
Hardi memberitahu orangtuanya, mertuanya dan juga teman-temannya. Semua yang mendengar kabar baik itu merasa ikut bahagia dan memberi selamat kepada Sarah. Hanya sehari Sarah di rawat lalu mereka pulang pada pagi harinya setelah dokter memeriksa kembali dan memberikan resep obat untuk Sarah.
Dirumah, Sarah segera di bawa ke kamar untuk kembali beristirahat, mendengar kabar bahwa ia akan mendapatkan seorang adik bayi, Cilla sangat bahagia. Cilla melompat kegirangan, lalu ia mengelus perut Sarah dengan terus mengembangkan senyumannya.
" Bunda, di dalam sini ada dedek bayinya kan!" tanya Cilla.
" Iya sayang " balas Sarah dengan senyuman.
" Bayinya cewek atau cowok!" tanya Cilla penasaran.
" Bekum tahu juga kan masih kecil, nanti kalau perut bunda sudah besar, kita bisa tahu jenis kelaminnya " balas Sarah.
" Oh begitu, semoga Cilla punya adik perempuan biar bisa main bonega bareng " ucap Cilla antusias.
" Gak boleh, semoga bayinya cowok dong biar bisa main bola dengan ayah " celetuk Hardi.
" Cilla maunya adik cewek, iya kan bun!" ujar Cilla.
" Ayah bilang pasti cowok, harus cowok, iya kan sayang " ujar Hardi.
Tak habis pikir Hardi dan Cilla selalu saja berdebat walau hal kecil sedikitpun. Namun itu lah kedekatan ayah dan anak yang sebenarnya, Sarah yang sudah tak asing lagi dengan tingkah mereka hanya bisa tersenyum dibuatnya. Di tengah perdebatan Hardi dan Cilla terdengar suara bell pintu berbunyi.
" Pasti itu mamah, Cilla kita keluar oma, opa dan nenek pasti sudah datang " ajak Hardi lalu Cilla dan Hardi keluar dari kamar Sarah.
Terlihat Bu Yesi, pak Herman dan Bu Rahma masuk kedalam rumah, Cilla langsung menghampiri mereka dan mencium tangan mereka satu persatu, begitupun Hardi.
" Wah calon ayah nih, pasti senang banget mau dapat anak lagi " ujar pak Herman menepuk pundak putranya.
" Mamah senang banget loh Hardi, akhirnya kalian akan mendapatkan anaka. Mamah dan papah sudah menantikannya selama dua tahun " ucap bu Yesi.
" Mungkin Hardinya kurang tokcer tuh mah " ledek pak Herman.
" Enak aja papah, waktu dulu kan memang kamu menunda memiliki momongan karena Cilla masih kecil. Tapi sekarang kami memutuskan memberikan adik pada Cilla katena Cilla juga sudah SD. Jadi jangan ragukan keperkasaan anak papah ini dong " ujar Hardi.
__ADS_1
" Sarah nya mana nak Hardi?" tanya bu Rahma.
" Ada di kamar, mah. Dia sedang istirahat, katanya badannya masih lemas " balas Hardi.
akhirnya mereka semua masuk kedalam kamar untuk melihat Sarah dan berbincang dengannya.
" Eh mamah, papah " ujar Sarah lalu memeluk mamahnya dan kedua mertuanya bergantian.
" Bagaimana kabarmu Sarah?" tanya bu Rahma.
" Aku baik-baik saja mah, hanya sedikit lemas saja, nanti juga segar kalau sudah cukup istiraha " balas Sarah.
" Syukurlah, sebenarnya mamah khawatir ketika mendengar kau masuk rumah sakit tapi mamah juga lega sekaligus bahagia ketika mendengar kabar dari nak Hardi bahwa kau sedang mengandung " ujar bu Rahma.
" Iya mah, Alhamdulillah aku diberi kesempatan untuk menjadi seorang ibu. Aku harap mamah juga membimbing aku agar bisa menjadi ibu yang lebih baik." ucap Sarah.
" Kau telah menjadi ibu yang baik, buktinya kau berhasil membesarkan Cilla dengan penuh kasih sayang " ujar bu Yesi.
" Sayang, sebentar yah. Kau mengobrol saja dengan mamah Rahma, ada yang ingin aku bicarakan dengan orangtuaku sebentar " ujar Hardi.
Sarah pun hanya mengangguk sebagai jawaban lalu Hardi dan kedua orangtuanya keluar dari kamar Sarah. Hardi dan kedua orangtuanya duduk di bangku taman belakang, agar lebih nyaman untuk berbincang bersama.
" Ada apa?" tanya pak Herman.
" Ada yang ingin aku tanyakan pada kalian berdua." ucap Hardi.
" Apa yang ingin kau bicarakan?" tanya bu Yesi.
" Begini mah, pah. Ini tentang masa lalu, sebenarnya aku memang sudah tak terlalu peduli dengan ini namun aku hanya ingin mengetahui kebenarannya tentang apa yang terjadi antara aku dengan Wulan. Waktu itu Wulan datang kerumah menjelaskan apa yang terjadi yang sebenarnya, apakah benar jika mamah dan papah yang menyuruh Wulan untuk meninggalkan aku?" ujar Hardi.
" Oh perempuan ular itu, Kau tahu kan anak perusahaan yang waktu itu dalam masalah. Waktu itu keuangan perusahaan itu kekurangan keuangan karena pengambilan sepihak dari pusat, itu semua yang melakukannya adalah Wulan. Dia mengambil uang yang sangat banyak hanya untuk berpoya-poya, dia berlibur keluar negeri tanpa kau ketahui ketika kau sibuk berkerja, sampai perusahaan itu gulung tikar." Jelas pak Herman.
" Dan mamah juga pernah memergoki dia pergi dengan pria lain di sebuah mall dan dia membelikan barang-barang untuk pria itu. Sepertinya pria itu lebih muda daripada dia dan yang paling mamah tak menyukainya karena sikap dia yang tidak punya sopan santun terhadap orangtua. Dia baik di hadapanmu tapi jika kau tak ada, dia seperti ratu yang berkuasa " jelas bu Yesi.
__ADS_1
" Oh jadi seperti itu, untung saja aku tak kemakan omongan bohong Wulan. Terimakasih mah, pah, dengan ini aku bisa memutuskan apa yang selama ini aku bimbangkan " ucap Hardi.
" Iya sayang, itu semua mamah dan papah lakukan demi kamu. Mamah tak mau usaha yang kau rintis dari nol akan hancur begitu saja dan juga mamah tak ingin Cilla di rawat oleh perempuan yang tak memiliki etika." ujar bu Yesi.
" Papah senang kau mendapatkan Sarah, wanita yang sangat baik dan berakhlak " ucap pak Herman.
" Ya sudah kami mau melihat Sarah lagi semoga kau bisa memutuskan yang terbaik, apapun itu." ucap pak Herman sambil menepuk pundak Hardi.
Setelah orangtuanya pergi, Hardi terlihat kesal karena apa yang dikatakan oleh Wulan itu semuanya bohong. Untung saja Hardi masih bisa berpikiran jernih dan tak mengambil keputusan secara gegabah, membiarkan Cilla terus bersama wanita yang tidak berakhlak.
Hardi memasuk kedalam rumah dan ketika itu pula Devan masuk ke rumah Hardi.
" Eu Van, lo ada disini juga? memangnya gak kerja?" tanya Hardi.
" Aku jadwal malam, mas. Jadi aku bisa kesini sebentar melihak keadaan mbak Sarah " balas Hardi.
" Oh... Sarah ada di kamar, ada mamah dan papah juga " ucap Hardi.
Devan segera masuk kedalam kamar dan diikuti oleh Hardi. Devan ikut berbincang disana sehingga suasana menjadi ramai dan rasa kekeluargaan semakin erat. Ditengah obrolan mereka tiba-tiba ponsel hardi berdering, Hardi permisi keluar untuk menerima panggilan telpon tersebut. Terteran nama Wulan di layar ponsel milik Hardi.
Wulan : Halo! Hardi, bagaimana keputusanmu soal Cilla?
Hardi : Kebetulan, aku juga ingin membicarakan hal ini padamu secepatnya.
Wulan : Apa kau ingin kita bertemu?
Hardi : Iya, besok kita bertemu di Cafe xxx dekat kantorku pas jam makan siang.
Wulan : Ok kalau begitu. Sampai ketemu besok.
Merekapun mengakhiri sambungannya, terlihat tampang Hardi yang begitu kesal menerima panggilan telpon dari mantan istrinya tersebut.
Bersambung.....
__ADS_1