
Keesokan harinya
Sarah telah mempersiapkan dan merapikan kebutuhan Hardi untuk perjalanan nanti ke dalam koper. Hardi pun telah siap dengan pakaian santai namun rapi, Hardi hanya memakan kaos putih dengan jaket kulit hitamnya serta celana jeans dan sepatu kets kesayangannya. Walau usia Hardi sudah kepala empat namun dia masih terlihat gagah dan tampan karena dia selalu rajin olahraga agar tubuhnya selalu bugar.
" Semuanya sudah siap mas, sudah aku bereskan semua yang mas butuhkan di koper ini."
" Ok aku juga sudah siap, iya tak perlu banyak yang di bawa, aku juga tak akan lama di sana. Anak-anak masih ada?"
" Mereka baru saja berangkat sekolah."
" Yasudah, mas berangkat yah sayang, jaga anak-anak. I love you." Hardi mengecup kening istrinya.
" Iya mas, hati-hati di perjalanannya dan selamat sampai tujuan."
Hardi pun beranjak untuk berangkat ke bandara, Sarah hanya melihatnya dari dalam kamar karena Sarah pun hendak berganti pakaian untuk bekerja nanti. Namun tiba-tiba Sarah di peluk oleh seseorang dari belakang.
" Eh... mas, kok balik lagi!"
" Habisnya aku akan berjauhan lama denganmu, sebenarnya aku tak rela berpisah jarak, aku ingin terus bersamamu." Hardi terus memeluk istrinya sambil sesekali mencium pipi istrinya.
" Iya iya ... nanti juga kan kita bertemu lagi sayang, aku selalu mendoakan mas agar selamat sampai tujuan lagipula sekarang jaman sudah canggih, kita bisa Videocall atau telponan kan!"
" Iya .. tapi beda sayang, aku gak bisa sentuh kamu, aku gak bisa meluk atau cium kamu dan aku gak bisa......." Hardi malah mempererat pelukannya.
" Udah lepas mas, sekarang sudah jam berapa! nanti kamu terlambat loh, cepat berangkat." Sarah menarik tangan Hardi yang memeluknya agar lepas dan Hardi pun akhirnya melepaskan pelukannya.
" Oke deh... mas berangkat dulu." Hardi tak bersemangat lalu dia akhirnya pergi namun sebelumnya Hardi mengecup bibir istrinya sekilas.
___________
Di sekolahan Cilla sedang berkumpul di kelas dengan teman-temannya, karena guru ada rapat sehingga jam pertama pelajaran kosong. Mereka boleh mengobrol atau apapun yang penting tidak keluar kelas ataupun terlalu berisik. Cilla termasuk ada yang cerdas, dia termasuk murid yang selalu mendapat peringkat di tiga besar.
Dona : " Loe tahu gak! guru olahraga yang baru di kelas 3! dia ganteng banget dan masih lajang katanya!"
Amel : " Iya bener, gue juga udah lihat kalau guru itu benar-benar ganteng banget, gue sampai meleleh melihatnya."
Citra : " Halah.... Loe mah gampang banget kesemsem orang ganteng, siapa aja loe demen."
Amel : " Ya iyalah, gue kan senang dengan keindahan dunia, orang ganteng juga termasuk keindahan dunia."
Semua pun ribut karena omongan Amel, sedangkan Amel yang cuek malah sibuk dengan khayalannya sendiri sambil cengengesan.
Cilla : " Udah... Udah.. jangan membahas cowok terus, nilai tuh pikirin."
Dona : " Iya... teman gue yang pinter tapi kan cowok itu juga bisa membuat kita semangat belajar, yah sama kayak vitamin gitu hehehe. Gue gak sabar pengen cepet-cepet kelas tiga biar olahraga bareng pak guru ganteng."
Amel : " Loe sih Cill, emangnya gak tertarik sama cowok! setiap cowok yang deketin loe selalu loe cuekin. Jangan-jangan loe suka sama gue lagi! iiihhh..... merinding gue."
Cilla : " Enak aja loe! gue masih normal kali. Yah gue masih belum mau aja pacar-pacar gitu, gue masih mau fokus dulu sama sekolah dan juga belum ada cowok yang bikin gue deg degan."
Citra : " Iya sih, yah semoga deh nanti loe ketemu sama cowok yang bisa buat loe deg degan."
Cilla hanya tersenyum mendengarnya, dia lalu fokus membaca buku pelajarannya sementara yang lainnya masih asik mengobrol dan bergurau. Ketika Cilla sedang fokus membaca tiba-tiba buku yang di pegangnya ada yang menariknya sehingga Cilla terkejut dan sedikit kesal, Cilla melihat orang yang mengambil buku di tangannya dan siapa lagi kalau bukan Reza, anak laki-laki yang selalu mengganggunya.
" Apaan sih loe?" kata Cilla kesal
" Guru lagi gak ada, loe belajar terus. Kapan senang-senangnya?" sambil melempar buku Cilla entah kemana.
" Buku gue..... Awas loe yah! Suka-suka gue dong, hidup-hidup gue, mau gue habisin buat belajar atau main terserah gue. Loe urus aja hidup loe sendiri."
" Yeehhh.... Gue bantu loe agar gak stres, loe malah sewot."
__ADS_1
" Niat loe emang baik tapi cara loe sangat salah, ambil buku gue, cepetan."
" Ambil sendiri, gue mau duduk, pegel." Reza berjalan santai menuju bangkunya sedangkan Cilla cemberut menggerutu lalu berdiri dengan kesalnya mencari buku yang Reza lempar.
__________
Setelah perjalanan cukup lama, Hardi sampai bandara internasional di Amerika, Devan sudah menunggu Hardi di depan bandara untuk langsung ke rumah sakit di mana papanya di rawat.
" Hei Van! Kita langsung aja ke rumah sakit kan!"
" Iya mas, ayo masuk." mereka pun masuk ke dalam mobil, Devan dan Hardi duduk di belakang karena memang yang menyetir adalah supirnya Devan.
" Bagaimana keadaan papa sekarang?"
" Papa masih belum sadar, aku belum tahu benar nantinya bagaimana tapi untuk saat ini kondisinya stabil, semoga tidak terjadi apa-apa di tengah komanya papa."
" Sebenarnya kenapa sih sampai papa bisa serangan jantung?"
" Aku juga gak tahu mas, tapi kalau keadaannya sampai kayak gitu biasanya papa dalam keadaan stres atau banyak pikiran."
" Memangnya papa memikirkan apa yah!"
" Entahlah"
Sejam perjalanan akhirnya sampailah Hardi di rumah sakit, segera mereka masuk menuju ke ruangan pak Herman, Hardi sangat khawatir dengan ke adaan papanya.
" Mas, sebelum masuk, mas pakai pakaian ini dulu karena ruangan papa harus steril." Devan memberikan pakaian khusus untuk menjenguk pasien. Bersama Devan, Hardi pun masuk mendekat pak Herman.
" Pa... Ini Hardi pa. Papa bagaimana keadaannya? Papa harus kuat ya, papa kan sudah janji pada kami akan melihat Cilla menikah, menemani kami dalam waktu yang sangat lama." Air mata Hardi mengalir di kedua pipinya.
" Hardi selalu mendoakan papa untuk segera sembuh agar bisa bermain kembali dengan cucu-cucu papa." Hardi mengusap air mata di pipinya.
Merekapun keluar lalu Hardi menghampiri mamanya.
" Mama sudah makan?"
" Sudah."
" Beneran?"
" Iya sudah nak, kamu harus istirahat, kamu kan baru sampai langsung ke sini. Devan sudah menyediakan ruangan untuk kita beristirahat." ucap bu Yesi yang terlihat lesu.
" Iya, mas istirahat saja dulu dan nanti makan soalnya Bella sedang membeli makanan untuk kita."
" Tasudah, mas mau ganti baju dulu nanti mas kesini lagi. Dimana ruangannya?"
" Di ujung lorong ini, gak begitu jauh agar dekat dengan ruangan papa."
Hardi pun menuju ruang yang di tuju, memang sih tubuhnya terasa sangat lelah karena perjalanan jauh, mungkin dengan berbaring sebentar capeknya bisa hilang. Tak berapa lama terdengar deringan ponselnya berbunyi, Hardi yang hendak memejamkan matanya terbangun kembali mengambil ponselnya dan melihat siapa yang menelpon, ternyata itu istrinya.
Sarah : 'Halo! mas! mas sudah sampai kan? aku telpon beberapa kali gak di angkat jadi aku khawatir.'
Hardi mengecek ponselnya ada 3 kali misscall dan 2 pesan dari Sarah.
Hardi : ' Maaf sayang, mas tadi langsung ke rumah sakit dan menjenguk papa hingga mas lupa memberi kabar padamu.'
Sarah : ' Iya tidak apa-apa mas, aku hanya khawatir mas sudah sampai atau tidak tapi aku sudah lega jika mas sudah selamat sampai tujuan. Bagaimana keadaan papa?"
Hardi : ' Alhamdulillah papa baik-baik saja, kita tunggu sampai beliau sadar dulu untuk memastikan keadaan yang sebenarnya.'
Sarah : ' Syukurlah... Yasudah mas istirahat saja. Nanti beri kabar jika ada apa-apa.'
__ADS_1
Setelah telpon di tutup, Hardi kembali berbaring tanpa sadar ia pun tertidur. Tak berapa lama terdengar ketukan pintu yang insten, Hardi yang baru saja terlelap segera membuka matanya, dengan masih setengah sadar ia membukakan pintu ruang istirahatnya.
" Mas, segera kita ke ruangan papa." ternyata Bella yang mengetuk pintu memberitahu ada sesuatu pada pak Herman.
" Kenapa? Ada apa?." tanpa menjawab Bella dan Hardi setengah berlari menuju ruangan pak Herman, namun mereka tidak dapat masuk karena di dalam pak Herman tengah di tangani Devan dan seorang dokter lainnya.
" Bagaimana dengan papa, ma? Sebenarnya ada apa?" Hardi terlihat panik sementara bu Yesi terduduk sambil terus menangis.
" Mama juga tak begitu tahu namun ketika mama masuk untuk melihat papa, papa seperti kejang-kejang, tubuhnya melonjak-lonjak dengan nafas cepat dan alat EKG nya pun berbunyi sehingga mama cepat-cepat memanggil Devan untuk segera memeriksanya."
" Ya ma, kita doakan semoga papa gak kenapa-kenapa." Hardi memeluk mamanya yang menangis dengan hati cemas.
Sementara di dalam devan berusaha sebisa mungkin untuk menangani papanya, detak jantung dan tekanan darah sudah tidak terdeteksi, bunyi alat EKG pun semakin nyaring. Devan mengambil alat Defibrillator untuk mengembalikan denyut jantung papanya. Tekanan listrik pun di atur dari ringan, sedang sampai tekanan tinggi pun di lakukan beberapa kali namun tidak ada respon. Devan tidak mau menyerah dengan keringat serta air mata dia mencoba segala cara namun sayang semua usaha yang di lakukannya dengan para medis lainnya tak membuahkan hasil dan pak Herman dinyatakan meninggal pada pukul 17.45 waktu setempat. Di ruangan itu Devan menangis sejadi-jadinya sampai tubuhnya terpuruk ke lantai, air matanya mengalir deras sambil tangannya menggenggam tangan papanya yang mulai dingin. Para medis yang di dalam mencoba berempati kepada Devan dan mengucapkan belasungkawa atas meninggalnya pak Herman.
Para medis dan seorang dokter yang menangani pak Herman pun keluar lalu Hardi dan bu Yesi menghampiri mereka.
(Percakapan dalam bahasa Inggris)
" Bagaimana keadaan suami saya dokter?"
" Bagaimana keadaan papa saya dok? dia baik-baik saja kan?"
" ....... Mohon maaf, kami sudah berusaha sangat keras untuk mengembalikan detak jantung pak Herman namun tuhan berkehendak lain, sekali lagi kami mohon maaf."
Bu Yesi pun langsung terduduk lemas, seakan seluruh tulang di tubuhnya menghilang. Hardi pun hanya bisa mematung tanda syok yang teramat sangat. Jerit tangis keluar dari mulut bu Yesi yang tak percaya akan kehilangan suaminya, Hardi yang tersadar lalu memegang pundak bu Yesi untuk membantunya berdiri dan memapah mamanya itu menuju ruangan papanya. Bella pun ikut meneteskan air matanya namun tak ikut masuk karena dia sedang menggendong Leo yang masih kecil dab tertidur di bahunya. Ketika Hardi dan bu Yesi masuk, di sana Devan sedang memeluk papanya sambil terus menangis. Hardi dan bu Yesi pun segera memeluk jenazah papa dan suaminya, kesedihan terpancar jelas di wajah ketiganya. Namun Hardi dan Devan mencoba kuat walau hatinya sangat kehilangan sementara bu Yesi masih merasa tak percaya ia kehilangan pendamping hidupnya.
Hardi dan Devan keluar untuk mengurus kepulangan jenazah setelah sebelumnya sudah di urus di rumah sakit dan sekarang perlu surat-surat ke kedutaan Indonesia yang berada di Amerika. Ternyata cukup memakan waktu dan cukup repot juga, mengurus dokumen pemulangan jenazah itu.
Setelah semua prosesnya sudah selesai Hardi baru ingat jika ia belum mengabari Sarah tentang meninggalnya pak Herman, Hardi mengambil ponselnya dan menghubungi Sarah.
Hardi : ' Halo! Sarah! papa, Sarah!'
Sarah : ' Ada apa dengan apa mas?' Hardi membuat Sarah khawatir.
Hardi : ' Papa meninggal.' suara Hardi menjadi parau menahan tangis.
Sarah : ' Apa?... Innalilahi wa innailaihi Raji'un.' Sarah sangat sedih mendengarnya sampai matanya berkaca-kaca.
Hardi : ' Mas akan pulang besok bersama Devan dan mama sekaligus membawa jenazah papa, kamu persiapkan semuanya termasuk suruh orang untuk menggali kuburan.'
Sarah : ' Iya mas, pasti. Mas dan yang lainnya hati-hati di jalan yah, pasti mama syok berat. Mas tolong jaga mama.'
Hardi : ' Iya sayang, terimakasih. I love you.'
Sarah sangat sedih, memang dia belum sempat bertemu ayah mertuanya sebulan ini karena kesibukannya, ia merasa menyesalinya karena pak Herman sudah di anggap Sarah sebagai ayahnya sendiri bukan sekedar ayah mertua.
________
Keesokan harinya, Sarah sudah memerintahkan semua asisten rumah tangganya untuk mempersiapkan semua yang di butuhkan sesuai permintaan Hardi. Sarah juga sudah memberitahu Lurah dan jajarannya akan meninggalnya pak Herman. Kursi-kursi sudah terpasang, kerabat, saudara dan tetangga sudah mulai berdatangan untuk mengucapkan belasungkawa.
Cilla yang sudah di beritahu semalam sangat syok berat karena dia memang sangat dekat dengan opanya, terlihat hari ini Cilla masih saja terus menangis walaupun jenazah opanya belum sampai.
Siang harinya, suara ambulance pun terdengar dan itu adalah ambulance yang membawa jenazah pak Herman bersama mobil Hardi di belakangnya. Para kerabat dan tetangga laki-laki membantu menurunkan peti jenazah pak Herman untuk di sholatkan karena memang sebelumnya sudah dimandikan. Cilla pun menangis histeris ketika jenazah pak Herman telah di kafani dan di letakkan untuk di ngajikan. Cilla memeluknya, tangisnya sungguh sendu, Cilla tak percaya jika opanya pergi secepat itu.
Setelah semuanya selesai lalu tibalah untuk di kuburkan, semua orang ikut mengiring jenazah kepemakaman di iringi lantunan sholawat, bu Yesi yang lemah di papa oleh Sarah sementara Hardi dan Devan menggotong keranda papanya. Bu Yesi pingsan ketika jenazah telah dimasukan ke liang lahat, Sarah menemani bu Yesi yang belum sadarkan diri di tempat teduh. Doa pun di panjatkan untuk mendiang agar dilapangkan dan di terangkan kuburnya, semoga amal dan ibadahnya diterima Allah SWT.
Bersambung....
Selalu dukung Author dengan cara memberi Hadiah, Vote, Like dan komen yah...
Terimakasih 🙏
__ADS_1