Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Lamaran


__ADS_3

Hari ini Hardi telah menghubungi Sarah berulangkali namun tidak ada balasan sekalipun. Hardi sangat bingung sekaligus khawatir akan apa yang terjadi pada Sarah, dia sangat menyesal dengan apa yang menimpa mereka. Padahal hari ini Hardi telah bersiap dengan orangtuanya untuk melamar Sarah.


Dengan persiapan yang cukup matang Hardi berangkat bersama orangtuanya menuju ke rumah Sarah. 1 jam perjalan di tempuh mereka akhirnya sampai di rumah Sarah.


Ddiinngg ddoonnggg


Diingggg ddoonnggg..


Suara bel pintu berbunyi, bu Rahma segera menghampiri pintu depan dan langsung membukanya. Terlihat Hardi, Cilla dan kedua orangtuanya berdiri di hadapan bu Rahma.


"Maaf mau cari siapa yah?" tanya bu Rahma.


"Sore bu, saya Hardi dan ini keluarga saya. Ada yang ingin saya bicarakan dengan Sarah dan orangtuanya, Maaf apakah ibu adalah mamahnya Sarah?" jelas Hardi menanyakan orang yang di hadapannya.


"Oh iya kalau begitu silahkan masuk." bu Rahma mempersilahkan masuk dan duduk di kursi yang tersedia.


"Sebentar yah saya panggil Sarah dulu" ucap bu Rahma permisi menuju ke kamar Sarah.


Tookkk ttoookkk ttookk... bu Rahma mengetuk pintu kamar Sarah, lalu membukanya dan masuk menghampiri Sarah.


"Nak, Sarah... Ada tamu yang datang, katanya mau menemuimu" jelas Bu Rahma.


"Siapa?" tanya Sarah datar.

__ADS_1


"Katanya namanya itu Hardi, iya kalau tak salah nak Hardi dan keluarganya juga" jawab bu Rahma.


Sarah tersentak dan langsung bangkit dari tempat tidurnya.


"Yaudah Sarah siap-siap dulu gih, mamah mau menyiapkan air dan cemilan buat para tamu" suruh bu Rahma, keluar dari kamar Sarah.


"Untuk apa pak Hardi ke sini? apa dia ingin menepati janjinya?" batin Sarah penuh tanya.


Sarah mencoba berdandan seadanya, tak ada yang spesial, sederhana namun terlihat anggun. Sarah menghampiri mereka di ruang tamu dengan tersenyum canggung, tak lama bu Rahma pun datang membawa beberapa gelas air teh dan toples makanan.


"Baik, saya akan mulai. Begini, saya Herman mewakili anak saya Hardi berniat untuk melamar putri ibu, Sarah." ucap pak Herman tanpa basa-basi.


Bu Rahma kaget lalu memandang ke arah Sarah yang juga kaget dan terlihat bingung.


"Saya benar-benar tidak tahu jika hari ini akan ada yang melamar putri saya, Sarah juga tidak pernah memberitahu kepada saya. Jadi saya minta maaf tidak mempersiapkan apapun sebelumnya" ucap Bu Rahma yang sangat kebingungan.


"Sarah kok diam saja, apa dia akan menolakku? aku ini melamarnya untuk menepati janjiku bertanggung jawab atas perbuatanku waktu itu" batin Hardi ketika Sarah hanya menunduk terdiam.


"Kalau saya terserah dengan anak saya" ucap Bu Rahma. "Bagaimana Sarah?" lanjutnya.


"Sarah terima lamaran pak Hardi" jawab Sarah datar dengan menatap tajam ke arah Hardi.


Bu Rahma dan orangtua Hardi tersenyum senang akan jawaban Sarah namun Hardi hanya tersenyum canggung menatap Sarah.

__ADS_1


"Berarti nanti Cilla punya bunda baru donk" ucap Cilla senang.


"Iya sayang, nanti bu Sarah jadi bundanya Cilla" ucap Hardi tersenyum kearah putrinya.


Hardi menyematkan cincin kepada jari manis Sarah sebagai tanda ikatan pertunangan. Sarah tersenyum kecut ke arah Hardi dan dibalas dengan senyuman canggung Hardi.


"Oh iya bu, saya tidak mau membuang waktu terlalu lama, saya ingin pernikahan ini di laksanakan dua minggu lagi, biar semua persiapan pernikahan saya yang siapkan. Jadi ibu dan Sarah tidak perlu khawatir" jelas Hardi.


"Ternyata Hardi udah gak sabar yah, pengen cepet-cepet nikah yah" canda pak Herman dan yang lain pada tersenyum.


"Iya, ibu Rahma tidak usah menyiapkan apapun biar dari pihak kami saja yang mempersiapkannya." ucap bu Yesi.


"Oh iya Sarah, apa yang ingin kamu minta untuk pernikahanmu?" tanya Hardi.


"Saya hanya ingin meminta agar pernikahan kita di gelar secara sederhana dan di hadiri orang-orang terdekat saja, saya tidak suka jika harus bermegah-megahan" balas Sarah datar.


"Yasudah jika itu maumu, saya akan ikuti. Terimakasih telah menerima saya" ucap Hardi dengan wajah masih merasa bersalah.


Akhirnya keluarga Hardi pamit untuk pulang. Sarah dan bu Rahma mengantarkan mereka sampai depan rumahnya Sampai mereka berlaku dari pandangannya.


"Nak, kamu yakin kan dengan keputusanmu? karena ibu lihat kamu tidak begitu bahagia." tanya bu Rahma meyakinkan karena memang daritadi ia selalu memperhatikan Sarah.


"Sarah memang menikah dengan pak Hardi itu sudah menjadi keharusan, pak Hardi harus menikahi Sarah karena suatu alasan" balas Sarah yang berlalu ke kamarnya.

__ADS_1


Bu Rahma merasa bingung tentang apa yang di ucapkan Sarah, seperti ada sesuatu yang pitrinya itu sembunyikan. Tapi bu Rahma tak ingin terlalu ikut campur atas putrinya karena memang putrinya sudah cukup dewasa untuk mengambil sebuah keputusan sendiri.


Bersambung .....


__ADS_2