BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 115


__ADS_3

Davan dan Jidan tiba dirumah sakit, mereka segera menghampiri Aldrich.


"Al.. Bagaimana Alaska?" Tanya Davan.


Aldrich menatap wajah sahabatnya itu. "Putraku, Dav. Dia masih kritis di ICU." Kata Aldrich sedih.


"Sabar, Al. Semoga semua lekas membaik." Kata Davan menguatkan.


"Aku takut, Dav. kondisi Alaska kritis. Aku takut terjadi sesuatu pada Alaska." Ucap Aldrich.


"Berserah, Al. Kita minta yang terbaik untuk Alaska." Davan menasehati sahabatnya itu.


Mereka sama sama menunggu satu sama lain. Clara terlihat terpukul sekali dan Stevi menguatkannya.


"Beni koma." Kata Fariz saat mendekat pada Aldrich.


"Joni belum sampai, Pap?" Tanya Aldrich.


Fariz menggelengkan kepalanya, "Mungkin masih di pesawat." Jawab Fariz.


Joni saat ini tengah berada di Korea untuk mewakili DW group menghadiri undangan pebisnis yang diselenggarakan oleh kliennya disana. Joni segera kembali ke Jakarta saat mendengar kabar kecelakaan yang menimpa Beni dan juga Alaska.


"Beruntung Jihan tidak ikut perjalanan Bisnis ini, Dav." Kata Fariz.


Davan mengangguk, "Iya Om. Dav tidak bisa membayangkan bagaimana jika Jihan ada didalam peristiwa itu."


Jidan menatap Alaska dari kaca besar, kondisi Alaska sangat mengenaskan, bahkan mulutnya memakai selang dan banyak alat tenempel ditubuhnya.


"Al.. Kuatlah." Gumam Jidan lirih.


Jidan memutuskan untuk mencari Amel. Dia akan meminta Amel untuk menemani Jihan.


"Bagaimana dengan pekerjaanku, Jid?" Tanya Amel.


"Aku bos mu, tolong aku untuk sekali ini saja, Jihan membutuhkan seorang teman sementara aku juga harus bolak balik kerumah sakit memantau Alaska, belum lagi pekerjaanku, Mel." Jidan terlihat frustasi.


Amel mengangguk, "Baiklah. Aku akan menurutimu." Ucap Amel.


"Menginap dirumahku, Mel. Aku sudah bilang Ibu dan Ibu menyuruhmu menginap saja." Kata Jidan dan amel pun menurutinya.


Jidan membawa Amel kerumahnya dan langsung ke kamar Jihan.


"Ji.." Panggil Jidan dan Jihan pun menoleh.


"Jid, bagaimana dengan Kak Alaska dan Bang Ben?" Tanya Jihan.


Jidan menghela nafas, "Alaska kritis dan Beni koma."


"Apa??" Jihan kehilangan keseimbangannya, beruntung Amel menahannya dan membawanya duduk.


"Ji.. Kau baik baik saja?" Tanya Jidan.

__ADS_1


"Kenapa bisa begini, Jid." Jihan terlihat bersedih dan hal itu membuat Jidan curiga.


"Kau perduli pada Alaska, Ji?" Tanya Jidan menyelidik.


Jihan menatap wajah Jidan, "Aku perduli dia bos ku. Seharusnya kami pergi bertiga, mungkin saja aku juga ada di rumah sakit sekarang, Jid." kata Jihan.


"Tidak, Ji. Tuhan menyelamatkanmu dengan cara tidak membuatmu ikut perjalanan bisnis itu.


Jihan hanya diam, ia sangat tau jika Alaska tidak pergi untuk perjalanan bisnis, melainkan pergi untuk mencari bukti.


Jihan menopang kepalanya dengan kedua tangannya, ia bingung apa yang harus dilakukannya, haruskah Jihan bilang pada Jidan? Tapi jihan mengingat pesan terakhir yang Alaska berikan untuk menunggunya pulang dan membawa bukti lalu akan menghadapinya bersama.


Tiga hari berlalu, Jihan sudah tidak bisa menahan diri untuk melihat langsung kondisi Alaska. Ia meminta Amel menemaninya untuk datang ke rumah sakit. Setelah mendapat persetujuan Jidan, Amel menemani Jihan ke rumah sakit.


"Ji, kau disini?" Tanya Aldrich.


"Dad, bagaimana keadaan Kak Alaska?" Tanya Jihan.


"Alaska masih kritis, Ji." Jawab Aldrich bersedih.


"Dad, aku ingin melihat Kak Alaska." Pinta Jihan.


Aldrich mengangguk, kemudian meminta dokter yang menanganinya untuk membiarkan Jihan masuk.


Karna Alaska berada diruang ICU membuat Jihan hanya bisa masuk keorang diri.


Perlahan tapi pasti, Jihan masuk kedalam ruang ICU tempat dimana Alaska terbaring dengan bantuan alat alat untuk membantunya tetap bertahan.


"Apa yang harus aku lakukan, Kak?" Lirih Jihan.


"Jika aku bicara, mungkinkah mereka akan mempercayaiku? Sementara kau dan Bang Beni tidak bisa berbuat apapun." Jihan mulai menangis.


"Kau jahat sekali, Kak. Kau bilang ingin membawa bukti dan bertanggung jawab, mana Kak? Mana!!" Jihan sedikit histeris.


Tanpa Jihan sadari jari jari Alaska sedikit bergerak.


"Bagaimana aku bisa melahirkannya tanpa seorang Ayah, Kak." Isak Jihan.


"Bangunlah, Kak.. Katakan pada mereka jika ini adalah anakmu." Jihan menutup wajahnya dengan telapak tangannya, hingga pandangannya gelap dan...


Brukkk..


Jihan jatuh pingsan di samping brankar Alaska.


**


Perlahan suara orang mengobrol terdengar samar dan semakin jelas didengar. Jihan mengerjapkan matanya hingga terbuka sempurna, rupanya Davan sang Ayah yang sedang menerima telpon dari ponselnya.


"Kau sudah sadar, Ji." Kata Davan yang terlihat cemas.


"Ayah, aku dimana?" Tanya Jihan lemah.

__ADS_1


"Kau pingsan diruangan Alaska, dan mengalami sedikit pendarahan, Ji." Kata Davan.


Jihan terkesiap, lalu meraba perutnya, "Bagaimana dengan bayiku, Yah?" Tanya Jihan panik.


"Bayimu kuat sekali, dia bertahan di rahimmu, Sayang." Kata Davan.


Jihan mengusap perutnya dan menangis. "Jangan menangis, Ji. Kasihan bayimu. Dia juga merasa sedih jika kamu bersedih." Kata Davan menenangkan.


Jihan hanya diam,


"Ayah tau apa yang kau pikirkan. Apa dia tidak mau bertanggung jawab padamu dan bayimu?" Tanya Davan dan Jihan hanya diam. Dirinya tengah dilanda kebingungan yang mendalam.


"Bagaimana kondisi Kak Al, Yah?" Tanya Jihan mengalihkan pembicaraan.


"Alaska sudah melewati masa kritisnya, dan tadi proses pemindahan keruangan perawatan." Kata Davan.


Mendengar hal itu, Jihan sedikit merasa senang. "Boleh aku bertemu dengan Kak Al, Yah?" Tanya Jihan.


"Kondisimu masih sangat lemah, Sayang. Kau harus bedrest selama beberapa hari."Jawab Davan.


"Tapi ada hal penting yang harus kubicarakan dengan Kak Al, Yah." kata Jihan.


"Ji, sudah jangan bicarakan dulu soal pekerjaan." Kata Davan.


"Tapi yah, aku ingin lihat kondisinya." Kata Jihan keras kepala.


"Nurutlah pada Ayah, Ji. Selama ini Ayah slalu menuruti maumu, sekarang waktunya kau mendengarkan apa kata Ayah." Tegas Davan dan seketika membuat Jihan diam.


Davan merasa bersalah kemudian menggenggam tangan Jihan, "Maafkan Ayah, Ji." Kata Davan menyesal. Ini pertama kali dalam hidupnya berkata tegas pada Jihan.


Jihan hanya diam dan menangis, psikisnya sedikit terluka karna ketidaksiapan dirinya mengandung terlebih itu terjadi karna sebuah jebakan yang merugikan dirinya. Ditambah kondisi Alaska yang belum ia ketahui lagi.


"Ji, maafkan Ayah." Kata Davan sekali lagi.


pintu terbuka, rupanya Jidan dan Amel yang datang, Jidan terlihat panik. "Ji.. Kau kenapa? Mana yang sakit?" Tanya Jidan.


jihan menatap Jidan dan memeluknya, "Jid.." Panggil Jihan kemudian menangis sejadi jadinya dipelukan Jidan.


"Tidak apa apa, Ji. Bayimu aman. Aku akan menjagamu dan bayimu. Jangan merasa takut sendiri, Ji. Ada aku." Kata Jidan memeluk sambil mengusap punggung Jihan, mencoba menenangkan.


Jidan tau dari Amel jika Jihan mengalami sedikit guncangan psikis, itu yang membuatnya lemah. Jidan beranggapan jika pria yang menghamili Jihan tidak mau bertanggung jawab, itulah mengapa Jihan terlihat begitu terguncang.


Hingga tangisan Jihan memelan dan Jihan kembali tak sadarkan diri karna kondisinya yang memang sangat lemah.


"Ji..." Jidan mengendurkan pelukannya dan menepuk nepuk pelan pipi Jihan.


"Mel, tolong panggilkan suster." Pinta jidan.


"Jangan panik, Jid." Kata Davan.


"Bagaimana aku tidak panik, Yah? Kondisi Jihan sangat lemah, belum lagi psikisnya yang terguncang." Kata Jidan dengan sendu.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2