BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 44


__ADS_3

Clara dan Aldrich tengah berjalan jalan disebuah Mall, Aldrich ingin memanjakan istrinya dengan membelikan pakaian dan sepatu baru untuk mengisi lemarinya, pasalnya sewaktu pindah kerumah Aldrich, Clara hanya membawa satu koper kecil, Clara pun memang tidak suka mengkoleksi pakaian, menurutnya punya satu warna dari satu pakaian itu sudah cukup.


"Al, aku rasa tidak perlu, ini sudah banyak." Kata Clara.


"Ini masih sedikit, Sayang. Suamimu ini bekerja untukmu, kamu harus manfaatkan sebaik baiknya." Kata Aldrich dengan bangga.


Clara berdecak, "Aku tidak mau memanfaatkanmu, memang aku wanita apaan."


Aldrich mengulas senyumnya, "Gak salah deh aku pilih istri, baik sekali." Aldrich ingin mencium pipi Clara namun ditahan oleh tangan Clara.


"Al, ini tempat umum." Kata Clara.


"Jadi kalo dikamar boleh?" Tanya Aldrich dengan mata penuh harap.


Clara mengangguk pelan, wajahnya merona merah, dan Aldrich menangkap bahwa Clara sedang malu malu.


Dari jauh sepasang mata memandang sinis, tidak suka melihat wanita yang sedang bersama Aldrich.


"Sayang, aku ke toilet dulu sebentar, ya. Kamu duduk dulu disini." Kata Aldrich.


Clara menunggu Aldrich dikedai minuman thaitea, ia sambil melihat isi ponselnya dan tersenyum saat melihat story milik Chelsea yang sedang berfoto bersama Zayn.


"Kamu pacarnya Aldrich?" Tanya seorang wanita yang ternyata adalah Metha.


Clara mendongakan wajahnya menatap pada Metha, lalu ia berdiri percis didepan Metha.


"Maaf anda siapa?" Tanya Clara dengan sopan.


Metha tersenyum sinis, "Aku mantan kekasih dari pria bodoh dan tidak berguna itu." Jawab Metha sombong.


Clara hanya membulatkan bibirnya, "Lalu, apa urusannya denganku?"


Metha menatap Clara dengan tatapan merendahkan, "Hati hati pada Aldrich, dia bukanlah pria tulen." Kata Metha, lalu Metha mendekatkan bibirnya ke telinga Clara. "Aldrich itu g*ay, penyuka sesama jenis."


Clara menatap tajam ke wajah Metha setelah wajah Metha menjauh,


"Kamu tidak percaya?" Tanya Metha.


Metha memutar malas bola matanya. "Aku berpacaran lama dengan Aldrich, aku menggodanya memakai pakaian se*xy bahkan lingerie tipis dan pernah nyaris tanpa busana, namun Aldrich tidak pernah sekalipun tergoda."

__ADS_1


Clara hanya diam sambil tetap menatap tajam pada Metha.


"Kau tau Davan sepupunya Aldrich?" Tanya Metha, namun Clara hanya diam tidak menjawab. "Dia adalah pasangan sejenisnya Aldrich."


Clara mengingat saat kemarin dirumah mertua Chelsea, Aldrich nenyusul Davan kekamarnya dan lama tidak keluar dari sana.


"Apa yang kau lakukan disini??" Suara bariton Aldrich membuat Metha terkejut.


"Hai mantan kekasihku." Sapa Metha.


Aldrich tidak menjawab, ia menatap Clara yang hanya diam saja. "Apa yang dia lakukan padamu, Ra?" Tanya Aldrich khawatir.


"Sepertinya, kekasihmu itu shock karna mendengar cerita kita di masa lalu, sayang." Kata Metha dengan nada manja.


Aldrich menatap tajam pada Metha, "Masa lalu kita tidak ada yang berkesan, Metha." Ucap Aldrich dingin.


Metha tertawa, "Aku yakin tidak akan ada wanita yang akan bertahan menjadi kekasihmu kecuali karna kekayaanmu, Al." Ucap Metha sinis lalu meninggalkan Aldrich bersama Clara.


"Ra..." Aldrich merasa khawatir karna Clara hanya diam saja.


"Al, bisakah kita pulang? Aku sepertinya lelah sekali. Bukankan besok kita juga harus bekerja?" Kata Clara.


"Al, sedekat apa kamu dengan Davan?" Tanya Clara saat didalam perjalanan pulang.


Aldrich melihat sekilas kearah Clara, "Aku, Chelsea dan juga Davan seumuran, sejak dari kecil, kami satu sekolahan, hingga kuliah baru Chelsea memilih jurusan yang berbeda denganku dan Davan."


"Apa Davan pernah punya pacar?" Tanya Clara.


"Davan itu orangnya tertutup, Ra. Apa lagi soal pribadinya. Dia juga susah dapat teman dekat, ya teman yang dekat dengan dia hanya aku dan Chelsea." Jawab Aldrich.


"Kenapa tiba tiba nanyain Davan? kamu tidak lagi suka dengan Davan kan, Ra?" Tanya Aldrich.


"Ishh kamu ini, Al. Masa curigain aku sampai kesitu. Aku hanya ingin tau soal orang orang terdekatmu, salah?" Kata Clara sedikit kesal.


Aldrich meraih tangan Clara lalu menciumnya, "Maaf ya, Ra. Maaf aku belum bisa memahamimu." Kata Aldrich sungguh sungguh.


Beberapa hari dari kejadian di Mall itu, batin Clara seolah berperang, antara ia tidak ingin mempercayai ucapan metha, atau mempercayainya.


Clara berpikir tidak mungkin bertanya pada Chelsea, Clara ingin mencari taunya sendiri, namun hanya ada satu cara untuk mengetahuinya sendiri.

__ADS_1


"Ra, kamu pulang duluan ya, aku masih ada kerjaan sama Joni." Kata Aldrich.


Clara hanya mengangguk, sedangkan Aldrich masuk kembali kedalam ruangannya. Aldrich memang tengah disibukan banyaknya pekerjaan, itu karna Fariz sedang berada diluar kota untuk kunjungan perusahaan yang tentunya ditemani oleh Stevi.


Clara pulang diantar oleh supir perusahaan, itu karna Aldrich tidak ingin Clara menaiki angkutan umum maupun driver online. Hingga tiba dirumah dan selesai membersihkan diri, Clara mencoba duduk dikursi meja kerja Aldrich yang berada didalam kamarnya.


Entah mengapa Clara iseng membuka laci laci meja kerja Aldrich satu persatu. Ia menemukan dua lembar foto, foto pertama adalah Foto Aldrich bersama Davan dan Chelsea saat kelulusan SMA, karna mereka tengah memakai seragam putih abu abu yang bercoretkan cat semprot warna warni. Satunya lagi adalah foto dirinya bersama Al saat mereka kenal dibandung dan jalan jalan dikota itu keesokan harinya.


"Al masih menyimpan foto ini." Gumam Clara lalu tersenyum.


"Aku harus membuktikannya malam ini juga, aku yakin jika yang dikatakan wanita itu salah, Aldrich adalah pria normal dan bukan seorang g*ay." Gumam Clara.


Clara mengambil ponselnya dan mengirimi Aldrich pesan.


"Masih lama kerjanya?" ~Clara~


"Ini baru masuk mobil, otw pulang, sayang. Tunggu aku ya." ~Aldrich~


Clara tersenyum, ia segera berdiri dan menuju walk in closet, ia memilih lingerie yang akan ia gunakan malam ini untuk mencari tau kebenarannya.


Clara mengambil lingerie berwarna nude yang hampir menyerupai kulitnya.


Dua puluh menit kemudian Aldrich tiba dirumahnya, ia segera menuju kamarnya. Entah mengapa Aldrich merasa suasana kamarnya begitu berbeda, Clara memasang aromateraphy sehingga membuat kamarnya terasa menenangkan.


"Aku sudah menyiapkan air hangat untukmu." Kata Clara yang keluar dari walk in closet.


Aldrich tersenyum, "Aku mandi dulu." Kata Aldrich setelah mencium kening Clara.


Aldrich masuk kedalam kamar mandi sementara Clara tetap di walk in closet untuk mengganti pakaiannya dengan lingerie sexy.


Clara menunggu dikamar dengan perasaan gugup, tangannya dingin sedingin es.


Ceklekk,


Aldrich keluar dari walk in closet, ia langsung terkejut saat melihat penampilan Clara.


Clara yang merasa diperhatikan oleh Aldrich segera menghampirinya dan melingkarkan tangannya dileher Aldrich.


Aldrich terkesiap, "Ra...." Panggil Aldrich dengan perasaan yang tak kalah gugup.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2