
2 bulan pun berlalu, Devan dan Bella semakin dekat hingga tak ada jarak lagi antara mereka, semakin akrab dan semakin menunjukkan kemesraan walau sampai saat ini belum ada pernyataan jika mereka telah menjadi sepasang kekasih, semuanya berjalan begitu saja namun mereka cukup cocok satu sama lain.
Hari ini Devan akan memberitahu Bella jika di liburan akhir semester ini Devan akan pulang ke Indonesia, memang pendidikan Devan masih belum selesai namun dia memutuskan untuk pulang selama liburan ini.
" Bella, liburan semester ini kamu mau kemana?" tanya Devan.
" Aku! gak ada tempat yang spesial sih yang ingin aku kunjungi, aku paling menghabiskan sebagian besar waktuku di rumah saja." balas Bella santai.
" Oh.... Aku ingin memberitahumu kalau besok aku akan kembali ke Indonesia, untuk menghabiskan waktu liburanku." ujar Devan menyeruput kopi di depannya.
" Apa? kok kamu gak bilang-bilang aku sih!" ujar Bella kaget.
" Ini aku bilang sekarang." ucap Devan santai.
" Maksud aku kenapa kamu tak memberitahuku jauh-jauh hari? ini sangat mendadak untukku. Memangnya besok kamu berangkat jam berapa?" tanya Bella yang sedikit murung.
" Aku ada jadwal penerbangan jam 11 siang." balas Devan.
" Yasudah jika kamu mau pulang, lagipula kamu pasti kembali lagi karena memang studi mu juga belum selesai." keluh Bella.
" Sayang sekali, padahal aku sudah beli 2 tiket pesawat, tadinya aku mau mengajakmu ke Indonesia tapi yasudah jika kamu hanya menyuruhku sendiri untuk pulang." ujar Devan sambil meletakkan 2 tiket pesawat di atas meja.
" Apa? Benarkah kamu mengajakku pergi? ini.... apa boleh aku ikut ke sana?" ujar Bella tak percaya namun terlihat bahagia. Devan hanya tersenyum dan mengangguk sebagai jawaban, Bella bangkit dari kursinya lalu memeluk Devan dengan sangat erat.
________
__ADS_1
Sarah dan Hardi mendatangi rumah sakit untuk memeriksa keadaan kaki Sarah yang terkadang masih terasa sakit jika berjalan terlalu lama, padahal sudah 6 bulan ini dia rutin menjalani terapi untuk kesembuhan kakinya. Dokter memeriksa semuanya dan hasilnya tidak ada yang salah, dokter berkata mungkin itu hanya reaksi dari saraf-saraf yang masih harus butuh proses dalam pemulihannya, prediksi dokter jika Sarah sering melakukan jalan kaki setiap hatinya dan melatih otot saraf kakinya kemungkinan besar Sarah akan berjalan normal seperti semula. Mendengar itu, Sarah dan Hardi sangat bahagia, namun Sarah masih harus menjalani terapi seperti biasanya dan dokter hanya memberikan obat pereda rasa nyeri baik itu yang di minum ataupun yang di oleskan juga termasuk obat untuk penghilang bekas luka operasi di kaki Sarah. Sarah dan Hardi pun keluar rumah sakit dengan sangat bahagia, Hardi menggandeng Sarah yang berjalan terpincang-pincang.
Sebelum pulang, Hardi mengajak Sarah untuk makan siang di sebuah restoran tak jauh dari rumah sakit tempat Sarah di periksa. Hardi lagi-lagi menggandeng tangan Sarah dengan perlahan agar Sarah bisa berjalan dengan nyaman. Hardi memilih kursi di dekat tembok agar memberi ruang dari tamu-tamu lain yang dimana restoran itu cukup ramai. Hardi memesan beberapa menu untuk mereka santap siang ini dan Sarah menyetujui apa yang di pesan Hardi.
Tak terlalu jauh dari tempat mereka duduk terlihat beberapa wanita yang dilihat dari pakaian mereka sepertinya kelompok ibu-ibu muda yang suka menghamburkan uang suaminya. Mereka menatap ke arah dimana Sarah dan Hardi sedang duduk, dengan bibir nyinyir mereka mulai membicarakan Sarah dan Hardi.
" Jeng, lihat deh pasangan disana, sepertinya mereka kurang serasi."
" Memangnya kenapa jeng? yang lelaki tampan dan wanita cantik, mereka cocok cocok aja tuh."
" Yah... jeng ini, masa tadi gak lihat sih, si wanita kan jalannya pincang gitu, masa cowok ganteng milih pasangan cacat gitu, yah..... walau memang dia cantik, tapi kan masih banyak yang cantik dan normal."
" Oh gitu.... tapi di lihat dari gaya pakaian mereka pasti mereka orang kaya, apa mungkin si cowok milih ceweknya karena duit."
" Nah.... bisa jadi jeng, mungkin ceweknya tajir jadi si cowok mau walau si cewek cacat."
Hardi yang merasa terus di perhatikan lalu menolah ke arah ibu-ibu muda tersebut dan ibu-ibu muda itu seolah pura-pura sibuk dengan makanan masing-masing.
" Sayang, sepertinya ibu-ibu yang disana itu memperhatikan kita deh." ujar Hardi.
" Ah mungkin itu cuma perasaan kamu saja mas, ayo kita makan dan agak cepat yah, aku sudah merindukan anak-anak." ujar Sarah lalu mereka pun menyantap makan siangnya dengan sesekali mengobrol tentang apapun yang menarik.
________
Devan dan Bella sudah berada di bandara Indonesia, tak banyak barang bawaan yang mereka bawa hanya sebuah koper di masing-masing tangan mereka. Sebelumnya Devan sudah memberitahu orangtuanya jika hari ini akan sampai Indonesia maka orangtuanya sudah menyiapkan mobil beserta supirnya.
__ADS_1
Bella membuka kacamata hitamnya dan melihat sekeliling karena dia memang baru pertama kali datang atau berkunjung ke Indonesia. Setelah melihat mobil yang akan mereka tumpangi, supir segera membuka pintunya dan mempersilahkan Devan dan Bella masuk sementara supir memasukkan koper bawaan ke dalam bagasi mobil.
' Baru datang sudah di siapkan mobil dan supirnya, apa dia termasuk orang yang berada?' hati Bella bertanya-tanya karena memang selama ini Devan tidak pernah menceritakan tentang keadaannya di Indonesia, Devan hanya sesekali menceritakan tentang keluarganya itupun tak begitu banyak.
Bella benar-benar suka dengan musim di Indonesia, matahari yang cukup terik membuatnya merasakan pengalaman yang baru di bandingkan negara asalnya, suhunya membuatnya ingin berjemur dan menikmati pantai yang indah. Bella terus saja menatap keluar jendela sementara Devan hanya memandangnya sambil tersenyum tanpa ingin mengganggunya.
Tak butuh waktu lama akhirnya mereka pun sampai di rumah Devan, Devan dan Bella pun turun dari mobil. Bella menatap sekeliling, halaman yang cukup luas dengan rumah yang sangat megah membuatnya berhenti sejenak karena rasa takjubnya.
" Hei, ayo masuk!" ucap Devan yang akhirnya tersadar dari lamunannya.
Bella mengikuti Devan dari belakang, lalu Devan masuk yang ternyata di sana sudah ada orangtua Devan yang menyambutnya. Pak Herman lalu memeluk Devan dan menepuk-nepuk Punggung Devan lalu Devan beralih memeluk ibunya dengan cukup lama.
" Devan, mamah dan papah kangen banget sama kamu." ujar bu Yesi
" Iya mah, Devan juga kangen banget." balas Devan.
" Devan, itu siapa? perkenalkan dong pada kami." ujar bu Yesi melirik ke arah Bella.
" Oh iya Devan sampai lupa, ini teman Devan mah, memang beda jurusan tapi kami satu kampus." jawab Devan.
" Bella perkenalkan ini orangtua saya." ucap Devan (English)
" Oh... Saya Bella, senang bertemu dengan anda." (English) senyum manis mengembang di bibirnya Bella, orangtua Devan pun menyambut dengan senang hati.
Orangtua Devan mempersilahkan mereka duduk dan memanggil asisten rumahtangga untuk menyiapkan sebuah kamar untuk di tempati oleh Bella nanti. Mereka berempat mengobrol dengan akrab untungnya orangtua Devan dapat berbicara dalam bahasa Inggris dengan fasih sehingga tak ada jarak dengan Bella. Bak sudah kenal lama, mereka berbincang sampai malam menjelang hingga orangtua Devan menyuruh Bella untuk segera istirahat di kamar yang sudah di sediakan. Devan mengantarkan Bella ke kamar tersebut dan dengan canggung saling mengucapkan ucapan selamat malam dan Devan beranjak pergi menuju kamarnya untuk istirahat juga.
__ADS_1
Bersambung.....
Selamat membaca 😀