Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Pesan


__ADS_3

Malam itu Sarah mendapatkan pesan dari nomor yang tidak di kenal yang isinya, "Aku sering menatapmu walau kau tak lagi menatapku"


Sarah menghiraukan pesan tersebut karena menurutnya mungkin itu pesan iseng atau pesan salah kirim yang nyasar ke nomornya.


Terlihat waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam dan Hardi belum pulang dari kantornya. Sarah yang biasanya menunggu kepulangan suaminya namun malam ini ia tak sanggup menahan kantuknya. Ia akhirnya memejamkan matanya dan tak lama ia pun terlelap.


Satu jam berlalu, terdengar bunyi pesan kembali di ponsel Sarah, karena suara getarannya membuat Sarah terbangun. Ia menatap sekeliling kamar ternyata Hardi belum pulang, ia lalu meraih ponselnya dan melihat isi pesan tersebut, "Kau mengabaikanku?"


Sarah berdecak dan menggerutu dalam hatinya, "Siapa sih yang iseng kirim-kirim pesan malam-malam begini, mengganggu saja" Sarah kembali membaringkan tubuhnya untuk melanjutkan kembali tidurnya yang terganggung.


Tak berapa lama terdengar suara mobil yang memasuki halaman rumahnya, Hardi baru saja pulang dari kantor tepat pukul 10.30 malam. Ia meminta pak maman memasukkan mobilnya kedalam garasi karena ia ingin segera masuk kedalam rumah karena tubuhnya cukup lelah.


Hardi menuju kamar putrinya dan terlihat Cilla sudah terlelap, seperti biasanya Lia selalu tidur disana untuk menemani Cilla. Lalu ia menuju ke kamarnya sendiri dan terlihat Sarah sudah terlelap juga. Hardi menghampiri istrinya lalu mengecup kening istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Maaf yah sayang, mas selalu pulang larut malam" batin Hardi merasa menyesal.


Setelah melepas sepatu, jas dan dasinya. Hardi menuju ke kamar mandi, ia menyalakan air hangat untuk sekedar berendam sebentar di bathtub, merilekskan tubuh yang terasa lelah.


30 menit sudah akhirnya Hardi keluar dari kamar mandi dengan tubuh yang sudah terasa nyaman. Ia memakai piyamanya lalu berbaring di sebelah istrinya, Hardi menatap lekat kepada wajah istrinya yang begitu cantik. "Terimakasih tuhan, telah kau berikan istri yang sempurna untukku" batin Hardi yang merasa bersyukur akan anugrah yang tuhan berikan. Ia tersenyum lalu mulai menutup matanya untuk tidur karena malam sudah semakin larut.


______


Sarah bangun pagi seperti biasanya, di lihat Hardi masih terlelap di sampingnya. Mungkin mas Hardi pulang sangat larut, pikir Sarah. Ia meraih ponsep yang ada di sampingnya, terlihat beberapa pesan dari nomor semalam. Ada 10 pesan di sana dan isinya membuat Sarah sedikit takut, apa mungkin ada penguntit di sekitarnya. Ia bergidik setelah membaca pesan tersebut satu persatu.


"Orang gila mana yang melakukan ini? Bagaimana cara untuk bisa mengetahui si pengirim pesan? Apa aku harus memberitahu mas Hardi agar ia bisa membantuku? Baiklah nanti kalau mas Hardi bangun aku akan ceritakan semuanya!" batin Sarah meletakkan ponselnya kembali dan beranjak pergi menuju ke kamar mandi.


Terdengar dering telpon berbunyi membuat Hardi terbangun karena suara itu. Dan ternyata ponsel milik Sarah yang berbunyi, Hardi melihat nama di ponsel tersebut namun tak ada hanya private nomber yang tertera. Hardi hanya membiatkannya tanpa mengangkatnya dan ia pun kembali hendak menutup matanya namun deringan ponsel Sarah kembali terdengar. Di lihatnya kembali ponsel Sarah dan yang menelepon masih private nomber, karena cukup terganggung akhirnya Hardi pun mengangkat telpon tersebut.


'Halo! dengan siapa?' Tanya Hardi namun tak ada jawaban.

__ADS_1


'Halo! Ini siapa? ada perlu apa dengan istri saya?' Hardi sedikit meninggikan suaranya dan masih tak ada jawaban. Karena kesal, Hardi pun akhirnya menutup telpon tersebut. Sekilas sebenarnya Hardi mendengar suara nafas di balik telpon tersebut tapi ia tak yakin itu pria atau wanita.


"Ada apa mas?" tanya Sarah ketika baru keluar dari kamar mandi yang melihat wajah Hardi yang sedikit kesal.


"Tak apa sayang, tadi ada telpon dari private nomber yang menelponmu tapi pas aku angkat tak ada suara" balas Hardi.


"Oh... biarkan saja mas. Mungkin hanya orang iseng atau salah sambung" ucap Sarah yang berjalan masih menggunakan piyama handuk lalu duduk di kursi meja rias dan membuka handuk kecil dikepalanya mengeringkan rambutnya.


Hardi bangun lalu menghampiri Sarah lalu mengecup pipi istrinya tersebut.


"Wangi dan cantik" ucap Hardi sambil tersenyum.


"Pagi-pagi sudah gombal, mandi gih biar gak bau" ujar Sarah yang masih mengeringkan rambutnya yang sekarang menggunakan hairdryer.


"Bukan gombal tapi memuji istri" ujar Hardi cengengesan lalu pergi menuju kamar mandi.


__________


"Cilla sekarang mainnya sama bunda yah, Cilla mau gak punya teman main selain bunda?" tanya Sarah pada Cilla yang sedang asik menyisir rambut boneka Barbie di tangannya.


"Siapa bunda? Cilla suka punya teman di rumah" balas Cilla.


"Bagaimana kalau Cilla punya adik? apa Cilla mau?" tanya Sarah.


"Adik! Dede bayi. Cilla mau punya dede bayi" balas Cilla senang dan Sarah pun tersenyum senang mendengar jawaban Cilla.


Hardi datang dan melihat senyuman mengembang di bibir istrinya.


"Sayang ada apa? kok teroihat senang srkali!" tanya Hardi. Sebelum Sarah sempat menjawab, Cilla berbicara terlebih dahulu.

__ADS_1


"Ayah, Cilla ingin punya dede bayi biar Cilla bisa ada teman main. Kata teman aku kalau mau punya dede bayi, harus bikin dulu. Cilla bingung bikinnya pake apa!" celoteh Cilla membuat Sarah dan Hardi tersentak namun mereka langsung tersenyum.


"Emang Cilla mau punya adik?" tanya Hardi mengelus rambut putrinya tersebut.


"Mau ayah, tadi bunda juga tanya Cilla begitu" balas Cilla lalu Hardi melirik ke arah Sarah dan Sarah hanya tersenyum malu-malu.


"Yaudah, Cilla tinggal menunggu saja yah biar ayah dan bunda yang buatin" ucap Hardi tersenyum.


"Beneran ayah! Ayah tahu cara buatnya? janji yah ayah" Cilla senang dia mengangkat jari kelingkingnya lalu disambut oleh Hardi.


"Ayah janji" Hardi tersenyum lalu menatap Sarah dengan tatapan penuh arti. Ditatap seperti itu Sarah sangat mengerti karena itu adalah kode jika Hardi menginginkan sesuatu darinya.


Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang, di meja makan sudah tersedia beberapa hidangan yang telah di siapkan bi Lilis. Bi Lilis membuat bakso tahu, bakwan udang dan kerupuk karena itu pesanan Sarah agar segar dimakan siang hari tanpa harus memakan nasi. Mereka bertiga pun laham memakannya karena memang sangat enak. Hardi menambah sedikit sambal berbanding terbalik dengan Sarah yang sangat suka pedas.


"Kau menambahkan sambal sebanyak itu emangnya tak pedas?" tanya Hardi yang melihat bakso tahu milik Sarah yang airnya memerah.


"Tidak kok mas, malah segar dan bikin melek" balas Sarah yang melahapnya dengan santai membuat Hardi bergidik karena ia tak mau lagi memakan makanan pedas seperti insiden mie rebut yang membuatnya diare.


Hardi bingung dengan Sarah yang terlihat biasa saja walalu makanannya terlihat sangat pedas. Apa perut Sarah tidak panas atau mulas memakannya? pikir Hardi.


Sarah membereskan semua mangkuk dan gelas lalu meletakkannya di tempat cuci piring. Ia memanggil bi Sumi untuk mencucinya karena bi lilis dan bi entin sedang sibuk di belakang.


Sarah, Cilla dan Hardi duduk di sofa menyaksikan film kartun kesukaan Cilla. Cilla duduk di dekat Sarah dan Sarah duduk di Samping Hardi.


Hardi mengelus paha istrinya yang memang tengah menggunakan celana santai di atas lutut. "Apaan sih kamu mas?" ucap Sarah setengah berbisik, tatapan tajam mengarah kepada Hardi yang malah cengengesan.


Hardi mendekatkan wajahnya ke telinga Sarah, "Nanti malam kita buat adik buat Cilla yuk" bisik Hardi. Sarah yang mendengarkannya sedikit tersentak, pasti nanti malam ia akan habis di lahap suaminya tersebut.


Untuk menghentikan tangan Hardi yang nakal mengelus dirinya dan takut Cilla melihatnya akhirnya Sarah menganggukan kepalanya setuju atas ajakan suaminya tersebut dan Hardi pun tersenyum senang.

__ADS_1


**Bersambung......


jangan lupa like, vote dan komen yah... terimakasih 😊**


__ADS_2