BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 131


__ADS_3

"Bagaimana jika aku menolakmu?" Tanya Amel.


"Kau menolakku, Mel?" Tanya Jidan yang kini wajahnya berubah menjadi tak bersemangat.


"Aku hanya tanya bagaimana jika aku menolakmu?" Tanyanya.


Jidan diam, ia juga tidak tau apa yang harus dilakukannya jika Amel menolaknya.


Jidan mengangguk, "Tidak apa, cinta tidak bisa dipaksakan, Mel. Kita masih bisa berteman seperti biasanya." Jawab Jidan.


Amel melihat jam di pergelangan tangannya. "Sudah malam, pulanglah Jid."


Jidan menunduk, menyembunyikan senyum getirnya, kemudian menatap wajah Amel. "Maaf merepotkanmu." Ucapnya lalu berdiri. "Aku pulang, sampai ketemu lusa di kantor." Katanya lalu berbalik badan mengarah kearah pintu keluar.


Saat Jidan akan membuka pintu, ia terkesiap ketika merasakan sebuah pelukan dari balik tubuhnya. Amel menyandarkan kepalanya dipunggung tegap Jidan.


"Aku juga mencintaimu, Jid." Lirihnya.


Jidan tersenyum, ia memegang tangan Amel yang melingkar diperutnya lalu mengusapnya. Jidan membalikan tubuhnya dan balik memeluk Amel.


"Katakan lagi." Kata Jidan.


"Aku mencintaimu, aku mencintaimu, aku mencintaimu Jidan Davanka." Ucap Amel.


Jidan mengusap kepala Amel dengan begitu sayang, "Aku lebih mencintaimu."


**


Dirumah Davan, Alaska masih betah berlama lama, padahal semua tamu sudah pada pulang terkecuali keluarga inti.


Fariz melihat tidak tega pada Alaska dan mengajak Fadhil untuk berbicara.


"Mas, menurutmumu bagaimana jika kita menikahkan Alaska dan Jihan sekarang saja?" Tanya Fariz.


"Dalam islam, memang tidak ada larangan menikah di saat masih berada di masa nifas, yang dilarang hanya berhubungan ranjangnya saja." Kata Fadhil menjelaskan.


"Iya lebih baik dinikahkan sekarang saja, selesai nifas Jihan baru resepsinya." Ucap Aldrich yang merasa tak tega pada putra sulungnya yang enggan berjauhan dengan putri kecilnya.


"Bagaimana, Dav?" Tanya Fadhil pada Davan.


Davan mengangguk setuju. Kemudian Davan menelpon Jidan yang belum pulang untuk mencarikannya penghulu untuk menikahkan Jihan dengan Alaska.


Jidan pun yang masih bersama Amel mengajak Amel kembali untuk kerumahnya.


"Jadi mereka aka menikah malam ini?" Tanya Amel saat Jidan memberitahunya akan membawa seorang penghulu untuk menikahkan Jihan dan Alaska.


"Iya, mungkin Alaska ingin slalu dekat dengan anaknya." Jawab Jidan.

__ADS_1


Lama Jidan berpikir, kemudian ia berkata kembali. "Mel bagaimana jika kita menikah juga?" Tanyanya.


"Hah? Bareng Jihan?" Tanya Amel.


Jidan yang sedang menyetirpun mengangguk.


"Kau kira menikah itu ibarat mau main kucing kucingan, Jid." Kata Amel.


"Kau kan mencintaiku, Mel. Aku juga mencintaimu. Aku juga mapan bisa menafkahimu, apa lagi?" Tanya Jidan.


Amel hanya diam tampak berpikir. Jidan menggenggam tangan Amel dan menciumnya. "Aku ingin halalin kamu, Mel. Menjadi pelindungmu. Setelah Jihan menikah, tugasku sudah selesai menjaganya. Kedepannya fokusku hanya kamu." Ucap Jidan.


"Aku belum memberitahu kakak kakakku." Kata Amel.


"Apa mereka perduli? Sementara mereka merantau dan meninggalkanmu seorang diri di Jogja." Ucap Jidan. "Lagipula kau tak punya wali, lebih gampang untuk menikah." Ucapnya lagi.


Amel menoleh kearah Jidan. "Kau benar mencintaiku, Jid?"


"Kamu wanita ketiga setelah Ibu dan Jihan yang akan aku jaga." Ucap Jidan sungguh sungguh. "Mau ya Mel. Kita menikah sekarang juga." Ucapnya penuh harap.


Amel mengangguk dan Jidan merasa senang akan hal itu. "Aku berjanji akan menjagamu, Mel." Ucap Jidan tulus.


**


Jihan merasa terkejut saat diberitahu oleh Billa dan Clara untuk bersiap karna akan menikah dengan Alaska malam ini juga.


Jihan pun mengakui sikap Alaska pada Jove sangat manis sekali. Bahkan Alaska memperhatikan suster yang sedang mengganti diapers Jove dan kemudian Alaska mencoba mempraktikannya langsung pada Jove.


"Mau kan, Ji?" Tanya Clara penuh harap.


Jihan mengangguk samar. Clara menariknya untuk memeluk Jihan. "Trimakasih Jihan. Mommy pastikan jika anak Mommy akan membahagiakanmu."


Jidan datang bersama Amel dan juga seorang penghulu. Jidan juga mengutarakan niatnya untuk menikah dengan Amel setelah Jihan menikah dengan Alaska di malam yang sama.


Davan langsung mendukungnya, ia sangat tau putra sulungnya itu tidak main main dengan hubungannya bersama Amel. Davan juga menginginkan Jidan menikah dan punya hidupnya sendiri setelah selama ini menjaga Jihan dengan sangat baik.


Jidan masuk kedalam kamar Jihan.


"Kau sudah kembali, Jid?" Tanya Jihan.


Jidan mengangguk.


"Aku akan menikah malam ini, apa kau tau, Jid?" Tanya Jihan lagi.


Jidan mengangguk lagi. "Kau harus bahagia bersama Alaska. Kau juga harus belajar mencintainya, terima niat baik Alaska yang ingin tanggung jawab padamu dan anak kalian." Kata Jidan memberi nasihat.


"Kau pensiun untuk menjagaku, Jid?" Tanya Jihan.

__ADS_1


"Aku anak sulung dirumah ini, sampai kapanpun aku akan menjagamu, Ibu, Jaff, Ayah, Jove dan juga Amel." Jawab Jidan.


"Kau sudah mengatakan cinta pada Amel? Apa harus kubantu?" Tanya Jihan.


Jidan mengerdikan bahunya. "Kau terlalu sibuk dengan Jove. Bahkan setelah kau menikah dengan Alaska malam ini, penghulu akan langsung menikahkanku juga dengan Amel."


Jihan terkejut, "Benarkah, Jid?"


Jidan mengangguk, "Restui aku ya, Ji." Kata Jidan.


Jihan mengangguk. "Pasti aku merestuimu, Jid. Apalagi Amel adalah gadis yang baik. Jaga dia dan jangan pernah sakiti dia. Sekarang prioritasmu adalah Amel." Kata Jihan dan Jidan mengangguk.


Mereka saling berpelukan, saling mengikhlaskan dan saling memberi restu. Mendoakan yang terbaik untuk pasangan pasangannya, berharap kebahagiaan menaungi rumah tangga mereka masing masing.


Jihan menikah terlebih dahulu, karna Jidan ingin benar benar memastikan dirinya bisa melepas Jihan dengan tenang.


"Saya terima nikah dan kawinnya, Jihan Davina binti Davanka Fadhillah latif dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." Ucap Alaska dengan lantang.


"Sah?" Tanya penghulu pada saksi.


"Sah." Jawab saksi saksi.


Mereka mengusap wajah kemudian membaca doa bersama.


Selanjutnya giliran Jidan yang menjabat tangan penghulu karna Amel tidak mempunyai wali.


"Saya terima nikah dan kawinnya, Amelia Saputri binti Almarhum Budiono Saputra dengan mas kawin tersebut, tunai." Ucap Jidan dengan lantang.


"Sah?" Tanya Penghulu.


"Sah." Jawab saksi saksi.


Mereka kembali mengusap wajah penuh dengan tanda syukur dan membaca doa bersama.


Setelah itu mereka sungkem meminta doa restu dari orang tuanya masing masing, terkecuali Amel yang memang tidak memiliki siapapun. Namun Billa merangkul Amel layaknya pada putrinya sendiri.


"Ibu titip Jidan padamu, jika Jidan tidak bisa menjadi suami yang baik, cukuplah bilang pada Ibu, maka Ibu akan menegurnya. Hiduplah berbahagia bersama Jidan." Kata Billa sambil memeluk Amel.


"Terimakasih sudah menerimaku, Bu." Kata Amel dengan penuh haru.


Acara berjalan lancar dan khidmat meski tanpa direncanakan. Untuk selanjutnya mereka hanya akan tinggal meresmikan pernikahannya ke negara dan menggelar resepsi. Jihan tetap melakukan resepsi dengan waktu yang tlah direncakan sebelumnya. Sementara Jidan dan Amel akan mencari waktu lain untuk respsi pernikahannya.


...*********** TAMAT ***********...


Untuk selanjutnya Bonchap ya..


Yang kecewa karna Gibran gak jadi sama Jihan, nanti aku kasih bonchap untuk Gibran, Aku jodohin Gibran sama Alika, cewek ceria untuk cowok santun seperti Gibran.

__ADS_1


Di Bonchap edisi Gibran-Alika gak ada pelakor, murni cerita mereka, Alika yang ceria mengejar cinta Gibran yang super kalem.


__ADS_2