Bunda Untuk Cilla

Bunda Untuk Cilla
Rasa Rindu


__ADS_3

Setelah perdebatan dan berbaikan mereka pun tertidur lelap. Hardi memang sangat lelah karena dari ia pulang langsung mencari Sarah dan Sarah pun merasa lelah karena memang ia kurang tidur.


Tengah malam Sarah terbangun, perutnya terasa keroncong, ia pun beranjak dari tempat tidur untuk menuju ke dapur. Hardi merasakan ada gerakan sehingga membuatnya membuka mata juga. Terlihat olehnya ketika Sarah melangkah ke luar kamarnya.


"Kau akan kemana tengah malam seperti ini?" tanya Hardi masih mengerjapkan matanya.


"Ah.. Mas bangun, saya lapar. Saya mau mencari makanan di dapur." balas Sarah sambil tersenyum.


"Saya ikut, saya juga lapar soalnya semenjak tadi belum sempat makan apa-apa" Hardi pun ikut turun bersama istrinya.


Sarah membuka kulkas, disana hanya terdapat beberapa buah telur dan sayuran saja. Lalu membuka lemari dapur dan ada beberapa Mie instan.


"Mungkin mamah belum belanja bulanan, apa aku buat mie revus saja yah" pikir Sarah.


"Mas, bagaimana kalau kita buat mie rebus! tak apa kan!" ujar Sarah.


"Buat apa saja, Mas pasti memakannya selama kau yang membuatnya" balas Hardi tersenyum.


Sebenarnya Hardi sangat jarang bahkan bisa dibilang hanya setahun sekali mungkin dia memakan Mie rebus, karena menurutnya Mie rebus itu tidak begitu sehat untuk tubuh.


Namun ia tak mengatakan itu pada Sarah agar tak menyinggung perasaannya. Tak masalah jika sekali-kali ia mencobanya terutama jika istrinya yang membuat.


Sarah merebus air dan memasukan 2 bungkus Mie instan, ia menambahkan telur, sawi dan daun bawang untuk menambah citarasa. Tak lupa di tambah potongan cabe rawit untuk menambah cita rasa pedas kesukaan Sarah. Sebenarnya Hardi ingin sedikit protes karena Sarah memasukan cabe rawitnya begitu banyak namun ia tak bisa berucap dan terlanjut juga sudah Sarah masukan. Ia sebenarnya belum memberitahu Sarah kalau ia tak begitu menyukai makanan pedas, selama ini Sarah pun tak pernah memasak makanan pedas juga.


Tak butuh waktu lama, Mie rebusan buatan Sarah pun jadi. Aromanya sungguh menggugah selera makan, Sarah menyiapkan 2 mangkuk untuk dirinya dan suaminya serta membuat 2 gelas teh manis untuk minumnya.


Mereka pun makan dengan lahap, walaupun hanya Mie rebus namun karena perut lapar semuanya terasa lebih nikmat.


Tanpa Sarah sadari wajah suaminya memerah dan bibirnya juga terasa terbakar. Namun Hardi tetap memakan Mie nya, karena memang sangat enak dan menghargai masakan istrinya.


Tak berapa lama mereka pun selesai, Sarah mencuci mangkuk dan gelas yang tadi mereka pakai. Hardi langsung minum air teh manisnya sekali teguk karena kepedasan lalu mengambil segelas air putih untuk mengurangi rasa terbakar di bibirnya.


Setelah itu, Hardi berjalan ke arah Sarah yang sedang mencuci piring dan tiba-tiba Hardi memeluk istrinya dari belakang. Membuat Sarah sedikit terkejut dengan ulah suaminya yang selalu tiba-tiba.

__ADS_1


"Mas, lepaskan. Saya sedang mencuci piring dulu" pinta Sarah.


"Kau lanjutkan saja, toh aku tak mengganggu tanganmu. Aku hanya ingin memelukmu seperti ini serta mencium wangi aroma tubuhmu." Hardi masih saja memeluknya.


Sarah selesai mencuci semuanya seketika Hardi membalikkan tubuh istrinya lalu mengangkat tubuh istrinya dan mendudukannya di atas meja makan.


"Mas, ngapain sih?" Sarah terkejut.


Tanpa Aba-aba Hardi mencium bibir Sarah, dengan lembut dan perlahan lalu menghentikannya dan tersenyum.


"Bagaimana kalau kita melakukannya di sini?" goda Hardi.


"Tak mau ah, saya malu nanti ada yang melihatnya" tolak Sarah.


"Tak akan ada yang melihatnya, lagian ini tengah malam dan pastinya bi Yuyun juga sudah tidur" Hardi terus mendekatkan tubuhnya hingga membuat Sarah terus terpojok di atas meja.


"Jangan mas, saya tak mau. Lagian disini tidak nyaman" Sarah merona dan merasa terus terpojokan oleh suaminya di atas meja.


"Tidak mas, bagiku tempat yang tertutup itu tempat yang lebih bisa menikmati 'itu', di banding tempat terbuka seperti ini" Sarah pun tambah merona dengan perkataan nya sendiri.


"Benarkah? apa malam ini kau ingin melakukannya?" seringai Hardi terus menggoda istrinya.


"Itu... itu... Ah jangan buat saya malu mas" Sarah menutup wajahnya yang memerah.


Hardi tersenyum senang telah mengerjai istrinya lalu ia menjauhkan tubuhnya dari tubuh istrinya. Karena memang ia tak ada niatan untuk menggauli istrinya disana.


"Sini, kita jalan-jalan sebentar keliling sekitaran rumah saja agar tubuh mencerna makanan yang kita makan tadi" Hardi mengulurkan tangannya ke arah Sarah.


Sarah pun menatapnya, lalu ia turun dari meja di bantu oleh Hardi. Sarah pun segera merangkul lengan suaminya itu dengan senang.


Sarah dan Hardi pun keluar dari rumahnya untuk berjalan sebentar menghirup udara malam sekitar rumahnya. Bergandengan tangan layaknya remaja yang sedang kasmaran.


"Kau senang sekarang?" tanya Hardi.

__ADS_1


"Saya sangat senang, apalagi bisa berjalan-jalan sebentar dengan mas" balas Sarah.


"Apa kau bahagia menikah denganku?" tanya Hardi.


"Awalnya saya merasa ini adalah sebuah kesalahan yang merusak hidup saya, karena jalan untuk menujunya itu adalah sebuah kecelakaan yang membuatku sangat terguncang. Namun seiring berjalannya waktu dan mas sudah mulai membuka hati untukku hingga membuatku luluh juga. Perhatianmu itu yang membuatku tak bisa mengelak lagi." Jelas Sarah panjang lebar.


"Benarkah! Lalu sejak kapan kau mencintaiku?" Hardi penasaran menunggu jawaban Sarah.


"mmmmm.. Tak tau" balas Sarah tersenyum.


"Masa tak tau sih, ah kau ini bikin aku gemas saja" Hardi mencubit lembut pipi istrinya.


"Yah memang tak tau mas, Sejak kapan aku mencintaimu, rasa itu tumbuh begitu saja" balas Sarah.


Setelah kembali di depan rumah mereka, tiba-tiba Hardi mengangkat istrinya dengan kedua tangannya, Sarah pun refleks mengalungkan tangannya di tengkuk suaminya karena takut terjatuh.


"Aku sudah tak tahan, aku ingin melahapmu" Hardi setengah berlari masuk kedalam rumah lalu menuju kamar tamu yang mereka gunakan.


"Masa tak capek mas! kita sudah berjalan-jalan cukup jauh" ujar Sarah.


"Kalau sudah bersamamu rasa penatku akan hilang" balas Hardi sambil membaringkan tubuh istrinya lalu mengunci pintu kamarnya


"Kau siap?" tanya Hardi dan Sarah pun hanya menjawabnya dengan anggukan dan senyuman manisnya.


Lagi-lagi mereka akan melakukan kegiatan sebagai suami istri kembali. Tidak tahu kenapa? Hardi selalu meminta haknya pada Sarah. Menurutnya Sarah membuatnya selalu ingin mencurahkan kasih sayangnya secara langsung dan terus menerus. Sarah itu seperti candu baginya, tak ingin jauh ingin selalu merasakannya. Sebenarnya ia tak pernah berpikir akan jadi seperti ini, ia sungguh tak ingin lepas dari Sarah. Jika ada kesempatan ia akan selalu mencurahkan keinginan dan isi hatinya nya.


Rasa tertariknya dan rasa cintanya kepada Sarah lebih dari apapun termasuk pekerjaannya yang dulu selalu ia utamakan. Hardi Malik, lelaki yang dulunya sangat gila kerja sekarang ia menjadi gila karena Cinta.


Bersambung.....


Jangan lupa like dan Vote yah untuk mendukung Author dan Jika ada kritik dan saran bisa di tulis di kolom komentar...


Terimakasih 😊

__ADS_1


__ADS_2