
Davan benar benar mencukupi semua kebutuhan Putra dan Putrinya, contohnya saja hari ini. Davan membawa istri dan anak anaknya ke sebuah Mall.
Davan meminta Billa Memilihkan pakaian dan segala kebutuhan untuk kedua anak mereka. Davan pun membelikan mereka ponsel untuk komunikasi dan agar anak anak mereka tidak gaptek. Meskipun begitu, Davan tetap membatasi penggunaan ponsel pintar itu.
"Yah, boleh aku beli sepatu futsal?" Tanya Jidan ragu.
"Tentu saja, Son. Ayo kita beli." Ajak Davan untuk memasuki toko yang menjual perlengkapan olahraga.
Jidan dengan senang memilih sepatu yang ingin ia beli. "Yah diantara ketiga sepatu ini, mana yang paling bagus?" Tanya Jidan.
Davan melihatnya, rupanya sang anak menyukai warna biru, terlihat dari tiga pasang sepatu yang Jidan pilih di dominasi oleh warna Biru.
"Ketiganya bagus, kau beli saja ketiganya." Kata Davan pada Jidan.
"Ketiganya, Yah?" Tanya Jidan memastikan dan Davan mengangguk.
"Satu saja, Yah. Aku takut nanti uang Ayah habis." Kata Jidan polos.
Davan tersenyum dan mengusap kepala Jidan. "Bahkan isi dunia akan Ayah beli untukmu, Nak." Kata Davan. "Beli lah, ini belum seberapa." Kata Davan pada sang putra.
"Dua saja kalau begitu, Yah." Kata Jidan lagi.
Davan mengangguk. "Beli juga bola dan jersey untukmu berlatih, jangan lupa tas olah raganya." Kata Davan.
"Ayah bantu aku pilihkan, ya." Pinta Jidan.
"Tentu saja, Son." Jawab Davan. "Kau menyukai warna biru?" Tanya Davan.
Jidan mengangguk.
"Kau sama seperti Ayah dan Nenek. Menyukai warna biru." Jawab Davan.
"Itu karna aku anak Ayah." Kata Jidan dan Davan tersneyum mendengar hal kecil itu.
Setelah menemani Jidan, mereka beralih membeli peralatan sekolah, kali ini Jihan sangat antusias memilih perlengkapan sekolahnya. Ia bisa membeli tempat pinsil yang ia tidak pernah punya sekalipun.
"Mas ini sudah banyak sekali." Kata Billa berbisik.
"Tidak apa, Sayang. Ini tidak seberapa dan ini memang hak kamu dan anak anak." Jawab Davan.
Davan pun menyuruh Billa berbelanja untuk dirinya sendiri, juga make up yang Billa butuhkan. Seharian ini Davan benar benar memanjakan istri dan anak anaknya itu.
"Kalian mau makan apa?" Tanya Davan.
"Apa saja, Yah. Perut Jihan sudah lapar sekali." Kata Jihan.
Davan mengajak mereka untuk makan direstoran steak.
Davan memesankan steak, spagheti, banana split untuk kedua anaknya.
"Kalian suka?" Tanya Davan dengan senyum yang slalu mengembang.
Jidan dan Jihan mengangguk. "Kami suka sekali, Yah." Jawab Jihan senang.
"Habiskan makanan kalian, Ayah masih punya kejutan lagi untuk kalian." Ucap Davan.
"Kejutan lagi, Yah?" Tanya Jidan tak percaya.
__ADS_1
Davan mengangguk.
Jidan dan Jihan fokus menikmati makanannya, Davan membisikan sesuatu pada Billa, "Kau senang?" Tanya Davan.
Billa mengangguk, "Aku senang." Jawab nya tersenyum.
"Kalau begitu nanti malam kau harus membuatku senang." Bisik Davan lagi.
Billa tersenyum, "Sepertinya besok aku akan kelelahan sekali." Jawab Billa.
Jawaban Billa membuat Davan begitu senang, rasa rindu pada istrinya akan terlampiaskan nanti malam, semoga saja Jidan dan Jihan mau tidur dikamarnya masing masing.
Davan membawa pulang Jidan dan Jihan kerumah, ia sudah melihat sebuah mobil sedan terparkir dihalaman rumahnya.
"Ada tamu, Yah?" Tanya Jihan.
Davan tersenyum. Ia mengajak Jidan dan Jihan turun dari mobilnya.
"Ini mobil kalian." Kata Davan pada kedua anaknya.
"Mobil kami, Yah?" Tanya Jidan.
"Lusa kalian akan mulai bersekolah ditempat yang baru, ini mobil kalian, dan itu supir kalian, namanya Pak Yanto." Ucap Davan memperkenalkan pria paruh baya itu.
"Keren sekali." Seru Jidan dan Jihan bersamaan.
"Mintalah apapun pada Ayah, Ayah akan memenuhi kebutuhan kalian." Kata Davan sambil mengusap puncak keoala kedua anaknya bersamaan.
Setelah itu Davan membawa Jidan Jihan masuk kedalam rumah dan menuju kamar yang saling bersebalahan. "Masuk." Ajak Davan.
Mata Jidan berbinar saat melihat sebuah kamar dengan dekorasi super hero. "Yah ini keren sekali." Seru Jidan.
"Keren sekali, Jid." Kata Jihan yang ikut merasakan kebahagiaan saudara kembarnya.
"Ada kamar mandi didalamnya juga." Seru Jidan lagi. "Yah ini keren sekali." Jidan memeluk Davan dan Davan membalas pelukannya.
"Itu pintu apa, Yah?" Tanya Jihan yang melihat lagi sebuah pintu.
Davan mengajak Jihan untuk mendekati pintu yang dimaksud dan membukanya.
Sebuah kamar bernuansa pink, dengan karakter berbagai macam princess di serial disney.
"Ayah ini cantik sekali." Seru Jihan.
Luas kamar yang luasnya sama dengan kamar Jidan, dengan segala barang yang sama. Hanya dari warna yang membedakan.
"Sengaja Ayah kasih pintu terhubung ke kamar Jidan, kalau Jihan takut bisa minta ditemani oleh Jidan ya." Kata Davan.
Jidan dan Jihan berhambur memeluk Davan.
"Terimakasih, Ayah." Ucap mereka bersama.
Davan menurunkan tubuhnya agar sejajar dengan kedua anaknya.
"Ayah minta maaf karna membuat kalian susah. Ayah sungguh menyesal. Mulai dari sekarang, Ayah akan slalu ada untuk kalian." Ucap davan kemudian memeluk kembali kedua putra putrinya.
Jidan dan Jihan beristirahat dikamarnya masing masing. Mereka sangat senang mempunyai kamarnya sendiri sendiri. Bisa merasakan kasur yang empuk, selimut tebal, serta ruangan yang memakai pendingin ruangan.
__ADS_1
Billa selesai membersihkan diri dan memakai pakaian rumahan, Davan pun mendekat pada Billa.
"Kamu wangi sekali." Ucap Davan parau.
Billa tau sekali, sudah lama suaminya menahan hasrat.
"Mas, apa kita tidak menikah ulang?" Tanya Billa ragu ragu.
"Tidak perlu, sewaktu kamu pergi, tidak ada kata talak keluar dari mulutku, itu artinya kamu masih istri sah aku." Jawab Davan.
Billa mengangguk tanda mengerti. "Mangapa kamu tidak menikah lagi?" Tanya Billa yang kini berjalan menuju meja riasnya.
Davan membantu Billa mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil.
"Aku hanya ingin, pernikahanku terjadi hanya satu kali dalam seumur hidupku." Jawab Davan.
"Tapi aku sudah berdosa meninggalkanmu." ucap Billa bersalah.
"Jika bicara soal dosa, aku juga mempunyai banyak dosa padamu." Davan menghela nafas sejenak. "Kita mulai semua dengan lembaran baru, jangan lagi meninggalkanku." Kata Davan.
Davan duduk dibawah dan menggenggam tangan Billa. "Aku hampir gila saat tau kamu pergi, dan aku tenggelam penyesalan saat aku tau kamu pergi dalam keadaan hamil."
Tangan Billa terulur mengusap rambut Davan, "Terimakasih telah berjuang mencariku. Terimakasih sudah menungguku." Ucap Billa kemudian nengecup kening Davan.
"Mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu." Kata Billa.
"Kau tidak mengajakku mandi bersama." Ucap Davan merengut.
Billa tersenyum, "Aku mau mandi lagi." Kata Billa mengerlingkan satu matanya.
Davan tersenyum lebar, ia langsung membawa Billa kedalam kamar mandi.
Billa tertawa saat tubuhnya melayang karna digendong oleh Davan.
Di dalam kamar mandi, tanpa malu, Davan melucuti pakaiannya satu persatu, hingga memperlihatkan juniornya yang tegak menantang.
"Masih sama seperti dulu." Gumam Billa.
Davan tersenyum lalu membawa tangan Billa untuk menyentuhnya. "Milikmu." Kata Davan.
Billa dengan iseng memaju mundurkan tangannya membuat Davan melenguh keenakan.
"Dia sudah lama tidak dimanjakan olehmu." Kata Davan yang kini mulai melucuti pakaian Billa dan kini hanya menyisakan segi tiga pengaman dan kacamata gunungnya saja.
"Lebih besar dari sebelumnya." Ucap Davan.
"Jelas saja, kedua anakmu asi eksklusif semua." Kata Billa dengan tersenyum.
"Asimu lancar?" Tanya Davan.
Billa mengangguk, "Tuhan berbaik hati padaku, memberikanku Asi yang deras, aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika Asiku tidak lancar, karna aku tidak sanggup membeli susu formula dan itu untuk 2 anak sekaligus."
Davan memeluk tubuh polos Billa, "Maaf karna aku terlalu lama menemukan kalian."
Billa menggelangkan kepalanya. "Tidak jadi mandi?" Tanyanya.
Davan tertawa lalu mencubit gemas hidung Billa. "Aku buat kamu berkeringat dulu. Setelah itu kita bersihkan tubuh kita bersama."
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...