Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Bimbang


__ADS_3

Sebulan pun berlalu, sekarang Arka dan Arsa sudah mulai aktif dari sebelumnya. Mereka sudah bisa menggenggam benda seperti mainannya serta sudah bisa merespon dengan senyuman jika Hardi dan yang lainnya menggodanya. Sarah sangat bahagia karena pertumbuhan mereka begitu pesat dan sehat dengan bobot badan yang lumayan bagus sesuai usia mereka.


Pagi itu sekitar pukul 9 pagi tiba-tiba Devan datang ke rumah Hardi seperti ada sesuatu yang ingin ia ceritakan kepada kakaknya. Sepertinya sesuatu hal yang sangat penting yang tidak bisa ia tunda kembali sampai datang pagi-pagi sekali.


" Tumben nih pagi-pagi sekali kemari? tak seperti biadanya." ujar Hardi ketika mereka sudah duduk di ruang keluarga.


" Begini mas, aku mau bilang sesuatu. Sebenarnya dari awal kenal dengan Larisa saat kuliah, aku tuh sudah punya perasaan dengan dia. Memang sih kita sudah terpisah beberapa tahun setelah lulus kuliah dan memang aku tak lagi memikirkan dia, namun semenjak bertemu kembali beberapa bulan ini perasaanku muncul lagi. Tadinya aku ingin sekali menyatakan perasaanku ini padanya tapi aku ingin tahu dulu pendapat mas tentang dia soalnya yang saya tahu jika papahnya Larisa adalah salah satu investor di perusahaan mas, mas juga sudah kenal Larisa kan!" ujar Devan.


" Maaf Devan, sejujurnya aku mempunyai pengalaman buruk dengan Larisa." ujar Hardi.


" Pengalaman buruk? maksud mas? tolong jelaskan padaku." ucap Devan sedikit terkejut.


" Dulu sebelum aku kenal dengan Sarah, aku sempat di pertemukan dengan Larisa oleh papahnya Larisa yang saat itu memperkenalkan mas padanya dalam pertemuan bisnis, awalnya dia memang terlihat anggun dan berpendidikan. Dari fisik memang terlihat sempurna bagi laki-laki, namun saat itu mas masih memegang prinsip untuk tak menikah lagi karena mas masih tidak percaya akan wanita setelah mas di khianati oleh Wulan. Maka pada saat itu mas secara terang-terangan menolak Larisa secara langsung di hadapan papahnya. Mungkin disana Larisa merasa sakit hati hingga dia melakukan tindakan yang di luar batas. Saat itu Larisa mengajak mas bertemu untuk membahas bisnis dan ingin memberikan dokumen yang di suruh papahnya di sebuah restoran. Dia memesan minuman untuk mas yang ternyata minuman itu telah di masukan obat yang membuat mas tidak sadarkan diri, tadinya sepertinya Larisa ingin menjebak mas untuk tidur dengannya katena yang mas tahu obat yang Larisa masukan kedalam minuman mas itu adalah obat perangsang yang sangat kuat. Untung mas masih bisa selamat dan tidak melakukan kesalahan dengannya karena saat itu Sarahlah yang menolong mas." jelas Hardi.


" Apa? Larisa sampai tega melakukan hal keji seperti itu, tapi yang aku tahu saat mengenalnya dia perempuan baik-baik yang tak bisa mempermainkan lelaki atau malah menjebak untuk tidur dengannya, aku benar-benar tak menyangka dia seperti itu." ucap Devan tak percaya dan menggelengkan kepalanya.


" Selama 2 bulan ini aku pun telah memata-matai dia, tapi aku juga heran dia bersikap normal tak ada yang janggal yang dia lakukan. Dia seperti wanita karir pada umumnya yang pergi dan pulang seperti biasanya, makanya aku tak tahu banyak. Aku melakukan itu hanya untuk jaga-jaga jikalau dia perempuan yang tidak baik untukmu." terang Hardi.


" Terimakasih mas, aku sangat menghargai usahamu untuk kebaikanku, aku juga akan mencaritahu dari pihak Larisa agar aku bisa memutuskan tentang perasaanku padanya nanti. Aku pulang yah mas." Ucap Devan pamit kepada kakaknya.

__ADS_1


________


Devan mengirim pesan kepada Larisa untuk bertemu nanti malam di sebuah cafe tempat biasa mereka bertemu. Larisapun setuju kebetulan dia tak banyak pekerjaan yang mengharuskannya untuk lembur. Larisa tersenyum karena memang fia sudah mulai mempunyai perasaan pada Devan, bukan hanya tampan dan mapan tapi Devan termasuk pribadi yang baik pada wanita.


Malam pun tiba, sudah menunjukkan pukul 9 malam akhirnya Devan dan Larisa bertemu di tempat janjian mereka.


" Maaf lama menunggu tadi aku harus membereskan pekerjaanku dulu." ujar Larisa sambil duduk di hadapan Devan yang terlihat serius.


" Aku sudah memesankan minuman untukmu, aku tak akan basa-basi aku akan langsung ke inti pembicaraan kita. Sebenarnya kau memberikan pernah obat perangsang pada kakakku dulu untuk menjebaknya tidur denganmu?" ujar Devan to the point.


Deg... Larisa langsung tersedak minuman yang di minumnya setelah mendengar pertanyaan dari Devan.


" Coba jelaskan semuanya, sekarang." Devan menekankan perkataannya.


" Itu.. Iya benar, dulu aku sempat ingin menjebak pak Hardi untuk pura-pura tidur denganku, jujur itu hanya akal-akalanku saja tapi aku tak ada niatan untuk tidur bertulan dengannya, aku hanya melakukan itu karena aku sangat marah akan perlakuan pak Hardi yang menolakku mentah-mentah." jelas Larisa.


" Oh jadi begitu kelakuanmu selama ini, berarti aku benar-benar salah menilai orang, padahal aku menganggapmu wanita baik-baik tapi ternyata kau wanita yang senang beain drngan lelaki." ujar Devan yang tambah kesal.


" Devan, aku tak seperti yang kau pikirkan. Aku tak pernah mempermainkan laki-laki hanya untuk tidur dengan mereka, aku masih menjaga kehormatanku, aku hanya akan memberikannya pada suamiku kelak." jelas Larisa sambil memegang lengan kekar Devan.

__ADS_1


" Halah... aku tak percaya omong kosong mu." Devan meninggikan nada suaranya sambil menepis tangan Larisa yang memegang lengannya.


" Kau benar tidak percaya? aku bisa membuktikannya kepadamu, kita perlu ke dokter? atau kau ingin tidur denganku agar kau percaya." tekan Larisa agar Devan percaya.


Devan pun hanya diam, dia tak bisa berkata-kata, mungkin memang perkataan Larisa itu memang benar adanya karena ia melihat wajah Larisa yang benar-benar menunjukkan jika perkataannya itu jujur adanya.


" Baiklah, untuk sekarang cukup sampai disini dulu pembicaraan kita. Aku bingung dan belum bisa berpikir apa-apa, aku juga akan menata hati dan pikiranku dulu. Kau pulang saja, maaf aku tak bisa mengantarmu." ujar Devan.


Larisa pun beranjak dari duduknya, sesekali ia melirik ke belakang menatap Devan dengan mata yang berkaca-kaca, Devan yang masih duduk terlihat memegang kepalanya dan gelisah. Larisapun terus melanjutkan langkahnya untuk pulang.


Devan sangat bingung akan situasi sekarang ini, ia tak habis pikir jika ia bisa menyukai Larisa sedalam ini hingga semua kenyataan, oenjelasan dan keadaan jadi semakin rumit seperti ini. Dia juga berpikir apa memang perkataan Larisa itu benar adanya, dia memang tak bisa meniduri wanita begitu saja karena dalam prinsipnya dia hanya akan tidur dengan wanita yang jadi istrinya. Apa dia memang akan melakukan pilihan ke dua untuk memeriksakan Larisa pada dokter agar lebih yakin jika Larisa itu wanita baik-baik.


Devan menghempaskan tubuhnya kencang ke sandaran kursi dan menghembuskan nafas kencang dengan kebingungan ini.


Bagaimana menurut kalian tentang Larisa?


Apakah dia memang perempuan baik-baik atau dia hanya mempunyai niat busuk seperti pada Hardi?


Bersambung.....

__ADS_1


Jangan lupa selalu dukung Author... Terimakasih 😊


__ADS_2