BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BONCHAP 7


__ADS_3

"Ji.. Jove sudah sebulan ya?" Tanyanya dengan suara berat.


Jihan tau kemana arah Alasa berbicara. "Tapi masih berdarah, Kak." Kata Jihan dengan sedikit risih. Jihanpun ingin menunaikan kewajibannya sebagai seorang istri. Namun ia juga belum selesai masa nifasnya, dan lagi Jihan juga masih takut untuk melakukan hubungan itu karna membayangkan rasa sakit saat melahirkan Jove.


Alaska menenggelamkan wajahnya diceruk leher Jihan, lagi lagi ia harus menahan hasratnya.


"Aku menyesal, kenapa kemarin bisa hilang ingatan selama itu, andai tidak hilang ingatan, sudah pasti saat itu kita langsung menikah." Ucap Alaska frustasi.


"Kamu menyesalinnya, Kak?" Tanya Jihan.


Alaska mengangguk, masih dengan wajah yang menempel diceruk leher Jihan. "Aku juga menyesali semua perkataan kejamku padamu, harusnya saat itu kamu memukul kepalaku, Ji. Agar ingatanku cepat kembali." Ucap Alaska.


Jihan menghela nafas, "Kamu mencintaiku, Kak?"


Alaska mengangkat wajahnya, "Jauh sebelum kejadian di Bali itu aku sudah menyukaimu. Setelah kejadian malam itu aku tidak ingin melepasmu, betapa bahagianya aku saat menyaksikan dilayar monitor melihat Jove ada diperutmu. Aku mencintai kalian berdua." Kata Alaska.


Jihan membalikan tubuhnya dan menghadap Alaska. Menangkup kedua pipi Alaska dan menciumnya satu persatu. "Terimakasih sudah mau tanggung jawab, Kak. Aku akan berusaha menjadi istri yang baik dan belajar mencintaimu."


Alaska tersenyum. "Maafkan aku ya, Ji. Aku janji tidak akan menyusahkanmu lagi. Aku janji jika nanti kita dipercaya memiliki anak selain Jove, aku akan menebus semuanya."


Jihan mengangguk.


"Dua minggu lagi acara resepsi pernikahan kita, apa kira kira sudah selesai, Ji?" Tanya Alaska ambigu.


Jihan menggelengkan kepalanya, "Tidak tahu, kata dokter masa nifas bisa sampai enam minggu."


"Bolehkan, Ji?" Tanya Alaska lagi.


"Aku akan menunaikan kewajibanku, Kak. Aku sudah janji akan menjalani rumah tangga ini sebaik mungkin." Ucap Jihan tulus.


Alaska mencium kening Jihan dengan lembut. "Terimakasih." Ucapnya.


Hari hari Alaska dan Jihan lalui dengan bagaimana semestinya. Jihan menerima takdirnya sebagai istri dari pewaris utama Dewantara.


Alaska pun bersikap dengan begitu baik terlebih itu pada Jove. Jove bagaikan magnet untuk Alaska karna berhasil membuat Alaska tidak mau jauh dari Jove. Bahkan saat bekerja saja, Alaska sering melakukan video call hanya untuk melihat Jove.


"Daddymu manis sekali, sehari ini sudah berapa kali dia melakukan panggilan video padamu." Kata Jihan pada Jove sambil mengusap pipi Jove yang kemerahan.


"Alaska tidak menyusahkanmu, Ji?" Tanya Clara yang tersenyum saat mendengar ucapan Jihan pada Jove.


"Tidak Mommy, Kak Al malah terlihat manis sekali." Kata Jihan dengan malu.


"Alaska mencintai kalian berdua. Mommy tau itu." Ucap Clara.


Sementara itu, Amel tengah membawa makan siang untuk Jidan ke kantornya. Semenjak menikah, Jidan meminta Amel hanya fokus untuk kuliahnya saja dan selebihnya dirumah bersama sang ibu, Amel menerimanya dengan senang hati. Jidan pria bertanggung jawab, ia tidak ingin Amel merasa kelelahan bekerja, biarlah Jidan yang bekerja untuk menghidupi Amel dan rumah tangga mereka kedepannya.

__ADS_1


"Jid.." Panggil Amel saat memasuki ruangan Jidan. Namun Jidan tidak ada di tempat dan ponselnya tergeletak di meja kerjanya.


"Mungkin Jid sedang meeting." Gumamnya lalu duduk di sofa dan memainkan ponselnya.


Lama Amel menunggu hingga membuat dirinya kelelahan lalu tertidur di sofa.


Jidan datang setelah dari ruangan Davan melakukan diskusi soal renovasi resort. Jidan tersenyum saat melihat Amel tertidur di ruang kerjanya, tak hentinya Jidan mengulas senyum saat melihat ada kotak bekal dimeja tamunya.


"Istri yang baik." Gumam Jidan lalu mendekat dan berjongkok didepan Amel yang tertidur di sofa.


Jidan menatap lekat wajah istrinya, Amel adalah cinta pertamanya, cinta masa kecilnya dan kini menjadi istrinya. Jidan mengusap kepala Amel dengan begitu sayang, usapan Jidan membuat Amel perlahan bangun dari tidurnya.


"Jid.." Kata Amel dengan suara serak.


"Hai, sudah lama menunggu?" Tanya Jidan lembut.


Amel melihat jam diponselnya, "Hampir satu jam."Jawabnya lalu merubah posisi untuk duduk.


"Aku tidak tau kamu kesini, tadi aku diruangan Ayah." Ucap Jidan.


"Iya, aku buat kejutan. Maaf ya malah ketiduran." Ucapnya.


Jidan makan bekal yang dibawakan oleh Amel. "Enak, kamu semakin pintar memasak."


"Aku semakin pintar karna Ibumu yang mengajariku." Jawab Amel.


"Jidan." Kata Amel dengan wajah memerah.


Jidan tertawa, ia senang sekali menggoda Amel. Amel menahan rasa malunya, tak ia pungkiri jika akhir akhir ini dirinya memang aktif diatas ranjang, bahkan Amel sering memimpin permainan dan Jidan slalu kalah duluan.


"Suapi aku." Kata Jidan manja.


Amel dengan telaten menyuapi makanan untuk suaminya. "Kamu manja sekali." Kata Amel.


"Karna aku tidak pernah manja pada siapun selain sama kamu." Jawab Jidan.


Amel mengerti hal itu, Sedari kecil Jidan menghabiskan waktunya untuk menjaga Jihan, ketika bertemu dengan sang Ayah, Jidan hanya bisa menikmati waktunya sebentar karna tak lama dari pertemuan Jidan dan Davan, Jaffin hadir dan hal itu membuat Jidan harus mendewasakan dirinya kembali.


Amel mengusap kepala Jidan saat Jidan tiduran dipangkuannya setelah makan siang mereka selesai.


"Ngantuk." Kata Jidan dengan memejamkan matanya, menikmati belaian tangan Amel dirambutnya.


"Harus kerja, Yah." Kata Amel.


Jidan langsung membuka matanya, "Ayah?" Tanya Jidan memastikan.

__ADS_1


Amel menggigit bibir bawahnya, membuat Jidan penasaran lalu beralih duduk menghadap Amel.


"Kamu hamil?" Tanya Jidan yang memang peka.


Amel menggelengkan kepalanya, "Aku tidak tau, tapi aku belum mendapatkan periodeku." Jawabnya.


Jidan tampak berpikir, melewati satu bulan pernikahan mereka, tidak pernah Jidan melewatkan hari tanpa menyentuh Amel, setiap hari mereka slalu melakukan penyatuan itu.


"Kita sudah menikah lewat dari satu bulan, kamu belum mendapatkan periodemu? Kapan terakhir kamu mendapatkan periodemu?" Tanya Jidan.


"Satu minggu sebelum kita menikah, itu kali terakhir aku mendapatkan periodeku." Jawab Amel.


"Kita ke dokter ya." Ajak Jidan.


"Apa tidak sebaiknya tespek saja dulu, aku baru telat empat hari." Kata Amel.


Jidan menggelengkan kepalanya, "Kita langsung cek saja, kalau memang negatif, kita bisa sekalian minta obat penyubur kandungan." Jawab Jidan.


Amel mengulurkan tangannya mengusap pipi Jidan, "Kamu ingin segera memiliki anak?" Tanya Amel.


Jidan menjawab dengan penuh hati hati. "Tujuanku menikah selain ingin memilikimu sepenuhnya juga ingin memiliki keluarga sendiri. Mempunyai teman menua. Tapi jika memang belum diberi keturunan, aku akan sabar. Yang penting kamu mau menemani aku hingga menua bersama."


Amel tersenyum, ia mengecup sekilas bibir Jidan, ia tak menyangka akan diperlakukan layaknya ratu oleh Jidan yang kini menjadi suaminya.


Kini, mereka berada dirumah sakit, Jidan tidak menyianyiakan waktu untuk membawa sang istri memeriksakan dirinya.


Jidan penuh harap saat dokter menempelkan alat usg diperut Billa, "Itu titiknya kan, Dok?" Tanya Jidan.


Jidan cukup mengerti karna selama kehamilan Jihan, Jidan slalu menemaninya.


"Iya, Pak. Selamat istri anda hamil." Kata dokter.


"Janin tunggal dok?" Tanya Jidan.


Dokter mengangguk, "Tunggal, hanya ada satu."


Jidan cukup puas meskipun ia berharap mendapatkan anak kembar. Namun diberikan janin tunggal saja sudah membuat Jidan bersyukur. Ia tak menyangka secepat ini diberikan kepercayaan.


Jidan membawa Amel kembali kerumahnya, tak henti hentinya Jidan mengulas senyum dan terus menggenggam tangan Amel serta sesekali menciuminya.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Namanya juga Bonchap, jadi cerita yang manis manis aja, No konflik 😁


Masih ada yang setia disini?

__ADS_1


Senin terakhirku di Novel ini, karna beberapa hari lagi tamat, Maukah sumbangin Vote dan Likenya untuk novelku ini?


Terimakasih Readersku tersayang.


__ADS_2