
Pagi hari, Hardi tidur di sofa ruang rawat Sarah, lalu terdengar suara dering ponselnya hingga membuatnya terbangun. Hardi membuka matanya lalu merogoh ponsel di saku celananya. Tertera nama Rio, sekertarisnya di kantor, Hardi segera mengangkat telponnya tersebut.
Hardi : " Iya ada apa Rio? "
Rio : " Pak, aku turut prihatin dengan kejadian yang menimpa pak Hardi dan bu Sarah, saya benar-benar baru mengetahuinya dari pak Haman tadi. Bagaimana dengan keadaan bapak dan bu sarah saat ini?"
Hardi : " Iya, kami sekarang baik-baik saja, aku sedang di rumah sakit menjaga Sarah yang terluka cukup parah."
Rio : " Ya tuhan, yasudah pak, nanti saya akan memberitahukan ini pada Sita dan akan menjenguk pak Hardi dan bu Sarah."
Telpon pun terputus, Hardi menghela nafas menatap Sarah yang masih tertidur lelap.
' Pasti tidurnya semalam tidak terlalu nyenyak, sekarang dia tidur sudah seperti bayi, andaikan rasa sakitnya bisa aku ganti, aku rela menggantikannya.' ujar Hardi dalam batinnya.
Tak lama bu Rahma masuk dengan membawa rantang yang berisikan makanan untuk Hardi sarapan pagi ini. Hardi menerimanya lalu meletakkannya di atas meja, Hardi membukanya satu per satu terlihatlah berbagai makanan yang tampak lezat namun Hardi tak begitu antusias, dia tak begitu nafsu makan tapi ia menghargai pemberian ibu mertuanya tersebut.
" Makanlah nak, dari semalam kamu tak makan?" ujar bu Rahma yang hanya melihat Hardi menatap makanan di depannya.
" Terimakasih mah, tapi kenapa mamah membawa makanan sebanyak ini? belum tentu aku bisa memakannya." balas Hardi yang mencoba mengambil salah satu makanan dengan sendok yang di pegangnya.
" Sengaja mamah bawa berbagai jenis makanan, agar kamu makan banyak." ujar Bu Rahma.
__ADS_1
" Iya saya makan, mamah juga makan mumpung Sarah juga masih tidur." pinta Hardi.
Akhirnya mereka pun makan berdua, walau makanan yang di hadapannya terlihat enak namun mereka memakannya hanya sedikit seperti kurang nafsu makan. Sehingga makanan pun tersisa banyak dan kembali di bereskan dengan rantangnya.
Tiba-tiba terdengar suara rintihan Sarah sehingga Hardi dan bu Rahma segera menghampiri Sarah, terlihat Sarah meringis seperti menahan sakit.
" Kenapa Sayang?" tanya Hardi khawatir.
" Kakiku mas, kakiku yang sebelah kanan nyeri banget." ujar Sarah masih meringis menahan sakit.
Hardi yang panik segera menghubungi perawat untuk segera datang ke ruangan Sarah, memeriksa keadaan Sarah yang terlihat sangat kesakitan. Karingat terlihat di dahi Sarah sepertinya rasa sakitnya cukup menyiksanya, Hardi hanya bisa menggenggap tangan istrinya di sampingnya dan menyajaknya berbicara mencoba mengalihkan rasa sakitnya.
Tak lama perawat datang dengan seorang dokter yang memang menangani Sarah saat operasi, dokter meminta perawat untuk menyuntikkan obat anti nyeri sementara dokter memeriksa kaki Sarah yang masih terbalut perban. Setelah itu dokter meminta perawat untuk membuka perban di kedua kaki Sarah, setelah terbuka dokter memeriksa keduanya dan mengatakan jika kaki sebelah kiri Sarah lukanya sudah kering dan tak perlu khawatir sedangkan kaki sebelah kanan yang di operasinya cukup parah memang harus di tangani secara intensif. Dokter meminta Sarah untuk menggerakkan jari kaki sebelah kiri dan Sarah melakukannya dengan baik, jari-jari kakinya dapat bergerak secara normal sebaliknya ketika dokter meminta Sarah menggerakkan kaki kanannya, Sarah merasa kesulitan bahkan dia merasakan sakit yang teramat sangat. Dokter berkata, jika Sarah masih harus mendapatkan perawatan lebih lama untuk sebelah kakinya. Perawat membalut kembali kaki kanan Sarah dengan perban selutuhnya sedangkan kaki kiri Sarah hanya di balut bagian yang terlukanya saja. Dokter dan perawat pun segera keluar setelah menyuntikkan beberapa obat pada Sarah.
" Mas, apakah aku akan cacat?" tanya Sarah mengeluarkan air matanya.
" Tidak sayang, kamu akan kembali berjalan seperti semula, kamu tenang saja." balas Hardi tak melepaskan genggaman tangannya.
" Tapi mas, aku tak bisa menggerakkan sebelah kakiku, rasanya sangat menyakitkan." ujar Sarah tak henti air matanya mengalir.
" Kamu jangan khawatir, mas akan bayar dokter-dokter untuk menanganimu dan memberimu berbagai macam pengobatan agar kamu bisa kembali seperti semula, jadi kamu jangan menangis seperti ini." Hardi mengelus kepala Sarah untuk menenangkan.
__ADS_1
Sarah hanya terisak meratapi keadaannya saat ini, ia membayangkan hari-hari dimana jika ia benar-benar tidak bisa berjalan seperti semula membuat hatinya semakin teriris. Bu Rahma pun ikut meneteskan air matanya ketika melihat putrinya yang menderita seperti itu. Bu Rahma bisa merasakan beban dan kemelut yang ada di pikiran Sarah, bu Rahma menyentuh kepala putrinya dan tersenyum sendu padanya.
Seminggu berlalu, Sarah sudah merasa sangat baikan terutama kaki kirinya sudah bisa di gerakkan dengan sempurna. Hari ini Sarah meminta Hardi untuk membawanya keluar, ketaman rumah sakit untuk menghirup udara segar karena selama ini hanya terdiam di kamar yang terasa pengap. Hardi meminta ijin kepada perawat dan akhirnya mereka bisa keluar, Sarah duduk di kursi roda sedangkan Hardi mendorongnya dari belakang secara perlahan.
Lalu Hardi duduk di kursi taman dan berhadapan dengan Sarah.
" Kabar anak-anak bagaimana mas?" tanya Sarah.
" Anak-anak baik-baik saja, mereka anak-anak yang penurut jadi kamu tak usah khawatir, mamah dan papah menjaga mereka dengan baik." balas Hardi.
" Syukurlah, aku sangat merindukan mereka. Apakah bisa aku di rawat di rumah saja mas? Soalnya aku sudah mulai bosan di rumah sakiy terus." ujar Sarah yang sangat berharap bisa pulang.
" Baiklah kalau kamu ingin segera pulang, nanti mas coba bicara pada dokter semoga kamu bisa di rawat di rumah saja." balas Hardi.
Cukup lama mereka di sana hingga matahati mulai terasa menyengat tubuh, Hardi kembali membawa Sarah masuk ke kamar inapnya, Hardi mengangkat tubuh Sarah dan meletakkan kembali ke atas tempat tidur.
" Kau istirahat saja, nanti mas mau ke ruangan dokter dulu untuk membicarakan kepulanganmu." ujar Hardi mengecup kening istrinya.
Hardi ke ruangan dokter dan membicarakan apa yang Sarah inginkan, dokter mengijinkannya dengan syarat harus sering kontrol ke rumah sakit. Hardi khawatir jika Sarah harus bolak balik rumah sakit, Hardi meminta apakah dokter bersedia datang untuk pemeriksaan dan terapi rutin Sarah, Hardi berani membayar seberapapun yang penting Sarah nyaman dan dapat sembuh dengan cepat. Setelah berpikir sejenak akhirnya dokterpun setuju akan berkunjung ke rumah Hardi untuk pemeriksaan rutin Sarah.
Hardi kembali kekamar Sarah dan memberitahukan jika Sarah sudah boleh pulang dan mendapatkan perawatan di rumah saja. Sarah terlihat sangat bahagia, ia tidak Sabar untuk segera pulang karena sangat rindu kepada anak-anaknya dan rindu akan suasana rumah yang nyaman. Sarah memeluk Hardi karena bahagia, Sarah boleh pulang esok hari, masih harus menginap semalam lagi guna pemeriksaan lebih lanjut.
__ADS_1
Walau begitu Sarah merasa sangat senang, walau tubuhnya masih berada di rumah sakit namun hati dan pikirannya sudah tertuju di rumah. Rasa rindu akan anak-anaknya sudah sangat memuncak, Sarah sangat ingin memeluk dan mencium anak-anaknya yang sudah hampir 2 minggu tak bertemu.
Bersambung.......