BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 104


__ADS_3

Keesokan harinya, Jidan datang datang dengan membawa makanan untuk Jihan dan Alaska.


Jidan yang mengetahui kode akses pintu apartemen langsung masuk kedalam apartemen.


"Hai Jid, kau sudah datang?" Tanya Jihan yang sedang mengganti perban di pelipis Alaska.


"Aku sengaja datang pagi, untuk membawakan kalian sarapan." Kata Jidan lalu menyiapkan makanan yang sudah dibeli diatas meja makan.


"Thanks, Jid." Kata Alaska.


Jidan kini beralih ke dapur dan membuat kopi untuk dirinya sendiri dan juga susu coklat untuk Jihan. "Kau mau kopi, Al?" Tanya Jidan.


"Jangan, Jid. Kak Alaska kan mau minum obat, tidak boleh minum kopi dulu." Ucap Jihan.


"Selesei." Kata Jihan setelah menempelkan plester terakhir.


"Makasih." ucap Alaska. "Hari ini kau pulanglah, aku sudah enakan." Kata Alaska.


"Ya Jihan memang akan pulang, aku yang akan menginap disini." Sahut Jidan.


"Tidak perlu, Jid. Aku sudah tidak apa apa." Balas Alaska.


Jidan mengerdikan bahunya, "Aku hanya ingin bermain playstation denganmu."


"Sudah ada Jidan, aku mau mandi dulu." Kata Jihan lalu berlalu kekamarnya.


"Jid.." Panggil Alaska.


"Ya.." Jawab Jidan.


"Aku jatuh cinta pada Jihan." Kata Alaska, "Aku mencintai Jihan." Katanya lagi yang membuat Jidan tertegun.


"Andai saja kau tak menghalangi perjodohan itu, Jid." Gumam Alaska.


"Kau sudah ada Rania, Al." Balas Jidan.


"Rania tidak memilihku. Kau tau Rania memilihmu, Jid. Itu alasan Rania tidak mau ikut denganku pulang!!" Kata Alaska.


"Aku tidak mencintai Rania, aku yakin akan hal itu." Ucap Jidan membela diri.


"Tapi Rania juga tidak memilihku meski kami mempunyai hubungan." Jawab Alaska tegas.


"Jihan sudah memiliki kekasih, jangan ganggu hibungan Jihan dengan Gibran, Al." Pinta Jidan.


Alaska sangat tau, apapun akan dilakukan Jidan jika itu sudah menyangkut soal Jihan. Jidan akan slalu menjadi yang terdepan melindungi Jihan.


"Apa kau takut aku menyakiti Jihan karna Rania lebih memilihmu, Jid? Itu sebabnya kau mati matian menggagalkan perjodohanku dengan Jihan." Tanya Alaska penuh selidik.


"Jika kau ingin balas dendam, balas dendam saja padaku, Al. Jangan pada Jihan." Kata Jidan.


"Aku merelakan Rania untukmu, Jid." Lirih Alaska. "Tidak ada dendam dihatiku."


"Sudah kubilang berapa kali, Al. Aku tidak mencintai Rania." Tegas Jidan.


"Kenapa?" Tanya Alaska.

__ADS_1


"Sudah ada wanita lain dihatiku meski aku belum menemukannya. Tapi aku yakin akan segera menemukannya." Kata Jidan.


"Gadis yang kau kagumi semasa kecil? Yang kau bilang begitu baik pada Jihan?" Tanya Alaska. "Bagaimana jika dia sudah menikah?" Tanya Alaska lagi.


"Jangan bahas soal aku, Al. Kita sedang membahas dirimu dan Rania." Potong Jidan.


**


Siang harinya Jihan pulang dengan membawa mobil Jidan. Ia kembali kerumahnya.


Beruntung Davan dan Billa juga Jaff sedang menginap dirumah Ghea, membuat Jihan lolos dari segala macam pertanyaan dan kecurigaan orang tuanya mengapa ia tak pulang semalam.


Kini Jihan sedang merebahkan tubuhnya, ia menatap langit langit dikamarnya, terngiang semua apa yang Alaska ucapkan padanya.


Drtt.. Drtt..


Jihan melihat ponselnya, terlihat nama Gibran mengiriminya sebuah pesan.


"Aku dibawah, turunlah untuk menemuiku."


Jihan tersenyum membacanya, ia segera merias tipis wajahnya untuk bertemu dengan Gibran.


"Hei..." Panggil Jihan saat melihat Gibran berdiri diteras.


Gibran menoleh dan tersenyum.


"Gak ngasih tau kalo mau kesini." Kata Jihan sambil berjalan untuk duduk di kursi teras.


"Kebetulan lewat." Jawab Gibran. "Sepi, pada kemana?" Tanyanya.


"Mau minum apa?" Tanya Jihan.


"Tidak perlu, aku ingin mengajakmu jalan jalan. Tapi sepertinya kamu lelah." Ucap Gibran dengan penuh perhatian.


Jihan memang lelah, menginap di apartemen Alaska membuatnya susah tidur terlebih memikirkan kata kata Alaska.


"Kita ke coffee shop aja yuk, Gab." Ajak Jihan.


Gibran mengangguk, "Boleh." Ucapnya.


Mereka asik berbincang hingga tiba di sebuah coffee shop. Jihan memilih duduk dipojokan agar leluasa mengobrol dengan Gibran.


"Gab.. Ada yang ingin aku ceritakan padamu." Kata Jihan setelah Gibran datang membawa dua minuman dan berbagai camilan.


"Soal?" Tanya Gibran balik.


"Tapi sebelumnya aku ingin minta maaf padamu." Kata Jihan merasa tak enak.


"Hei, kenapa jadi serius begini? Ada apa, hem?" Tanyanya mencoba mencairkan suasana.


"Maaf, Gab. Kemarin aku berbohong padamu." Kata Jihan pada akhirnya.


Gibran menunggu Jihan untuk berkata selanjutnya.


"Kemarin, aku dan Kak Alaska diserang oleh preman, Kak Alaska melindungiku dan pelipisnya terkena hantaman balok. Kak Alaska mendapat tiga jahitan dipelipisnya. Karna itu aku menginap di apartemen Kak Al untuk merawatnya saja. Dan kini Jidan yang menggantikanku." Ucap Jihan merasa bersalah.

__ADS_1


Gibran menggenggam tangan Jihan. "Terimakasih sudah mau jujur denganku." Ucapnya.


"Kamu tidak marah?" Tanya Jihan.


Gibran menggelengkan kepalanya, "Marah untuk apa? Kamu sudah menjelaskannya padaku, semua sudah jelas." Kata Gibran dengan penuh pengertian.


Jihan merasa teeharu dengan sikap dewasa dan kelembutan Gibran, "Jika kamu seperti ini, aku bisa cepat mencintaimu, Gab." Kata Jihan.


Gibran tersenyum, "Itu yang aku harapkan, memiliki hatimu lalu melamar dan menikahimu."


Jihan mengangguk, "Terimakasih, Gab."


"Apapun yang terjadi, jujurlah padaku, Ji. Semenyakitkan apapun, aku tidak akan marah." Kata Gibran lagi yang diangguki oleh Jihan.


**


Alaska memaksa Jidan untuk pulang, karna saat ini, Alaska sedang ingin sendiri memikirkan perasaanya.


Alaska memang memiliki hubungan dengan Rania, namun saat hubungan itu sudah berjalan satu tahun, Rania mengatakan jika Rania menyukai Jidan.


Awalnya Alaska hanya menganggap itu sebagai gurauan Rania saja, namun ternyata Rania berani menyatakan perasaanya langsung pada Jidan.


Jidan dengan jelas menolak Rania, selain karna Rania kekasihnya Alaska, Jidan juga tidak memiliki perasaan apapun kepada Rania.


Alaska mendengar semua hal itu dengan telinganya sendiri, ia tak menyalahkan Jidan, namun tetap berusaha mempertahankan Rania agar tidak mengejar Jidan.


Sampai akhirnya Alaska yang sudah lulus kuliah S2 pun rela menunggu Rania yang merupakan adik kelas Jidan hingga lulus dan membawanya kembali ke Indonesia, namun ternyata Rania lebih memilih menetap di Inggris dan enggan berhubungan untuk sementara waktu dengan Alaska.


Jidan yang sudah kembali dari apartemen Alaska akhirnya langsung menemui Jihan dikamarnya.


"Ji..." Panggil Jidan.


"Masuklah, Jid." Ucap Jihan yang memainkan ponselnya diatas tempat tidur.


Jidan masuk dan ikut naik keatas tempat tidur dengan posisi duduk. "Alaska menyukaimu." Kata Jidan. "Dia bahkan mencintaimu, Ji." Ucapnya lagi.


Jihan langsung menaruh ponselnya diatas nakas, dan duduk menatap Jidan. "Sudah ada Gibran dihidupku, Jid. Aku tidak sampai hati jika harus menyakiti Gibran." Kata Jihan.


Jidan mengangguk, "Ya, kau benar Ji. Jangan pernah menyakiti orang yang tulus mencintaimu." Kata Jidan.


"Gibran begitu baik padaku, Jid. Bahkan dia tidak marah saat tau jika semalam aku menginap di apartemen kak Al karna merawatnya." Ucap Jihan.


"Gibran sudah menyukaimu sedari kecil, Ji.. Itu mengapa dia sering mencari gara gara denganmu dulu." Balas Jidan.


"Menurutmu, pilihanku sudah tepat, Jid?" Tanya Jihan.


"Tanyalah hatimu, Ji. Apa hatimu menginginkan untuk memilih Gibran?" Kata Alaska balik bertanya.


"Aku belum mencintainya, tapi aku tidak ingin menolak cinta yang diberikan oleh Gibran, Jid."


Jidan tersenyum. "Apapun pilihanmu, aku berharap kau tidak menyesalinya."


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ada yang mau punya saudara seperti Jidan?

__ADS_1


Bantu Jihan nentuin pilihan deh, Alaska atau Gibran?


__ADS_2