Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Pendekatan


__ADS_3

Aini menghubungi Sarah, ia ingin bertemu untuk terakhir kalinya jadi ia harap Sarah bisa meluangkan waktunya. Selesai mengajar Sarah ke Cafe tempat ia dan Aini janjian, Sarah membawa serta Cilla bersamanya karena dia langsung ke tujuannya tanpa pulang terlebih dahulu.


Sarah tiba lalu masuk kedalam Cafe dan Aini sudah berada di sana. Sarah dan Cilla pun duduk dan memesan minuman pada pelayan.


"Tadi di pesan kau bilang pertemuan terakhir kita, maksudnya apa?" tanya Sarah bingung.


"Oh itu, iya hari ini aku akan pulang ke Florida untuk kembali menetap disana. Mungkin aku lebih menyukai suasana di sana daripada di sini. Aku juga ingin meminta maaf padamu Sarah." balas Aini.


"Tapi kau kan bekerjasama dengan perusahaan suamiku, mana mungkin bisa pergi begitu saja. Dan kau meminta maaf untuk apa? tak perlu seperti itu." ucap Sarah.


"Iya mungkin kita tak bisa bertemu lagi dalam waktu lama. Aku senang bisa berteman denganmu selama aku di indonesia, padahal waktu SMA dulu kita tak begitu dekat, namun setelah aku sekolah ke luar negeri, aku tak berhubungan lagi dengan teman-teman di sini, kebetulan saja aku bertemu denganmu dan aku ingin menjalin pertemanan bersamamu. Dan juga sampaikan kepada suamimu, aku sangat menyesal dan aku meminta maaf dengan tulus. Cuma itu saja yang ingin aku sampaikan. Yaudah Sarah, jadwal keberangkatan pesawatku sebentar lagi. Maaf sudah mengganggu waktumu, terimakasih" jelas Aini lalu pergi meninggalkan Sarah yang terlihat bingung dengan perkataan Aini.


"Maksudnya apa? menyesal? meminta maaf pada pak Hardi? Apa yang ia katakan barusan, aku sungguh tak mengeeti" batin Sarah yang merasa bingung dengan perkataan Aini.


***


Sarah dan Cilla sampai ke rumah pukul 4 sore hari, terlihat Hardi sedang duduk di ruang televisi sedang menonton pertandingan sepakbola yang dirasanya seru.


"Ayah....." Cilla berlari kepangkuan ayahnya laku mencium pipi ayahnya yang penuh bulu tipis itu.


"Princess ayah yang cantik, kok baru pulang sayang?" Hardi mencium gemas pipi putrinya.


"Tadi ketemu dulu sama teman bunda" jawab Cilla merangkul leher ayahnya. Hardi menatap Sarah dengan tatapan penuh tanya, Sarah pun mengerti maksudnya.


"Oh itu pak, Saya tadi bertemu dengan Aini. Dia ingin kembali ke Florida dan menetap disana. Dia juga menyuruh saya menyampaikan jika ia sangat menyesal dan meminta maaf dengan tulus, memangnya ada kesalahan yang ia perbuat pada pak Hardi?" balas Sarah dengan wajah bingung.

__ADS_1


"Bagus deh kalau begitu" ucap Hardi datar, tanpa menjawab kebingungan istrinya. Dia malah asik bercanda dengan putrinya.


Walau begitu Sarah tersenyum melihat kedekatan ayah dan putrinya tersebut yang selaku bercanda setiap mereka bertemu. Sarah memanggil Lia untuk membantu Cilla untuk mandi dan berganti pakaian, lalu mereka akan makan malam lebih awal agar bisa lebih banyak waktu untuk istirahat.


"Cilla, sudah mainnya. Sekarang Cilla mandi dulu dan begabtibpakaian sana! udah bau acem nih" Sarah menutup hidungnya seolah Cilla memang bau.


"Ia bunda" Cilla turun dari pangkuan Hardi lalu menghampiri Lia untuk menuju kamarnya.


Hardi yang melihatnya pun sedikit heran karena memang Cilla hanya nurut dengan Sarah. Sementara dengannya Cilla selalu membangkang jika disuruh tak bisa sekali ucap langsung nurut. Tanpa Sadar bibirnya menyunggingkan senyum tipis dengan kedekatan Sarah dan putrinya itu.


***


Waktu menunjukan pukul 10 malam, seperti biasa Sarah telah berbaring di tempat tidur dan Hardi tiduran di sofa. Malam ini Hardi terlihat sangat gelisah, dia membolak balikan tubuhnya terus menerus, sekali-kali dia mencuri pandang ke arah Sarah yang tidur membelakanginya. Seperti ada yang ingin Hardi bicarakan dengan Sarah namun ia belum berani mengatakannya.


"Eh... kau belum tidur?" ucap Hardi terkejut karena ketahuan memperhatikan Sarah diam-diam.


"Bagaimana saya bisa tidur jika pak Hardi terus bergerak sehingga menimbulkan bunyi dercitan sofa itu" balas Sarah.


"Maaf, yasudah kau lanjutkan saja tidurmu" Hardi menarik selimutnya hingga menutupi kepalanya mencoba untuk tertidur.


"ehm... Pak, pak Hardi bi..bisa tidur di.. tempat tidur, ehm... biar nyaman." ucap Sarah terbata-bata karena ragu-ragu.


Hardi pun langsung membuka selimutnya, bangkit dari tidurnya langsung menuju ke arah tempat tidur dan berbaring di samping Sarah tanpa berkata apa-apa. Membuat Sarah tertawa kecil melihat tingkah suaminya.


"Sebenarnya saya gelisah karena ingin membicarakan sesuatu padamu, saya selama ini selalu memikirkan perkataan dari orangtuaku tentang keinginan mereka untuk memiliki cucu baru. Bagaimana menurutmu?" Hardi memulai pembicaraannya pada Sarah.

__ADS_1


Sarah yang mendengarnya sungguh terkejut, memang benar sih mereka sudah menikah selama 5 bulan tapi belum ada sentuhan Fisik yang berarti sama sekali. Sarah juga berpikir untuk memulai membuka diri agar merasa nyaman di dekat Hardi. Namun kadang rasa traumanya masih saja menghantui walau sekarang sedikit demi sedikit ia bisa mengendalikan rasa takutnya tersebut karena telah lama mengikuti terapi psikologis yang membuatnya semakin merasa membaik.


"Kalau begitu bagaimana jika kita memulainya secara bertahap? jangan terburu-buru. Saya mohon pada pak Hardi untuk memperlakukan saya dengan baik dan perlahan" pinta Sarah masih ragu-ragu namun mencoba memberi saran pada Hardi.


"Baiklah, malam ini... bolehkah saya menggenggam tanganmu sekarang? sebagai awal permulaan kita bersentuhan fisik." tanya Hardi gugup. Sarah hanya mengangguk tanda persetujuan.


Perlahan Hardi mengarahkan tangannya untuk menggenggam tangan Sarah dan Sarah pun menerimanya dengan sangat gugup, tangannya sedikit gemetar dan berkeringat namun ia mencoba mengendalikannya, akhirnya mereka saling menggenggam tangan satu sama lain. Mereka tidur menyamping saling berhadapan, mereka pun saling menatap dan tersenyum canggung.


"Bagaimana? apa kau masih merasa takut padaku?" tanya Hardi dan Sarah hanya menggeleng.


"Kalau pak Hardi bersikap lembut seperti ini, mungkin saya bisa merasa nyaman didekat pak Hardi" balas Sarah masih saling menggenggam tangan yang malah semakin erat.


"Yasudah, sekarang kita tidur sudah larut malam" ajak Hardi.


Mereka pun mulai memejamkan matanya untuk terlelap. Jantung mereka sama-sama berdegup kencang dengan apa yang mereka lakukan. Mata mereka terpejam dan tangan mereka masih saling menggenggam dan terasa semakin erat. Malam pun semakin larut, yang terdengar hanya suara dentingan jam dan suara degupan jantung mereka berdua yang saling bersautan, beberapa lama pada akhirnya mereka bisa benar-benar tertidur malam ini.


Mereka merasa ini adalah mimpi indah dan ia berharap mimpi ini tidak akan menghilang saat Fajar menjelang esok hari.


Bersambung....


Bagaimana kisah Hardi dan Sarah kedepannya?


Nantikan up Author selanjutnya 😁


Jika suka jangan lupa tinggalkan jejak yah... Terimakasih 😊

__ADS_1


__ADS_2