BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BONCHAP 11


__ADS_3

Gibran benar benar kewalahan saat bekerja, terlebih hari ini Alika mengabarkan pada Anton akan datang terlambat karna harus mengurus sesuatu di kampusnya.


Entah mengapa Gibran kecewa karna Alika tidak memberi kabar langsung padanya melainkan melalui Anton.


Gibran pun seolah gengsi untuk menghubungi Alika duluan hanya karna seharian kemarin Alika tidak menjawab panggilannya maupun membalas pesannya.


"Mas.." Suara seorang gadis tiba tiba saja masuk kedalam ruangan Gibran.


"Dhifa." Panggil Gibran lalu berdiri dan memeluk Dhifa.


"Koq kamu kesini?" Tanya Gibran.


"Aku dengar Mas sakit, makanya aku kesini. Kuliahku juga sedang libur koq, makanya aku kesini." Jawab Dhifa.


"Kesini sama siapa?" Tanya Gibran.


"Sendiri, naik kereta Mas. Dila sama Bude, lagi pula Pakde yang nyuruh Dhifa kesini untuk lihat kondisi Mas." Jawab Dhifa.


"Nakal kamu, gak ngabarin Mas dulu." Ucap Gibran pada sang adik.


"Makanya cepat nikah, Mas. Biar ada yang ngurusin." Kata Dhifa. "Jadi gak bikin khawatir adik adiknya." Tambahnya lagi.


"Kamu ini, ngomong sih sih gampang, Dhif." Kata Gibran.


"Aku turun dulu kebawah ya, Mas. Perutku lapar sekali." Kata Dhifa sambil berdiri.


"Bareng aja sama Mas, Mas juga mau makan siang dikantin." Jawab Gibran lalu mereka keluar bersama.


Gibran merangkul pundak Dhifa, mereka jalan menuju lift sambil bercerita dan sesekali tertawa. Alika yang sebenarnya sudah sedari tadi berada di kantorpun sempat melihat Dhifa yang masuk dengan leluasa keruangan Gibran.


Sebenarnya Alika cukup penasaran dengan sosok wanita yang kini berada sangat dekat dengan Gibran.


"Al, kau sudah kembali?" Tanya Gibran.


Alika mengangguk tanpa melihat mata Gibran, "Sudah pak, maaf tadi saya harus menyerahkan tugas ke kampus." Jawabnya lalu masuk kedalam lift dan diikuti oleh Gibran dan Dhifa.


Gibran merasa Alika berubah sikap, entah apa yang membuatnya berubah.


"Mas, kantin disini enak enakkan?" Tanya Dhifa dengan manja.


"Tentu saja, kamu pasti bisa gemuk kalau setiap hari makan disini terus." Jawab Gibran lalu tertawa.


Gibran memang terlihat mesra dengan Dhifa, bagaimana tidak, tangan Gibran merangkul bahu Dhifa dan tangan Dhifa melingkar dipinggang Gibran.


"Kamu mau istirahat makan siang?" Tanya Gibran mendalam pada Alika.


Alika mengangguk, entah mengapa moodnya berubah jadi buruk.


"Makan bersama saja." Ajak Gibran.


Namun tiba tiba Alika memberanikan diri menatap wajah Gibran. "Silahkan bapak duluan saja. Saya mau makan keluar." Jawab alika sedikit dengan tatapan tak mengenakan.


Gibran mengernyitkan dahinya, ia ingin bicara namun bertepatan dengan pintu lift yang terbuka.


"Permisi pak, saya duluan." Kata Alika lalu bergegas keluar dari lift.

__ADS_1


Alika segera menuju parkiran, ia sudah tidak mood untuk meneruskan pekerjaannya.


Sementara itu Gibran dan Dhifa makan siang bersama dikantin.


"Wanita tadi, sepertinya suka sama Mas, deh." Kata Dhifa tiba tiba.


"Hush kamu, main tebak aja." Ucap Gibran.


"Mas juga menyukainya kan? Hanya saja Mas gengsi." Cibir Dhifa.


Gibran terdiam, ucapan sang adik membuatnya sedikit berpikir tentang perasaannya.


"Jangan kelamaan mikir, Mas. Kalau wanita udah nyerah, Mas akan sulit masuk lagi ke hatinya." Kata Dhifa memberi nasihat.


Jam istirahat selesai, Dhifa pun kembali ke hotel karna tidak ingin menginap di apartemen Gibran. Sementara itu Gibran kembali keruangannya, namun ia menyempatkan diri keruangan Anton tapi tidak melihat keberadaan Alika disana.


"Alika belum kembali, Ton?" Tanya Gibran.


"Tadi Alika sudah kembali sebelum makan siang, terus keluar untuk makan siang, tapi belum balik lagi." Jawab Anton.


Ceklek..


Alika masuk kedalam ruangan Anton dan menuju meja kerjanya tanpa menyapa Gibran.


"Al, kamu telat sepuluh menit." Kata Anton.


"Maaf pak Anton, saya sudah datang dari tadi, hanya saja tadi saya ke bagian HRD dulu." Jawab Alika.


"Oh, saya kira kamu kemana dulu." Kata Anton menjadi tak enak.


"Al, ikut keruanganku." Kata Gibran.


Gibran kangsung mendekat kearah Alika dan menarik lengannya membawanya menuju keruangannya.


Alika hanya terpaksa mengikutinya meski ia enggan ikut.


Alika menepis tangan Gibran saat tiba diruangan Gibran.


"Kamu kenapa?" Tanya Gibran.


"Gak apa apa. Kamu yang kenapa ngajak aku kesini, pake maksa." Ucap Alika sedikit ketus.


"Al, aku ada salah sama kamu?" Tanya Gibran.


"Engga." Jawab Alika sambil memalingkan wajahnya.


"Al. Kalau aku ada salah, aku minta maaf." Kata Gibran melembut.


Alika menghela nafas. "Sudah aku bilang, jangan memberi harapan palsu padaku, Mas. Jika memang kamu sudah ada wanita lain, harusnya kamu bilang, jangan buat aku seperti wanita bodoh yang mengejar ngejarmu, Mas." Kata Alika dengan tatapan sendu pada Gibran.


Gibran mengernyitkan dahinya, "Wanita lain siapa?" Tanyanya bingung.


"Wanita tadi." Kata Alika dengan kesal.


Gibran mengingat Dhifa, Alika memang tak mengenal Dhifa. "Kamu ceburu?" Tanya Gibran.

__ADS_1


"Engga!!" Jawab Alika cepat.


"Yang tadi itu Dhifa, dia itu....."


"Terserah, mau dia Dhifa atau siapapun bukan urusanku." Kata Alika emosi. "Jangan ganggu aku lagi, aku gak mau berhubungan sama kamu lagi, Mas." Ucap Alika dengan tegas lalu melangkahkan kakinya menuju luar ruangan Gibran.


Namun Gibran menahan lengan Alika dan memeluknya. "Aku mencintaimu, Al." Kata Gibran sambil memeluk Alika.


Seketika ungkapan cinta Gibran membuat Alika membeku. Namun seperkian detik, Alika mendorong dada Gibran. "Bohong!!" Katanya dengan nada kecewa.


"Jangan bicara cinta padaku karna kamu tidak pernah mencintaiku, Mas." Kata Alika dengan mata yang sudah memerah menahan air matanya.


"Lihat mataku, Al." Kata Gibran dengan serius. "Adakah kebohongan dimataku?" Tanyanya dengan tatapan teduhnya. "Aku sadar jika aku mencintaimu, Al. Hatiku menerima semua cinta yang kamu beri untukku." Kata Gibran pada akhirnya.


Alika menatap tatapan lembut mata Gibran, tidak ada kebohongan disana.


"Tapi wanita tadi...." Kata Alika menggantung kalimatnya.


"Dia Dhifa, adikku. Mungkin seumur denganmu." Ucap Gibran.


"Adikmu?" Tanya Alika memastikan.


Gibran mengangguk, "Dhifa adikku yang pertama, adikku satu lagi masih SMA. Perempuan semua." Ucapnya melembut.


Alika terdiam, mencoba mencerna apa yang dikatakan oleh Gibran.


"Kamu benar mencintaiku?" Tanya Alika.


Gibran mengangguk meyakinkan. "Aku sadar aku mencintaimu. Aku akan memantaskan diriku untuk bersanding denganmu, membuatmu bahagia dan menjadikanmu wanita yang paling berharga dihidupku."


"Sejak kapan?" Tanya Alika lagi.


"Entah sejak kapan. Yang jelas saat kamu tidak membalas pesanku dan tidak memberiku kabar, aku merasa sangat kehilanganmu dan resah menunggu kabarmu. Apa itu bisa disebut cinta?" tanya Gibran.


Alika menggelengkan kepalanya, "Tanya saja hatimu, apa benar kamu sudah mencintai aku?"


"Aku yakin, Al." Kata Gibran serius.


Alika memalingkan wajahnya. Gibran melangkah untuk lebih dekat dengan Alika. Kedua tangan Gibran memegang pundak Alika.


"Al, kamu mau menjadi calon istriku?" Tanya Gibran.


"Calon istri?" Tanya Alika dan Gibran mengangguk. "Aku tidak ingin berpacaran, jika kamu siap, mungkin aku akan melamarmu." Ucap Gibran serius.


"Kamu serius?" Tanya Alika lagi.


"Sangat serius." Jawabnya.


Gibran terkesiap saat Alika berhambur memeluknya, "I love U Mas Gibran." Kata Alika sambil mencium kedua pipi Gibran lalu mengecup sekilas bibir Gibran.


"Al.. Jangan begini." Kata Gibran yang tidak biasa.


"Aku terlalu bahagia, Mas." Jawab Alika.


Gibran tersenyum, hatinya merasa bahagia karna berhasil meyakinkan dirinya sendiri tentang perasaannya. Gibran berjanji tidak akan menyakiti Alika.

__ADS_1


"Terimakasih karna bersabar menunggu hatiku untuk yakin, Al." Ucap Gibran dan mengecup kening Alika dengan lembut


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2