
Gibran mengajak Jihan untuk jalan jalan dipusat pembelanjaan, entah megapa Jihan malah ingin membeli perlengkapan untuk bayinya.
"Ini lucu sekali." Kata Jihan saat melihat dress tutu berwarna soft pink.
"Ini lebih lucu, Ji." Kata Gibran sambil menunjukan dress tutu berwarna broken white lengkap dengan bandananya.
"Tapi ini lebih manis." Kata Jihan tak mau kalah.
"Bayimu akan terlihat menggemaskan dengan dress ini." Kata Gibran lagi.
Mereka percis seperti sepasang suami istri muda yang akan menyambut kelahiran anak pertamanya.
"Ya sudah, kau beli yang itu dan aku beli yang ini untuk Baby J." Ucap Gibran sedikit merajuk.
"Ishh kau sensitif sekali, Gab." Ledek Jihan dan tertawa.
Gibran berdecak, "Aku juga kan ingin melihat Baby J memakai dress ini, sudah terbayang saat nanti Baby J aqiqah."
Jihan tersenyum, Gibran begitu perhatian terhadap dirinya dan juga bayinya, "Trimakasih, Gab." Kata Jihan penuh haru.
Gibran menganggukan kepalanya, "Aku akan slalu ada untukmu dan juga Baby J. Kau jangan takut ya, Ji."
Jihan tersenyum, "Bantu aku pilihkan yang lain." Kata Jihan dan Gibran seketika langsung mengangguk.
Mereka beralih kebagian stroller, Gibran memberikan pendapatnya. "Menurutku ambil dua saja, Ji. Yang satu ini cocok untuk dibawa traveling karna begitu ringkes. Dan satunya cocok untuk dirumah karna begitu nyaman." Kata Gibran.
Jihan tersenyum, "Kau sudah cocok sekali menjadi seorang Ayah, Gab."
"Tentu saja, Baby J kan calon anakku juga. Karna itu aku harus siap." Balas Gibran tanpa melihat Jihan dan membuat Jihan melongo.
Gibran menyentil kening Jihan,
"Awsshhh" Kata Jihan sambil mengusap keningnya.
"Jidan sudah memberiku restu, jadi kau jangan menolak lagi." Kata Gibran.
Dari jarak yang tidak begitu jauh, sepasang mata tajam milik Alaska melihat pemandangan itu. Alaska tidak menyukainya dan ada rasa marah memenuhi hatinya.
Alaska tidak mengerti mengapa bisa dadanya bergemuruh seperti itu, merasa tidak rela Jihan bersama Gibran dan begitu asik memilih perlengkapan bayi untuk bayi yang Jihan kandung.
"Kenapa hatiku sakit melihat Jihan bersama Gibran? Kenapa hatiku seolah tak rela Gibran menemani Jihan untuk mencari perlengkapan bayi?" Batin Alaska.
"Al.. aku sudah dapat kadonya, ayo kita keluar." Kata Rania yang membuyarkan lamunan Alaska.
__ADS_1
Mereka tengah berada di dalam baby shop karna Rania mencari kado untuk temannya yang baru saja melahirkan. Namun siapa sangka, Alaska malah melihat Jihan dan Gibran yang memilih perlengkapan bayi layaknya sepasang suami istri muda yang mencari perlengkapan bayi untuk bayi mereka.
Jihan dan Gibran mengantri di kasir, tak menyadari jika Alaska dan Rania berada tepat dibelakangnya.
"Aku yang bayar." Kata Gibran.
"Jangan, Gab." Jawab Jihan tak enak.
Gibran tersenyum, "Aku membelikannya untuk Baby J, bukan untukmu." Kata Gibran. "Jangan berdebat denganku atau kau pulang sendiri." Lanjutnya dan Jihan akhirnya menurut.
"Terimakasih." Kata Jihan lirih namun baik Gibran maupun Alaska mendengarnya.
"Kau pegal? Duduklah disana." Ucap Gibran menunjuk kursi tunggu.
"Tidak, hanya saja bayiku aktif sekali. Ia menendangku sedari tadi, Gab." Kata Jihan sambil mengusap perutnya.
"Boleh aku memegangnya?" Tanya Gibran dan Jihan mengangguk.
"Hai anak Daddy Gab, gak sabar ya mau ketemu dengan Daddy Gab." Ucapnya sambil mengusap perut Jihan.
"Romantis sekali." Kata pelayan toko yang membawa perlengkapan bayi yang Jihan dan Gibran beli.
"Pasti anak pertama ya?" Tanya pelayan toko.
"Pasti anaknya nanti cantik atau ganteng, sama seperti orang tuanya." Ucap kasir yang kini mulai menghitung belanjaan Jihan dan Gibran.
Gibran hanya tersenyum sementara Jihan menunduk malu karna Gibran menyebutnya sebagai istrinya.
Lagi lagi Alaska merasa tak terima dengan apa yang dikatakan oleh Gibran. Gibran mengakui jika Jihan adalah istrinya padahal mereka tidak mempunyai hubungan.
**
"Sayang, ini contoh undangan yang akan kita sebar. Bagaimana menurutmu?" Tanya Rania.
"Bagus." Jawab Alaska tanpa melihat kearah undangan yang Rania perlihatkan.
"Kau bilang bagus tapi pandanganmu terus tertuju ke laptopmu." Ucap Rania merajuk.
Alaska menghela nafasnya, ia memijat pelipisnya. "Aku sedang banyak pekerjaan, kau tau kan jika asistenku masih koma dan Jihan asistenku satunya juga berhenti."
Rania langsung merasa tak enak, ia tidak ingin Alaska merasa tertekan. "Maafkan aku, Al. Aku hanya bingung saja, mengurus semua sendirian. Ibumu tidak mau membantu pernikahan kita." Kata Rania.
"Harusnya kan kau bisa meminta bantuan pada keluargamu, tak bisakah keluargamu ikut membantu?" Alaska sudah merasa di titik jenuh, terlebih Clara dan Aldrich tidak mendukungnya dengan cara membiarkan Alaska berbuat semaunya.
__ADS_1
"Kau tau kan, Al. Orang tuaku juga tidak merestui pernikahan kita dengan alasan umurku yang masih muda dan karirku sedang naik di Inggris." Ucap Rania.
"Aku tidak tau, aku lupa." Kata Alaska cuek.
Rania langsung mengatupkan bibirnya, tidak mungkin menjelaskannya lebih rinci. Dulu saat Alaska mengajaknya kembali ke Jakarta, Rania memilih tinggal di Inggris dengan alasan karir, padahal dirinya tengah menghindar dari Jidan karna cinta yang tak terbalaskan.
Joni melapor pada Aldrich soal perkembangan persiapan pernikahan Alaska. Aldrich hanya bisa menghela nafas kecewanya.
"Sudah sejauh mana informasi tentang kehamilan Jihan?" Tanya Aldrich.
"Belum ada, Tuan. Semua bukti ada di Beni, namun kondisi Beni masih belum ada perkembangan dan Tuan muda Alaska masih hilang ingatan." Jawab Joni.
"Tidak ada file cadangannya?" Tanya Aldrich dan Joni menggelengkan kepalanya.
"Tuan Alaska menghilangkan semua jejak. Satu satunya bukti ada di Beni namun belum tau ada dimana." Kata Joni.
"Jihan bungkam, Alaska hilang sebagian ingatan dan Beni koma. Pasti terjadi sesuatu pada mereka bertiga." Kata Aldrich.
"Bagaimana cara mengagalkan pernikahan Alaska?" Tanya Aldrich frustasi.
"Saya tidak tau, Tuan. Undangan juga sudah mau tersebar." Kata Joni.
"Bagaimana jika keluarga Davan mengetahuinya? Habislah aku, Jon. Davan akan membenciku." Kata Aldrich frustasi.
"Kenapa Davan bisa sampai membencimu?" Tiba tiba saja suara orang yang disegani oleh Aldrich terdengar menggema diruangannya.
"Papap." Gumam Aldrich.
"Apa yang kau sembunyikan?" Tanya Fariz.
Aldrich menelan salivanya kasar, Fariz akan sangat marah jika tau apa yang diperbuat oleh Alaska.
"Katakan!!" Kata Fariz tegas.
Mau tidak mau Aldrich menceritakan semuanya, soal penghinaan yang Alaska lakukan pada Jihan.
Fariz juga baru mengetahui Alaska mengalami lupa sebagian ingatan, Fariz hanya mengetahui jika Alaska kecelakaan namun tidak tau jika sampai hilang sebagian ingatan. Fariz juga terkejut mendengar Alaska yang sedang mempersiapkan pernikahannya.
"Kau mendidik putramu seperti itu, Al? Apa yang akan Papap katanya pada keluarga Ghea dan Mas Fadhil? Mau ditaruh dimana muka Papap jika Alaska menghina Jihan habis habisan seperti itu." Kesal Fariz.
"Dan kini Alaska akan menikah tanpa semua orang tau? Kau pikir Davan akan mau datang?" Tanya Fariz.
"Ketidakhadiran Davan dan keluarganya akan memancing rasa curiga dari keluarga besarnya, apa yang akan Papap katakan? JAWAB AL!!"
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...