
Sebelumnya Author meminta maaf pada para pembaca setia "Bunda Untuk Cilla" karena sudah lama tidak update. Kondisi yang tidak memungkinkan karena author baru saja mendapatkan anggota keluarga baru, jadi memulihkan diri terlebih dahulu serta sibuk dengan si kecil. Namun mulai sekarang Author akan mencoba sering update lagi karena badan sudah sehat seperti semula. Untuk semuanya, terimakasih dan selamat membaca kembali 😁
Keesokan harinya ketika sarapan
(Percakapan dalam bahasa Inggris)
" Bella, nanti siang kita pergi ke rumah kakak saya, kamu gak keberatan kan?" Ajak Devan lalu melahap makanannya.
" Ok... aku ikut, aku juga ingin mengenal kakak dan keponakan-keponakan yang sering kamu ceritakan terus menerus." balas Bella bersemangat.
" Yasudah, sekarang kita habiskan dulu sarapan kita, nanti aku ajak kamu jalan-jalan keliling kota sebelum kita ke rumah kakakku." ujar Devan hingga membuat Bella mempercepat sarapannya.
________
Benar saja Devan dan Bella keliling kota untuk melihat-lihat kota, cukup memakan waktu hingga tengah hari dan akhirnya mereka memutuskan untuk langsung berkunjung ke rumah Hardi.
Setelah sampai di rumah Hardi, Devan menggandeng tangan Bella hingga ke depan pintu rumah Hardi. Devan pun masuk setelah bi Lilis membukakan pintunya, bi Lilis lalu memanggil Hardi dan Sarah jika Devan datang.
Hardi pun menghampiri Devan lalu menyambutnya dengan memeluk adiknya itu karena sudah cukup lama tidak bertemu.
" Devan, kebiasaan kalau pulang tak pernah ngasih kabar dulu, bagaimana pendidikanmu disana?" Tanya Hardi lalu melepas pelukannya.
" Maaf mas, biasa kepulangan yang tidak di rencanakan, yaa mumpung liburan akhir semester jadi aku sempatkan pulang dulu. Pendidikan aku lumayan lancar tinggal semester lagi juga beres." balas Devan.
" Wah bagus dong, Oh iya ini siapa? perkenalkan pada kami." ujar Hardi ketika melihat Bella yang berada di samping Devan.
" Oh iya aku sampai lupa, ini Bella teman aku mas." ujar Devan.
" Teman apa teman nih? Bella senang bertemu denganmu." ujar Hardi mengulurkan tangannya.
" Saya Bella, teman dekatnya Devan." ucap Bella dalam bahasa Inggris.
" Wah, kirain mas dia orang lokal yang hanya turunan luar tapi ternyata dia memang orang luar." ujar Hardi yang tak mengira.
" Iya mas, memang dia ada turunan asia dari neneknya namun semua keluarganya sudah berada di Amerika." ujar Devan.
" Kamu gak demen cewek lokal dan bawa cewek luar hehehe." ejek Hardi.
" Tak apalah mas, mau lokal atau luar yang penting hatinya baik." balas Devan.
" Tapi apa agamanya sama dengan kita?" tanya Hardi.
" Soal itu kami masih belum membahasnya mas, kami juga baru jalan bareng belum lama ini. Namun nanti jika ingin ke arah yang lebih serius, aku akan menanyakannya padanya." jelas Devan.
" Tapi kamu tahu kan, jika dalam keyakinan kita harus satu keyakinan." ujar Hardi.
__ADS_1
" Iya mas, aku juga ngerti kok, mas jangan khawatir." balas Devan.
Tak lama kemudian Sarah datang dengan berjalan memang sedikit pincang.
" Eh ada Devan, kapan kamu kembali ke Indonesia?" tanya Sarah yang segera duduk di samping Hardi.
" Oh ... itu aku baru sampai kemarin sore mbak." balas Devan sambil menatap ke arah kaki Sarah.
" Siapa nih yang ada di sampingmu?" tanya Sarah.
" Itu pacarnya Devan lah sayang." jawab Hardi cepat sebelum Devan menjawabnya.
" Maaf nih mbak, kaki mbak kenapa?" tanya Devan ragu.
" Oh ini... " sebelum Sarah melanjutkan Hardi segera menyelanya.
" Ini karena kami mengalami kecelakaan." ujat Hardi.
" Apa? kenapa mas tak mengabariku? kejadiannya kapan dan dimana? Separah apa kecelakaannya?" Devan terlihat terkejut mendengarnya dan mengajukan banyak pertanyaan secara spontan.
" Sudahlah semuanya sudah berlalu, sekarang kami sudah baik-baik saja." ucap Sarah.
" Tapi kaki mbak Sarah bisa sembuh kan! Bisa kembali seperti semula?." tanya Devan khawatir.
" mmmhhh... Entah lah, tapi mbak masih menjalani terapi, semoga saja bisa normal kembali." balas Sarah ragu dan merendahkan nada suaranya.
" Om, kapan pulang?" tanya Cilla.
" Om kemarin pulangnya sayang." balas Devan.
" Om bawain Cilla oleh-oleh gak?" tanya Cilla.
" Oh.. om lupa Cilla." jawab Devan.
" Yaahhh.... om gak sayang sama Cilla." ujar Cilla merajuk.
" Jangan ngambek begitu, nanti om ajak Cilla ke toko mainan, Cilla bebas beli apa saja yang Cilla mau." ujar Devan pada Cilla.
" Hore... beneran yah om, hore... asyik... makasih om..." Cilla sangat bahagia lalu mencium pipi Devan sebelum Cilla turun dari pangkuan omnya itu.
Mereka pun terus berbincang sampai tak terasa waktu sudah menjelang sore hari. Hardi dan Sarah meminta Devan dan Bella untuk makan malam bersama namun Devan menolaknya dengan halus karena mereka ada rencana untuk menonton film di bioskop. Hardi dan Sarah pun memakluminya karena mereka adalah pasangan kekasih yang masih hangat-hangatnya.
Sebelum pergi, Devan baru ingat jika ada dokter hebat yang mungkin bisa membantu menyembuhkan kaki Sarah.
" Oh iya aku baru ingat, ada dokter kenalan aku, mungkin bisa membantu mbak Sarah. Ini mas kartu namanya, coba saja mas siapa tahu bisa menyembuhkan mbak Sarah." ujar Devan sambil menyerahkan selembar kartu nama pada Hardi.
__ADS_1
" Iya, terimakasih van, nanti mas coba konsultasi padanya." balas Hardi dan Devan pun pamit pada kakaknya tersebut.
________
Di kantor Hardi menghubungi Rio
" Rio apa hari ini masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan?" tanya Hardi.
" Tidak pak, semuanya sudah selesai tapi hanya ada pertemuan makan malam dengan klien PT xxx." balas Rio.
" Emang jam berapa janji temunya?" tanya Hardi
" Sekitar jam 8 malam." balas Rio.
" Ok, cukup malam. Aku mau pulang cepat dulu nanti kau jemput aku di rumah untuk janji temunya nanti." ujar Hardi.
" Baik pak".
Lalu Hardi menghubungi dokter yang di rekomendasikan oleh Devan. Setelah menanyakan beberapa hal, Hardi janji temu pada pukul 18.30 wib. Maka dari itu Hardi segera berbenah untuk pulang untuk menjemput Sarah di rumah, sebelumnya Hardi telah menghubungi Sarah untuk bersiap-siap hingga mereka bisa langsung menuju rumah sakit dimana dokter itu praktek.
Di rumah Sarah tengah bersiap-siap dan meminta Lia untuk menjaga anak-anak sebentar, kebetulan bu Rahma ada di rumah Sarah sehingga anak-anak bisa di tinggal dengan tidak rewel. Tak lama terdengar bunyi klakson mobil dan Sarahpun segera keluar yang sebelumnya telah berpamitan pada bu Rahma.
Sarah masuk ke dalam mobil.
" Semoga kali ini benar ada jalan untuk kesembuhan kaki kamu." harap Hardi.
" Iya mas, semoga kaki aku bisa kembali seperti semula." balas Sarah dengan penuh harap juga.
Tak lama mereka pun sampai di rumah sakit dan segera menuju ke ruangan dokter yang sebelumnya telah bertanya pada resepsionis rumah sakit tersebut.
Hardi dan Sarah si persilahkan masuk keruangan tersebut, Hardi mengira jika dokter itu sudah tua namun dugaannya salah, dokter itu masih muda mungkin sekitar sebaya dengan Devan atau Sarah yang jelas pasti lebih muda dari dirinya.
Dokter tersebut mempersilahkan Hardi dan Sarah duduk.
" Saya Hardi, saya mendapat rekomendasi dari adik saya, Devan. Jadi saya ingin konsultasi perihal kondisi kaki istri saya." ucap Hardi.
" Oh iya Dr. Devan, kami berteman cukup dekat, salam kenal dari saya, Damar. Bisa di ceritakan perihal kaki istri anda secara rinci dan prosedur medis apa yang telah atau sudah di lakukan? Silahkan." ucap Dr. Damar.
Hardi pun menceritakan semuanya secara rinci kepada Dr. Damar lalu Dr. Damar meminta Sarah untuk berbaring di kasur pasien. Dr. Damar memeriksa kaki Sarah dengan teliti.
" Baik, ini sudah melakukan berapa kali operasi?" tanya Dr. Damar.
" Hanya satu kali dok, apa ada kemungkinan kaki istri saya bisa normal kembali?" Hardi balik bertanya.
" Saya belum bisa memastikan, bagaimana jika besok dilakukan beberapa pemeriksaan. Agar lebih memastikan kondisi kaki dari bu Sarah." ujar Dr. Damar.
__ADS_1
" Oh iya, baik Dok. Kalau begitu kami permisi dulu." ujar Hardi lalu pamintan kepada Dr. Damar.
Sarah sangat berharap jika pengobatan kali ini dapat menyembuhkan kakinya dan ia dapat berjalan seperti sedia kala. Hardi pun memberi semangat istrinya untuk selalu optimis dengan usaha mereka, semoga besok hasilnya bagus.