Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Kegiatan suami istri


__ADS_3

Hardi membaringkan tubuh istrinya secara perlahan, ia menatap wajah Sarah dengan penuh pengharapan. Sarah pun menatap wajah suaminya dengan mata sayu yang tambah menarik perhatian Hardi.


Hardi tersenyum manis kearah istrinya, menyibakan rambut di kening istrinya agar tak menghalangi wajah cantik istrinya. Tangannya mengelus lembut wajah Sarah dari kening hingga ke dagunya secara perlahan. Hardi sedikit mendorong dagu Sarah hingga sedikit terangkat, lalu ia mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya. Napas mereka saling berhembus hangat terasa di wajah mereka masing-masing karena jarak yang begitu dekat. Sebenarnya dalam hati Sarah merasa berdebar lebih cepat dari biasanya namun ia mencoba menenangkan dirinya di hadapan suaminya agar tak lagi mengecewakannya.


"Apa kau siap jika malam ini kita melakukannya?" Hardi setengah berbisik kepada Sarah membuat telinganya terasa geli namun Sarah hanya mengangguk gugup tanda persetujuan.


Hardi pun mulai mengecup bibir istrinya dengan perlahan dan lembut agar tak membuat Sarah terkejut. Sarah pun menerimanya dengan nyaman dan mulai memejamkan matanya ikut mengimbangi gerakan bibir suaminya.


Tiba-tiba Hardi menghentikan ciumannya, Sarah bingung lalu membuka matanya menatap penuh tanya pada suaminya. Hardi hanya tersenyum lalu melanjukan kembali aksinya membuat mereka saling berpagutan.


Cukup lama mereka melakukan itu hingga karena terbawa suasana tangan Hardi mulai bergerak mencoba membuka kancing baju tidur Sarah.


Tiba-tiba Sarah memegang tangan Hardi, menahan untuk tak membukanya. Hardi melongo kaget dan seakan bertanya dengan sorot matanya.


"Saya malu pak, apa harus seperti itu?" ucap Sarah dengan wajah merona.


Hardi hanya tersenyum lalu melanjutkan aktivitasnya. Ia membuka kancing baju sarah satu persatu hingga habis, lalu ia memulai aksinya kembali. Hardi kembali mencium wajah Sarah seluruhnya lalu bibirnya turun menyusuri bagian leher Sarah dengan sangat lembut membuat Sarah mulai mengeluarkan desahannya "aahhhh....", itu membuat Hardi tambah bersemangat menyerang istrinya.


Ciuman Hardi pun kembali turun ke belahan dada Sarah yang masih menggunakan bra nya. Dia terus saja mengecup bagian itu tanpa membukanya, hanya di bagian belahannya dia mencumbunya. Membuat Sarah bertambah belingsatan di buatnya apalagi ciuman Hardi semakin turun ke perutnya hingga berhenti di bagian pusarnya. Sarah merasa geli namun ia malah menikmatinya terbukti dari deru nafasnya yang menjadi semakin cepat dan lenguhan lembut keluar dari bibir merahnya.

__ADS_1


Hardi menghentikan serangannya, di atas tubuh Sarah, ia mencoba membuka baju handuknya dan melemparnya seenaknya yang hanya menyisakan celana dalam yang menutupi bagian bawahnya.


Namun itu malah membuat Sarah mengingat kejadian dimana ia di serang oleh Hardi secara kasar pada malam itu. Bayangan itu kembali memutar di memori otaknya, membuat tubuhnya bereaksi kembali. Tubuh Sarah mulai gemetar, matanya mulai berkaca-kaca dengan ekspresi penuh ketakutan. Sarah merasa kembali ke masa dimana Hardi memaksanya melakukan keinginannya sehingga dia mulai menangis. Wajah Hardi yang menyeringai masih melekat di ingatannya, sebenarnya ia mencoba untuk menahannya tapi kali ini dia tidak bisa. Tubuh dan hatinya bertolak belakang, tubuhnya tak menuruti kata hatinya yang ingin melanjutkan namun tubuhnya malah menolak.


Hardi tak melihat air mata istrinya karena dalam keadaan gelap tapi tak sepenuhnya, bisa di katakan remang-remang. Ia masih saja melanjutkan aksinya lalu ia mulai lagi untuk mencium bibir istrinya namun dia menerima penolakan, Sarah memalingkan wajahnya seakan menghindarkan Hardi. Hardi bingung dengan sikap istrinya, ia pun berhenti menindih tubuh istrinya dan melihat Sarah yang menangis dengan gemetar ketakutan.


Hardi pun menyalakan lampu kamarnya terlihat ia sangat khawatir melihat keadaan Sarah, lalu ia membangunkan tubuh Sarah untuk duduk. Sarah masih saja terisak dan gemetar, lalu Hardi memeluk tubuh istrinya dengan lembut.


"Kau kenapa Sarah? apa traumamu kambuh kembali? Tenanglah Sarah, maafkan saya. Malam ini kita jangan melanjutkannya yah. Maafkan saya" Hardi mengelus punggung istrinya dengan lembut untuk menenangkan istrinya.


"Ma...maafkan sa...saya pak. Saya tidak bisa melakukannya, maafkan saya" Sarah masih terisak namun tubuhnya sudah mulai tenang dalam dekapan Hardi.


"Iya... tak apa-apa. Yaudah kau jangan menangis lagi. Lain kali kita bisa melakukannya jika kau sudah siap, sekarang kau tidur saja yah. Sekali lagi maafkan saya" Hardi melepaskan pelukannya lalu membiarkan Sarah berbaring untuk tidur. Sebelumnya Hardi membantu Sarah mengancingkan kembali kancing baju tidurnya yang tadi dilepasnya lalu menyelimuti tubuh istrinya.


Hardi beranjak ke lemari mengambil baju tidurnya dan memakainya. Lalu ia keluar dari kamar menuju ke dapur yang kebetulan di sana masih ada bi entin yang sedang mencuci piring.


"Eh tuan, sudah larut kenapa ke dapur?" bi Entin sedikit kaget ketika Hardi datang.


"Buatkan saya kopi! Saya tidak bisa tidur. Setelah itu bi entin istirahatlah. Karena sudah tengah malam" pinta Hardi sambil mendudukan diirinya di meja makan.

__ADS_1


Bi Entin memberikan secangkir kopi pada Hardi dan sedikit melihat tampang Hardi yang terlihat kusut, tak mau mencampuri urusan majikannya ia pun beranjak kebelakang selelah tugasnya selesai.


Hardi menyeruput kopinya sedikit demi sedikit, lalu ia memegang kepalanya yang sedikit pusing. Hardi merasa sedikit tersiksa karena hasratnya yang sudah sangat memuncak tak dapat disalurkan, hingga ia terpaksa mencoba menahan dan meredakannya. Memang sih ia tahu akan keadaan mental istrinya namun jika terus-menerus seperti ini ia merasa jengah juga. Dia itu lelaki normal yang memiliki nafsu dan pada siapa lagi ia salurkan selain pada istrinya. Karena dia tidak akan pergi ke wanita lain atau harus jajan di sembarang tempat. Dia masih punya iman dan masih punya kesetiaan. Dia bukan laki-laki ******** yang bisa nempel sana-sini.


Hardi beranjak dari duduknya setelah kopinya habis, ia berjalan menuju kamar tamu. Ia akan tidur di sana, ia tak kembali ke kamarnya karena takut jika hasratnya akan kembali naik saat melihat tubuh Istrinya.


Sementara Sarah masih tidak bisa tidur, ia menyesali dengan apa yang terjadi tadi. 1 jam sudah Hardi keluar dari kamarnya, namun tak kembali juga. Atau mungkin pak Hardi marah padanya? pikir Sarah.


Sarah terus menunggu beberapa jam sampai tanpa sadar ia memejamkan matanya dan tidur terlelap.


Pagi menjelang, waktu menunjukan pukul 7 pagi, Sarah terbangun namun masih tak mendapati suaminya di sisinya. Apa semalaman pak Hardi tak kembali ke kamar ini? pikir Sarah.


Sementara Hardi masih terlelap di kamar tamu Karena memang ia baru bisa tertidur ketika menjelang subuh.


Bersambung.....


Semoga para pembaca menikmatinya 😉


Nantikan Up Author berikutnya.

__ADS_1


Jangan lupa selalu dukung Author dengan Like, vote dan komentar.


Terimakasih 😊


__ADS_2