berbinar, ia tak menyangka jika dirinya bisa hamil secepat ini.
Billa segera menaruh tespeknya didalam tasnya, ia akan memberikannya pada Davan tepat dihari ulang tahun Davan yang hanya tinggal beberapa hari.
Billa mengusap ngusap perutnya yang masih rata itu, ia mengajak bicara janin yang mungkin masih sebesar biji kacang hijau itu.
"Hai anak Ibu, sehat sehat diperut ibu ya, Nak. Ibu janji akan memperjuangkanmu untuk sehat dan lahir kedunia."
Ceklekk..
Davan masuk dengan wajah yang sulit diartikan.
"Kita berkemas." Kata Davan sambil mengeluarkan kopernya.
"Ada apa, Mas?" Tanya Billa yang merasa heran dengan sikap Davan.
"Mama masuk rumah sakit semalam. Ayo bantu aku berkemas, Bill." Kata Davan yang panik dan tanpa sengaja memanggil nama Billa, bukan Dear seperti biasanya.
Billa masih berpikir positif, mungkin Davan tengah panik, dan mungkin ini hanya perasaan Billa yang mendadak menjadi sensitif karna efek perubahan hormon karna kehamilannya.
Billa segera mengemas barang mereka kemudian mengganti pakaiannya.
Mereka langsung naik pesawat pribadi milik keluarga Dewantara yang sudah menunggunya.
Sebenarnya Billa masih merasakan tidak enak badan, bahkan didalam pesawat, sudah dua kali ia memuntahkan isi perutnya.
Namun kecemasan Davan pada sang Mama, membuat Davan tidak menyadari apa yang tengah dialami oleh Billa.
Mereka tiba di Jakarta dan segera menuju rumah sakit,
Didepan pintu kamar perawatan Ghea ada Zayn dan Aldrich yang sepertinya sedang berdebat.
"Kak Zayn.. Bagaimana kondisi Mama?" Tanya Davan tidak sabar.
__ADS_1
Zayn melihat kepanikan diwajah Davan, dan melihat kearah Billa dengan tatapan tidak suka.
"Masuklah, Dav. Tapi masuklah sendiri, karna Mama hanya boleh dijenguk oleh keluarga inti saja." Kata Zayn.
Davan segera masuk kekamar Ghea dan meninggalkan Billa.
Aldrich melihat ketidaksukaan Zayn pada Billa, sedari tadi Aldrich meminta Zayn untuk merahasiakan sementara masalah ini pada Davan hingga kondisi Ghea stabil, namun Zayn tetap bersikeras akan menceritakannya pada Davan seolah tidak perduli dengan hubungan Davan dengan Billa nantinya.
"Dan kamu, pulanglah. Davan akan berjaga disini." Ucap Zayn sinis dan segera masuk kedalam ruangan Ghea.
Aldrich melihat tidak tega pada Billa, ia juga merutuki sikap Davan yang seolah tidak melihat keberadaan Billa disisinya.
"Ayo Bill, aku antarkan pulang." Kata Aldrich.
"Tidak usah Kak, nanti aku merepotkan. Aku pulang sendiri saja. Supir masih menunggu dibawah." Jawab Billa.
"Supir pasti stay disini untuk berjaga jaga, Bill. Ayo aku yang antar kamu, istriku juga ada dirumah Tante Ghea sedang menemani Chelsea.
Billa mengangguk, ia pun pulang bersama Aldrich.
Diperjalanan, Aldrich mencoba mengajak Billa berbicara, "Besok tidak perlu kerumah sakit ya, Bill. Tante Ghea harus banyak istirahat."
Billa hanya mengangguk. "Mama sakit apa, Kak?" Tanya Billa.
"Tekanan darahnya tinggi." Aldrich tidak menjawab detail apa penyebabnya.
"Aku membawanya pulang, tadi ketemu dirumah sakit, Davan disana." kata Aldrich yang seolah tau pikiran Chelsea dan Clara.
"Bill, wajahmu pucat, kamu pasti lelah, Istirahatlah dulu." Kata Chelsea dengan lembut.
"Iya Kak Chel, trimakasih. Aku keatas dulu ya Kak Chel, Kak Clara." Pamit Billa yang diangguki oleh Chelsea dan Clara.
"Trimakasih Kak Aldrich." Ucap Billa dan Aldrich pun mengangguk
Chelsea menghela nafas saat Billa sudah tidak terlihat lagi, "Kasian Billa." Kata Clara.
"Bagaimana, Al. Sudah bicara dengan Kak Zayn?" Tanya Chelsea.
Aldrich menganggukan kepalanya, "Tapi percuma, Kak Zayn tetap akan menceritakannya pada Davan." Lirih Aldrich.
"Semoga tante Ghea segera stabil dan tidak mempermasalahkan asal usul Billa." Ucap Clara.
Tiga hari berlalu,
Davan masih belum pulang kerumah, tetapi Davan masih menghubungi Billa lewat pesan singkat. Davan pun meminta Billa untuk menyiapkan pakaian ganti yang nanti akan diambil oleh supir yang ikut berjaga dirumah sakit. Billa menyelipkan beberapa vitamin untuk Davan agar Davan tetap terjaga kesehatannya, ia pun sering mengirimkan pesan singkat pada Davan untuk tidak telat makan.
Davan tersenyum saat mengambil pakaian ganti dan melihat beberapa vitamin di tasnya, dan Zayn melihat ekspresi wajah Davan.
__ADS_1
"Tidakk, Kak.. Jangan Kak.. Tolong aku Kak.. Aku mohon jangan lakukan ini Kak.." Sudah kesekaian kalinya Ghea mengigau seperti ini.
Fadhil segera menghampiri Ghea dan membangunkannya, "Sayang, bangun Sayang." Pinta Fadhil.
Fadhil tidak menyangka jika trauma psikis yang terjadi lebih dari tiga puluh tahun itu masih membekas pada diri Ghea.
Ghea membuka matanya dan langsung memeluk Fadhil. "Kak Yasmin akan menjualku By, dia bilang akan merebutmu kembali." Ghea menangis tersedu di dada Fadhil.
"Tidak ada Yasmin disini, itu sudah berlalu di tiga puluh tahun yang lalu, lihatlah kita sudah menua sekarang, kita sudah memiliki dua putra." Kata Fadhil menenangkan.
Ghea mengendurkan pelukannya, kmeudian mengedarkan pandangannya menatap wajah Zayn dan Davan. Ia tersadar bahwa kejadian itu sudah lama terlewati.
"Dav..." Pangill Ghea dan Davan mendekat pada Ghea lalu memeluknya.
"Jangan sakit, Ma.. Davan sedih melihat Mama sepeeti ini." Kata Davan dengan lirih.
Ghea hanya menangis, entah ia merasakan hal apa dihatinya, yang ia tau perasan dan pikirannya tengah berperang.
"Dimana istrimu?" Tanya Ghea sesaat setelah melepaskan pelukannya.
"Dirumah, Ma.. Nemenin Chelsea dirumah." Jawab Davan.
Ghea hanya mengangguk.
Setelah Ghea kembali tertidur, Zayn mengajak Davan berbicara dikafetaria rumah sakit.
"Mama seperti ini karna istrimu." Kata Zayn tiba tiba.
Davan yang sedang makanpun langsung terdiam dan menatap wajah Zayn. "Apa maksud Kakak?" Tanya Davan.
Zayn menghela nafas, "Sudahlah lupakan saja."
"Jelaskan padaku apa maksud Kaka, Kakak sudah menyebut nama istriku, apa kaitan istriku dengan kondisi Mama seperti ini?" Tanya Davan.
Zayn membalas tatapan tajam Davan. "Apa jika kamu mengetahui masalahnya, kamu bisa memulihkan kondisi Mama?"
"Ceritakan padaku, apa yang Billa perbuat." Kata Davan penuh penekanan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Ada yg masih ingat Yasmin dan cerita jahatnya Yasmin?
Jangan bilang Ghea lebay ya, Karna Trauma psikis itu memang bisa kambuh jika ada kejadian yang mengingatkan pada kejadian dimasa lampau.
Yang belum tau ceritanya, mampir yuk di TAKDIR CINTA (Ghea&Tristan).
__ADS_1