
Sementara itu Fariz menghampiri Stevi dan merangkulnya.
"Pap, Aldrich jatuh cinta sama istri orang?" Tanya Stevi pada Fariz. Namun Fariz hanya tertawa sambil mencium pelipis Stevi.
"Aku akan ceritakan setelah kamu memberikan service terbaikmu dulu." Kata Fariz sambil mengerlingkan matanya.
"Papap, gak lucu ah." Kata Stevi manja.
"Aku tidak sedang lagi melucu, Sayang. Aku sedang sa*kau menginginkanmu." Fariz menggiring Stevi menuju kamarnya.
Setelah membuat suaminya terpuaskan, Stevi menarik selimut tebal untuk menutup tubuh polosnya dan masuk kedalam dekapan Fariz.
"Jadi ada apa diantara Aldrich dan sekertarisnya, Pap?" Tanya Stevi kini.
Fariz membelai rambut Stevi yang tertidur dalam dekapannya.
"Kamu ingat sewaktu Aldrich jarang kekantor?"
Stevi menangguk yang terasa oleh Fariz.
"Dia menyamar sebagai seorang supir di butik Erlasha, untuk mengejar Clara." Kata Fariz mulai menceritakan.
"Whatt? Menjadi supir?" Tanya Stevi tak percaya.
"Putramu itu ingin mendapatkan seorang wanita yang bisa menerimanya apa adanya" Kata Fariz lagi dan Stevi akhirnya paham.
"Lalu?" Tanya Stevi yang semakin penasaran itu.
"Lambat laun, Al mengetahui bahwa Clara sudah menikah."
Stevi bangun dari sandarannya, "Jadi benar Clara sudah menikah?" Tanya Stevi. "Oh Tuhan kasian sekali putraku semoga dia menyerah dan tidak merusak hubungan rumah tangga orang." Kata stevi lagi.
"Ya, aku menasehatinya seperti itu, aku bilang jangan merusak hubungan orang lain." Aku Fariz. "Aldrich akhirnya mengundurkan diri dan kembali kekehidupan normalnya, ia tak pernah menghubungi Clara lagi, sampai Joni memberitahuku bahwa Clara melamar kerja di perusahaan."
Stevi mendengarkan cerita suaminya dengan serius.
"Statusnya kini sudah Janda, Sayang." Kata Fariz lagi.
Stevi mengangguk, "Tidak apa dia janda, asal jangan Aldrich yang menyebabkannya menjadi seorang Janda, Pap."
Fariz menggelengkan kepalanya, "Aldrich tidak ada sangkut pautnya dengan perceraian Clara, mungkin memang sudah takdirnya."
"Apa Aldrich mengejarnya kembali, Pap?" Tanya Stevi penuh rasa ingin tahu.
Fariz tertawa, "Aku sedang mengerjai putra tersayangmu itu, Sayang."
__ADS_1
Stevi mengernyitkan dahinya, "Maksudnya?"
"Aldrich tidak tau jika Clara sudah menjanda." Fariz melanjutkan tawanya.
Stevi mencubit perut Fariz, "Ishh kamu tega, Pap. Kasian Aldrich." Kata Stevi seolah membela Aldrich.
"Biarkan saja, Sayang. Kalau mereka jodoh tidak akan kemana, Biar Aldrich tau dengan sendirinya, sama seperti saat ia tau sewaktu Clara sudah memiliki suami dulu." Kata Fariz.
"Apa kamu merestui putra kita jika menikah dengan seorang Janda?" Tanya Fariz menyelidik.
Stevi menghela nafas, "Tidak ada wanita yang ingin mempunyai status Janda, Pap. Aku rasa, tidak masalah." Kata Stevi, "Apa Clara memiliki anak dari hasil pernikahannya, Pap?" Tanya Stevi.
Fariz menggelengkan kepalanya. "Tidak ada anak dipernikahan mereka." Kata Fariz tanpa memberitahu kondisi pernikahan Clara dulu yang tidak pernah disentuh oleh suaminya. Fariz masih ingin melihat sejauh mana istri dan anaknya menerima Clara apa adanya, meskipun Fariz tau jika Istrinya itu adalah wanita yang baik menurut versinya sendiri.
Stevi mengangguk, "Baguslah, tidak ada ikatan yang membuat Clara masih akan berhubungan dengan mantannya itu."
**
Sebulan sudah Clara menjadi sekertaris Aldrich, sikapnya tetap formal jika didalam kantor dan akan menjadi seorang seorang teman jika berada diluar jam kantor.
Aldrich menerima telpon dari Chelsea yang tengah menunggunya disebuah Cafe, seperti biasa Aldrich tidak pernah bisa menolak jika Chelsea meminta apapun itu termasuk bertemu dengannya. Terlebih beberapa hari ini tidak banyak pekerjaan yang menyita waktunya. Aldrich berencana mengajak Clara untuk sekalian makan siang bersama.
Tiba disebuah cafe yang menjadi tempat langganan Chelsea, Clara tersenyum saat melihat Chelsea dan itu membuat Aldrich sedikit heran.
"Claraa.." Chelsea memeluk Clara sebagai tanda rindunya dan dibalas oleh Clara.
"Kalian saling kenal?" Tanya Aldrich yang merasa heran.
Clara duduk disebelah Chelsea, dan Aldrich duduk didepan Chelsea.
"Clara dan aku teman satu organisasi di kampus dulu, Al." Kata Chelsea.
Aldrich menatap wajah Clara dengan wajah terkejutnya, "Kamu dulu kuliah di Universitas XX?" Tanya Aldrich tak percaya.
"Iya." jawab Clara mengangguk.
"Koq aku gak tau, gak pernah lihat kamu juga." Kata Aldrich.
"Wajarlah gak tau dan gak lihat, duniamu dulu kan hanya tertuju pada Methaku." Bukan Clara yang menjawab dan bukan juga Chelsea yang menjawabnya. Melainkan ledekan Davan yang baru saja tiba dari luar negri.
"Davan." Pakik Aldrich lalu berdiri memeluk sepupu yang lebih seperti sahabatnya itu.
"Sahabat macam apa kau ini, hanya Chelsea yang menjemputku." Davan mentoyor kepala Aldrich.
"Aku sibuk, Dav. Dan lagi kau tidak bilang jika pulang hari ini." Kata Aldrich membela diri sambil mengusap keningnya.
__ADS_1
"Sibuk mengejar wanita sepertinya." Ucap Davan sambil melihat kearah Clara dan duduk percis didepan Clara.
"Ck, kau ini. Dua tahun diluar negri tidak membuatmu lupa untuk membully ku terus." Kesal Aldrich.
"Dav, kamu kenal dengan Clara?" Tanya Chelsea.
Davan mengangguk, "Beberapa kali sering lihat sama kamu, Chel. Tapi belum kenal." jawab Davan.
Chelsea memperkenalkan Clara dengan resmi dan Davan menjabat tangan Clara, namun segera dilepas oleh Aldrich. "Jangan lama lama, bukan muhrim." Kata Aldrich dengan nada seperti cemburu.
"Ck, kau ini Al. Tidak boleh saja aku kenal dengan wanita." Cibir Davan.
"Jadi kuliahmu sudah selesai?" Tanya Aldrich yang diangguki oleh Davan, "Siap untuk jabatanmu diperusahaan?" Tanyanya lagi.
"Ya siap gak siap, kau kan tau sendiri Kak Zayn lebih memilih menjadi dosen dari pada nerusin perusahaan Kakek Erick, dan kau sendiri lebih mengurus perusahaan Nenek Diana kan ketimbang bergabung dengan perusahaan kakek Erick." Ucap Davan.
"Tapi kan kau enak Dav, ada Kak Dami juga diperusahaan Kakek Erick, sementara aku hanya bekerjaan sendirian."
"Kalian bisa tidak sih, dua tahun tidak kumpul seperti ini tidak membahas pekerjaan." Kesal Chelsea. "Ayolah, kita bicarakan hal lain saja."
Davan dan Aldrich saling melirik kemudian tertawa.
Clara baru mengetahui sisi lain Aldrich yang bisa sehangat ini saat bersama teman temannya.
"Nanti malam akan ada makan malam bersama di rumah Mama Ghea, kamu datang kan Al?" Tanya Chelsea.
"Ya, aku usahakan datang. Walaupun sebenarnya malas melihat kebucinan suamimu itu." Jawab Aldrich.
"Makanya cepat cari pacar, biar gak iri sama keromantisan orang." Balas Chelsea.
"Santai aja Chel, Davan aja masih betah jomblo." Aldrich melirik kearah Davan.
"Tapi Mami bilang, Tante Stevi mau kenalin kamu ke anak temannya ya, Al?" Tanya Chelsea.
Aldrich langsung melirik kearah Clara yang hanya diam sambil memainkan ponselnya.
"Itu hoax, jangan percaya." jawab Aldrich seolah menjaga perasaan Clara.
Chelsea kembali mengajak ngobrol Clara yang sedari tadi hanya diam.
"Oh iya, Ra. Kata Papi akta ceraimu sudah ada dikantor Papi, kalo kamu mau ambil nanti janjian sama aku ya." Ucap Chelsea yang langsung membuat Aldrich tersedak saat meminun minumannya.
Uhukk uhukkk..
"Pelan pelan lah, Al." Kata Davan sambil menepuk nepuk punggung Aldrich.
__ADS_1
Clara menghela nafas, ia lupa memberitahu Chelsea untuk menutupi statusnya.
***