
Samar-samar Hardi mendengar seseorang yang sedang menangis, dia mencoba menyadarkan dirinya. Dia mulai membuka matanya perlahan, mencoba bangun dari tidurnya untuk duduk, Hardi meringis memegang kepalanya yang masih sedikit pusing.
Setelah kesadarannya pulih, dia tersentak mendapati dirinya tidak berbusana. Secepat kilat ia meraih selimut di dekatnya lalu menutupi tubuhnya yang polos. Dia mengedarkan pandangannya dan bingung dia berada dimana karena dia tidak kenal dengan tempatnya sekarang. Dia melihat di sprai kasur yang ia duduki terdapat bercak darah yang kontras dengan warna sprai yang putih. Hardi tersentak, ia masih bingung dengan apa yang terjadi dan apa yang dia lakukan di ruangan atau rumah yang sama sekali ia tak mengetahuinya.
Samar Hardi mendengan isakan tangis seorang wanita, lalu Hardi melihat seseorang duduk meringkuk memeluk kakinya dengan suara isak tangis terdengar demakin parau. Hardi pun memusatkan pandangannya lalu menyadari siapa yang duduk di sana.
"Sarah!" Hardi sangat terkejut dengan apa yang di lihatnya, Sarah duduk di Sofa dengan meringkuk memeluk kakinya, wajahnya di benamkan pada lututnya.
Lalu Sarah pun menoleh ke arah Hardi dengan wajah yang sendu penuh air mata, tubuhnya gemetar seakan ketakutan menatap ke arah Hardi yang juga menatapnya dengan penuh keterkejutan.
"Sarah, apa yang terjadi?" tanya Hardi karena tidak mengingat apapun yang terjadi sebenarnya. Sarah hanya menatap sinis dengan air mata terus mengalir di pipinya.
Hardi menyalakan lampu yang ada di dekatnya, terlihat luka lebam di pipi Sarah yang sedikit membengkak dan bibir Sarah yang terlihat ada goresan merah serta di kedua pergelangan tangan Sarah yang membiru karena cengkraman Hardi semalam. Membuat Hardi sekali lagi begitu terkejut dibuatnya, ia mencoba mengingat-ingat kejadian semalam namun tak satupun memori yang dia ingat. Ia tambah tak mengerti dengan apa yang terjadi dan darah yang ada di situ apakah darah dari keperawanan Sarah, pikir Hardi.
"Sarah... Tolong jelaskan kepada saya, sebenarnya apa yang terjadi semalam" pinta Hardi yang masih bingung memintabpenjelasan dari Sarah.
"Pak Hardi.... Telah menodai kesucian saya..." tangis Sarah pun pecah kembali.
__ADS_1
"Maksudmu?" tanya Hardi untuk meyakinkan dirinya.
"Pak Hardi telah menodai saya, KAU TELAH MEMPERKOSA SAYA" ucap Sarah meninggikan suaranya dan menangis kembali.
Hardi yang mendengarnya sebegitu terkejutnya, karena ia benar-benar tidak ingat apa yang terjadi. Yang ia ingat hanya sebatas waktu ia bertemu dengan Larisa untuk membahas berkas-berkasnya. Terakhir waktu ia meminum kopi pesanannya dan ia merasa pusing dan keleyengan, selanjutnya ia tidak mengingat apapun. Hardi marah pada dirinya sendiri, ia memukul-mukul kepalanya menyalahkan dirinya sendiri.
'Apa yang aku perbuat? memperkosa? tak pernah sekalipun dalam benakku, aku melakukan perbuatan jahat seperti itu. Tapi apa yang aku lakukan sekarang, aku merenggut kesucian seorang gadis yang tidak bersalah', batin Hardi merasa menyesali perbuatannya walaupun ia belum mengingatnya dengan pasti.
Hardi menyadari mungkin akibat ia meminum kopi tersebut hingga dia tak sadarkan diri, dia berpikir apa ini ulahnya Larisa. Di tengah kebingungannya Hardi di kejutkan kembali dengan teriakan histeris dari Sarah.
"Pak Hardi, anda harus bertanggung jawab atas apa yang anda lakukan dengan saya. Anda sudah memperkosa saya dengan liar, anda harus mempertanggungjawabkan semuanya, aku tak mau menjadi gadis yang sudah kotor. Aku tak mau menikah dalam keadaan seperti ini, mana ada pria yang mau menikahi wanita yang sudah tak suci lagi." teriak Sarah kepada Hardi dengan tetap menagis.
Hardi beranjak dari tempat tidur, mencoba mencari pakaiannya. Lalu ia mulai memakai semua pakaiannya dan menghampiri Sarah secara perlahan.
"Jangan sentuh aku" histeris Sarah penuh ketakutan ketika Hardi hendak melihatnya.
"Jangan takut Sarah, saya tidak akan menyakitimu, sekali lagi saya minta Maaf. Tapi saya hanya ingin mencoba melihat lukamu, yang sedikit bengkak. Biar saya obati" jelas Hardi melihat Sarah begitu takut kepadanya.
__ADS_1
"Kau punya kotak P3K kan! dimana biar saya obati lukamu!" tanya Hardi.
Hardi mencari-cari kotak P3K ke beberapa laci dan lemari yang ada di sana pada akhirnya menemukannya di dalam laci lemari kecil di dekat tempat tidur.
"Sebentar Sarah, tenang saya tidak akan melakukan hal buruk padamu. Saya hanya ingin mengobati luka-lukamu" Hardi mencoba mengoleskan obat kepada luka-luka Sarah dan Sarah pun tetap terdiam.
"Baiklah, sekarang saya akan pulang ke rumah. Secepatnya saya akan datang kembali bersama orangtua saya untuk melamarmu. Kamu jangan khawatir, saya akan menepati janji saya. Saya akan melamarmu dan menikahimu, itu janji saya padamu." Hardi pun keluar dari kamar Sarah secara perlahan dengan tetap menatap ke arah Sarah yang masih terisak menangis tanpa bergeming sampai Hardi menutup kembali pintu kamarnya.
Hardi pun masuk kedalam mobilnya dan duduk bersandar di kursinya. Ia tak percaya perbuatan jahat itu ia lakukan walau tanpa ia sadari.
"Aakkkhhh.. Apa yang aku lakukan? Aku telah menodai gadis itu? Aku benar-benar tidak ingat. Tapi aku harus menikahinya, aku bukan cowok pecundang yang melarikan diri begitu saja, aku harus segera memberitahu orangtuaku untuk melamarnya. Maafkan aku Sarah, aku berjanji akan mempertanggungjawabkan semuanya" batin Hardi dengan emosi yang campur aduk.
Ia melajukan mobilnya meninggalkan rumah Sarah dengan kemelut yang masih memenuhi pikirannya. Satu kesalahan yang akan merubah jalan hidupnya dan jalan hidup Sarah. Namun ia bukan pria ******** yang akan pergi begitu saja, janjinya akan Hardi tepati walau untuk melakukannya ia perlu berpikir panjang dan meneguhkan hatinya terlebih dahulu.
Bersambung.....
Apakah para pembaca menyukainya? jangan lup tinggalkan jejak setelah membaca.
__ADS_1
terimakasih 😊