BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 49


__ADS_3

Ghea membawa Davan, Billa dan juga memanggil Fadhil untuk berbicara dikamar mereka.


Davan menjelalskan kronologi secara detail pada Fadhil, sang Ayah.


Fadhil pun meminta Nabila untuk menceritakan hidupnya dan membuat Ghea tersentuh.


"Jadi kamu tinggal seorang diri setelah ibumu meninggal?" Tanya Ghea.


Billa hanya mengangguk, Billa menceritakan detail hidupnya, siapa dan apa profesi ibunya sebelum akhirnya meninggal, Billa pun bercerita tidak mengetahui siapa ayahnya karna sang ibu yang tidak pernah menceritakannya.


Fadhil dengan kekuasannya akan menegur sekolah YY tempat Billa sekolah. Namun entah mengapa hal itu tidak membuat Ghea merasa lega.


Malam itu juga, Fadhil menemui kepala sekolah SMA YY dan mengutarakan kekecewaannya, Fadhil yang didampingi oleh Davan mengungkapkan tidak menyukai pembullyan terhadap siapapun, apalagi Billa adalah penerima beasiswa dari yayasan yang Fadhil kelola.


Davan juga mempelihatkan rekaman yang sore tadi saat Billa di Bully, Davan juga ternyata merekam aksi pelecehan yang Adit lakukan pada Billa dan membeberkan semuanya.


Malam itu, semua masalah selesai, dan Billa mendapatkan jaminan untuk tidak diBully lagi. Pelaku pembully pun mendapatkan sanksi, begitu juga Adit yang mendapatkan sanksi dari ayahnya sendiri yang merupakan kepala sekolah di SMA YY.


Seminggu berlalu, seperti biasa Davan tenggelam dalam kesibukannya.


"Jangan kerja terus, kamu tidak akan mendapatkan jodoh jika terus bekerja, kecuali dijodohkan." Suara seseorang yang tengah meledeknya. Siapa lagi kalau bukan Aldrich yang kini tengah bucin bucinnya pada Clara.


Davan menoleh kearah sumber suara, "Ck, ngapain kesini?" Tanya Davan.


"Melihatmu, setelah di pantai minggu lalu, kamu susah dihubungi." Kata Aldrich.


"Masih perduli? Kirain lupa." balas Davan.


Aldrich tertawa, "Kau seperti Kak Zayn, datar, dingin, kaku."


"Iyalah, namanya juga satu pabrik." Jawab Davan cuek.


"Ya, nanti pasti bucinmu juga seperti Kak Zayn."


"Tentu saja, asal sama pasangan halalnya." Davan berdiri. "Kau ada perlu sama Kak Dami, ya? Ayo aku antar."


Aldrich mengikuti Davan berdiri dan keluar dari ruangan.


Setelah berbincang sebentar dengan Damian juga Aldrich, Davan meninggalkan ruangan Damian, ia akan keluar untuk makan siang seorang diri.


"Billa..." Gumam Davan saat melihat Billa dilampu merah tengah menjual tissue sebagai penjual asongan.


"Oh sh*ittt kenapa aku bisa melupakannya kalau dia butuh pekerjaan." Umpat Davan.


Davan membuka kaca mobilnya, "Bill, masuk!!" Kata Davan.


"Om.." Kata Billa terkejut.


"Masuk, sebentar lagi lampu hijau." Kata Davan.


Billa yang tengah berdiripun segera memutari mobil dan masuk kedalam mobil dan duduk disamping kemudi bersama Davan.


"Kamu ngapain?" Tanya Davan setelah Billa masuk kedalam mobilnya yang bertepatan dengan bergantinya lampu hijau.

__ADS_1


"Jualan lah, Om. Masa maen." Jawab Billa.


"Kamu kenapa gak hubungin aku untuk minta kerjaan?" Tanya Davan.


"Ponselku mati, Om." Kata Billa.


Davan menghembuskan nafas kasarnya. Billa hanya diam sambil melihat kejalanan.


"Sudah makan?" Tanya Davan.


Billa menggelengkan kepalanya, memang ia belum makan sedari pagi karna ia harus menghemat uangnya.


Davan memberhentikan mobilnya disebuah restoran bernuansa lesehan.


"Ayo turun." Ajak Davan sambil membuka seatbeltnya.


"Aku gak lapar, Om."


"Aku bukan mau ngajakin kamu makan, tapi kami temein aku makan. Ayo turun, taro saja barang daganganmu disini." Kata Davan yang sudah turun dari dalam mobilnya.


Billa pun segera turun dan menyusul Davan. Davan mengambil tempat duduk di lesehan dan Billa duduk bersebrangan dengan Davan. Seorang pelayan restoran pun menghampiri mereka lalu Davan memesan makanan.


Setelah lima belas menit, makanan yang tentunya menggugah selera tersaji diatas meja. Billa menelan salivanya saat melihat gurame bakar, tumis kangkung, cumi goreng tepung dan Udang asam manis tersusun rapih dimeja. Belum lagi es teh manis yang terlihat menyegarkan.


Davan mengalaskan nasi kepiring dan memberikannya pada Billa.


"Makan." Kata Davan.


"Masih kenyang?" Tanya Davan cepat. "Atau tidak lapar?" Tanyanya lagi.


Billa hanya terdiam.


"Kalau kamu masih kenyang, gak mungkin aku mendengar bunyi cacing cacing diperutmu meminta diisi, Bill." Kata Davan.


Billa masih diam dan Aldrich menghela nafas.


"Makan atau aku tinggalkan kamu disini, dan kamu harus membayar semua makanan ini yang mungkin jumlahnya sekitar lima ratus ribuan atau lebih." Kata Davan.


Kedua mata Billa membola, harga makanan yang tersaji didepannya sama dengan harga sewa kontrakannya selama satu bulan.


Billa segera mengambil piring yang sudah diisi nasi oleh Davan.


"Ambil lauknya Bill, itu bukan pajangan, semua itu untuk dimakan." Kata Davan lagi.


Davan pun mengambil nasi untuk dirinya sendiri dan mulai makan bersama Billa.


"Kamu besok datang kekantorku, aku akan memberikanmu pekerjaan paruh waktu." Ucap Davan ketika mereka sudah selesai makan.


"Kerja apa, Om?" Tanya Billa dengan penuh harap.


"Datang saja besok kekantorku." Jawab Davan.


Davan mengeluarkan dompetnya dan memberi uang untuk Billa.

__ADS_1


"Ini untukmu." Kata Davan.


Billa tidak langsung menerimanya, "Untuk apa?" Tanyanya bingung.


"Untuk kebutuhanmu yang aku tidak tau." Kata Davan. "Cepat ambil!!"


Billa mengambilnya dan meghitungnya, "Dua juta, Om. Banyak sekali."


"Ya, pakai uang itu untuk bayar kontrakanmu dan untuk kebutuhanmu sehari hari." Kata Davan, "Dan jangan pernah berada lagi dijalanan." Ucapnya.


"Aku gak mau terima, Om. Ini banyak sekali." Kata Billa.


"Ambil, anggap saja itu gajimu dimuka, nanti kamu bisa mencicilnya setelah bekerja denganku."


Billa akhirnya menerima uang itu. "Terimakasih, Om." Ucapnya lirih.


"Datang kekantorku setelah kamu selesai sekolah. Jangan bolos!!"


Billa hanya menganggukkan kepalanya. Ia tidak menyangka akan bertemu dengan seorang pria yang baik hati dan mau membantunya.


Davan memberikan alamat kantornya pada Billa. "Ingat ya datang sehabis pulang sekolah."


"Om tidak takut aku kabur dan tidak mengembalikan uang Om?" Tanya Billa.


Davan tersenyum, "Bagiku uang segitu tidak ada harganya, Bill. Tapi kamu yang sedang kesulitan akan merasa rugi jika mengkhianati temanmu padahal kamu dalam kondisi tidak mempunyai siapa siapa."


"Teman?" Tanya Billa.


Davan mengangguk, "Ya, teman. Kita adalah teman, bukan?"


Billa pun mengangguk. "Terimakasih, Om."


Disisi lain, Aldrich tengah memikirkan sikap Davan akhir akhir ini.


"Al.. " Clara berdiri dibelakang Aldrich dan memijat pundak Aldrich.


"Hem.."


"Mikirin apa? Kerjaan lagi banyak ya?" Tanya Clara yang kini tidak bekerja lagi bersama Aldrich karna permintaan Aldrich sendiri, belum lagi Stevi yang membuat Clara sibuk untuk berbelanja dan memanjakan diri kesalon.


"Aku mikirin Davan, dia bukan hanya sepupuku, Ra. Dia juga sahabatku bersama dengan Chelsea. Entah mengapa aku merasa Davan menyembunyikn sesuatu." Ucap Aldrich sambil memejamkan matanya ketika Clara memijat kepalanya lembut.


"Kenapa tidak mendatanginya?" Tanya Clara.


"Sudah, tapi gak lama karna tadi aku ada meeting dengan Kak Damian. Pas aku balik lagi keruangan Davan, dia sudah tidak ada."


"Mungkin Davan sedang banyak pekerjaan, Al." Ucap Clara.


Aldrich mengangguk, "Ya, aku rasa seperti itu." Aldrich menarik Clara untuk duduk dipangkuannya ia mengecup sekilas bibir Clara. "Terimakasih tlah memahamiku, Ra. Aku sangat mencintaimu." Ucap Aldrich lembut.


Clara mengangkup wajah Aldrich. "Aku juga sangat mencintaimu, Al." Balas Clara.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...

__ADS_1


__ADS_2