Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Orang baru


__ADS_3

Sore hari Sarah dan Cilla baru saja tiba di rumahnya, mereka masuk kedalam rumah bersama sambil bercanda gurau berdua. Cilla tertawa riang dengan candaan yang dilontarkan bundanya. Langkah mereka terhenti tatkala melihat seorang pria duduk di kursi ruang tamu dan tengah asik berbincang dengan bi Lilis seolah mereka tengah kenal cukup lama.


"Nyonya! Yasudah den, bibi permisi dulu" bi Lilis menyadari kehadiran Sarah.


"Wah... ini pasti Cilla yah! ih gemes banget, cantik sekali seperti mamahmu. Sekarang Cilla umur berapa?" ucap Pria itu memeluk Cilla yang melongo.


"Oh iya... udah besar yah. Yang Om tahu Cilla itu dulu masih bayi" Pria itu mengacak rambut di pucuk kepala Cilla.


"Maaf, anda siapa yah?" tanya Sarah karena pria itu seolah sudah mengenal Cilla.


"Oh iya maaf, saya belum memperkenalkan diri pada anda. Saya Devandra, saya adik pemilik rumah ini. Saya baru saja pulang ke Indonesia karena memang selama ini saya tinggal di Inggris untuk kuliah." Devan panggilan akrabnya, mengulurkan tangannya untuk berjabat dan Sarah pun menerimanya.


"Tapi mbak siapa yah? mbak wulan dimana yah? saya tak melihatnya daritadi" tanya Devan karena baru pertamakali melihat Sarah dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling rumah.


Belum sempat Sarah menjawab pertanyaan Devan, Cilla berbicara kepada Sarah terlebih dahulu.


"Bunda, Cilla mau mandi yah sama mbak Lia" ucap Cilla dengan suara khas anak kecil.


"Oh iya sayang, Cilla panggil mbak Lia nya di belakang gih" Sarah tersenyum ke arah Cilla. Cilla pun berlari untuk menemui Lia.


Devan yang mendengarnya tersentak, kenapa Cilla memanggil wanita itu bunda? padahal kan mamahnya itu Wulan bukan dia?, pikir Devan.


"Maaf mbak, tadi Cilla memanggil mbak itu Bunda, sebenarnya mbak siapa?" tanya Devan penasaran.


"Jadi anda ini adiknya pak Hardi, perkenalkan nama saya Sarah, saya ini ibu sambungnya Cilla, istrinya kakak anda" balas Sarah ramah.


"Apa????...... maaf, saya terlalu terkejut. Soalnya yang saya tahu jika istri mas Hardi itu yah mbak Wulan. Jadi saya tidak mengetahui jika mas Hardi telah berpisah dengan mbak Wulan dan sekarang menikah dengan mbak Sarah. Salam kenal dari saya dan bicara santai saja tak usah formal seperti itu pada saya." ucap Devan tersenyum ramah kepada Sarah.

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar suara Hardi datang terus langsung menghampiri adiknya tersebut.


"Kamu tuh yah, datang gak bilang-bilang. Untung tadi bi Lilis nelpon ngasih tau. Dasar bocah nakal" Hardi menjepit leher Devan dan menjitak gemas kepala adiknya berkali-kali.


"Aaakkkhhh... aaaduuuhhhh dduuuudduuhhh, ampun mas, ampun.. Lepasin dong, ntar leherku patah nih... aww aawww" Devan mencoba melepaskan dirinya dari Hardi namun tenaga Hardi lebih kuat daripada Devan.


"Bocah... Selama ini sulit di hubungi, kirain udah mati. Tahunya mendadak nongol di sini, siapa yang gak jengkel coba!" ucap Hardi lalu melepaskan tangannya di leher Devan.


"Aku tuh sibuk ngurus pendidikan ku mas, apalagi aku juga harus dapat lesensi kedokteran, jadi tak ada waktu buat main-main" ucap Devan yang terus memegang tengkuknya yang terasa pegal karena ulah Hardi.


"Wah, adik mas yang dulu nakalnya gak ketulungan sekarang sudah menjadi dokter, hebat! mas salut sama kamu" ucap Hardi menepuk pundak Devan dengan bangga.


"Mas juga, ganti istri gak bilang-bilang aku. Aku aja belum satupun, mas udah ganti aja. Bisa ngasih tau apa rahasianya biar cepat dapat cewek cantik." ucap Devan cengengesan.


"Ganti ganti, emangnya istri itu barang. Salah kamu nya di buhungi susah banget. Dan jangan terlalu umbar rayuan gombal bukannya pada mendekat nanti ceweknya pada kabur duluan." Hardi menjewer telinga Devan karena gemas dan memberikan sedikit saran pada adiknya.


"Aaww .. mas ini namanya penganiayaan tahu, aaww lepasin dong, senengnya nyiksa adik sendiri" Devan kesakitan dan telinganya memerah karena jeweran kakaknya.


"Yaudah, kamu nginap saja disini beberapa hari. Aku kangen juga sama bocah gemblung ini" ucap Hardi senang banget menggoda adiknya.


"Siap bos, mas bisa banget cari istri selalu dapat yang cantik. Apa aku coba saran itu kali yah! Siapa tahu aku beneran bakalan dapat istri seperti yang aku mau." ucap Devan tersenyum penuh arti.


"Betul!.. Tapi masih ada sih rahasia yang lainnya tapi gak jadi deh, kamu cari cara sendiri saja" ucap Hardi lagi-lagi memepermainkan Adiknya. Devan pura-pura cemberut membuat Hardi malah tertawa renyah melihat tingkah adiknya yang udah gede kayak gitu masih kekanak-kanakan.


Sarah yang melihat mereka pun jadi ikut senang, kedekatan kakak beradik yang membuat iri dirinya karena memang Sarah itu terlahir sebagai anak tunggal, ibunya tak menikah lagi setelah ayahnya pergi dengan wanita lain.


"Yasudah, kamu kekamar kamu saja, untuk istirahat pasti kamu capek. Kamar yang biasanya dulu kamu tempati, masih tahu kan!" ucap Hardi.

__ADS_1


"Iya mas, aku pergi kekamar dulu. Mbak Sarah, harus kuat yah dengan sifat mas Hardi, tahu sendiri kan mas Hardi itu manusia es, semangat" ucap Devan sambil beranjak pergi.


Sarah mengangguk dan tersenyum mengerti dengan apa yang di ucapkan Devan itu memang benar adanya.


"Ih dasar bocah gemblung" gerutu Hardi menatap Devan yang malah cengengesan.


Hardi dan Sarah pun beranjak menuju kamar mereka, Sarah duduk di sofa dan Hardi masih berdiri membuka jas dan dasinya.


"Pak Hardi tak pernah cerita jika pak Hardi punya seorang adik!" Sarah penasaran, karena memang Sarah kira Hardi itu anak tunggal.


"Iya, saya juga malah lupa bercerita" balas Hardi tersenyum.


"Tapi saya suka melihat pak Hardi seperti tadi, sangat akrab dengan Devan, jarang juga kan kakak adik apalagi laki-laki yang sangat dekat seperti itu." Sarah tersenyum senang.


"Benarkah! Yaudah saya akan coba kedepannya lebih lunak seperti itu sama kamu." Hardi tersenyum manis kepada istrinya.


Sarah senang karena belakang ini Hardi sudah sering tersenyum kepadanya, tak sedingin dan sekaku dulu. Hingga dia juga sudah merasa sangat nyaman berada di dekatnya.


Bongkahan es dalam hati Hardi mulai semakin mencair karena perhatian yang selalu Sarah tunjukan padanya, terutama pada Cilla putrinya dari pernikahannya terdahulu. Yang telah Sarah anggap seperti putri kandungnya sendiri.


Karena selama ini banyak sekali orang yang menganggap jika ibu tiri itu akan jahat pada anak tirinya. Itu memang sebagian benar dan sebagian lagi salah, semua tergantung siapa orang yang menjalaninya.


Sarah adalah orang baik, Hardi sekarang merasa bersyukur dengan semua ini. Hardi memang menyesali dan membenci jalannya namun jika sudah takdir tak akan bisa dihindari, sekarang tinggal menjalaninya dengan sepenuh hati.


Bersambung.........


Selalu dukung Author dengan Like Vote dan komen.

__ADS_1


Terimakasih 😊


__ADS_2