
Sarah melangkahkan kakinya walau dengan menggunakan tongkat penyangga, memang terlihat sangat kesusahan apalagi Arka dan Arsa selalu ingin berada di dekatnya. Sarah selalu meneteskan air mata karena ulah kedua putranya, karena dia merasa sedih tak bisa menggendong mereka dan bermain dengan mereka seperti dulu. Apalagi saat-saat sekarang yang dimana mereka sangat senang berlarian dan sangat aktif bergerak kesana kemari. Sarah tidak bisa mengimbangi keaktifan mereka, Sarah hanya bisa menyaksikan di atas kursi ketika ketiga buah hatinya sedang berlarian.
Hardi yang memang sudah mulai bekerja lagi tak bisa terus berada di sisi Sarah namun Sarah memakluminya karena memang itu sudah tugas suaminya untuk mencari nafkah. Ketika Sarah sedang memandang Arka, Arsa dan Cilla berlarian tiba-tiba Arka terjatuh sampai kepalanya terpentok ke sisi meja, Sarah yang terkejut lalu berdiri tak sadar dia tak menggunakan tongkat, dengan terpincang-pincang Sarah segera menghampiri Arka yang menangis cukup kencang lalu terduduk dan meraih Arka lalu memeluknya untuk menenangkannya. Lia yang berada di dekatnya pun ikut kaget bukan hanya karena Arka yang jatuh tapi sekaligus kaget karena nyonya nya bisa berdiri bahkan berjalan tidak menggunakan tongkatnya.
" Udah sayang, bunda di sini, kamu gak apa jadi berhentilah menangis." ujar Sarah mengelus-elus dan meniup-niup kening Arka yang terlihat memerah.
Arka yang tadinya menangis menjerit akhirnya berhenti setelah Sarah terus memeluk dan menenangkannya. Arsa tiba-tiba ikut memeluk Sarah dan Cilla pun mengikuti kedua adiknya sehingga sekarang Sarah di peluk oleh ketiga buah hatinya. Sarah tersenyum bahagia di peluk seperti itu ia masih tak menyadari jika ia tengah bisa berjalan tanpa tongkat.
" Yasudah, kalian main lagi gih, hati-hati jangan sampai terjatuh lagi yah." ujar Sarah.
Sarah mencoba berdiri namun ia cukup kesulitan, ia melihat tongkatnya berada jauh dari jangkauannya. Sarah baru menyadari jika tadi dirinya berjalan menghampiri Arka tanpa tongkat karena saking paniknya, sekarang Sarah meminta bantuan Lia untuk memapahnya sampai ke sofa di mana tongkat Sarah berada.
_________
Devan sedang menyimak penjelasan dari profesor yang berada di depannya, ia sangat serius mempelajari apa yang di jelaskan di depan. Tiba-tiba terasa getaran ponselnya di sakunya, namun Devan tak langsung membukanya, ia tetap fokus dengan pelajarannya. Setelah jam mata kuliahnya selesai Devan pun mengambil ponselnya dan membaca isi pesan yang di terimanya.
' Selesai jam mata kuliah bisakah kita bertemu di cafe dekat kampus? by Bella'
Tanpa membalas, Devan segera datang ke cafe yang dimaksud, tanpa Devan sadari ia sungguh tergesa-gesa ingin segera sampai karena ia merasa tak ingin membebani orang dengan menunggunya lebih lama. Tak butuh waktu lama akhirnya sampailah Devan di cafe X dimana Bella tengah menunggu dengan minuman dingin di depannya.
" Maaf, kamu sudah menunggu lama?" ujar Devan lalu duduk di hadapan Bella dengan nafas ngos-ngosan.
" Tidak begitu lama kok, kamu tenang aja. Sepertinya kamu berlari kesini yah! atur dulu nafasmu baru bicara." balas Bella.
" Eh... itu... Memangnya kamu ada perlu apa sampai menyuruhku datang ke cafe ini?" tanya Devan mengalihkan pembicaraan.
" Itu... tak apa-apa, aku hanya ingin makan siang bersama. Yah... walau ini memang sudah lewat waktu makan siang sih, tapi aku kan belum makan, begitu juga kamu kan! sekalian saja kita makan bersama." ujar Bella tersenyum malu.
" Iya sih, sekarang kita pesan saja makanannya sebentar lagi aku ada kelas terakhir." ujar Devan.
" Ok." balas Bella.
__ADS_1
Merekapun memesan beberapa makanan untuk mengisi perut mereka yang keroncongan, sesekali mereka mengobrol untuk memecahkan kesunyian, sekarang Devan dan Bella sudah terlihat sangat akrab terlihat seringnya mereka tersenyum bahkan tertawa di tengah-tengah obrolan mereka.
" Maaf aku tak bisa mengantarmu pulang, aku harus segera masuk kelas." ujar Devan.
" Ok tak apa, tapi lain kali kita makan malam yah." ajak Bella tanpa basa-basi.
Devan hanya menjawab dengan senyuman lalu pergi meninggalkan Bella yang terus menatapnya sambil melambaikan tangannya.
______
2 bulan pun berlalu, Sarah selalu mengikuti terapi agar ia bisa berjalan dan hasilnya Sarah sudah bisa berjalan tanpa tongkat walaupun sebelah kakinya masih sedikit pincang. Tapi Sarah sudah cukup bahagia dia bisa kembali menggendong kedua putranya dan dapat kembali bermain dengan mereka.
Hardi yang melihat Sarah sudah kembali ceria, ia juga ikut bahagia karena Sarah sosok orang yang sangat kuat sehingga bisa melewati kesulitan beberapa bulan ini.
Hari ini adalah hari libur dimana Hardi berada di rumah, Hardi melihat Sarah sedang bermain dengan anak-anaknya, senyuman Sarah dan buah hatinya itu adalah hal yang paling berharga dalam hidupnya. Ia bersyukur telah di berikan kehidupan yang sempurna baik itu dalam karir ataupun dalam keluarga, walaupun terkadang cobaan menerjang namun bisa melewatinya dengan lapang dada.
Keesokan harinya Hardi sedang sibuk dengan pekerjaannya, ia mendengar dering telponnya lalu Hardi meletakkan pulpen yang di pegangnya dan meraih ponsel yang berada di sampingnya. Hardi tersenyum ketika melihat nama yang tertera di ponselnya yaitu istri tercintanya, Hardi tersenyum saat menjawab panggilan tersebut.
Sarah : " Siang ini kita makan siang bareng yuk mas, aku sudah menyiapkan semuanya. Bisa kan?"
Hardi : "Bisa dong sayang, kamu datang aja ke kantor."
Sarah : " Iya mas, sebentar lagi aku sama anak-anak ke sana, mereka kangen sama ayahnya. Mumpung Cilla juga sudah pulang jadi kita berlima bisa kumpul."
Hardi : " Ok sayang, mas tunggu kedatangan kalian."
Hardi senang keluarga kecilnya akan ke kantor karena memang sudah beberapa bulan ini Sarah tak pernah datang ke sana di karena kondisinya yang memang tidak memungkinkan.
________
Setengah jam perjalanan dari rumah ke kantor, Arka dan Arsa sangat senang akan bertemu dengan ayahnya. Cilla yang sepanjang berjalanan terus bersemangat menyanyikan lagu-lagu yang ia sukai sebagai tanda hatinya yang bahagia.
__ADS_1
Sampailah mereka di kantor Hardi, disana sudah ada Rio yang menjemput karena memang Sarah tidak membawa Lia untuk membantunya. Rio yang memang sudah akrab dengan Arka dan Arsa menuntun keduanya untuk menuju lift sedangkan Cilla bergandengan tangan dengan Cilla. Semua mata yang berada di sana tertuju pada Sarah, di mana Sarah berjalan masih dengan sedikit pincang. Ada yang simpati ada juga yang malah nyinyir mencibir dengan berbisik-bisik satu sama lain dengan rekan di sebelahnya.
" Tuh lihat bu Sarah, jalannya pincang seperti itu, kenapa pak Hardi masih mau yah sama bu Sarah!"
" Iya yah, kalau aku di posisi pak Hardi mending aku cari istri baru yang normal, lagian pak Hardi kan tampan dan kaya pasti banyak wanita yang mau jadi istrinya."
" Huhsss... kalian ini jangan asal ngomong, nanti kalau di dengan bos, tahu rasa kalian." ujar salah satu karyawan.
Sarah yang sedang berjalan sedikit samar mendengar perkataan-perkataan nyinyir tersebut namun dia pura-pura tak mendengar itu dan berjalan seperti biasa membalas sapaan para karyawan yang menyapanya.
Tak berapa lama sampai mereka di ruangan Hardi, Sarah meletakkan barang bawaannya di bantu oleh Rio. Sarah duduk di sofa lalu menata makanan yang di bawanya di atas meja. Hardi menyambutnya dengan penuh rasa senang melihat keluarganya mengunjunginya dan melihat makanan yang terhidang sangat menggiurkan menggiurkan.
Lalu Hardi menatap ke arah istrinya dan terlihat raut wajah yang di rasa tidak bersemangat.
" Kamu kenapa sayang?" tanya Hardi.
" Apa? aku tak apa-apa mas." Sarah mencoba tersenyum kearah suaminya.
" Mas kira ada sesuatu yang kamu pikirkan." ucap Hardi.
" Tak ada apa-apa mas, ayo kita makan pasti anak-anak juga sudah makan." ajak Sarah mengalihkan pembicaraan.
Sebenarnya Sarah memikirkan perkataan orang-orang yang nyinyir tadi, Sarah jadi berpikiran negatif dan jadi tak percaya diri dengan keadaannya saat ini.
Hardi mengajak Rio untuk makan siang bersama namun Rio menolaknya dengan halus karena memang siang ini Rio ada janji dengan istrinya untuk makan siang di luar. Hardi dan Sarah pun bisa memakluminya karena memang Sita dalam keadaan Hamil pasti ingin selalu dekat dengan suaminya. Rio pun permisi kepada Hardi dan Sarah, serta pada anak-anak bosnya tersebut.
Bersambung.....
Selalu dukung Author ...
Terimakasih 😊
__ADS_1