
"Bill.." Kata Davan dan Billa menoleh kearah Davan.
"Ya, Om?" Tanya Billa cuek tanpa merasa ada yang salah.
"Ganti baju dikamar mandi." Kata Davan yang kini membuang pandangannya kesembarang arah. Davan hanya takut tidak bisa menahan dirinya.
Bukannya menjauh tapi Billa mendekat kearah Davan.
Deg..
"Hei, Om..." Kata Billa tanpa bersalah, memperlihatkan tubuhnya yang hanya mengenakan tanktop bertali satu itu.
"Bill, nanti kamu nangis kalo aku apa apain." Kata Davan yang kini berani menatap wajah Billa.
"Emang Om mau apain aku?" Tanya Billa seolah mengoda Davan.
Davan menghela nafas, ia tidak siap jika nanti melihat Billa yang belum siap lalu berpisah kembali darinya.
Davan melewati Billa menuju meja kerjanya dan duduk disana. Billa tersenyum geli melihat Davan yang seolah menahan diri. Sementara Billa, ia memilih membersihkan diri karna tubuhnya terasa sangat lengket.
Pikiran Davan berkelana, Billa berubah lebih dewasa, dan Davan menyukainya.
Davan mengalihkan pikirannya dengan melihat pekerjaannya, namun lagi lagi ia harus gagal fokus saat melihat Billa keluar dari walk in closet hanya dengan memakai bathrub dan handuk yang membungkus rambutnya.
"Om, koperku masih dimobil." Kata Billa sambil mendekat kearah meja Davan dan duduk diatas meja Davan.
Davan hanya bisa menelan salivanya saat matanya tertuju pada belahan dada Billa dan paha mulus istrinya itu. Belum lagi leher jenjang Billa yang terekspos, ingin rasanya Davan menelusurinya.
"Om.." Panggil Billa dengan melambai lambaikan tangannya didepan wajah Davan.
Davan terkesiap dan kesadaran menghampirinya.
"Om, kenapa? Capek ya?" Tanya Billa.
Lagi lagi Davan menghela nafas, ia tak menyangka jika Billa seberani ini.
"Ya, aku capek Bill. Aku capek harus menahan diri untuk tidak menyentuhmu. Tapi aku takut, jika aku memaksa, nanti kamu tidak nyaman dan akan pergi dariku lagi." Kata Davan frustasi lalu berdiri hendak meninggalkan Billa untuk mengambil koper Billa.
Namun tanpa disangka, Billa menahan lengan Davan membuat Davan melihat kearah pergelangan tangannya kemudian melihat wajah Billa.
Pandangan mereka saling mengunci, membuat Davan ingin bertanya, apa maksud semua ini? Mengapa Billa menahannya? Dan mengapa sedari tadi Billa seperti menggodanya? Sebenarnya ada apa dengan Billa? Davan terus saja bertanya dalam hatinya, pertanyaan pertanyaan itu seolah berputar terus dibenaknya.
__ADS_1
"Maafin aku, Om. Maafin jika Om masih kesal dengan ku dulu." Lirih Billa.
"Sungguh, aku tidak bermaksud menolak, Om. Hanya saja aku memang tidak siap." Kata Billa lagi. "Bahkan jika Om tau, aku sedih harus berjauhan dengan Om dan tanpa komunikasi. Hal itu membuatku sadar jika aku sudah jatuh cinta pada Om." Billa menunduk.
Davan mencoba menajamkan telinganya, ia takut jika dirinya salah mendengar. Tangannya balik menggenggam tangan Billa. "Katakan lagi Bill." Pinta Davan.
Billa masih tetap menunduk, "Aku mencintai, Om. Aku merasa kehilangam Om selama aku tinggal diluar negri."
Satu tangan Davan terulur mengangkat dagu Billa, "Kamu mencintaiku?" Tanya Davan serius dengan tatapan lembut.
Billa mengangguk pelan, Davan terus menatap bola mata Billa, ia takut ini hanya khayalannya saja karna terlalu merindukan Billa.
Perlahan Davan mendekatkan wajahnya pada wajah Billa, menempelkan keningnya dengan kening Billa, kedua tangan Billa terulur untuk melingkar dipinggang Davan.
"Aku mencintaimu, Om." Ucap Billa berbisik.
Davan mulai mengecup bibir Billa sekilas, tidak ada penolakan dari diri Billa, Billa terlihat memejamkan matanya, membuat Davan semakin berani untuk menciumnya lebih dalam dengan menekan tengkuk Billa.
"Balas aku, Dear." Bisik Davan dan mulai meraup kembali bibir manis milik Billa.
Billa memberanikan diri membalas ciuman Davan meski masih terasa kaku.
Perlahan Davan menggendong Billa ala bridal tanpa melepaskan pagutannya, ia menidurkan Billa diatas ranjang yang hanya sekali mereka tiduri bersama.
Billa merremmas rambut Davan dan menengadahkan kepalanya sendiri saat Davan mulai menelusuri leher jenjangnya.
"Akhh, Om..." Suara indah terdengar merdu ditelinga Davan.
Dengan segera Davan membuka kemejanya hingga hanya menyisakan kaos oblong berwarna putih itu.
Davan kembali menciumi Billa dan Billa mulai terbiasa membalasnya, tangannya membuka tali bathrub dan terlihat keindahan tubuh Billa yang tidak mengenakan apapun, Davan menenggelamkan wajahnya di dua bukit indah dan bermain disana.
Tokk.. Tok.. Tokk
"Dav.. Dipanggil Tante Ghea, siap siap ajak Billa makan malam." Teriak Aldrich dari balik pintu.
Sontak Billa langsung mendorong dada Davan dan membenahi bathrubnya, menutupi tubuhnya yang terbuka dengan mengikat kembali tali bathrubnya, Billa segera berlari kearah walk in closet, namun ia melihat sekilas kearah Davan yang terlihat frustasi. "Om.. Tolong ambilkan koperku." Kata Billa.
Davan menghela nafas kemudian berjalan kearah pintu untuk mengambilkan koper Billa.
Namun ternyata Aldrich masih berada didepan pintu sambil memegang gagang koper milik Billa.
__ADS_1
Aldrich tertawa saat melihat kondisi Davan yang tengah berantakan.
"Sini kopernya!!" Kata Davan ketus.
Aldrich tertawa, "Kentang ya, Bos?" Ledek Aldrich. "Kena tanggung." Aldrich makin tertawa.
"Puas?" Tanya Davan masih dengan ketus.
Adlrich menepuk pundak Davan, "Lain kali, tunggu tamu pada pulang dulu. Malam masih panjang. Lagian, gak kasian apa sama Billa? 22jam dipesawat terus sekarang kamu ajak buka puasa?" Aldrich melangkah meninggalkan Davan.
Selang tiga langkah, Aldrich menoleh kearah Davan, "Baru pemanasan aja udah enak kan, Dav? Apa lagi dimasukin." Aldrich berlari sambil tertawa saat Davan hendak melemparnya menggunakan pajangan didekat pintu kamarnya.
Davan menggaret koper Billa menuju walk in closet, terlihat Billa yang sedang mengeringkan rambutnya menggunakan hairdryer.
"Dear.. ini kopermu." Kata Davan.
Billa melihatnya dari kaca, kemudian ia tersenyum dan mematikan hairdryernya.
"Om, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu." Kata Billa.
Davan mendekat kearah Billa, "Jangan panggil aku, Om. Apa aku setua itu? Umur kita hanya berbeda delapan tahun."
Billa tampak berpikir, "Terus panggil apa?"
"Apa saja boleh, asal jangan, Om." Davan pun berpikir. "Panggilan sayang ke suami, atau apa gitu." Kata Davan.
Billa mengangguk anggukan kepalanya. "Oke, Mi." Kata Billa tersenyum.
Davan mengeryitkan dahinya, "Mi? apa itu, Mi?"
"Su... a.. Mi..." Billa tertawa, "Panggilan sayang ke suami ya panggil aja Mi." Katanya lagi sambil tertawa.
Davan tersenyum mendengar hal itu, Billa bisa juga bersikap lucu seperti ini.
"Tidak ada yang lain?" Tanya Davan.
Billa tersenyum miring, "Nanti akan ku pikirkan, sementara Mi aja dulu ya. Sama seperti Mama yang panggil Papa Hubby yang artinya suami juga kan? Nah aku panggil Suami aja, kan asli indonesia." Billa lagi lagi tertawa.
"Udah mandi dulu sana, Mi.. Aku mau ganti baju." Kata Billa.
Davan segera masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri, sementara Billa membuka kopernya dan memakai pakaiannya. Billa juga merias wajahnya dengan riasan natural dan tipis, setelah itu, ia memilihkan pakaian untuk Davan pakai.
__ADS_1
Billa akan menjalankan rumah tangga yang sesungguhnya dengan Davan, menjalankan perannya sebagai istri yang baik untuk Davan, dan Billa siap jika memang Davan akan meminta hak nya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...