
Setiap hari Hardi sangat sibuk, selalu pergi pagi-pagi dan pulang sudah sangat larut malam. Waktu untuk keluarga pun hanya sedikit bahkan untuk sekedar berbincang saja susah, setiap berangkat bekerja terkadang Sarah masih tertidur dan saat Hardi pulang Sarah sudah tidur lelap.
Usia kandungan Sarah sekarang sudah memasuki bulan ke 6, Sarah sudah memakai baju khusus ibu Hamil. Waktu tidur Sarah sudah tidak teratur karena rasa tidak nyaman sudah terasa, Sarah sedang butuh perhatian lebih dari sebelumnya namun apa boleh buat waktunya bersama Hardi sangat sedikit karena pekerjaan Hardi memaksanya lebih sering di kantor ketimbang di rumah, walau pun begitu Hardi selalu menyempatkan waktu untuk menghubungi Sarah dan mengobrol sebentar di telpon untuk menanyakan keadaannya dan kedua calon bayi mereka.
Sarah tak menuntut apapun walau perhatian fisik sangat jarang namun suaminya masih menyempatkan waktu untuk menghubunginya. Tiba-tiba ponsel Sarah berdering, ternyata itu telpon dari Sita.
Sita : Halo sarah! Sedang apa nih bumil sore-sore begini?
Sarah : Biasa sedang santai saja di belakang rumah sambil menemani Cilla main dengan pengasuhnya
Sita : Apa kantor suamimu sedang sibuk?
Sarah : Iya Sita, belakangan ini pekerjaan di kantor suamiku sedang sibuk-sibuknya, sedang menjalankan sebuah proyek, entahlah itu apa yang pasti sangat penting.
Sita : Pantas saja sekarang Rio sangat susah di ajak bertemu dan untuk saling menghubungi pun susah sekali.
Sarah : Benar sekali Sita, bahkan mas Hardi terkadang tidak pulang, tapi yah harus bagaimana lagi karena itu sudah tuntutan pekerjaan.
Sita : Iya jadi kesepian, bagaimana kalau kita bertemu di luar untuk menghilangkan penat?
Sarah : Boleh juga, sekalian kau bantu aku mencari baju bayi, bisa kan!
Sita : Wah setuju banget, aku juga senang kalau memilih baju bayi seperti itu, aku senang juga dengan anak kecil soalnya menggemaskan.
Sarah : Kenapa tak cepat menikah saja? biar bisa punya bayi sendiri.
Sita : Aku sangat ingin menikah tapi yah apa daya orang belum di lamar-lamar.
__ADS_1
Sarah : Hehehe ... Sabar, pasti Rio segera melamarmu soalnya yang aku tahu sekali Rio menjalin hubungan pasti ia akan serius, itu kata suamiku sih.
Sita : Semoga saja perkataanmu itu benar, tapi mungkin bukan untuk saat ini. Dia sibuk banget mana ada dia menyiapkan sesuatu untuk melamarku.
Sarah : Iya juga sih, suamiku saja sekarang jadi sudah di temui.. huft kita sebagai wanita harus sabar dengan pada pria yang gila kerja.
Sita : Iya sabar sabar hehehe
___________
Bu Rahma sedang duduk di kursi kerjanya, ia melihat bahwa rumah makannya cukup banyak pengunjung. Ia sangat bersyukur sudah bisa menjalankan usahanya sendiri walau tanpa suami di sisinya, terkadang ia mengenang masa-masa dimana ia harus merintis usahanya dari nol sambil membiayai sekolah Sarah, putri semata wayangnya. Tak ada dalam pikiran bu Rahma untuk menikah kembali, semenjak dirinya dan Sarah di tinggal begitu saja dengan lelaki yang dulu menjadi suaminya itu.
Sedang melamun tiba-tiba terdengar suara telpon.
Bu Rahma : Halo! ini rumah makan bu Rahma, bisa saya bantu.
Bu Rahma : Halo! ini rumah makan bu Rahma, bisa saya bantu, ada yang ingin anda pesan bisa kami delivery sekarang juga.
Seseorang : Ehm... Rahma... Ini aku, Wahyu.. uhuk... uhuk...
Bu Rahma langsung tercengang mendengar nama yang menelpon itu, suara pria yang berat itu suara yang sangat ia kenali, suara pria yang sangat ia benci sampai saat ini, pria yang tega meninggalkannya dengan putrinya yang masih sangat kecil demi wanita lain.
Bu Rahma : Untuk apa kau menelpnku? untuk apa kau muncul setelah sekian lama?
Pak Wahyu : Maafkan aku Rahma, maafkan sikapku di masa lalu, aku hanya ingin menanyakan kabarmu dan Sarah.
Bu Rahma : Halah jangan basa-basi lah, dulu-dulu kemana saja! Sudah belasan tahun kenapa kau baru menanyakan keadaan kami!
__ADS_1
Pak Wahyu : Sekali lagi aku minta maaf... uhuk... uhuk... uhuk... Bagaimana kabar putri kita?
Bu Rahma : Untuk apa kau menanyakannya? sekarang Sarah sudah sangat bahagia dengan suami dan calon anaknya nanti.
Pak Wahyu : Apa? Sarah sudah menikah? Syukurlah aku jadi ikut senang... uhuk... uhuk...uhuk....
Bu Rahma : Selama ini kau kemana? pergi begitu saja, kemana wanitamu itu! Kenapa menghubungiku lagi?
Pak Wahyu : 2 tahun setelah aku meninggalkan kalian, perusahaanku bangkrut. Wanita itu hanya menginginkan hartaku saja, semenjak aku menjadi miskin, wanita itu pergi begitu saja dengan lelaki lain. Aku hanya hidup sederhana dan bekerja serabutan sampai sekarang dan aku sekarang sedang berada di rumah sakit karena kondisi kesehatanku yang semakin memburuk. uhuk... uhuk..uhuk...
Bu Rahma : Aku mendengarkannya tapi bukan untuk simpati padamu, sekarang kau urus dirimu sendiri dan jangan mengganggu kehidupanku dan Sarah seperti sebelumnya.
Pak Wahyu : Tapi Rahma.... halo... halo...
telponpun terputus begitu bu Rahma meletakkan gagang telponnya ke tempatnya. Bu Rahma memegang kepalanya dengan kedua telapak tangannya, dia merasa bingung karena pria yang selama ini sudah ia lupakan, pria dimasa lalunya yang buruk malah kembali menghubunginya yang terdengar pula sedang sakit parah dan hidup sangat sengsara. Apakah ia harus memberitahu Sarah atau tidak? pikirnya yang bingung.
_________
Malam ini Sarah mendapatkan pesan dari Hardi jika Hardi tidak bisa pulang malam ini karena pekerjaannya masih menumpuk dan ada janji temu pagi-pagi sekali dengan klien yang akan berangkat ke luar negeri. Sarah menghela nafasnya, ia sangat ingin bercengkrama kembali bersama suaminya seoerti dahulu namun apa daya pekerjaan Hardi cukup menghabiskan dan menyita banyak waktunya hingga tak sempat lagi bercanda gurau dengan keluarga.
Dalam lubuk hati yang terdalam, Sarah sangat merindukan kasih sayang suaminya dan perhatian suaminya walau Hardi masih sering menghubunginya namun itu tidak cukup untuk melepaskan rasa rindunya pada suaminya tersebut. Sarah memeluk gulingnya, tak terasa air mata mengalir begitu saja di kedua matanya, ia bukannya ingin menangis namun rasa rindu yang teramat sangat membuatnya tak bisa menahan air matanya. Dengan hati yang kalut dan dengan mengelus perutnya yang semakin mebuncit, lama kelamaan Sarah pun menutup matanya dan terlelap melewati malam ini sendiri di ranjang yang besar ini.
Di satu sisi pak Wahyu terus saja batuk-batuk sambil terus memegang dadanya yang terasa sakit, ia di bantu oleh perawat yang ada di sana, ada sedikit darah yang keluar dari mulutnya. Perawat segera mengambil lap bersih untuk membersihkannya dan seorang perawat lain menyuntikan obat ke selang infus yang di pakai oleh pak Wahyu. Setelah beberapa lama batuknya mulai mereda karena obat yang tadi perawat suntikan sudah mulai bekerja, pak Wahyu pun sudah mulai tenang dan sakit di dadanya pun sudah tak terasa, seorang perawat membantu membaringkan pak Wahyu secara perlahan dan menyalimuti tubuh pak Wahyu dengan selimut di sana. Lama kelamaan pun pak Wahyu bisa memejamkan matanya, beberapa saat nafasnya sudah mulai teratur pertanda ia sudah tertidur. Melihat itu, kedua perawat yang dari tadi mengawasinya pun pergi meninggalkannya sendiri.
Apa penyakit pak Wahyu sebenarnya?
Mari nantikan Up selanjutnya....
__ADS_1
Bersambung.....