BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 71


__ADS_3

"Dav memang pantas ditinggal oleh Billa, tapi Ma, apa Dav salah jika Dav ingin tau kabar Billa dann memastikannya jika dia hidup dengan layak? Billa tak punya siapapun, Ma. Dav takut Billa kesulitan diluar sana." Kata Davan yang kemudian bersimpuh dikaki Ghea.


Davan mengeluarkan sesak didadanya,


"Ampuni Dav jika Dav salah memilih pendamping hidup, Ma. Maafkan kesalahan Ibunya Billa, Billa tidak bersalah, Ma.." Akhirnya Davan mengeluarkan isi hatinya yang slama ini ia pendam.


Ghea membelai kepala Davan dengan lembut, "Mama tidak menyalakan Billa. Mama juga sudah memaafkan Ibunya Billa." Kata Ghea lembut.


"Tapi Billa sudah pergi, Ma. Billa pergi tanpa membawa apapun, Dav mengkhawatirkan Billa."


"Apa dengan menangis, kamu bisa melindungi Billa? Mintalah perlindungan pada yang maha kuasa, sebaik baiknya penolong, hanya Dialah yang bisa menolong Billa, Dav." Kata Ghea.


"Semoga kalian dipertemukan kembali, Mama sangat berharap akan hal itu." Kata Ghea dengan pandangan kurus kedepan.


Ghea melihat surat Billa diatas nakas, ia membacanya. Sebagai seorang wanita, ia merasakan kepedihan itu. Entah Yasmin melakukan kebaikan apa hingga membuat Billa merasa bahwa Yasmin adalah ibu yang berharga untuknya.


"Badanmu panas, Dav." Kata Ghea.


Sudah berapa hari ini Davan memang tidak berselera makan, ia merasa separuh nyawanya ikut menghilang.


"Ada obat disini?" Tanya Ghea.


"Davan yang tadinya duduk dilantaipun kini pindah berbaring keatas tempat tidur, sedari tadi memang kepalanya terasa sakit dan suhu tubuhnya pun sedikit demam.


"Ada beberapa obat dan Vitamin dilaci nakas, Ma. Tapi Dav gak tau apa ada obat demam disitu." Kata Davan lemah.


Ghea membuka lacinya kemudian melihat sesuatu, kotak biru muda berpitakan putih. Bahkan Ghea baru mengingat bahwa hari ini adalah ulang tahun Davan.


"Dav, hari ini ulang tahunmu." Kata Ghea.


Davan hanya diam, Ghea mengambil kotak itu dan memberikannya pada Davan. Sepertinya Billa meninggalkan ini untukmu." Kata Ghea.


Davan melihat dan mencoba duduk kembali.


Ia membukanya dengan perlahan dan seketika perasannya bergemuruh saat melihat sebuah tespek menunjukan dua garis merah.


"Selamat ulang tahun dan selamat menjadi calon Ayah, semoga menjadi Ayah yang siaga untuk kami. We love U, Ayah."


Perasaan Davan semakin tak menentu.


"Billa hamil, Ma." Kata Davan dengan pandangan tak lepas dari tespek itu, tangannya pun gemetar memegang tespek itu.


Ghea pun terkejut mengetahui jika menantunya itu pergi dalam kondisi hamil.


"Bagaimana ini, Ma.. Dimana Billa dan calon anak Dav, Ma.." Davan terlihat kacau kembali.

__ADS_1


Ghea memeluk putranya yang rapuh itu, memang Davan adalah replika dirinya dengan semua persamaannya termasuk perasannya yang mudah sensitif.


"Sabar, Dav. Nanti kita cari Billa sama sama." Kata Ghea.


"Engga Ma, Dav gak mau nunggu nanti." Kata Davan seolah frustasi. "Dav menyakiti Billa, Ma.. Dav menyesal Ma.." Davan terus saja meluapkan isi hatinya.


Ghea sungguh merasa sedih melihat kondisi Davan. Selain kehilangan istrinya, ia juga kehilangan calon anaknya yang baru saja ia ketahui."


Kondisi Davan semakin lemah, wajahnya pun memucat dan suhu tubuhnya semakin tinggi. Ghea menenangkan Davan hingga tertidur. Beberapakali Davan mengigau memanggil Billa, membuat Ghea ikut merasakan kesedihannya itu.


Fadhil masuk kekamar Davan bersama Zayn sepulang dari bekerja. Fadhil pun melihat putranya yang seakan dunianya hilang dari hidupnya.


"Dav demam By." Kata Ghea.


"Ini karna Zayn, Ma. Andai Zayn tidak bertindak gegabah." Kata Zayn penuh penyesalan.


"Tespek siapa itu, Ma?" Tanya Fadhil saat matanya tertuju pada tespek diatas nakas.


"Billa pergi dalam kondisi hamil, sepertinya Billa ingin memberikan kejutan untuk ulang tahun Davan, tapi tidak tau jika akan seperti ini jadinya." Kata Ghea.


Fadhil menghela nafas, "Semoga Anak buah Fariz cepat menemukan Billa."


**


Siang ini ia berencana untuk memeriksakan kandungannya, karna ia belum pernah sekalipun memeriksakannya sama sekali.


Padahal ia berharap akan ditemani oleh Davan dan menyaksikan janinnya bertumbuh dengan baik.


"Suaminya tidak ikut?" Tanya dokter yang bernama dokter Rina itu.


"Saya sudah berpisah dengan suami saya, dok." Jawab Billa.


"Oh, Maafkan saya ya Bu. Mari kita periksa." Dokter Rina mencoba memeriksa kondisi kehamilan Billa.


"Dua, ini kantungnya ada dua, Bu." Kata dokter Rina yang sambil menggerakan alat USG diperut Billa. "Tidak salah lagi, ini benar dua kantung bu. Selamat anda akan memiliki anak kembar." Kata dokter Rina.


Billa terkejut karna ia bukan hanya mengandung satu bayi, melainkan dua bayi sekaligus. Ia teringat jika adik dari Papa mertuanya itu adalah kembar, kemungkinan ini turunan kembar dari keluarga Davan.


"Saya akan meresepkan vitamin untuk anda." Kata dokter Rina.


Billa berjalan dipinggir trotoar, ia berjalan sambil memegang perutnya, "Kalian ada dua? Apa yang harus Ibu lakukan? Haruskah Ibu memberitahu Ayah kalian? Tapi kalian bukanlah keturunan yang diinginkah oleh keluarga Ayah kalian." Kata Billa dengan sedih.


"Tetaplah sehat diperut Ibu, Ibu akan berjuang untuk kalian. Ibu bersyukur ada kalian yang menemani Ibu, Ibu tidak akan hidup sendirian lagi." Billa tersenyum dan menghapus air matanya.


Billa kembali berjalan menuju tujuan selanjutnya, ia membeli sebuah ponsel dengan harga satu juta, lalu ia ke pasar tempat menjual batik untuk mencari pekerjaan.

__ADS_1


Namun tidak ada satupun yang mau menerima Billa dengan kondisi hamil, Billa duduk didepan sebuah toko ia memakan roti dan air mineral, ia merasakan perutnya mudah sekali lapar.


Bersyukur ia hidup di kota ini, karna biaya hidup dikota ini tidaklah mahal, ia bersyukur akan hal itu.


"Omi.. Apa kau membenciku, atau merindukanku?" Tanya Billa dalam hati sambil menatap langit biru, dan tangannya mengusap perutnya yang masih rata.


Ingin rasanya Billa mendial nomor ponsel Davan yang diingat olehnya, namun ia menahannya saat mengingat apa yang Davan ucapkan pada Aldrich yang berniat melepaskannya.


"Begini rasanya tidak diperjuangkan dan terbuang, mungkin ini yang ibu rasakan dulu, terbuang dan tidak ada yang menginginkannya. Tapi aku tidak akan mengikuti jejak ibu, aku akan menghidupi anak anakku dengan rejeki yang halal meski aku harus bersusah payah." Batin Billa.


Ia kembali berjalan menelusuri trotoar sambil memikirkan pekerjaan apa yang akan ia jalani.


**


"Jihaaaannn, hentikan, jangan pernah memukulnya." Teriak Jidan pada saudari kembarnya itu.


"Biar saja, Jid. Dia berani menghina Ibu kita." Jawab Jihan.


"Hentikan, Ji. Jangan mempersulit Ibu. Ibu pasti akan dipanggil kesekolah jika kau sampai memukulnya." Kata Jidan memberitahu.


Jihan melepaskan cengkraman pada kerah baju Gibran, anak yang sering menjahilinya.


"Berani kau katakan yang tidak tidak tentang Ibuku, akan kurontokan gigimu." Gertak Jihan, anak gadis hampir berusia delapan tahun yang tomboy dan sangat menyukai karate.


Jidan menarik tangan Jihan untuk menjauh dari Gibran dan membawanya pergi.


"Bajumu kotor." Kata Jidan sambil menepuk nepuk bagian baju Jihan yang terlihat kotor.


"Dia menghina Ibu kita, Jid." Kata Jihan, "Dia bilang Ibu kita bukan wanita baik dan tidak bisa mengajari kita dengan baik." Ucapnya lagi berusaha menjelaskan pada Jidan.


"Tidak apa, Ji. Yang penting Ibu kita tidak seperti itu." Kata Jidan.


"Aku tidak suka dia menghina Ibu, lebih baik dia menghinaku saja, Jid. Asal jangan Ibu."


Jidan merangkul pundak Jihan, "Jangan sedih. Lain kali biar aku saja yang menghajarnya."


"Jika kita memiliki Ayah, kita tidak mungkin seperti ini ya, Jid. Apa kau tidak ingin mencari Ayah dimana, Jid?" Tanya Jihan.


"Kamu ingin membuat Ibu sedih, Ji? Apa Ibu dan aku saja tidak cukup untukmu? Tanya Jidan.


Jihan terdiam.


"Hei.. Kalian menjual apa?" Seketika Jidan dan Jihan yang membawa keranjang berisikan dagangannya langsung nenoleh kearah sumber suara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2