
" Van, bisa bawakan mas obat luka?" pinta Hardi.
" Memangnya mas kenapa?" tanya Devan lalu Hardi menunjukkan luka-luka di lengannya yang lumayan dalam dan sedikit mengeluarkan darah.
" Loh kok bisa sampai gitu mas, memangnya mas habis dari mana? Tapi itu seperti luka bekas cakaran?" tanya Devan Heran.
" Lah mas kan habis bentu Sarah lahiran, ini ulah mbakmu sampai mas kayak gini." ujar Hardi.
" Keluar dari tempat bersalin, kau terlihat kusut banget, rambut dan baju berantakan, lengan luka-luka kayak habis berantem." ejek pak Herman.
" Lagian mamah denger juga di ruang bersalin bukan hanya Sarah yang teriak tapi kau juga ikutan teriak." ujar bu Yesi yang cengengesan.
" Yah gimana lagi mah, Hardi di tarik-tarik, di jambak-jambak bahkan di cakar-cakar kayak gini, Sarah ganas banget mah." keluh Hardi sambil meniup-niup luka di lengannya.
" Ah kau cuma segitu saja sakitnya, Sarah kan lebih parah lagi, lihatkan dia sampai tidur pulas karena kelelahan." ucap bu Yesi.
" Bener banget sih mah, Hardi salut pada Sarah yang telah berjuang melahirkan bayi kami." ujar Hardi tersenyum menatap istrinya yang terlelap.
Devan datang kembali membawa kotak P3K, dia lalu memanggil Hardi untuk duduk di dekatnya karena ia akan mengobati luka kakaknya itu agar tak terjadi infeksi.
" Sini mas, biar aku obatin lukanya." ujar Devan.
" Aaww... pelan-pelan dong Van." teriak Hardi ketika Devan mengoleskan obat pada lukanya.
" Lebay banget mas, segini aja udah teriak." ejek Devan cengengesan.
" Nyeri tahu Van " ucap Hardi sambil meringis.
" Halah segitu aja cengeng, udah punya anak 3 tapi masih kekanakan." ejek pak Herman.
" Papah ini senangnya ngejekin anak terus " keluh Hardi sambul meniup-niup lukanya yang telah selesai Devan obati.
__ADS_1
" Rapihkan rambut dan bajumu, gih. Kayak orang yang habis tawuran aja." ucap bu Yesi.
" Iya mah, sebentar." ucap Hardi lalu mengambil baju ganti untuk mengganti kemejanya dengan kaos polos.
_______
Sehari kemudian di pagi hari kedua bayi Hardi di antarkan perawat ke ruangan Sarah untuk menyusui, Sarah dan Hardi sangat bahagia melihat kedua bayi laki-lakinya tersebut yang begitu kecil karena terlahir dengan berat 2.5kg dan 2.3kg saja namun terlihat sehat. Terlihat keduanya ingin sekali menyusui karena lapar melihat dari kerakan bibir mereka yang terbuka dan mencari-cari sesuatu. Perawat memberikan 1 bayi untuk di susui dan yang satu lagi di gendong oleh bu Rahma untuk menunggu satunya selesai. Sarah menatap lekat ke wajah bayinya yang sekarang sedang asik menyusu dengan lahapnya, kadang Sarah merasa nyeri ketika bayi tersebut menyedotnya dengan kuat, wajar saja karena ini kali pertamanya dia menyusui bayi. Cukup waktu yang lama hingga Sarah menyusui bayi yang satunya lagi, Sarah sangat bahagia dan tak menyangka ternyata bisa lelahirkan bayi sekecil ini adalah anugerah dalam hidupnya sehingga sekarang ia telah menjadi wanita seutuhnya.
" Akan di berikan nama siapa mas, mereka berdua?" tanya Sarah pada Hardi yang duduk di sampingnya.
" Oh iya, mas sudah punya nama untuk mereka, untuk yang beratnya 2.5kg namanya Arka Malik dan yang 2.3kg Arsa Malik, yang meiliki arti matahari/cahaya dan langit/surga." jelas Hardi.
" Wah aku suka banget dengan namanya, bagaimana dengan pendapat mamah?." ucap Sarah setuju dengan nama yang diberikan suaminya. dan bertanya pada bu Rahma.
" Iya mamah juga setuju dengan namanya, Arka dan Arsa semoga selalu sehat dan di beri umur panjang." ucap bu Rahma senang.
Tak lama Sarah selesai menyusui kedua buah hatinya, perawat segera membawa kembali kedua bayi Sarah ke ruangan bayi. Sarah sebenarnya tak rela berjauhan dengan kedua buah hatinya namun apa boleh buat, keduanya harus di inkubator kembali untuk lebih hangat.
Sekitar jam 10 pagi terlihat Cilla datang dengan bu Yesi dan juga pak Herman, Cilla sangat senang sekali dengan kedua adik kecilnya. Sebelum ke ruangan Sarah, mereka mampir terlebih dahulu ke ruangan bayi dimana Arka dan Arsa berada. Cilla sangat senang walau tadinya ia berharap memiliki adik perempuan namun setelah melihat kedua adiknya lahir, Cilla tidak keberatan toh mau lelaki atau perempuan tetap masih bisa bermain dengannya.
" Sarah, selamat yah bayinya lucu-lucu dan tampan-tampan, wajahnya perpaduan ayah bundanya jadi adil." ucap Sita seraya memeluk sahabatnya.
" Selamat yah bu Sarah dan pak Hardi atas kedua jagoannya yang telah hadir." ucap Rio.
" Terimakasih yah, kapan kalian nyusul?" ujar Sarah.
" Nikah saja belum, apa lagi punya anak." balas Sita.
" Tuh Rio, udah dapat kode dari Sita, segera diresmikan saja." celetuk Hardi.
" Eh... itu... Nanti pak Hardi tinggal menunggu undangannya saja cepat atau lambat." jawab Rio malu-malu.
__ADS_1
Jawaban Rio membuat Sita merona, akankah momen itu akan terjadi dalam waktu dekat, pikir Sita. Sebenarnya dalam hati Sita ingin sekali menikah karena usianya pun sudah cukup untuk menjalani kehidupan rumah tangga. Sebagai wanita, ia hanya bisa menanti kepastian dari Rio, memang mereka pacaran baru beberapa bulan namun lama atau tidaknya waktu yang mereka butuhkan tak begitu penting selama mereka sudah yakin akan melangkah ke jenjang yang lebih serius lagi.
Sesekali Sita melirik pada Rio seolah memberikan isyarat untuk segera bertindak, Rio dalam hatinya pun ingin sekali segera menikahi Sita namun ia ingin mencari momen yang tepat untuk melamar kekasih hatinya tersebut.
________
Beberapa hari kemudian Sarah di perbolehkan untuk pulang bersama kedua buah hatinya yang sekarang sudah terlihat sangat sehat. Berat badan keduanya pun sudah mulai naik, memang mereka menyusu sangat sering dan lama sehingga mau tidak mau Sarah dan Hardi memutuskan untuk menggunakan susu formula jika sekali-kali Sarah keteteran. Sarah memutuskan untuk menyusui kedua buah hatinya secara ekslusif, lagipula dia tak ada kegiatan apapun.
Sehari-hari Sarah dan Hardi senang mengurusi kedua bayinya sampai terkadang Hardi malas untuk berangkat bekerja karena ingin selalu di dekat jagoannya. Jika pulang bekerja, Hardi selalu membawa mainan untuk bayinya walalu bayi mereka masih belum mengerti akan hal itu, tak lupa Hardi dan Sarah juga selalu memberi kasih sayang yang sama pada Cilla putri pertama mereka.
Cilla terkadang suka mengeluh, sampai kapan ia bisa bermain dengan adiknya. Karena sampai sekarang tidak ada respon sama sekali karena masih terlalu dini untuk mengerti, intinya Cilla sangat tidak sabar menanti adik-adiknya tumbuh besar sehingga mereja bisa bermain bersama.
Kakek nenek mereka pun jadi semakin sering datang ke rumah Hardi terutama bu Rahma bahkan sering menginap karena selain tak ingin jauh dari cucunya, bu Rahma juga selalu membantu Sarah yang masih kesulitan dalam merawat kedua buah hatinya apalagi harus merawat dua bayi sekaligus untuk pertama kalinya. Memang dengan hadirnya Arka dan Arsa, keluarga mereka semakin mendapatkan kebahagiaan yang melimpah.
Sebulan pun berlalu, sekarang tubuh Arka dan Arsa sudah semakin berisi dan Sarah pun sudah pulih seutuhnya. Sarah melihat Hardi yang masih berbaring di samping bayi mereka yang terlelap padahal waktu sudah menunjukkan pukul 8 pagi.
" Mas, bangun mas. Udah jam 8 masih saja tiduran." ucap Sarah mencoba membangunkan Hardi yang pura-pura tidur.
" Ah sayang, biar mas temani mereka tidur yah, sekali ini saja." pinta Hardi.
" Kau ini mas, semenjak punya mereka kok jadi malas ke kantor sih." ucap Sarah.
" Aku kan CEO nya sayang, mau ke kantor atau tidak itu terserah aku dong." ucap Hardi malah mengambil guling dan memeluknya.
" Iya pak CEO, tapi kasihan Rio selalu di bebankan pekerjaan terus. Apa mas tak kasihan mungkin waktu Rio di habiskan untuk bekerja sementara untuk kehidupannya terabaikan. Kata Sita mereka sudah jarang bertemu, aku takut aja mereka nanti bubar cuma gara-gara kesibukan Rio." ujar Sarah.
" Siap ibu negara, terimakasih atas ceramahnya pagi ini, akan saya laksanakan semua perintah ibu negara." ucap Hardi bangun dari tidurnya lalu berdiri sempurna memberi hormat layaknya prajurit pada komandannya.
Sarah hanya tersenyum melihat tingkah suaminya yang kekanak-kanakan itu, sudah punya tiga orang anak tapi tingkahnya tidak berubah. Kadang Sarah tidak menyangka, pria dingin yang dulu dikenalnya berubah drastis setelah cinta berhasil meluluhkan hatinya, mungkin itu adalah kekuatan cinta sehingga sekeras apapun hati seseorang akan luluh dengan adanya cinta.
Bersambung.....
__ADS_1
Maaf lama Up karena mengurus anak yang baru masuk TK. Lain kali Author usahakan untuk Up secepatnya, terimakasih pada semuanya yang masih setia membaca " Bunda Untuk Cilla".
Nantikan Up Author selanjutnya....