
Kondisi Jihan semakin membaik, ia mulai menerima kondisinya dimana ia dan bayinya terlupakan oleh Alaska.
Jihan menyempatkan diri untuk melihat Beni yang masih koma, kecelakaan itu membuat Beni terbaring dengan alat alat yang masih membantunya untuk tetap bertahan.
"Hai Bang, Ben.." Sapa Jihan yang duduk di kursi roda disamping brankar.
Jihan menghela nafas sejenak, "Bang, ku harap Bang Ben cepat sadar, Bang Ben satu satunya saksi yang tau masalahku dan Kak Alaska. Ku mohon Bang, bertahanlah untuk memberikan kebenaran demi bayiku." Jihan mengusap air mata di pipinya, lalu ia kembali keluar karna Jidan sudah menunggunya di depan kamar perawatan Beni.
"Jid.. Kita akan kemana?" Tanya Jihan saat di mobil.
"Kerumah Ayah." Jawab Jidan.
"Bisakah kita tidak kesana, Jid?" Tanya Jihan dengan helaan nafasnya.
"Ji, disana ada Ibu. Kita tidak bisa membawa Ibu karna sudah ada Jaff, dan Jaff adalah adik kita juga." Jidan menjelaskan dengan penuh pengertian.
Jihan hanya diam, Dan Jidan kembali meyakinkan Jihan. "Maafkanlah Ayah, Ji. Mungkin Ayah kecewa padamu. Kau harus memakluminya." Ucap Jidan Bijak yang diangguki oleh Jihan.
Setelah dua puluh menit, mereka tiba di rumahnya, Billa sudah menunggu dan nenyambut Jihan.
"Kamarnya pindah kebawah, ya. Ibu sudah memindahkan barang barangmu kebawah. Jangan dulu naik turun tangga." Kata Billa dan Jihan pun mengangguk.
Jidan dan Amel mengantar Jihan ke kamar yang sudah dipersiapkan oleh Billa.
"Kau akan nyaman disini, jendela dibuka langsung bisa melihat halaman belakang dan koleksi tanaman Ibu." Kata Jidan dan Jihanpun tersenyum.
"Amel akan menemanimu." Tambah Jidan lagi dan Jihan mengangguk.
"Harusnya kau nikahi Amel, Jid." Kata Jihan dengan asal.
"Ji, kau sedang sakit masih bisa bergurau." Sahut Amel.
Jidan mengerdikan bahunya. "Jika Amel mau, aku akan menikahinya." Ucapnya santai.
"Hei, kalian saudara kembar bisa berhenti menggodaku? Atau aku mengundurkan diri saja dan kembali ke Jogja." Kata Amel dengan kesal.
Jihan dan Jidan saling melirik dan sama sama tersenyum,
"Aku slalu menuruti kemauan Jihan, Mel. Jika Jihan memintaku untuk menikahimu, maka aku akan menikahimu." Kata Jidan sambil mengedipkan satu matanya lalu keluar dari kamar Jihan.
"Ji, sejak kapan Jidan menjadi pria genit seperti itu?" Tanya Amel yang bergidik ngeri.
"Sejak ia menemukan cintanya dan tidak ingin melepasnya lagi." Jawab Jihan.
__ADS_1
Alaska tengah melamun sambil menatap jendela rumah sakit. Ingatannya masih belum beraturan seperti potongan puzzle yang belum sempurna.
"Jika aku sudah hampir satu tahun disini, lalu bagaimana dengan Rania?" Tanya Alaska dalam hati.
"Jidan pasti tau, Rania cukup dekat dengan Jidan." Gumamnya lagi.
"Siapa yang dekat dengan Jidan?" Sahut Aldrich.
Alaska menoleh kearah sumber suara, "Daddy.."
"Siapa yang dekat dengan Jidan?" Tanya Aldrich lagi.
Alaska hanya diam.
"Al.. Daddy rasa tidak perlu mengulangi pertanyaan Daddy lagi." Kata Aldrich.
"Dad, bukan kah kata Daddy perjodohanku dengan Jihan sudah dibatalkan?" Tanya Alaska.
Aldrich mengangguk, "Lalu?" Tanyanya curiga.
"Berarti Al boleh dong punya pilihan sendiri?" Tanyanya lagi.
"Siapa pilihanmu?" Tanya Aldrich.
"Kau ingin menikah dengan Rania?" Tebak Aldrich.
"Dad, Rania wanita baik baik. Daddy juga tau kan keluarga Rania." Ucap Alaska.
Aldrich menghela nafas, ia memang mengetahui latar belakang keluarga Rania, keluarga terpandang namun tetap rendah hati.
"Terserah padamu, Al. Meski Daddy berharap akan ada keajaiban untuk kau menikah dengan Jihan" Kata Aldrich.
"Dad, bahkan Jihan hamil diluar pernikahan, tidak tau siapa prianya, apa Daddy masih mengharap wanita yang seperti itu untukku?" Tanya Alaska.
"Jihan hanya di jebak, Al." Kata Aldrich.
Alaska mengangguk, "Siapa yang menjebaknya? Apa motifnya? Dan kemana pria yang katanya akan datang membawa bukti dan mau bertanggung jawab pada Jihan? Tidak ada kan Dad? Jangan mau dibohongi oleh Jihan, Dad." Kata Alaska pada Aldrich.
"Kau slalu saja ketus pada Jihan. Padahal berapa bulan belakangan ini kau terlihat akrab dengan Jihan." Ucap Aldrich.
"Aku tidak mungkin dekat dengan wanita barbar seperti Jihan, Dad. Kuharap setelah kembali ke kantor, Jihan juga resign karna ia sedang hamil." Balas Alaska.
Aldrich menyipitkan matanya, "Padahal kemarin kau sempat terpesona dengan kebaikan Jihan, andai saja kau tidak kecelakaan, mungkin saja kau sudah berpacaran dengan Jihan."
__ADS_1
"Dan menjadi Ayah dari bayi yang dikandung Jihan? Oh tidak Dad, Jihan selain barbar juga dia ternyata murahan. Berbeda sekali dengan Jidan." Ucap Alaska.
"Jangan berbicara seperti itu, Al. Bagaimanapun Daddy menyukai Jihan, hanya saja memang nasib nya tidak beruntung. Daddy tidak mau mendengarmu berbicara seperti itu lagi." Tegas Aldrich lalu meninggalkan Alaska seorang diri.
Alaska kembaki menatap langit dari jendela kamar perawatannya. "Ji...han." Gumamnya. "Apa menariknya cewek barbar itu?" Gumamnya dalam hati.
Sementara Jidan, ia baru saja menyelesaikan meetingnya bersama Gibran tentang kerjasama antar hotel dan travel yang mereka kelola.
"Gab.." Panggil Jidan.
Gibran menghela nafas.
"Maafkan Jihan." Kata Jidan yang sangat tau jika Gibran pasti terluka.
Gibran mengangguk. "Tidak apa, Jid. Yang penting Jihan bahagia dengan pria yang akan tanggung jawab itu."
Jidan memijat pangkal hidungnya, "Pria itu tidak datang, dan Jihan sempat drop dan dirawat dirumah sakit akibat guncangan psikisnya."
Gibran terkejut mendengar hal itu, "Apa kau bilang, Jid?" Tanya Gibran.
Jidan hanya diam saja, ia juga bingung harus mencari kemana pria yang menghamili saudaranya itu.
"Jihan tetap bungkam. Menurutmu aku harus bagaimana, Gab?" Tanya Jidan.
"Akan ku hancurkan pria itu jika aku tau siapa orangnya. Bila perlu dia akan mati ditanganku." Kata Jidan dengan nada geram.
Gibran menepuk pundak Jidan. "Kuatlah, Jid. Kasihan Jihan jika kau terlihat seperti ini."
Gibran sangat tau jika Jidan sangat menyayangi Jihan, sedari kecil, Jidan slalu menjadi pelindung Jihan, menjaga Jihan agar tidak terlibat masalah. Dan kini Gibran juga tau apa yang dirasakan Jidan, merasa gagal menjaga Jihan.
"Aku ini berkunjung kerumahmu, bolehkah?" Tanya Gibran.
"Kau tidak membenci Jihan?" Tanya Jidan.
Gibran tersenyum samar, "Aku mencintainya. Bahkan aku ingin menikahinya bagaimanapun kondisi Jihan saat ini. Tapi aku menghargai semua keputusan Jihan, hanya saja aku masih tetap ingin dekat dengan Jihan, meski sebagai seorang teman." Kata Gibran.
Jidan menghela nafas, "Kau tulus sekali, semoga akan ada wanita yang baik untuk menjadi jodohmu, Gab."
Gibran sedikit tertawa, "Jangan doakan aku seperti itu, doakan saja Jihan mau membuka hati untukku. Aku mencintai Jihan dan calon bayinya."
Jidan merasa terharu dengan apa yang dikatakan oleh Gibran, jika itu benar maka Jihan adalah wanita paling beruntung yang dicintai oleh pria sebaik Gibran.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
__ADS_1