BUKAN DRAMA PERNIKAHAN

BUKAN DRAMA PERNIKAHAN
BAB 77


__ADS_3

Hari kedua, Davan kali ini datang dengan menggunakan becak, ia sudah menunggu percis didepan gerbang sekolah JJ. Davan mengobrol bersama satpam penjaga sekolah untuk menghilangkan kebosanannya.


"Pak satpam, disana ada yang berantem." Kata seorang murid laki laki.


"Siapa?" Tanya Satpam itu panik.


"Jihan mau pukul Gibran."


Deg, Jihan??


Satpam itu langsung masuk ke area sekolah dan Davan mengikutinya.


Pritt.. priittt..


Satpam meniup pluit namun tidak didengar oleh Jihan dan Gibran.


Jidan menahan Jihan namun Jihan memang terlihat emosi sekali.


"Lepaskan Jid, dia menghina Ibu kita." Kata Jihan berapi api.


"Aku akan menghajarnya dan merobek mulutnya agar ia tidak bisa lagi menghina Ibu." Kata Jihan lagi.


"Hentikan, Jid. Ibu akan bersedih jika kau tidak bisa mengendalikan diri." Kata Jidan yang masih sekuat tenaga menahan Jihan.


"Aku akan berhenti jika dia menarik kata katanya." Kata Jihan.


"Ibu mu memang tidak jelas, bahkan Ayah kalian saja meninggalkan kalian." oceh Gibran.


"Dengar itu, Jid. Aku harus merontokkan giginya." Kesal Jihan.


Davan langsung menarik Jihan dan memeluknya. "Hentikan, Jihan. Hentikan." Kata Davan lembut sambil memeluk Jihan.


Jihan mendongakan kepalanya dan terlihat wajah Davan yang menenangkannya. Seketika Jihan langsung melingkarkan tangannya dipinggang Davan dan memeluknya.


Jidan menghela nafas lalu memgambil tas milik Jihan, sementara Davan menggendong Jihan untuk keluar dari sekolah.


Davan membawa Jidan dan Jihan ke Becak yang sudah ia sewa itu. Davan memangku Jihan yang sedari tadi terus menangis dan mengusap punggungnya, semantara Jidan duduk disisinya.


"Dia memang seperti itu." Kata Jidan tiba tiba saat melihat Jihan sudah tertidur dipelukan Davan.


"Banyak teman menghina kami hanya karna kami tidak memiliki Ayah dan tempat tinggal kami yang hanya menumpang, mereka juga menghina kami hanya karna kami memakai sepatu yang jelek juga tas yang sudah rusak, Jihan tidak akan marah jika dihina teman kami, tapi dia akan langsung tersulut emosinya jika ada yang menghina Ibu kami." Kata Jidan.


"Apa yang dia katakan tentang Ibumu?" Tanya Davan ingin tau.


"Mereka bilang Ayah meninggalkan kami karna ibu bukan orang baik." Jawab Jidan sendu.


"Bagaimana bisa orang lain berbicara seperti itu?" Tanya Davan.


Jidan nenggelengkan kepalanya.


"Aku ingin sekali cepat dewasa lalu bekerja untuk Ibu dan Jihan. Aku selalu sedih jika melihat Jihan tidak diundang di acara ulang tahun teman kami hanya karna kami miskin." Kata Jidan.


"Aku juga sedih saat melihat Ibu yang belum hilang rasa lelahnya tapi harus kembali bekerja esok hari. Apa lagi setiap hari, ibu harus berjalan kaki demi menghemat uang kami, bahkan jika musim hujan, Ibu sering pulang dalam keadaan basah kuyup." Kata Jidan menceritakan.


Davan meneteskan air mata, semakin dalam penyesalan yang ia rasakan. Davan berpikir dirinya lah yang paling menderita, namun ternyata kehidupan Billa dan anak anaknya jauh lebih menderita.

__ADS_1


"Pernah aku berpikir ingin mencari Ayah. Tapi aku urungkan niatku karna tidak ingin melihat Ibu sedih. Ibu slalu bilang pada kami jika kami adalah alasannya untuk tetap berjuang dan hidup." Kata Jidan lagi yang seolah terus mengungkapkan perasaanya yang slama ini terpendam.


"Apa yang akan kau lakukan jika suatu saat Ayahmu berada didepanmu?" Tanya Davan.


"Aku ingin memintanya untuk membawa Jihan dan menghidupinya dengan layak." Kata Jidan.


"Lalu dirimu?" Tanya Davan ingin tau.


"Aku akan menjaga Ibu, karna aku adalah anak laki laki yang akan menjaganya." Jawab Jidan.


"Kau rela berpisah dengan Jihan?" Davan terus ingin mencari tau perasaan Jidan.


"Tidak, aku tidak rela. Tapi demi kebahagiaan Jihan, Aku aku akan melepaskannya. Asal Ayahku nanti bisa membahagiakan Jihan." Jawab Jidan.


"Jihan slalu berkata, andai Ayah ada, tidak mungkin akan ada yang menghinanya." Kata Jidan lagi.


Sungguh Davan tidak sanggup lagi menahan air matanya, ia memeluk Jihan yang sedari tertidur didalam pelukannya. "Maafkan Ayah." Bisik Davan ditelinga Jihan.


Davan membawa JJ kehotelnya. "Kita kenapa kesini Pak?" Tanya Jidan.


"Kita makan dulu disini." Jawab Davan.


Jidan mengangguk, Jihan terbangun saat Davan membawanya turun dari becak.


"Kenapa kita kesini, Jid?" Tanya Jihan.


"Bapak itu akan mengajak kita makan." Kata Jidan.


"Makan disini?" Tanya Jihan dengan mata berbinar.


"Ambilah apa saja. Kalian bebas memakan apa saja disini." Kata Davan.


Jidan dan Jihan mengedarkan pandangannya. "Ji, ada ice cream kesukaanmu." Seru Jidan.


Jihan mengangguk, "Aku mau itu." Kata Jihan.


Davan meminta satu pelayan khusus untuk melayani JJ.


"Kalian harus makan nasi." Kata Davan.


JJ mengangguk patuh.


"Jihan suka sekali buah ya?" Tanya Davan yang melihat Jihan sedari tadi memakan buah.


Jihan mengangguk, "Buah yang suka kami makan hanya pepaya, itu juga saat pepaya dibelakang rumah berbuah." Kata Jihan.


"Ibu tidak pernah membelikan kalian Buah?" Tanya Davan.


Jidan menggelengkan kepalanya, "Bukan karna Ibu tidak ingin membelikan kami buah, tapi jika ibu membeli buah, uang ibu tidak akan cukup untuk kami makan." Jawab Jidan.


"Kalau begitu makanlah sepuas kalian disini. Setelah itu kita akan berjalan jalan." Kata Davan yang diangguki oleh JJ.


Setelah makan, Davan membawa JJ kesebuah Mall yang dekat dengan hotelnya.


"Kita kesini, Pak?" Tanya Jihan.

__ADS_1


"Ya. Kalian pernah kesini?" Tanya Davan.


Jihan dan Jidan menggelengkan kepalanya, "Kata Ibu, kami tidak boleh kesini, takut ingin membeli sesuatu dan tidak bisa membelinya. Jadi lebih baik kami tidak kesini." Jawab Jihan.


Davan hanya tersenyum menanggapinya, Ia masih belum terbiasa dengan rasa sesak dihatinya saat mendengar jawaban jawaban kedua anaknya yang begitu menyayat hati.


Davan membawa JJ kesebuah toko sepatu ternama. "Pilihlah sepatu yang kalian suka, aku akan memberikannya sebagai hadiah." Kata Davan.


Jihan menatap wajah Jidan meminta persetujuan, namun Jidan masih terus diam dan berpikir.


"Anggaplah ini hadiah dariku, karna kalian slalu menemaiku disini dan tidak membuatku bosan dikota ini." Ucap Davan yang mengerti apa yang menjadi keraguan Jidan.


"Kita kepasar saja, Om. Sepatu yang ingin kami beli ada disana, harganya juga murah hanya enam puluh ribu." Ucap Jidan.


"Kalian bisa membeli itu sendiri, aku akan membelikan sepatu disini. Kalian tidak boleh menolak ya." Ucap Davan.


Mata Jihan sedari tadi melihat kearah sepatu berwarna pink, dan Davan melihatnya.


Davan menuntun Jihan kedekat sepatu yang dilihatnya terus menerus. "Mau ini?" Tanya Davan.


Jihan menatap wajah Jidan dan Jidan mengangguk, lalu Jihan menatap wajah Davan lalu mengangguk.


Davan tersenyum, " berapa nomer sepatumu?" Tanya Davan.


"33." Jawab Jihan.


"Mbak, coba bawakan sepatu ini dengan nomor 33." Kata Davan.


"Jid, kau mau yang mana?" Tanya Davan.


"Aku tidak usah, Pak. Harga sepatu Jihan saja sudah mahal." Ucap Jidan.


"Aku yang membayarnya, tidak apa. Pilihlah yang kau mau." Kata Davan.


Namun Jidan tetap bergeming.


"Jihan tunggu disini, ya. Kalau nanti Mbaknya datang, Jihan cobain sepatunya. Aku mau ajak Jidan untuk melihat sepatu." Kata Davan yang diangguki oleh Jihan.


Davan merangkul pundak Jidan kearah sepatu khusus anak laki laki. "Kataku ini bagus, bagaimana menurutmu?"


Jidan mengangguk ragu.


"Berapa nomer sepatumu?"


"34."


Davan tersenyum lalu memesankan pada SPG untuk meminta nomer sepatu untuk Jidan.


Selesai membeli sepatu, Davan membelikan Tas baru untuk JJ, meski awalnya JJ menolak namun Davan bisa meyakinkannya.


"Kami harus bicara apa pada Ibu jika Ibu menanyakan barang barang kami ini, Pak?" Tanya Jidan.


Davan tersenyum. "Bilang saja aku memberikannya sebagai hadiah karna kalian sudah menemaniku." Kata Davan.


"Dan besok, kalian tidak perlu mengantarku jalan jalan. Aku akan menemui kalian dirumah kalian dan bertemu dengan Ibu kalian untuk mengucapkan terimakasih." Kata Davan.

__ADS_1


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


__ADS_2