Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Mengurung diri


__ADS_3

Setelah kejadian tersebut Sarah menjadi lebih pendiam, yang dulu dia selalu ceria dan bisa mengatasi masalah bahkan pas dia memergoki pacarnya yang selingkuh namun dia bisa menghadapinya dengan tegar.


Kali ini, Sarah selalu mengurung dirinya di kamar. Sarah pun memberitahukan ke sejolah tempatnya mengajar bahwa ia ijin cuti sementara waktu tanpa tahu kapan ia bisa mengajar kembali. Semua rekan-rekannya merasa heran karena setelah pemberitahuan cutinya, mereka tidak mendengar kabar dari Sarah kembali.


Di kelas, Cilla selalu menanyakan keberadaan Sarah kepada pengajar yang menggantikannya namun tak ada jawaban yang berarti dari mereka. Setelah pulang sekolah, seperti biasa Hardi menjemput putrinya tersebut.


"Ayah, Cilla sedih. Udah beberapa hari bu Sarah gak ada" wajah Cilla murung menceritakannya.


"Emang kemana bu Sarahnya?" tanya Hardi meladeni putrinya.


"Gak tahu, gak ada yang tahu" Cilla menggelengkan kepalanya.


Hardi merasa sangat bersalah karena telah 5 hari berlalu Sarah mungkin mengurung dirinya dan menjauhkan dirinya dari dunia luar mungkin karena merasa depresi tentang apa yang terjadi.


Hari ini Hardi membulatkan tekadnya menemui kedua orangtuanya untuk membicarakan bahwa ia akan melamar Sarah untuk menjadi istrinya.


"Aslammlaikum, mah pah." Hardi mendatangi kediaman kedua orangtuanya.

__ADS_1


"Tumben banget kamu datang, pasti ada sesuatu" ucap Bu Yesi karena memang Hardi sudah jarang sekali berkunjung ke sana.


"Iya Mah, ada yang ingin Hardi bicarakan, ini hal sangat penting" tegas Hardi yang sudah siap atas tindakannya nanti.


"Hal penting, apa maksudmu?" tanya pak Herman penasaran.


"Hardi mau melamar mah, pah. Hardi mau menikahi seseorang" jawab Hardi membuat kedua orangtuanya kaget namun sekaligus senang.


"Serius kamu, Di. Papah dan mamah gak salah denger kan!!!" tanya pak Herman masih tidak percaya.


"Siapa? Siapa gadis yang bisa melunakan hatimu yang sekeras batu itu!" tanya bu Yesi penasaran dan senang.


"Sarah... Sarah gurunya Cilla" jawab Hardi yang tidak menceritakan hal yang sebenarnya kepada orangtuanya. Biarlah orangtuanya menganggap jika ia melamar Sarah karena saling mencintai bukan karena aib yang harus di tutupi.


"Baiklah, kami sangat mendukungnya. Kami akan mempersiapkan semuanya, kamu tenang saja" ucap Bu Yesi pada putra semata wayangnya.


"Terimakasih mah, pah. Yaudah Hardi pamit" ucap Hardi berlalu dari rumah kedua orangtuanya.

__ADS_1


Disisilain Bu Rahma merasa bingung akan sikap putrinya yang selalu menghabiskan waktunya di kamar. Bu Rahma beberapa hari ini jadi menginap di rumah Sarah karena melihat sarah yang bersikap aneh. Sarah selalu diam saja tidak seperti biasanya dan selalu jawab tidak ada apa-apa jika mamahnya bertanya padanya, makan pun selalu sedikit seakan tidak berselera.


Setiap telpon dan pesan yang masuk di ponsel Sarah selalu ia abaikan, bahkan pesan dan telpon dari Hardi pun ia tak menghiraukannya.


Perubahan drastis putrinya tersebut membuat bu Rahma sangat khawatir, mungkin Sarah mengalami hal yang membuatnya menjadi seperti sekarang. Banyak sekali pertanyaan di dalam hati bu Rahma yang tidak bisa ia tanyakan bahkan kepada Sarah.


"Nak, kamu kenapa sayang? beberapa hari ini kamu hanya mengurung dirimu didalam kamar? coba cerita kepada ibu." Bu Rahma mencoba mendekati Sarah, mengelus lembut kepala putrinya.


"Tidak apa-apa" jawab Sarah singkat dengan tetap termenung di tempat tidurnya.


Bu Sarah pun menatap sendu Putrinya yang memang selalu begitu beberapa hari belakangan. "Yaudah sayang, kamu istrirahat saja, jangan lupa di makan makanannya" bu Rahma pun menyerah dan keluar dari kamar Sarah.


***


Silahkan Like dan vote untuk mendukung Author, Jika ada kritik dan saran silahkan tulis di kolom komentar.


Terimakasih 😊

__ADS_1


__ADS_2