Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Berduka


__ADS_3

Sekarang Arka dan Arsya telah berusia sekitar 3 bulan, Sarah meminta ijin kepada Hardi untuk membawa Arka dan Arsa ke rumah sakit dimana pak Wahyu dirawat. Sarah hanya ingin mempertemukan kedua putranya dengan kakeknya walau pak Wahyu hanya masih saja tak sadarkan diri.


Sarah meminta ijin pada dokter, apa boleh putranya berdekatan dengan pak Wahyu, dokter pun mengijinkan untuk sebentar saja.


Sarah meletakkan kedua putranya di samping kanan dan kiri ranjang pak Wahyu, Arka dan Arsa tak menangis seperti mengerti siapa yang ada di dekat mereka.


" Pah, ini Arka dan Arsa. Mereka putraku dan cucu papah, lihat pah mereka tak menangis di dekat papah, mereka pasti tahu jika mereka di dekat kakeknya. Pah, cepatlah sadar dan sembuh seperti semula agar bisa bermain dengan mereka, melihat tumbuh kembang mereka hingga mereka besar nanti. Aku mohon papah harus tetap berjuang." ucap Sarah mencoba tersenyum dalam tangisnya.


Lalu Sarah dan Hardi menggendong kembali putra mereka, Sarah terus meneteskan air matanya karena rasa sedih yang di rasakannya karena memang pak Wahyu tak ada respon sedikitpun.


_____________


Beberapa hari setelah Sarah menjenguk papahnya.


Devan menyibukkan dirinya di rumah sakit, sejak saat terakhir bertemu Larisa, Devan tidak pernah lagi menghubungi Larisa apalagi bertemu dengannya. Sesekali Devan mendapat pesan atau miscall dari Larisa namun dia hanya mengacuhkannya dan mengabaikannya saja.


Devan memantau perkembangan pak Wahyu yang masih saja sama, beliau masih saja belum sadarkan diri. Ketika Devan dan dokter spesialis sedang memeriksa pak Wahyu tiba-tiba tubuh pak Wahyu menegang, tekanan darahnya meninggi dan detak jantungnya tak stabil.


Dokter dan Devan segera melakukan penanganan, Devan pun meminta perawat untuk membawakan peralatan dan di butuhkan dan menyuruh perawat lain untuk segera menghubungi pihak keluarga. Devan dan dokter berusaha semampu mereka untuk membuat pak Wahyu stabil kembali, mereka melakukan berbagai macam cara untuk menolong pak Wahyu.


30 menit kemudian Hardi dan Sarah beserta yang lainnya datang kerumah sakit dengan wajah panik dan sedih, Sarah merangkul bu Rahma dan menangis di pelukannya, bu Rahma mencoba menenangkan putrinya tersebut dengan mengelus kepalanya walaupun dia sendiri juga merasa panik dan sedih dengan keadaan mantan suaminya tersebut. Mereka tidak di perbolehkan masuk karena pak Wahyu masih dalam penanganan dokter, mereka hanya bisa menunggu di luar ruang kamar dengan harap-harap cemas.


Satu jam menunggu akhirnya Devan dan dokter lain keluar dari sana dengan wajah yang mengisyaratkan kesedihan.


" Bagaimana dokter keadaan papah saya?" tanya Sarah yang segera menghampiri dokter tersebut.


" Dengan berat hati saya memberitahukan jika pak Wahyu tidak bisa di selamatkan, beliau mengalami gagal jantung dan sesak nafas karena memang kondisi paru-parunya sudah buruk, sehingga kami sulit untuk menyelamatkannya. Saya turut berduka cita sedalam-dalamnya." ucap Dokter yang menangani pak Wahyu.


Tangis Sarah dan yang lainnya pun pecah, Sarah yang terlihat sangat terpukul dengan kejadian yang menimpanya. Ayahnya yang selama ini ia benci dan tak pernah bertemu, sekarang harus pergi untuk selama-lamanya. Tubuh Sarah melemas, Hardi segera merangkulnya memapah istrinya untuk duduk di sana. Sarah menangis dalam pelukan Hardi namun tak bersuara hanya air mata terus berurai mengalir dari matanya, begitu sangat terpukulnya ia sehingga menangis saja berasa kuarang untuknya.


Arka dan Arsa sengaja tidak di bawa mereka dan di rawat oleh pak Herman dan bu Yesi di rumah. Memang firasat buruk yang seharian Sarah rasakan ternyata menandakan akan kehilangan seseorang dan ternyata benar adanya sekarang Sarah kehilangan ayah tercintanya.


_______

__ADS_1


Di pemakaman, Sarah tetap saja tak terima akan kematian ayahnya, dia benar-benar masih terpukul dan menangis sejadinya tatkala jasad pak Wahyu di semayamkan, Hardi ikut membantu proses pemakaman bapak mertuanya. Sarah menangis dalam pelukan bu Rahma yang juga menangis karena telah kehilangan mantan suaminya untuk selama-lamanya.


Pemakaman selesai, Hardi mendekati Sarah lalu mereka pun berdoa untuk mendoakan Almarhum yang di pimpin oleh ustadz disana, tangis haru terlihat dalam proses ini. Setelah berdoa akhirnya merekapun pulang, walau Sarah terlihat tak rela meninggalkan makam papahnya tersebut.


Devan pun ikut menghadiri pemakaman pak Wahyu, terasa dari awal pemakaman ponselnya selalu berdering lalu Devan mengambil ponsel di sakunya terlihat ada 5 Miss call dari Larisa dan ada 3 pesan darinya juga. Devan membaca pesannya lalu di membalas pesan tersebut, ' Aku sedang menghadiri pemakaman tolong jangan menggangguku dulu '.


Devan kembali memasukan ponselnya kedalam sakunya sebelumnya ia mematikan ponselnya tersebih dahulu karena tidak ingin di ganggu. Larisa mendengar ponselnya berbunyi lalu cepat-cepat ia meraihnya dan melihat ada pesan dsri Devan sampai ia tersenyum, segera ia membacanya lalu wajahnya berubah murung ketika membaca isi pesan yang di terimanya.


' Sial, aku mencoba ingin berubah dan benar-benar menyukaimu Devan, tapi apa yang aku terima penolakan yang sangat menyakitkan ', batin Larisa marah dan air matanya pun keluar begitu saja.


_______


Sesampainya di rumah, Hardi mengantarkan Sarah ke kamarnya, Sarah yang terlihat lesu dengan wajah sembab hanya bisa diam saja tak berkata apapun. Lalu Lia dan bu Rahma membawa Arka dan Arsa ke hadapan Sarah, seketika Sarah kembali menangis menatap kedua buah hatinya yang sekarang sudah berada di kasur mereka berdua. Arka dan Arsa tertidur lelap, Sarah terus saja menatap mereka dengan sendu.


" Sayang, kamu makanlah dulu. Semenjak dari rumah sakit, kamu belum makan sama sekali." ujar Hardi.


" Aku tak lapar mas, jika mas lapar mas makan saja dulu." balas Sarah.


" Makanlah walau sedikit nak, biar mamah ambilkan yah." ujar bu Rahma.


" Yasudah, mamah keluar yah. Kalau ada apa-apa, mamah ada di ruang keluarga. Mamah akan menginap sementara untuk membantumu merawat Arka dan Arsa." ujar Bu Rahma.


" Iya mah, aku baik-baik saja, terimakasih mah." balas Sarah lalu ia membaringkan dirinya di ranjang, matanya kembali mengeluarkan air mata walau dia mencoba memejamkan matanya.


Hardi melihat itu, lalu Hardi ikut berbaring di belakang Sarah lalu memeluk istrinya yang terpejam mencoba menenangkan istrinya yang masih terpukul. Sarah menggenggam tangan Hardi yang melingkar di pinggangnya, ia sedikit menyunggingkan senyum akan perhatian suaminya tersebut.


Beberapa lama terdengar deru nafas teratur dari belakang tubuh Sarah ternyata Hardi tertidur memeluknya.


' Pasti mas Hardi kecapean, terimakasih mas sudah memberiku kasih sayang dan perhatian selama ini. Aku janji, aku akan melupakan kesedihanku demi kamu mas.' batin Sarah berbalik menatap wajah tampan suaminya.


Sarah melihat kedua putranya dan ternyata masih terlelap, Sarah bersyukur kedua putranya seperti mengerti keadaan sekarang sehingga mereka tidak rewel. Sarah beranjak dari tempat tidur lalu ia keluar dari kamarnya, terlihat bu Rahma sedang duduk menyaksikan acara televisi namun dengan pandangan kosong.


" Mah, mamah... " panggil Sarah namun bu Rahma masih saja tak bergeming.

__ADS_1


" Mamah..." panggil Sarah sedikit menaikan nada suaranya.


" Eh... Sarah, kamu kenapa keluar? kenapa tak istirahat saja. Hardi mana?" tanya Bu Rahma setelah tersadar dari lamunannya.


" Tidak apa-apa mah, aku sudah tak apa-apa, mas Hardi sedang tidur mungkin dia kecapekan." balas Sarah.


" Sini duduk di samping mamah, kita nonton bersama." ujar bu Rahma sambil menepuk-nepuk sofa di sampingnya.


" Mamah kenapa melamun? mamah memikirkan papah." tanya Sarah setelah ia duduk di samping mamahnya.


" Oh itu, tidak sayang. Eh tapi sedikit memikirkan juga, walau dia berlaku buruk pada kita tapi dia pernah mengisi hidup mamah." balas bu Rahma.


" Iya mah, aku juga merasa begitu. Aku sudah lupa perlakuan buruknya kepada kita yang ada sekarang hanya sebuah penyesalan." balas Sarah.


" Mamah istirahat saja, sekarang sudah cukup malam, lagi pula acara televisi nya tidak ada yang seru." ujar Sarah.


" Yasudah nak, mamah masuk ke kamar dulu, jika butuh bantuan merawat si kembar, bangunkan mamah saja." ucap bu Rahma dan Sarah pun mengangguk tersenyum tipis.


Sarah terdiam sejenak ketika dia tersadar mendengar tangisan putranya, Sarah segera masuk ke dalam kamarnya lalu Sarah melihat Hardi sedang menggendong Arsa sementara Arka sedang menangis di ranjangnya.


" Maaf sayang, tangan mas hanya 2 jadi tak bisa mwnggendong semuanya." ucap Hardi cengengesan.


" Yah tak apa mas, kenapa tak memanggilku?" ujar Sarah tersenyum lalu menggendong Arka.


" Aku tak ingin mengganggumu, sepertinya ada pembicaraan yang serius dengan mamah." balas Hardi.


" Tak ada hal yang serius kok mas, cuma pembicaraan antara ibu dan putrinya." ujar Sarah lalu menyusui Arka sehingga Arka tenang.


" Sabar yah Sayang, nanti gantian mimi cucunya yah, Arsa sama ayah dulu." ucap Hardi seolah berbicara dengan putranya, tapi dengan di bawa bicara memang Arsa tenang tak menangis lagi.


Hardi menatap Sarah yang sedang tersenyum pada Arka yang di susuinya, dia tahu kalau Sarah tersenyum dengan masih merasakan kesedihan terlihat dari tatapan matanya yang berkaca-kaca. Namun Hardi merasa tenang melihat Sarah sudah bisa mengendalikan kesedihannya dari pada siang tadi.


Bersambung......

__ADS_1


Selalu dukung Author, terimakasih 😊


__ADS_2