
Pada berita pagi ini di tayangkan bahwa Direktur Eksekutif Sun Group di tangkap oleh kepolisian karena melakukan tindak penculikan dan penganiayaan l pada istri CEO perusahaan xxxx, belum diketahui motif yang sebenarnya karena masih dalam proses penyelidikan kepolisian.
Hardi mematikan Tv di ruangannya, lalu ia memanggil Rio untuk menyiapkan semua berkas yang menyangkut dengan Sun Group. Ia ingin membatalkan kontrak kerja sama dengan perusahaan itu, bukan karena masalah penyekapan saja. Tapi karena ulah Malvin itu, perusahaan Sun Group di ambang kehancuran. Tak mau mengambil resiko yang terlalu besar akhirnya Hardi memutuskan untuk mengakhiri kontrak tersebut.
Rio masuk membawa berkas-berkas yang di butuhkan oleh Hardi dan surat pemutusan kontrak dengan perusahaan itu. Hardi menandatanganinya dan menyuruh Rio untuk mengirimkan semuanya ke Sun Group.
Hardi menyenderkan punggungnya di sandaran kursi, ia menghela nafas panjang dan membuangnya keras. Hush.... Banyak sekali masalah yang ia alami, baik di perusahaan ataupun menyangkut keluarganya. Ia berharap kedepannya tidak akan ada lagi masalah yang akan ia hadapi kembali, itu hanya harapan yang Hardi inginkan.
________
Sarah masih berbaring di tempat tidur, bukan karena masih sakit tapi ia hanya malas inginenikmati kebebasannya setelah kejadian yang menimpanya. Lebam di wajahnya pun telah memudar tak terlihat ada bekasnya sama sekali.
Pernah ia kepikiran kembali saat-saat dimana ia di sekap. Ia sangat menderita, takut dan khawatir, namun itu semua ia lupakan begitu saja agar tak menjafi beban pikirannya kembali.
Sekarang Sarah ingin bermalas-malasan menikmati waktunya sendirian, lagipula Cilla sudah berangkat bersama Lia. Ia pun tidur kembali sampai terlelap.
__________
Esok harinya, Sarah mengajak Cilla untuk bertemu dengan Sita, walau Sarah sudah tak lagi mengajar dan Cilla sudah masuk SD namun pertemanan dengan Sita masih terjalin baik.
Sarah dan Sita janji temu di sebuah tempat makan yang ada di sebuah Mall milik perusahaan MK Company. Sarah langsung ke sana setelah terlebih dahulu menjemput Cilla di sekolahnya.
Terlihat Sita sudah duduk di sana memanggil Sarah yang mencari keberadaannya. Sarah pun menghampirinya lalu duduk di hadapannya dan membantu Cilla untuk duduk juga.
"Hai! Cilla apa kabar?" Sita bertanya ramah
"Baik bu Sita" jawabnya polos.
"Sekarang Cilla sudah besar yah, ibu jadi kangen pas Cilla sekolah TK dulu" ucap Sita tersenyum dan Cilla pun ikut tersenyum.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Sarah karena Sita asik dengan Cilla.
"Aku pesan sama dengan yang kamu pesan saja." Jawab Sita.
__ADS_1
"Oh iya, bagaimana hubunganmu dengan CEO tampan itu!" tanya Sita.
"Baik, berjalan baik" Sarah senyum tersipu.
"Kalau di lihat dari auranya sih kelihatan kamu bahagia yah. Sekarang pasti dia sudah berubah" Sita merasa senang.
"Betul sekali, sekarang mas Hardi sudah berubah. Aku bahagia menikah dengannya" lagi-lagi Sarah merona.
"Cie...cie.... Aku ikut senang kalau kamu bahagia" senyum tulus Sita.
Kebetulan juga Hardi berada di tempat yang sana, Hardi sedang memantau outlet-outlet Hasa Beauty yang ada di Mall itu. Ia berkeliling ingin memantaunya langsung setelah mendirikannya setahun yang lalu.
Ketika bersiap untuk makan siang bersama Rio, ia Kebetulan melihat istri dan anaknya berada di tempat makan yang ada di sana. Hardi menghampiri anak dan istrinya itu yang tengah asik mengobrol, di ikuti oleh Rio.
"Hai Cilla. Sayang kau ada disini?" Hardi mengecup kening istrinya tanpa malu dan mengecup pipi tembem putrinya.
"Cuma sedang makan aja mas, sekalian ketemu teman. Oh... iya, mas masih kenal kan dengan Sita. Ini guru TK nya Cilla, rekan aku ngajar dulu" Sarah memperkenalkan Sita.
"Iya, Saya Hardi" mengulurkan tangan ke Sita dan dibalas kembali.
Sarah memperhatikan tingkah mereka berdua, ia mengerti lalu dengan segera ia menanyakan ponsel Rio.
"Rio, boleh pinjam ponselmu sebentar?" tanya Sarah, bingung Rio pun memberikan ponselnya.
Sarah mengetikan sesuatu di ponsel milik Rio lalu memberikannya kembali kepada Rio. Rio yang melihatnya tertegun lalu menatap Sarah yang tersenyum penuh arti. Hardi yang melihatnya merasa bingung dengan sikap Sarah dan Rio, seperti saling memberi isyarat.
Makananpun datang, mereka makan siang bersama. Hardi, Sarah dan Cilla berbincang layaknya keluarga kecil yang bahagia, sementara Rio dan Sita yang duduk bersebelahan hanya saling lirik dengan senyum canggung tatkala mata mereka tak sengaja saling bertemu. Rio memperhatikan Sita sementara Sita pura-pura fokus dengab makanannya padahal dalam hatinya ia sangat berdebar-debar karena posisi duduk mereka yang berdekatan.
Ketika semuanya selesai, Hardi hendak kembali ke kantor bersama Rio namun Sarah melarangnya, menyuruh suaminya ke kantor bersama dia naik mobil yang dikendarai pak Tono. Hardi bingung dengan permintaan Sarah namun menuruti perkataan istrinya.
"Rio, bisa tolong antar Sita ke rumahnya" pinta Sarah mengedipkan matanya.
Sita hanya membulatkan matanya kaget lalu memberi isyarat pada Sarah dengan bibirnya.
__ADS_1
Sarah hanya tersenyum " Bisa kan Rio" lanjutnya.
Rio bingung menatap Hardi dan Hardi hanya mengangguk agar menuruti kata istrinya.
"Baik bu, akan saya antar" jawab Rio setelah mendapat persetujuan dari Hardi.
Rio pun pergi bersama Sita yang terlihat sangat canggung satu sama lain. Hardi dan Sarah menatap mereka dari belakang.
Hardi menatap Sarah lalu bertanya "Ada apa ini sebenarnya?"
Sarah tersenyum, "Sepertinya mereka itu saling suka, mas. Aku cuma memberi jalan saja, yah kedepannya terserah mereka"
"Terus, tadi kau pinjam ponsel Rio, untuk apa?" Hardi penasaran.
"Oh... itu. Aku mengetik nomor Sita di sana. Yah mungkin Rio memerlukannya untuk menghubungi Sita" jelas Sarah tersenyum ke arah suaminya.
sekarang Hardi pun mengerti dan terjawab sudah akan kebingungannya tadi.
______
Di dalam mobil, Rio dan Sita terlihat Canggung, tak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka untuk beberapa saat hanya keheningan yang tersisa. Merasa tidak nyaman dengan kondisi yang sunyi dan semakin cangggung lalu Rio berinisiatif membuka pembicaraan.
"Maaf, sepertinya kita pernah bertemu yah!" ingat Rio namun tak tahu pasti.
"Iya, kita pernah bertemu saat anda menjemput Sarah di TK" balas Sita canggung.
"Oh iya... benar. Saya baru ingat. Ngomong-ngomong, anda sudah punya pacar?" Rio too the point, sebenarnya ia juga memberanikan diri untuk bertanya demikian.
Mendengar pertanyaan tersebut membuat Sita terkejut, lalu ia menjawab gugup " Be..belum. Saya belum punya pacar".
Mendengar jawaban Sita, hati Rio merasa senang seakan melonjak namun dia tetap memasang wajah biasa saja. Setelah obrolan yang singkat itu mereka kembali terdiam, namun sesekali Rio mencoba menahan senyum di bibirnya dan mencuri-curi pandang ke arah Sita tanpa Sita sadari.
**Bersambung........
__ADS_1
Bagaimana kelanjutannya??
nantikan up Author berikutnya 😁**