
2 bulan pun berlalu, Cilla merasa risih dengan kedua bodyguard yang selalu mengikutinya. Cilla tidak bebas dalam bertindak, sedikit bertindak langsung ada laporan pada Hardi. Cilla tak bebas dalam mencari teman baru, mereka seperti enggan mendekati Cilla karena kedua bodyguard yang selalu di sampingnya. Cilla juga tak leluasa untuk bertemu dengan Adrian, dia tak bisa mengekspresikan perasaannya saat bertemu dengan Adrian dan Adrian pun seperti menahan tindakkannya karena khawatir akan terjadi hal yang tidak di inginkan.
Sarah sedang merebahkan dirinya di atas tempat tidur, Sarah mencoba mencari alasan agar bisa lepas dari pengawasan ayahnya. Walaupun tak seutuhnya lepas namun yang terpenting dia tak di jaga dengan overprotektif seperti sekarang ini. Ia ingin hidup normal seperti orang-orang pada umumnya, tak seperti sekarang bagai burung dalam sangkar yang malah bisa merusak masa mudanya yang ingin dia nikmati walaupun dengan berbagai batasan normal.
" Ayah! Bisa kita bicara sebentar?" Cilla duduk di samping Hardi yang sedang berkutat dengan pekerjaannya.
" Iya, bicara saja. Apa halnya penting?" Hardi bicara sambil tetap fokus pada laptopnya.
" Ayah, bisa tidak ayah menyuruh kedua bodyguard itu pergi, aku sangat risih dan tak bisa berteman dengan bebas." keluh Cilla.
" Tidak bisa!" jawab Hardi tegas tanpa mengalihkan pandangannya.
" Tapi ayah....!"
" Ayah bilang tidak bisa yah tidak bisa, kamu harus di jaga, titik." Ujar Hardi menatap Cilla tajam dan Cilla hanya bisa menunduk karena takut dengan Hardi yang setengah berteriak.
" Mas, jangan seperti ini dong. Memang mas terlalu mengekang Cilla, apa tak bisa berlaku sewajarnya saja." Sarah datang lalu duduk di samping Cilla dan memeluknya sementara Cilla menangis dalam pelukan Sarah.
" Itu demi kebaikan Cilla, aku tak ingin terjadi apa-apa pada Cilla, agar Cilla tak menjadi korban kejahatan. Aku tak ingin sesuatu terjadi seperti apa yang terjadi padamu dulu." Hardi meninggikan nada bicaranya.
" Iya, benar itu juga kesalahanmu, mas kan yang menodai aku waktu itu karena mas ceroboh. Tapi beda dengan Cilla, aku yakin Cilla tak akan berbuat macam-macam atau akan di apa-apakan. Aku lihat Adrian bisa melindungi Cilla dan Adrian terlihat orang yang baik, mas juga jangan ragukan pendidikan yang kita ajarkan padanya tentang moral dan adab." Sarah menimpali dengan nada tinggi, Cilla masih sesenggukan di pelukan Sarah.
" Aku akan selalu minta maaf dengan perbuatanku waktu dulu padamu. Ok.. ok... aku akan mencabut kedua bodyguard itu dari Cilla tapi kamu harus menjamin jika Cilla tidak akan berbuat macam-macam." Hardi mulai luluh.
" Cilla janji ayah, Cilla tidak akan mengecewakan ayah, Cilla janji." Cilla tersenyum dan melepaskan pelukannya pada bundanya.
" Ok, mulai besok kamu tak akan di dampingi oleh bodyguard tapi tetap kamu di antar jemput supir pribadi dan jika mau kemana-mana atau ada apa-apa segera hubungi ayah atau bunda." ujar Hardi walau sedikit terpaksa merelakan Cilla tak di dampingi bodyguardnya.
" Terimakasih ayah, Cilla janji. Terimakasih juga Bunda." Cilla pun tersenyum senang karena bisa terlepas dari kekangan yang membuatnya tidak nyaman.
________
Cilla berjalan menelusuri lorong kampusnya dengan senyuman yang terus terpancar di wajahnya, terlihat sangat jelas mengisyaratkan jika dia sedang merasa bahagia.
" Hei! ada angin apa nih senyum-senyum sendiri?" Dona mengalungkan sebelah lengannya pada leher Cilla.
" Iya nih gue perhatikan dari tadi kayak senang banget, cerita dong pada kita!" Citra terlihat sangat penasaran, Cilla masih saja senyum-senyum tanpa menjawab rasa penasaran kedua sahabatnya.
" Oh iya, gue baru sadar, pada kemana bodyguard yang selalu ngintilin loe tiap hari?" Sadar Dona.
" Oh iya bener, gue juga merasa ada yang kurang. Ternyata iya yah, kemana bodyguard loe, Cil?" tambah Cilla.
" Nah .... itu yang bikin gue senang sekarang, gue bebas gak kayak burung dalam sangkar. MERDEKA...." Ujar Cilla setengah berteriak.
" Berisik loe ah... Malu tahu..." ujar Citra ketika melihat sekeliling langsung memperhatikan mereka.
" Asik dong, kita bisa nongkrong-nongkrong pulang sekolah." ujar Dona ikut senang.
" Ok, bisa deh kayaknya. Tapi nanti-nanti aja yah, soalnya gue pengen ketemu Adrian." ujar Cilla lalu mereka berjalan tanpa memperhatikan langkahnya karena keasikan mengobrol sambil bercanda.
Bbrraakkkkk..... Cilla terjatuh karena menabrak seseorang dan buku yang di bawa orang itu berserakan di lantai, tanpa melihat orang yang ia tabrak, Cilla membantu membereskan buku tersebut.
" Sorry, gue gak sengaja."
" Ok gak apa-apa." jawab orang itu juga sibuk membereskan bukunya tanpa melihat orang yang di hadapannya.
Ketika sudah di rapikan lalu wajah mereka bertemu dan sejenak saling bertatapan lalu keduanya saling terkejut satu sama lain.
" Reza!"
" Cilla!"
Keduanya kemudian berdiri dan Reza kembali mengangkat tumpukan buku yang di bawanya.
" Ngapain loe disini?" tanya Cilla yang masih terlihat terkejut.
" Yah apalagi kalau bukan kuliah. Bagaimana kabar kamu?" Jawab Reza santai dan berbalik bertanya pada Cilla.
" Cie... cie... yang udah lama gak ketemu akhirnya ketemu juga. Jadi loe lupa sama kita, Za. Jadi cuma nanya kabar Cilla doang nih!" ujar Dona.
__ADS_1
" Eh... Sorry.. Sorry... gue baru ngeuh ada kalian. Bagaimana kabar kalian semua?"
" Gue baik dan Citra juga baik, tapi gak tahu tuh dengan Cilla." jawab Dona.
" Eh... gue juga baik-baik saja kok." yakin Cilla.
" Iya baik-baik saja karena udah gak jomblo lagi." goda Citra.
" Eh.. beneran! Selamat deh kalau gitu, berarti kamu udah gak bisa aku jahilin, ntar ada yang belain kamu yah." tampang Reza seketika berubah yang tadinya terlihat senang menjadi sedikit kecewa.
" Yasudah, gue pergi dulu yah. Dosen pasti udah nunggu, permisi." Tambah Reza lalu melanjutkan langkahnya meninggalkan mereia bertiga.
" Eh, loe ngeuh gak? Cuma sama Cilla, si Reza bilang aku kamu!"
" Oh iya bener kata loe Don, gue juga baru ngeuh. Jangan-jangan dia naksir loe, Cill!"
" Dan tadi gue lihat ekspresi wajahnya berubah ketika denger kalau Cilla punya pacar." tambah Citra.
" Halah, jangan ngasal loe, mungkin dia bilang aku kamu itu karena memang udah lama gak ketemu aja, oh iya padahal kita kuliah udah 3 bulan lebih tapi kok baru tahu kalau dia juga kuliah di kampus kita."
" Iya, gue juga gak tahu sih, gue kira dia masih di Australia."
" Yah, nanti kalau ketemu lagi kita tanya-tanya aja dia hehehe."
Ketika mereka sampai di kelas dan duduk di kursi, Citra dan Dona masih penasaran juga dengan Cilla yang sekarang tak di dampingi oleh bodyguardnya dan Cilla pun bercerita semuanya tentang Cilla sampai memohon-mohon pada ayahnya untuk bisa bebas namun dengan beberapa syarat.
Disatu sisi Reza terlihat senang bisa bertemu lagi dengan Cilla namun ia merasa terlambat karena Cilla sudah memiliki kekasih, padahal alasan dia memilih melanjutkan pendidikan di Indonesia ingin sekali bertemu dengan Cilla dan mungkin bisa menjalin hubungan dengannya. Dia penasaran laki-laki seperti apa yang bisa meluluhkan hati Cilla, dia ingin sekali mengetahui lelaki itu. Dia masih berharap masih ada kesempatan untuk mendapatkan Cilla selama janur kuning belum melengkung.
___________
Hardi memanggil Rio ke ruangannya karena ada hal yang harus di bahas dengan sekertarisnya itu.
" Bagaimana Rio dengan orang suruhan kita untuk terus mengawasi Cilla? apa ada laporan yang aneh-aneh."
" Seminggu ini sih nona Cilla masih dibatas biasa saja hanya kumpul-kumpul dengan teman-temannya saja itu juga hanya di tempat dan cafe biasa mereka kumpul."
" Bagaimana dengan Adrian?"
" Bagus lah, aku menyerahkan proyek itu bukan semata-mata untuk alasan membatasinya dengan Cilla namun aku memilihnya untuk m nangani proyek itu karena dia orang yang kompeten dan mampu mengatasinya. Jika dia sedikit memiliki waktu dengan Cilla yah karena memang itu resiko dari pekerjaannya. Aku mau lihat akankah proyek ini berhasil, kemampuannya sebatas apa. Rio, kamu harus tetap menyuruh mereka untuk mengawasi Cilla dari jauh dan laporkan pada saya."
" Baik, pak!"
________
Cilla menghubungi Adrian untuk bertemu sepulang Adrian bekerja, Cilla sengaja menyuruh supirnya untuk pulang setelah mengantar Cilla dan teman-temannya kerumah Amel. Cilla belum memberitahu kepada Adrian bahwa dia sudah bebas sehingga tak perlu was-was dan tidak nyaman lagi ketika bertemu. Cilla ingin memberikan kejutan pada Adrian hingga dia memilih bertemu dengan di cafe dekat kediamannya Amel. Adrian setuju dengan ajakan Cilla kebetulan mereka sudah seminggu ini tak bisa bertemu dikarenakan kesibukan Adrian.
" Amel... Gue kangen banget sama Loe." Cilla memeluk Amel dan semuanya jadi ikutan memeluk Amel.
" Udah udah... gue gak bisa nafas nih." pinta Amel yang mencoba melepaskan diri dari pelukkan teman-temannya.
" Ok... kita duduk-duduk sambil ngobrol-ngobrol, enakkan lesehan yah biar nyaman. Gue mau ngambil cemilan sama minuman buat nemenin ngobrol kita." Ujar Amel setelah berhasil melepaskan diri dari pelukkan teman-temannya.
" Ok biar gue bantu." Cilla berdiri lalu mengikuti Amel.
Setelah sampai di dapur, Cilla mengambil beberapa toples cemilan sedangkan Amel membuat 4 gelas es jeruk yang terlihat segar.
" Mel, kata Dona dan Citra, loe pacaran sama pak Remon? Kok loe gak ngasih tahu gue sih!"
" Iya, gue pacaran sama pak Remon, gue gak nyangka dia menerima gue." Amel terlihat cengengesan senang.
" Apa? jadi loe nembak pak Remon duluan?" Cilla sedikit menaikan nada suaranya.
" Iya... Gue nembak dia pas acara kelulusan sekolah, tadinya gue hanya iseng aja mengungkapkan perasaan kepada pak Remon tapi gue gak nyangka jika pak Remon menerima gue, yah gue seneng banget, banget, banget." Amel cerita dengan antusias.
" Wah .... Salut gue sama keberanian loe, tapi loe jadi tahu juga perasaan dia sama loe kan, Hebat."
" Terus gimana hubungan loe sama gebetan loe?"
" Nah itu yang gue mau ceritain, tapi kita ke depan dulu yuk, si Dona sama Citra pasti udah nunggu."
__ADS_1
Amel dan Cilla pun kembali ke depan dengan membawa makanan dan minuman untuk mereka berempat.
" Wah... Akhirnya ada minuman sama cemilan cocok nih buat nemenin ngegosip hehehe." ujar Dona membantu Cilla menurunkan toples di tangannya.
" Hus... jangan Ghibah loh, mending ceritain masalah kita biar bisa saling ngasih solusi." ujar Citra.
" Iya nona yang sekarang lagi lempeng hehehe." ejek Dona.
Suasana menjadi riuh karena obrolan, ketawa dan candaan mereka. Obrolan gadis-gadis yang membahas segala hal, baik itu fashion, kekasih bahkan hal private sekalipun tak luput dari bahasanya.
" Cilla, loe janjian sama Adrian jam berapa?" tanya Amel yang telah mengetahui Cilla sudah berpacaran dengan Adrian karena obrolan tadi.
" Katanya sih jam 8 malam dia mau langsung ke cafe tempat janjian kita."
" Ini udah jam 7, loe cepetan siap-siap dandan biar cowok loe semakin terpesona hehe."
" Ok gue mau cuci muka dan dandan dulu, Mel gue ijin ke kamar loe yah." ujar Cilla.
" Ok, masuk aja, kayak tamu aja loe ijin segala." balas Amel.
Cilla mencuci mukanya di kamar mandi Amel sekaligus berhias dan merapikan pakaiannya, tak lupa menyemprotkan beberapa semprot parfum ke tubuhnya hingga dia terlihat cantik dan wangi. Pukul 7.45 malam, Cilla pun pamit pada Amel untuk ke Cafe tempat janjiannya sedangkan Dona dan Citra akan menginap di rumah Amel saja.
Pukul 7.55 Cilla sudah sampai di Cafe karena memang jarak dari rumah Amel tidak terlalu jauh dan ternyata Adrian sudah berada di sana memanggil Cilla ketika Cilla baru saja memasuki cafe tersebut.
" Adrian! Sudah menunggu lama?" Cilla pun duduk berhadapan dengan Adrian.
" Gak kok, baru saja aku juga sampai. Aku sudah pesan makanan dan minuman kesukaanmu, apa mau tambah yang lain?"
" Oh tak perlu, ini saja sudah cukup banyak." Cilla melihat beberapa makanan sudah terhidang di hadapannya.
" Eh... Dari tadi aku kok merasa ada yang hilang. Emmm.... apa yah?......"
" Masa gak tahu? Aku datang sendiri tahu."
" Beneran? Serius? wah.... aku bisa bebas dong, gak perlu was-was lagi. Sini dong duduk sebelah aku, aku mau peluk." Adrian terlihat senang.
" Gak mau ah, walau sekarang aku bebas tapi aku masih punya batasan agar tak mengecewakan ayah." tolak Cilla.
" Yah aku kan cuma mau peluk saja, aku tak akan ngapa-ngapain. Aku juga tahu, aku harus menjaga wanita yang sangat aku cintai ini." Adrian mencubit hidung mancung kekasihnya dengan gemas.
" Iya... Aku percaya sama kamu, kok."
" Aku kangen kamu!" celetuk Adrian membuat Cilla merona.
" Kok gak di jawab sih!" ujar Adrian yang melihat Cilla hanya diam saja.
" Iya... Aku.... juga kangen kamu." balas Cilla dengan malu-malu, Adrian tersenyum senang mendengar jawaban Cilla.
Adrian dan Cilla pun langsung menikmati hidangan yang ada di hadapannya, hampir semua yang terhidang adalah makanan kesukaan Cilla. Adrian senang jika Cilla makan dengan lahap, ia tak menuntut Cilla untuk menjaga tubuhnya, selama ini dia tetap suka dengan Cilla.
Dari kejauhan seseorang melihat Adrian yang sedang bersama seorang wanita yang kebetulan tak terlihat karena membelakanginya. Lalu orang tersebut berjalan menghampiri Adrian, ' Wah dia sedang makan dengan pacarnya pasti! Aku mau ngasih kejutan sama dia. Selama ini aku minta mengenalkan aku padanya malah menolak terus, lihat aja nanti' pikir orang tersebut.
Semakin dekat dan semakin dekat lalu orang itu mengejutkan Adrian dengan menepuk pundak Adrian.
" Hah.... loe disini?" tanya Adrian yang masih setengah terkejut.
" Iya bang, loe ini gak ngenalin gue ke cewek loe."
Lalu Cilla dan orang itu saling berpandangan dengan tatapan terkejut, mereka hanya terdiam tanpa kata-kata untuk beberapa saat.
" Reza!!!"
" Cilla!!!"
Keduanya berteriak secara bersamaan dan Adrian hanya bisa diam memandang keduanya dan ia ikut bingung dengan situasinya.
Bersambung.....
Selalu dukung Author dengan cara memberi Vote, Hadiah, Like dan Komen....
__ADS_1
Terimakasih ☺️