
"Ji, kau benar tidak akan bekerja dikantor Ayah?" Tanya Davan pada Jihan saat mereka berkumpul bersama.
"Nantilah Yah, aku masih senang kerja dikantor Daddy Al, disana aku bisa menggali potensiku. Jika aku dikantor Ayah, Ayah slalu memudahkan pekerjaanku, itu gak asik." Jawab Jihan.
"Kau nanti kerja bersamaku, Ji." Sahut Jidan.
"Ck, makin tidak asik Jid, kau pasti akan semena mena padaku, mengerjaiku." Cibir Jihan cuek.
"Kau tidak merepotkan Daddy Al kan, Ji?" Tanya Davan.
"Tentu saja tidak, Yah. Daddy Al malah senang aku kerja disana. Slalu mengajakku keluar untuk bertemu klien, dan wawasanku semakin luas. Terkadang Daddy Al memberikanku kesempatan untuk persentasi didepan kliennya, banyak kliennya yang menyukai hasil persentasiku." Jawab Jihan.
Davan memang mengetahui bakat Jihan, Aldrich slalu memberikan kabar tentang putri tersayangnya itu. Disisi lain, ada rencana terselubung yang Aldrich rencanakan, dan tentu saja Davan nengetahuinya. Meskipun Davan ingin menolaknya, namun Aldrich selalu memohon padanya untuk membiarkan Jihan dekat dengannya.
**
"Alaska, Jihan nanti akan bekerja sama denganmu." Kata Aldrich.
"Dia tidak akan merepotkanku kan, Dad?" Tanya Alaska.
"Hei, kau dekat dengan Jidan tapi tidak mengenal Jihan. Jihan itu gadis yang menyenangkan, dia juga pintar, dan..."
"Gadis yang barbar dan sangat berisik." Sahut Alaska cepat memotong perkataan Aldrich.
Aldrich menaikan satu halisnya, "Gadis barbar dan berisik itu cocok untuk pria datar sepertimu, Al." Ucap Aldrich.
"Aku mencium bau bau perjodohan disini." Kata Alaska yang memang memiliki kecerdasan bahkan bisa menilai maksud seseorang.
"Oh ayolah Kak Al. Kak Jihan itu asik, aku akan suka jika Kak Jihan menjadi Kakakku." Kata Alika. "Ya kan, Fiq?" Tanya Alika pada Alfiqa.
"Ya betul, Aku menyukai Kak Jihan, dia gadis pemberani." Jawab Fiqa. "Pintar beladiri." tambahnya lagi.
"Dad, Mom, Alika, Alfiqa. Kalian dengar ya. Aku bisa memilih jodohku sendiri tapi tidak dengan gadis berisik itu." Jawab Alaska.
"Maksudmu gadis yang kau kencani di Inggris? Daddy tidak mengijinkannya." Ucap Aldrich.
"Dad..." Protes Alaska.
"Daddy akan menjodohkanmu dengan Jihan, suka ataupun tidak." Ucap Aldrich tegas.
"Kami bersaudara, Dad." Kata Alaska beralasan.
"Tidak ada ikatan darah. Kakekmu dan Oma Ghea hanya saudara tiri." Tekan Aldrich.
__ADS_1
Alaska hanya menghela nafas, ia tau jika Aldrich susah dibantah.
**
Alaska bergabung dengan kantor Dewantara, ia diperkenalkan sebagai CEO yang akan membantu Aldrich memimpin grup perusahaan. Putra mahkota generasi ke 5 itu terlihat sangat tampan sekali, namun ketampanannya sama sekali tidak membuat Jihan tertarik, terlebih Alaska pria yang ketus dan tidak asik versi Jihan.
"Ji, Daddy akan memindahkanmu untuk membantu Alaska. Daddy mohon kamu mau ya?" Kata Aldrich.
"Oh Dad, pindahkan aku saja kebagian lain, asal tidak dengan anak Daddy yang menyebalkan itu." Ucap Jihan.
"Daddy tidak bisa, Ji. Daddy percaya padamu untuk membantu Alaska." Kata Aldrich bersikeras.
"Menjadi sekertarisnya bukan bidang aku, Dad." Kata Jihan.
"Kau akan jadi asistennya Alaska bersama dengan Beni." Kata Aldrich.
Jihan memasang wajah cemberut dan Aldrich segera menghampirinya, "Ayolah Ji. Bantu Daddy agar Alaska bisa fokus diperusahaan." Kata Aldrich memohon.
Jihan menghela nafas, "Baiklah Dad, anggap saja aku membalas kebaikan Daddy yang sudah membantuku dari magang hingga lulus kuliah." Jawab Jihan tak bersemangat.
"What!! Gadis berisik itu jadi asistenku?" Tanya Alaska tak percaya. "Bukankah sudah ada Beni, Dad?" Tanya Alaska.
"Kau masih baru disini, Beni dan Jihan akan menjadi asistenmu, Jika kau keluar menemui klien, kau bisa bawa Jihan karna dia sudah pengalaman dan Beni bisa stay dikantor untuk menyelesaikan pekerjaanmu." Jawab Aldrich beralasan.
Alaska hanya memutar malas bola matanya. Ia tau ini akal akalan sang Daddy untuk mendekatkannya dengan Jihan. Aldrich kembali keruangannya dan Jihan menyiapkan berkas berkas untuk dipelajari oleh Aldrich.
"Maaf Pak, saya tidak berani. Itu sudah perintah langsung Bos besar." Jawab Beni yang merupakan anak dari Joni dan Rissa.
"Kau ini Ben, masa tidak bisa mengatasi gadis berisik itu." Ucap Alaska.
Ceklekk..
Jihan masuk kedalam ruangan Alaska dengan membawa beberapa berkas.
Alaska melihatnya dengan malas.
"Ini yang harus anda pelajari, Pak." Kata Jihan sambil menaruh setumpuk berkas di meja Alaska.
"Jika ada yang tidak anda mengerti, anda bisa menanyakan padaku ataupun Beni." Ucap Jihan formal.
Alaska hanya diam sambil sesekali menggapi dengan deheman.
"Jadwal anda, akan diberitahu nanti oleh sekertaris anda." Kata Jihan lagi. "Selamat bekerja Pak Alaska." Ucap Jihan lalu keluar dari ruangan Alaska.
__ADS_1
Alaska menghembuskan nafas kasarnya dan bersandar pada sandaran kursi.
Fariz dan Tristan berjanjian untuk bermain golf bersama.
"Jadi Aldrich menyetujui soal perjodohan Alaska dengan Jihan?" Tanya Tristan mendalam.
Fariz mengangguk, "Ini permintaan terakhir Ayah Erick dan Mama Diana. Menyatukan dua keluarga dan hanya bisa oleh Alaska dan Jihan." Jawab Fariz.
"Perjodohan? Akankah berhasil Riz?" Tanya Tristan ragu.
"Semoga saja, Tan. Menikah tanpa cinta pernah dijalani oleh Ghea dan Mas Fadhil. Mereka berhasil kan?" Kata Fariz.
"Tapi Alaska dan Jihan berbeda dengan Ghea. Alaska dan Jihan sama sama anak yang keras kepala." Tristan mencoba melihat dari sisi lain.
Fariz mengangguk. "Tapi Alaska sama seperti Aldrich, aku yakin perjodohan ini berhasil."
Kabar perjodohan ini pun sampai ketelinga Jidan. Jidan merasa keberatan karna ia mengenal baik Alaska. Alaska sudah memiliki kekasih sewaktu di luar negri dan tidak mungkin Alaska mencintai Jihan karna Jihan bukanlah type idaman bagi Alaska.
"Tolak perjodohan ini, Al." Ucap Jidan pada Alaska.
Selama diluar negri memang Jidan hanya memanggil Alaska dengan nama tanpa embel embel Kak, dan itu Alaska yang memintanya.
"Kau menolaknya?" Tanya Alaska.
"Tentu saja, Jihan adalah saudariku, aku tau kau tak mencintainya." Ucap Jidan. "Kau sudah ada Rania. Bilanglah pada Daddy, Al. Jangan mengorbankan saudariku." kata Jidan serius.
Alaska belum pernah melihat Jidan serius seperti ini.
"Aku sudah menolaknya, Jid." Kata Alaska.
"Hanya menolaknya tapi tidak berusaha untuk mencegahnya." Jidan berkata penuh penekanan.
"Ku mohon, Al. Aku sangat menyayangi saudariku. Aku tidak akan membiarkan dirinya hidup tidak bahagia. Aku tidak takut kehilangan banyak orang disekitarku asal itu jangan Jihan dan Ibu." Kata Jidan dan Alaska melihat ketegasan disetiap kata yang Jidan ucapkan.
Jihan masuk kedalam ruangan Alaska dan terkejut saat melihat keberadaan Jidan.
"Jid, kau disini?" Tanya Jihan sambil menaruh berkas dimeja Alaska.
"Ji, aku datang kesini untuk memintamu berhenti bekerja disini, ikutlah bekerja denganku." Ajak Jidan.
"Jid, aku kan sudah bilang disini aku bisa menggali potensiku, jika bersamamu kau dan Ayah slalu saja membantu pekerjaanku." Kata Jihan keras kepala.
Jidan menghembuskan nafasnya. Entah ia harus berbuat apa lagi, rasanya ia ingin sekali membawa Jihan pergi jauh agar tidak terjebak dengan perjodohan yang tentunya akan menyakiti saudarinya itu.
__ADS_1
Alaska sendiri merasa tak enak, ia tau jika Jidan mengetahui hubungannya dengan Rania selama di Inggris, dan jika perjodohan ini terjadi, Alaska tidak bisa memberikan cinta pada saudari yang Jidan sayangi itu.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...