
"Ada apa, Ji?" Tanya Gibran.
Jihan menghela nafas, "Gab.. Bisakah kita putus saja." Ucapnya yang membuat Gibran terdiam seketika.
Jihan menatap lautan yang luas, "Aku tidak bisa melanjutkan hubungan ini, Gab." Kata Jihan pelan.
"Apa karna dua bulan kita tidak bertemu, Ji? Adakah orang lain yang kamu sukai?" Tanya Gibran.
Jihan menggelengkan kepalanya, "Hatiku masih kosong, Gab. Aku hanya merasa tidak pantas untukmu."
"Ji, kau berjanji memberiku kesempatan untuk membuka hatimu dan bisa menerimaku. Aku tidak akan menyelesaikan pekerjaanku di Jogja. Aku akan stay di Jakarta lagi ya, Ji." Bujuk Gibran.
Jihan tetap menggelengkan kepalanya, "Tidak bisa, Gab. Kondisinya sudah berubah." Kata Jihan lalu mentap wajah Gibran yang seketika kehilangan semangatnya.
"Apa salahku, Ji?" Tanya Gibran memelas.
"Kau tidak salah, Gab. Tidak. Hanya saja aku memang tidak bisa meneruskan hubungan ini." Jihan mulai meneteskan air matanya.
Tangan Gibran terulur untuk mengusap air mata di pipi Jihan. "Katakan padaku, ada apa?"
"Gab, sesuatu terjadi padaku. Dan aku....." Jihan menutup wajahnya lalu menangis.
Gibran bingung ada apa dengan Jihan. Mengapa Jihan seperti ini.
"Aku hamil, Gab." Jihan semakin menangis sementara Gibran membeku.
"Aku tidak pantas untukmu, aku mengecewakanmu, Gab." Kata Jihan.
Gibran masih diam, mencerna apa yang dikatakan oleh Jihan, mungkinkah Jihan mengkhianatinya? Atau terjadi sesuatu pada Jihan.
"Siapa pelakunya?" Tanya Gibran.
Jihan menggelengkan kepalanya. Ia mengingat pesan Alaska untuk tidak mengatakannya pada siapapun sampai Alaska datang untuk membawa bukti.
"Kau tidak tau?" Tanya Gibran dan Jihan hanya diam saja.
"Ji.. Ada yang memaksamu atau..." Gibran menjeda kalimatnya.
"Aku tidak mengkhianatimu, kejadian itu juga diluar kuasaku, Gab." Kata Jihan yang mulai tenang.
"Pergilah, Gab. Tinggalkan aku sendiri. Kau pantas mendapatkan yang lebih dariku." Kata Jihan dengan tulus.
Gibran menggelengkan kepalanya, "Apa dia akan bertanggung jawab, Ji?" Tanya Gibran.
"Beri tahu aku siapa orangnya." Kata Gibran memaksa.
Jihan menggelengkan kepalanya, "Aku tidak bisa bilang, Gab."
"Kalau begitu aku tidak mau putus, aku saja yang akan menikahimu. Aku akan menerima anak itu, Ji." Kata Gibran diluar perkiraan Jihan.
Jihan sempat berpikir, jika Gibran akan marah dan menjauhinya karna merasa jijik pada Jihan, namun kenyataanya Gibran malah ingin bertanggung jawab dengan hal yang tidak ia perbuat.
Jihan menggelengkan kepalanya, "Aku tidak pantas untukmu, Gab."
__ADS_1
"Lalu siapa yang pantas untukmu? Apa baji*ngan itu yang pantas untukmu, Ji? Bagaimana jika dia juga melakukan hal itu pada orang lain." Kata Gibran sedikit emosi.
"Gab..." Lirih Jihan.
"Aku akan menikahimu, kau tidak perlu menunggu dia untuk tanggung jawab." Kata Gibran meyakinkan.
"Tidak, Gab. Dia harus tanggung jawab dengan perbuatannya." Kata Jihan.
"Lalu aku bagaimana, Ji? Aku sangat mencintaimu, Ji. Sangat. Aku bahkan mencarimu jauh sebelum akhirnya kita bertemu. Tolong, Ji. Jangan berlaku tidak adil padaku." Kata Gibran memelas.
Jihan terus menggelengkan kepalanya, "Aku tidak pantas, Gab. Kau begitu baik dan kan akan mendapatkan wanita yang baik juga." Jihan berdiri dari duduknya. "Maafkan aku, Gab. Anggaplah aku sebagai temanmu saja. Carilah wanita yang bisa membahagiakanmu dan pantas kau cintai."
"Jangan bicara seperti itu, Ji. Aku mohon."
"Maafkan aku, Gab." Jihan terpaksa meninggalkan Gibran. Berjalan cepat menuju mobilnya dan kembali pulang kerumahnya.
Gibran meremass rambutnya dan berteriak frustasi. "Jihaaaaaannnn."
Jihanpun menangis didalam mobilnya, ia tidak tega bersikap seperti itu pada Gibran.
"Semoga kamu segera menemukan kebahagiaanmu, Gab. Maafkan aku." Gumam Jihan.
Hingga Jihan tiba dihalaman rumahnya dan mendapati rumahnya yang tengah ramai. Jihan mengenali beberapa mobil yang ada. Ia melihat ponselnya dan begitu banyak panggilang tidak terjawab dari Davan maupun Billa.
Jihan turun dengan segera. Rupanya Jihan melupakan jika hari ini adalah ulang tahun Jaffin dan seluruh keluarga berkumpul termasuk keluarga Aldrich.
"Ji, dari mana saja kau?" Tanya Jidan yang langsung menghampiri Jihan saat berada di teras.
"Maaf Jid, aku habis cari angin." Kata Jihan.
Jihan mengangguk.
"Gibran ada di Jakarta, apa kau tak mengundangnya kemari?" Tanya Jidan.
"Gibran sedang ada kerjaan, nanti jika senggang akan kemari." Jawab Jihan berbohong.
"Wajahmu pucat, kau habis menangis, Ji?" Tanya Jidan lalu memegang pipi Jihan yang terasa lengket karna lelehan air matanya.
"Aku tidak apa, Jid." Kata Jihan.
"Ada apa, Ji?" Tanya Jidan yang memang sangat peka pada Jihan.
"Ji..." panggil Davan dan hal ini Jihan jadikan kesempatan untuk menghindar dari Jidan.
"Yah, Ji mandi dulu ya." Kata Jihan yang diangguki oleh Davan.
Jihan segera menuju kamarnya dan membersihkan diri. Setelahnya ia merias dirinya agar tidak terlihat pucat dan segera turun untuk bergabung dengan keluarga yang lain.
"Alaska akan kembali hari ini juga. Entahlah katanya tiba tiba ada trouble di proyek yang sedang dijalani." Kata Aldrich pada Zayn dan terdengar oleh Jihan.
"Ji.." Panggil Clara dan Jihan menghampiri Clara.
"Mommy Cla." Kata Jihan tersenyum.
__ADS_1
Setelah Jihan menyalami satu persatu tamu yang hadir, kini mereka berkumpul bersama untuk mendoakan Jaffin agar diberikan keberkahan di sisa umurnya.
Jihan merasakan pusing yang teramat sakit, hingga tubuhnya ambruk dan pingsan.
"Ji..." teriak Jidan lalu mendekati Jihan dan menggendongnya, membawanya untuk berbaring di sofa.
"Ji.. Bangun Ji.." Jidan terlihat cemas dan menepuk nepuk pipi Jihan.
"Ji, kumohon.. Ada apa denganmu, Ji." Kata Jidan yang panik.
"Panggil dokter." Kata Billa yang juga mencemaskan Jihan.
Davan segera menelpon dokter dan kurang dari 15 menit dokter tiba dirumahnya.
Jihan sudah dipindahkan dikamar Billa dan Davan. Dokter segera memeriksanya didampingi Jidan, Billa dan Davan.
Dokter hanya memperlihatkan wajah heran, namun ia harus menyampaikan hal ini pada Davan.
"Maaf Pak Davan, sepertinya putri anda sedang hamil dan tekanan darahnya sangat rendah." Kata Dokter.
"Hamil?" Tanya Davan tak percaya. "Jangan bercanda, Dok. Anda tau betul putriku belum menikah." Kata Davan sedikit emosi.
"Maaf pak Davan. Ini hanya analisa saya. Silahkan Pak Davan cek melalui tespek atau dibawa kerumah sakit untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut." Ucap dokter lalu berpamitan.
Davan menatap tajam Jidan. "Kau bisa jelaskan ini, Jid? Apa yang terjadi pada saudarimu?" Tanya Davan.
"Jid tidak tau, Yah. Jid juga tidak percaya apa yang dikatakan dokter." Kata Jidan membela diri.
"Apa teman kalian yang bernama Gibran itu yang merusak Jihanku?" Tanya Davan emosi.
"Hentikan Mas!!" Teriak Billa yang mulai melihat kondisi semakin panas.
"Ayah tidak bisa terima ini, seret baji*ngan itu kehadapan Ayah, Jid. Ayah akan mencekiknya dengan tangan Ayah sendiri." Emosi Davan.
Jidan segera keluar untuk mencari Gibran ke apartemennya.
Dengan tidak sabar, Jidan menekan bel pintu apartemen Gibran lalu menggedornya.
Gibran membukanya dan..
Bughh.. Bughh.. Bughhhh.
"Baji*ngan kau Gab. Berani sekali kau menyentuh adikku."
Gibran tidak melawannya, ia hanya diam saja saat Jidan memukulnya.
Bughh.. Bughh.. Bughh
Lagi lagi Jidan memukuli Gibran secara membabi buta.
"Jika memukuliku bisa membuat Jihan kembali padaku, aku rela Jid." Kata Gibran"
Jidan menghentikan pukulannya. "Apa maksudmu?" Tanya Jidan.
__ADS_1
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...