
Gibran menjemput Alika keruangannya, Anton yang melihatnya langsung berdiri.
"Ada yang diperlukan, Pak? Biar saya yang mengantar ke ruangan anda." Kata Anton.
"Tidak, saya kesini mau jemput Alika untuk pulang bersama." Jawab Gibran.
Alika yang mendengarnya merasa senang, wajahnya bersemu merah, ia tak menyangka jika Gibran akan bersikap semanis ini.
"Sudah selesai?" Tanya Gibran yang membuat Alika terkesiap tak menyadari jika Gibran sudah berada didepan mejanya.
"Eh iya, Mas. Sudah." Jawab Alika sedikit gugup.
Alika membereskan isi tas nya, kemudian berdiri merapihkan pakaiannya.
Gibran meraih tas Alika, "Biar aku yang bawakan." Ucapnya lembut.
"Jangan, Mas." Kata Alika merasa tak enak. Meski bagaimanapun ini adalah kantor dan Gibran ada pimpinan perusahaan. Apa kata bawahannya jika Gibran membawakan tas asisten magang diperusahaanya.
"Gak apa apa, ini sudah lewat jam kantor." Katanya. "Ayo." ajak Gibran kemudian menggenggam erat tangan Alika didepan Anton.
Alika tersenyum, hatinya berbunga bunga saat Gibran melakukah hal romantis menurut Alika.
Mereka jalan bergandengan tangan menuju loby. Satu tangan Gibran yang membawakan tas Alika terlihat romantis dimata karyawannya.
"Pak Gibran uwu sekali." Kata Karyawan wanita yang melihat Gibran dan Alika.
"Ahh mau dong jadi Mba Alika." Sahut karyawan satunya lagi.
Mereka semakin terhipnotis saat melihat Gibran yang membukakan pintu mobil untuk Alika, "Romantis sekali." Sahut yang lain.
Gibran masuk kedalam mobil setelah menutup pintu, ia memasang seatbel nya sambil tersenyum ke arah Alika.
"Karyawanmu banyak yang melihat kita, Mas." Kata Alika.
Gibran mulai menjalankan kendaraannya, "Biar mereka tau, bos nya sudah punya calon istri." Jawab Gibran.
Lagi lagi wajah Alika bersemu merah, Gibran pintar sekali membuat Alika senang.
"Mas, makan dirumahku sekalian ya." Ajak Alika.
Gibran mengangguk, "Baiklah." Jawab Gibran tak menolak.
Aldrich menyambut baik hubungan Alika dengan Gibran. Bahkan Aldrich menyukai Gibran yang dengan beraninya mengutarakan niatnya untuk melamar Alika saat Alika lulus kuliah.
Tentu saja Aldrich mengijinkannya. Jihan dan Alaska pun merasa lega, selama ini mereka beranggapan tlah menyakiti hati Gibran, namun nyatanya kini Gibran dan Alika memiliki hubungan.
"Jadi, Daddy Gab bersama Auntie Al?" Tanya Jihan yang tiba tiba saja ada dibelakang Gibran sambil menggendong Jove.
__ADS_1
"Hei anak cantik." Sapa Gibran saat menoleh dan mengambil Jove dari gendongan Jihan.
"Daddy Gab merindukanmu." Kata Gibran seraya mengajak bicara Jove.
"Hmm suka pura pura gak denger nih Daddy Gab." Ledek Jihan.
"Mommymu sensitif sekali, Jove." Balas Gibran.
"Gab, aku serius." Tanya Jihan.
"Udah tau, nanya!!" Kata Gibran.
Jihan menghela nafas. "Aku lega." Ucapnya.
"Aku lebih lega." Balas Gibran.
"Lebih lega gimana?" Tanya Jihan.
"Karna berhasil meyakinkan perasaanku sendiri kalau aku ternyata mencintai Alika." Ucap Gibran dengan sungguh.
"Hmm so sweet sekali, Daddy Gab. Pasti Alika akan bahagia sekali." Kata Jihan.
Gibran mengangguk, "Itu pasti, aku akan membuat wanitaku bahagia." Jawabnya mantap.
"Aku turut bahagia, Gab." Kata Jihan.
Tanpa mereka sadari, baik Alaska dan Alika mendengar semua percakapan itu. Alika merasa bahagia karna ternyata Gibran memang benar mencintainya dan Alaska juga merasa lega karna akhirnya perasaan Gibran lepas dari Jihan.
"Kau beruntung sekali jika sampai menikah dengan pria seperti Gibran." Kata Alaska pada Alika.
"Kalau begitu Kak Al juga harus memantaskan diri untuk Kak Jihan. Buat Kak Jihan menjadi wanita paling beruntung menikah dengan Kak Al." Balas Alika.
Kata kata Alika membuat Alaska sedikit tersadar. Hingga detik ini, Jihan tidak membalas kata cintanya. Slalu Alaska yang mengatakannya dan tanpa balasan.
Alaska berpikir, mungkinkah Jihan mau menikah dengannya hanya karna sudah terlanjur ada Jove diantara mereka? Benarkah Jihan sudah ikhlas merelakan pria baik seperti Gibran? Tanyanya dalam hati Alaska.
Malam semakin larut, Alaska masih menggendong Jove sambil memberikan Asi Jihan yang sudah dipindahkan kedalam dot.
"Kau pintar sekali, kau juga sangat cantik, Daddy akan menjadi Daddy yang protektif padamu, Sayang." Ucap Alaska sambil perlahan menidurkan Jove didalam box bayi.
Alaska merangkak naik keatas tempat tidur, mendekat pada Jihan dan merebahkan kepalanya dipangkuan Jihan.
Tangan Jihan terulur mengusap lembut kepala Alaska.
"Sayang.." Panggil Alaska.
"Hmm" Jawab Jihan singkat yang masih memainkan ponselnya.
__ADS_1
"Aku mencintaimu." Kata Alaska.
"Aku juga mencintaimu." Jawab Jihan.
Alaska langsung terduduk menghadap Jihan dan memegang kedua bahunya. "Apa, Sayang? Coba katakan lagi." Kata Alaska semangat.
"Aku mencintaimu, Kak Al. Aku mencintaimu Daddynya Jove." Kata Jihan dengan membalas tatapan Alaska.
"Serius, Sayang? Aku gak lagi mimpi kan?" Tanya Alaska.
Jihan menaruh ponselnya, ia menangkup kedua pipi Alaska kemudian mengecup bibirnya sekilas. "Aku mencintaimu. Aku jatuh cinta padamu, setiap kali kamu membantuku memegang Jove, mengambil andil dalam mengurus Jove, semua ketulusanmu perlahan membuat aku menyadari jika aku ternyata mencintaimu."
Alaska memeluk Jihan, "Tadinya aku tidak percaya diri. Aku takut kamu menyesal berpisah dengan pria sebaik Gibran, aku takut kamu menikah denganku hanya karna Jove." Kata Alaska.
Jihan tersenyum. "Awalnya aku memang menikah denganmu karna terlanjur sudah ada Jove, aku tidak ingin Jove sama sepertiku saat kecil, tidak merasakan kasih sayang seorang Ayah." Kata Jihan lalu menghela nafas sejenak. "Tapi lama kelamaan aku begitu menyukai sikap lembutmu pada Jove juga semua sikapmu padaku."
Alaska menarik Jihan kedalam pelukannya, "Terimakasih, Sayang. Aku janji hidupku hanya untuk keluarga kecil kita."
Jihan membalas pelukan Alaska. "Aku pegang janjimu, Kak." Kata Jihan lalu menggigit daun telinga Alaska.
Alaska terkesiap, lalu mencubit hidung Jihan. "Nakal." Ucapnya.
Jihan tertawa pelan, "Main yuk Kak." Ajaknya menggoda.
Alaska menaikan satu halisnya dan Jihan tertawa. "Aku sedang ingin...."
"Bercinta." Sahut Alaska cepat.
Jihan mengangguk. "Aku ingin diatas." Katanya dengan sensual.
"Ohh Jihanku sayang, aku pasti akan kalah jika kamu diatas." Ucap Alaska.
"Kalau kalah, besok kamu tidak boleh kerja, aku ingin jalan jalan ke Mall dan berbelanja." Ucapnya.
"Itu gampang, Sayang. Puaskan aku dulu." Kata Alaska yang kini menelusuri leher jenjang Jihan.
Jihan tertawa, "Kalau begitu aku ingin honey moon saja ke Paris."
Alaska menarik wajahnya dari ceruk leher Jihan dan menatap wajah cantik istrinya itu. "Kamu mau honeymoon?" Tanya Alaska.
Jihan nengangguk cepat, "Aku juga wanita normal, Kak. Memimpikan dilamar secara romantis oleh kekasihku, namun kenyataannya aku menikah tanpa dilamar." Kata Jihan yang membuat hati Alaska sedikit tercubit.
"Persiapkan dirimu, minggu depan kita ke Paris, Pompa asimu untuk stock dua minggu. Biarkan Jove bersama Mommy atau Ibu. Kita akan pergi berdua."
Mata Jihan berbinar. "Benarkah kita akan ke Paris?"
Alaska mengangguk, tangannya terulur merapihkan rambut Jihan kebelakang telinganya. "Minggu depan kita berangkat. Aku akan menyelesaikan pekerjaanku dulu."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...