
Malam tadi, akhirnya Davan bisa bernafas lega, Billa dengan lapang dada mau memaafkan Davan meski awalnya sangat berat.
Bukan tanpa alasan, Billa melakukan hal ini juga karna melihat Jidan yang biasanya krisis kepercayaan dan cenderung tetutup, kini menjadi anak yang begitu manja terhadap sosok bernama Ayah itu.
"Ibu..." Panggil Jihan yang kini mulai sadar dari efek obat biusnya.
Davan nengerjapkan matanya kala mendengar suara Jihan, ia melihat Billa yang tertidur begitu pulas bersama Jidan.
Davan mendekat pada brankar Jihan, "Ji.. Kau sudah sadar?" Tanya Davan yang kemudian menekan tombol untuk memanggilkan suster.
Suster datang dan memeriksa keadaan Jihan. Setelah suster selesai memeriksa Jihan dan kembali keluar, Davan duduk dikursi sebelah Brankar.
"Sakit?" Tanya Davan lembut.
Jihan terlihat bingung, ia menggelengkan kepalanya.
"Dimana Jidan?" Tanya Jihan.
"Sedang tidur bersama Ibumu disana." Davan menunjuk satu ruangan dengan pintu terbuka.
"Bapak sedang apa disini?" Tanya Jihan bingung.
Davan tersenyum, ia tidak ingin membuat Jihan semakin bingung.
"Aku menemanimu disini."
"Aku ingin Ibu." Kata Jihan seakan ingin menangis.
"Sebentar aku panggilkan Ibu." Jawab Davan tidak menolak.
Davan melangkah mendekati Billa dan mengelus kepalanya, "Dear, Jihan mencarimu." Kata Davan pelan.
Billa mengerjapkan matanya, "Hem.."
"Jihan mencarimu, dia masih merasa aneh disini." Kata Davan.
Billa mengangguk kemudian berdiri dari tempat tidur. "Istirahatlah, Mas. Aku yang akan gantian menjaga Jihan."
Davan mengangguk, ia pun merebahkan diri disebelah Jidan.
Billa menghampiri Jihan, Ternyata Jihan hanya takut berada ditempat asing dan masih merasakan sedikit pusing, Jihan ingin tidur kembali tapi ditemani oleh Billa.
Jidan terbangun dan ia menyadari seseorang tidur bersamanya, Jidan tersenyum, ternyata apa yang ia lalui kemarin hingga semalam bukanlah mimpi. Bapak baik hati yang ia sukai ternyata adalah ayah kandungnya sendiri. Jidan langsung memeluk Davan yang masih dengan kondisi tertidur.
"Kau sudah bangun, Son?" Tanya Davan pada putra sulungnya itu.
Jidan mengangguk dan anggukannya terasa oleh Davan.
"Mimpi burukmu sudah lewat, Mulai dari semalam, Ayah akan terus mengukir mimpi indah untuk mu dan Jihan" Kata Davan. "Tapi bukan mimpi indah, melainkan kenyataan yang indah. Kita akan melalui hari bersama sama." Davan mengusap punggung jidan.
"Jihan pasti akan senang jika tau Ayah adalah Ayah kami." Kata Jidan.
"Kau sangat menyayangi Jihan?" Tanya Davan.
Jidan nengangguk, "Aku pernah berpikir, bagaimana jika Ibu tidak ada, maka aku akan sendirian, aku bersyukur, Tuhan memberikanku saudari kembar, Jihan yang akan menemaniku hingga kami membesar bersama."
Davan tersenyum, "Pikiranmu dewasa sekali."
"Ayo bangun, mau mandi bersama Ayah?" Tanya Davan.
Jidan langsung mengangguk, ini adalah hal yang ia pernah dambakan, mandi bersama seorang Ayah sambil berbagi cerita.
Suara tawa dari dalam kamar mandi terdengar oleh Jihan. "Bu, Jidan sedang main sama siapa?" Tanya Jihan yang baru saja bangun.
__ADS_1
"Sama Ayah." Jawab Billa.
"Ayah siapa, Bu?" Tanya Jihan bingung.
Billa tersenyum dan memandangi wajah Jihan, "Orang baik yang membelikan kalian sepatu dan Tas." Jawab Billa.
"Bapak itu menjadi Ayah kami, Bu?" Tanya Jihan lagi.
Billa ingin tertawa melihat ekspresi Jihan. "Bukan menjadi Ayah kalian, tapi memang dia adalah Ayah kalian."
"Ayah kami, Bu? Tapi kenapa Bapak itu tidak bilang?" Tanya Jihan lagi.
Billa mengusap punggung tangan Jihan, "Ayah takut kalian marah karna terlalu lama pergi. Jadi Ayah mendekati kalian pelan pelan sampai membuat kalian bisa menerima Ayah."
Ceklekk
Davan keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap dan menggendong Jidan yang masih memakai handuk.
"Bu, tolong ambilkan baju Jidan." Kata Davan memanggil Billa dengan sebutan Ibu didepan anak anaknya.
Billa mengangguk kemudian menatap wajah Jihan, "Tunggu sebentar ya." Kata Billa pada Jihan lalu mengambilkan pakaian untuk Jidan.
"Sini Ibu yang pakaikan." Kata Billa.
"Tidak, Bu. Aku mau sama Ayah saja." Jawab Jidan.
"Jid, kau sudah besar, sudah mau delapan tahun, pakai bajulah sendiri." Ucap Billa.
"Tidak apa, Bu. Sesekali biar aku yang mengurus Jidan." Jawab Davan tersenyum.
Billa membalas tersenyum, ia merasa senang melihat Jidan yang kini bisa merasakan kasih sayang seorang Ayah.
Setelah berpakaian, Jidan menghampiri Jihan di brankar.
"Jid, kepalaku sakit sekali." Ucap Jihan manja.
"Maafkan aku, Ji." kata Jidan menyesal.
Jihan hanya mengangguk anggukan kepalanya.
"Ji, apa kau tau? Bapak itu adalah Ayah kita. Dia sudah kembali, Ji. Kita berdua memiliki Ayah, kita bukan anak tanpa Ayah seperti apa yang dikatakan Rosa dan Gibran." Kata Jidan.
Jihan nengangguk,
"Lihatlah Ji, kamar dirumah sakit ini besar sekali, ada pendingin ruangannya, banyak balon berwarna pink dan boneka boneka untukmu." Kata Jidan antusias.
"Itu semua boneka milikku, Jid?" Tanya Jihan.
"Tentu saja, Ayah yang membelikannya untukmu."
"Disini ada lemari pendingin juga, Ji. Kau bisa meminum air es tanpa harus membeli es batunya, Ji. Didalam sana juga banyak coklat dan makanan lainnya. Kau pasti akan cepat sembuh." Kata Jidan.
Jihan hanya mengangguk,
"Ji, apa kau tidak suka?" Tanya Jidan.
"Aku suka, Jid. Tapi kepalaku pusing sekali." Kata Jihan.
Davan menghampiri Jidan dan Jihan lalu duduk memangku Jidan. "Hai princess, kau hebat sekali." Kata Davan memuji.
"Jadi Bapak benar Ayah kami?" Tanya Jihan.
Davan mengangguk. "Kau tidak suka?" Tanya Davan.
__ADS_1
"Aku suka, tapi kepalaku sakit." Jawab Jihan yang membuat Davan tersenyum.
"Nanti akan ada dokter yang memeriksamu. Istirahatlah, jangan dulu banyak bicara ya." Kata Davan.
"Ibu tidak bekerja?" Tanya Jidan.
"Mulai hari ini, Ibu tidak akan bekerja lagi. Ayah yang akan bekerja untuk mencukupi kebutuhan kalian." Bukan Billa yang menjawab, melainkan Davan yang menjawabnya.
"Aku belum bilang pada pemilik toko." Kata Billa.
"Aku sudah menyuruh orang untuk kesana. Kamu tidak perlu kesana lagi." Kata Davan tidak bisa dibantah.
"Ibu akan slalu dirumah?" Tanya Jidan antusias.
"Ya, Ibu akan dirumah menemani kalian." Davan tersenyum sambil mengusap lembut kepala anak sulungnya.
"Kita akan tingga bersama, Yah?" Tanya Jihan.
"Tentu saja, dan setiap hari Ayah yang akan mengantar kalian kesekolah." Ucap Davan.
"Pakai mobil Ayah?" Kali ini Jihan yang bertanya.
"Pakai mobil kalian, Ayah akan membelikan kalian mobil, khusus untuk mengantar kalian sekolah dan pergi bersama Ibu." Jawab davan.
Jidan dan Jihan saling melihat. "Woowww itu sih kerenn." Seru mereka berdua.
Ceklekk..
Suara pintu terbuka dan terlihat Aldrich masuk kedalam ruang perawatan Jihan.
"Wahh keluarga cemara sedang berkumpul." Ledek Aldrich lalu menghampiri brankar.
"Hei princess, bagaimana keadaanmu?" Tanya Aldrich.
"Baik, Pak." Jawab Jihan.
"Oh my God, Panggil aku Daddy Al." Kata Aldrich.
"Tapi tidak sopan memanggil nama pada orang tua." Jawab Jihan polos.
"Nama?" Tanya Aldrich lagi.
"Ya, tidak sopan memanggil Bapak dengan nama Dedi." Kata Jihan.
Davan dan Billa menahan tawanya.
"Oh my god, princess.. Daddy itu adalah nama panggilan lain dari Ayah." Kata Aldrich.
"Tapi teman sekolah kami juga ada yang bernama Dedi." Kata Jihan.
"Ya teman sekelas kami bernama Dedi Arifin." Sahut Jidan.
"Sudahlah, Al. Kau hanya membuat putra putriku pusing." Cibir Davan.
Aldrich menyipitkan matanya, "Aku bisa sabar mengajari JJ karna aku sudah berpengalaman menjadi seorang Ayah selama dua belas tahun, sementara kau hanya baru satu hari menjadi Ayah." Ledek Aldrich yang langsung mendapatkan tatapan tajam seakan memburu dari Davan.
Aldrich tertawa, "Senang bisa membullymu kembali setelah delapan tahun melihatmu menderita."
Billa tersenyum melihatnya.
"Bill, terimakasih sudah mau kembali pada Davan. Delapan tahun ini dia sangat merepotkanku dan Chelsea." Kata Aldrich pada Davan, dan Billa tertawa mendengar hal itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1