Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Rasa Cemburu


__ADS_3

Hari-hari pun berlalu tanpa kabar sekalipun dari Hardi. Setelah waktu itu Videocall mereka terputus begitu saja tak pernah ada panggilan telpon ataupun pesan yang Sarah terima.


Sarah merasa tidak bersemangat, ia kembali tak pergi ke sekolah untuk mengajar ataupun hanya bermain dengan Cilla ataupun mengantar sekolah Cilla. Ia hanya mengurung diri di kamarnya dan sesekali air matanya keluar tanpa ia sadar. Ia hanya ingin menyendiri, mencoba menenangkan pikirannya agar tak terus berpikir negatif. Ia malah kembali membaringkan tubuhnya tanpa niatan untuk tidur.


Hari berikutnya Sarah mencoba beraktivitas seperti biasanya walau semangatnya belum kembali. Jika Cilla sedang bersamanya, ia mencoba tersenyum dan ikut bermain bersama agar tak ada yang tahu akan isi hatinya. Sebenarnya Cilla juga merasa aneh dengan sikap bundanya namun karena Cilla masih kecil ia tak begitu mengerti dan tak bertanya apa-apa.


Hari ini Sarah memutuskan untuk pergi kerumahnya yang di tinggali oleh Bu Rahma, ia ingin menenangkan hatinya sejenak untuk mencoba menata hatinya kembali. Kebetulan memang Sarah tahu jika mamahnya itu tak berada dirumah karena harus keluar kota untuk sehari atau 2 hari. Itu membuat Sarah lega karena disana ia akan sendirian tanpa di ganggu oleh siapapun.


"Lia, tolong jaga Cilla sebentar. Saya ada urusan, nanti jika ada sesuatu bisa hubungi saya" pesan Sarah kepada Lia.


"Baik Nyonya" balas Lia.


Sarah berangkat menggunakan taxi, ia tak ingin di antarkan oleh pak Tono. Ia ingin pergi sendiri saja tanpa ada seorangpun yang terlibat.


Tak berapa lama Sarah sudah sampai rumahnya dan memang bu Rahma tak ada di rumah, ia sedang menjenguk sodaranya di luar kota. Itulah mengapa Sarah memutuskan untuk sementara ingin berdiam sendiri di rumah tanpa gangguan.


Sarah meminta bi Yuyun membawakan secangkir teh hangat ke kamar tamu bukan ke kamarnya sendiri yang di lantai 2. Lalu Sarah menuju kamar temu di lantai 1.


Sarah merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur lalu matanya menatap lurus ke arah langit-langit kamar itu.


Ia terbangun kembali ketika bi Yuyun masuk memba secangkir teh hangat yang ia minta tadi.


_________


Waktu menjelang sore, terdengar suara mobil memasuki rumah Hardi. Ternyata Hardi telah pulang dari dinasnya di antar oleh Rio sekertarisnya. Tanpa memberitahu siapapun termasuk istrinya. Hardi turun dari mobilnya, tersenyum karena akan bertemu dengan wanita yang sangat di cintainya.


"Akhirnya sampai rumah juga. Rio, kau kembali saja ke rumahmu dan istirahatlah" Hardi merasa lega telah kembali ke rumah.


Hardi masuk kedalam rumah dan segera menuju ke kamarnya namun Sarah tak ada di sana. Ia kembali turun lalu menyeru nama Sarah berkali-kali namun tak ada jawaban. Ia mencari keseluruh sudut rumahnya namun hasilnya nihil.


"Sarah... Sarah... Sarah, Sayang, kau dimana?" Hardi sedikit mengeraskan suaranya.


"Lia, Nyonya kemana? kok tak ada di rumah!" tanya Hardi ketika berpapasan dengan Lia.

__ADS_1


"Nyonya tadi pagi keluar tuan, katanya ada urusan. Dan nyonya juga menitipkan Cilla pada saya" balas Lia.


Hardi merasa cemas tak melihat istrinya, sebenarnya ia sengaja tak menghubungi Sarag untuk memberinya kejutan tapi malahan Hardi yang terkejut karena tak mendapati istrinya di rumah.


Hardi menelpon bu Rahma mungkin ia tahu keberadaan putrinyanya.


"Halo! ada apa nak Hardi?" tanya bu Rahma di seberang telpon.


"Apakah Sarah bersama mamah?" tanya Hardi panik.


"Tidak nak, soalnya saya sedang di luar kota. Coba cek saja ke rumah siapa tahu Sarah ada di sana" ucap bu Rahma.


"Tapi kenapa nak Hardi menanyakan Sarah, apa terjadi sesuatu?" tanya bu Rahma karena mendengar nada suara Hardi yang panik.


"Tak ada apa-apa mah, hanya saja Hardi tak mendapati keberadaan Sarah ketika Hardi baru saja pulang dari dinas keluar" jelas Hardi.


Hardi pun berinisiatif untuk ke rumah lama istrinya mungkin memang benar Sarah berada di sana. Hardi pergi di antar oleh pak Tono dan meminta melajukan mobilnya sedikit cepat karena ia begitu ingin bertemu dengan istrinya.


"Cari siapa yah tuan?" tanya Bi Yuyun.


"Sarah... Sarah ada di sini!" Hardi langsung masuk.


"Ada tuan, nyonya Sarah ada di kamar tamu" balas Bi Yuyun.


Hardi segera ke arah kamar temu dia tergesa-gesa langsung membuka pintu kamarnya dan ternyata Sarah di sana sedang duduk merenung terlihat airmata mengalir di pipinya.


Sarah yang melihat Hardi berada di hadapannya tersentak dan tertegun tak percaya. Hardi langsung memeluk tubuh istrinya yang sedang duduk di atas ranjangnya.


"Sarah kenapa kau disni? dan kenapa pula kau menangis?" tanya Hardi khawatir.


Sarah mendorong tubuh suaminya menjauh dan ia menangis sejadi-jadinya.


"Sarah, apa aku salah? aku pulang lebih cepat demi kau? aku tak menghubungimu demi ingin memberimu kejutan." Hardi bingung dengan sikap istrinya.

__ADS_1


"Siapa perempuan itu?" Sarah bertanya dengan tetap menangis.


"Perempuan mana?" Hardi bingung.


"Perempuan yang bersama mas, saat kita Videocall dan mas mematikan tanpa pamit" Sarah sesenggukan.


"Perempuan! itu, perempuan yang di belakangku waktu itu maksudmu. Dia itu pegawai di Hotel cabang, mas juga di sana tidak berdua sayang, di sana ada Rio dan yang lainnya. Soal Videocall tanpa pamit itu ponsel mas jatuh dan perlu perbaikan. Selama 2 hari ponsel mas di perbaiki karena banyak nomor penting di dalamnya. Kau marah padaku karena itu?" Hardi menjelaskan panjang lebar.


"Terus kenapa tak mas gunakan ponsel Rio atau telpon hotel disana" Sarah masih emosi.


"Maaf sayang, karena terlalu sibuk. Mas sampai tak kepikiran untuk menggunakan ponsel Rio atau nltelpon Hotel. Mas sungguh minta maaf" Hardi berlutut di depan Sarah dan menggenggam tangan istrinya tersebut.


Sarah terus saja menangis, walaupun Hardi sudah menjelaskan semuanya. Namun ia sudah mulai tenang tak berteriak lagi, ia diam saja tak memberi respon akan penjelasan suaminya.


"Sudah dong sayang, mas sudah jelaskan semuanya. Mas sudah berkata jujur padamu, kau tahu hanya kaulah wanita satu-satunya dalam hidup mas. Eh gak sih masih ada satu lagi" ucap Hardi tersenyum.


"Siapa mas? wanita itu?" tanya Sarah emosi.


"Bukan, tapi Cilla. Kan Cilla juga wanita mas" Hardi mengerjai Istrinya.


Sarah yang mendengarnya langsung memukul pundak suaminya karena gemas di kerjai. Sarah tersenyum walau sisa airmatanya masih menggenag di matanya.


"Aww.. udah dong sayang. Nah begini dong kalau senyum kan jadi lebih cantik" goda Hardi menghapus sisa air mata di pipi Sarah.


"Maafkan saya mas, saya sudah gelap mata" ucap Sarah.


"Makasih sayang sudah percaya penjelasan mas" Hardi memeluk istrinya erat.


Hardi memegang pipi Sarah lalu menatap wajah istrinya, kemudian bibirnya mendekat pada bibir istrinya dan mereka pun berciuman dengan sangat bergairah.


Bersambung..........


Kalau sudah bucin, gak bisa di obati 😁🤭

__ADS_1


__ADS_2