
Sebulan pun berlalu, sekarang Sarah sudah hamil 8 bulan dan Hardi semakin siaga juga tambah perhatian dengan Sarah. Hari ini mereka hendak pergi ke mall untuk membeli perlengkapan bayi, Sarah, Hardi dan Cilla berangkat pada siang hari untuk sekalian makan siang, tak lupa Lia pun di ajak untuk menjaga Cilla sekalian untuk membantu beberapa barang nantinya.
Mereka berkeliling mall mencari beberapa perlengkapan seperti, pakaian bayi, sepatu, selimut dan lain-lain. Waktu sudah menunjukkan pukul 1 siang, perut mereka mulai keroncongan dan mereka pun menuju Outlet makanan cepat saji yang ada di mall itu. Dari kejauhan Sarah melihat seperti ada orang yang di kenalnya, dia memfokuskan pandangannya untuk lebih jelas apakah yang dilihatnya benar-benar orang yang ia kenal. Setelah cukup dekat dan duduk di tempat makannya sementara Hardi memesan makanannya, ternyata benar itu Devan sedang makan dengan seseorang yang memang hari ini adalah hari libur.
" Mas, itu Devan kan!" ujar Sarah.
" Mana? eh iya, dia makan dengan siapa yah? baru kali ini aku melihat dia jalan sama perempuan." ucap Hardi karena hanya melihat perempuan yang bersama Devan itu dari belakang.
Hardi memanggil Devan setengah berteriak, sehingga Devan menoleh begitupun wanita itu ikut menoleh ke arah Hardi. Betapa terkejutnya Hardi ketika melihat wajah wanita yang bersama Devan itu yang ternyata adalah Larisa, wanita yang dulu terobsesi kepadanya dan pernah menjebaknya. Begitupun Larisa wajahnya terlihat terkejut dan mencoba memalingkan wajahnya untuk menyembunyikannya namun sia-sia saja.
Devan yang tidak tahu apa-apa malah mengajak Larisa untuk duduk bersama dengan Hardi dan keluarganya, Larisa pun mau tak mau mengikuti Devan yang terus menarik tangannya. Devan tersenyum akrab dengan Hardi dan yang lainnya begitupun Sarah menyambut keduanya dengan ramah sementara Hardi malah menatap tajam ke arah Larisa dengan tatapan tidak suka. Larisa yang di tatap seperti itu merasa kikuk dan tak nyaman namun dia mencoba senyum walau terlihat di paksakan.
" Oh iya perkenalkan ini Larisa, dia teman kuliahku dulu walau tak satu jurusan tapi kita cukup dekat." ujar Devan.
" Temen apa temen nih." goda Sarah.
" Salam kenal, nama saya Larisa Rahman." ucap Larisa gugup.
" Sepertinya kita pernah bertemu yah, dimana yah! aku sedikit lupa." sindir Hardi pada Larisa.
" Apa? oh... itu... bisa saja kita pernah bertemu, soalnya kan ... perusahaan papah saya dengan MK Company saling bekerjasama bahkan sampai sekarang, mu..mungkin saja kita pernah berpapasan." balas Larisa gugup di tambah tatapan Hardi yang tajam.
" Oh iya saya baru ingat, dulu kita kan pernah akan di jodohkan oleh pak Rahman dan aku menolaknya waktu itu, sampai kau berbuat hal untuk menje......." perkataan Hardi terputus karena Larisa memotong perkataannya.
" Oh iya, bena. Aku pernah di kenalkan pada pak Hardi oleh papah saya." ucap Larisa kikuk.
Melihat keadaan yang cukup canggung, Devan pun mencoba mencairkan suasana agar terlihat akrab kembali. Walaupun begitu rasa kikuk yang di rasakan Larisa masih saja tak terelakkan apalagi Hardi terus saja melirik sinis ke arah Larisa ketika di tengah-tengah perbincangan mereka.
Lalu Devan ijin untuk ke toilet dan tak lama Hardi pun menyusulnya.
__ADS_1
" Kau sejak kapan dekat dengan Larisa?" tanya Hardi ketika di toilet bersama Devan.
" Oh itu, aku sudah kenal sejak pertengahan semester mas, sebenarnya ada teman yang mengenalkan dia padaku saat itu, dan mulai dekat sampai sekarang. Aku juga memang batu bertemu lagi dengannya seminggu yang lalu ketika dia mengantar ayahnya cekup." jelas Devan.
" Memangnya kenapa mas?" tanya Devan.
" Gak, gak apa-apa hanya ingin tahu saja. Apa kau menyukainya?" tanya Hardi.
" Hehehe mas ingin tahu aja urusan orang, nanti kalau ada perkembangan aku kasih tahu." balas Devan lalu keluar toilet dengan tersenyum dan Hardi pun keluar toilet bersama Devan.
Devan dan Hardi duduk kembali, Hardi tambah sebal sekaligus penasaran dengan hubungan adiknya dan Larisa, semoga bukan hubungan sebagai sepasang kekasih. Melihat wajah Hardi yang dari tadi tidak tersenyum malah terus memasang wajah kecut membuat Sarah ingin bertanya pada suaminya.
" Mas, ada masalah apa? dari tadi serius sekali." tanya Sarah setengah berbisik.
" Tak ada apa-apa sayang." elak Hardi.
____________
" Van, bagaimana dengan keadaan pak Wahyu, apa mulai ada perkembangan?" tanya Hardi.
" Selama ini sih masih sama aja mas, hanya bisa berbaring tanpa ada respon gerakan sedikitpun. Namun sepertinya beliau masih bisa mendengar percakapan kita, soalnya di sudut matanya selalu keluar air mata ketika Sarah ataupun bu Rahma mencoba berbicara padanya. Kita harus mendukungnya semoga dengan terus mengajaknya bicara, dia bisa merespon lebih daripada ini." jelas Devan.
" Kau tangani beliau dengan baik dan ajak dokter-dokter yang ahli untuk merawat beliau, mas akan tanggung semua biayanya." pinta Hardi.
" Van, mas ingin bertanya tentang hubunganmu dengan Larisa, mas tidak ingin kau kecewa dengannya. Sejujurnya mas ada masalah dengannya dulu, yang membuat mas sangat membencinya." ujar Hardi.
" Masalah? kenapa mas?" tanya Devan terkejut.
" Kau tak perlu tahu karena itu masa lalu tapi mas perlu tahu hubungan kalian." ucap Hardi.
__ADS_1
" Untuk sekarang ini kami hanya sebatas teman dekat saja mas, namun aku mulai suka kepadanya saat kami kembali bertemu di sini. Tapi aku belum mengungkapkan perasaanku kepadanya, ini juga masih sekedar rasa suka belum pasti aku mencintainya, makanya aku akan meyakinkan perasaanku terlebih dahulu sebelum benar-benar menyatakannya kepadanya." jelas Devan.
" Kau yakinkan dulu perasaanmu dan kau harus mencari tahu terlebih dahulu watak asli dari Larisa, mas tak ingin kau menyesal nantinya." Saran Hardi.
Walaupun sedikit bingung dengan perkataan Hardi tapi Devan akan mengikuti saran dari kakaknya tersebut, tidak ada salahnya memang jika menyangkut dirinya dan masa depannya nanti dalam memilih pasangan hidup.
_______
" Sayang, sedang apa? perutnya di elus-elus seperti itu." tanya Hardi ketika melihat Sarah mengelus perutnya sambil tersenyum.
" Ini loh mas, bayi-bayi kita sedang aktif menendang-nendang perutku. Mas coba ikut mengelusnya pasti merasakan pergerakan mereka." balas Sarah.
Hardi pun mengelus perut istrinya dan dia sangat takjub dengan respon yang diterimanya, pergerakan bayi-bayi dalam perut Sarah sangat terasa di telapak tangannya, membuatnya sangat bahagia dengan ini.
" Sayang bagaimana kalau kita ke dokter lagi untuk periksa jenis kelamin mereka, mas sangat penasaran sekali." ajak Hardi.
" Nanti saja mas, biarkan menjadi kejutan untuk kita jenis jelamin mereka, aku sih inginnya menebak-nebak gitu mas." jawab Sarah.
" Tapi sayang, mas penasaran sekali dengan jenis kelamin mereka." ucap Hardi.
" Kita kan membeli perlengkapan bayi yang warna dan modelnya netral mas, buatkan kehadiran mereka menjadi kejutan untuk kita. Lagi pula tinggal sebulan lagi kan mereka akan hadir" ujar Sarah.
" Yasudah kalau itu maumu, biar mas suruh Devan kesini untuk memeriksa kesehatanmu saja. Kata dokter biar lahirannya lancar harus sering berhubungan kan." ucap Hardi dengan senyuman nakalnya.
" Apaan sih! ngeri ih lihat senyuman aneh mas. Awas jangan macam-macam, ini tangan ngapain lagi malah pegang-pegang ke atas." ujar Sarah ketika tangan Hardi beralih dari perut Sarah ke dada Sarah.
Hardi malah terus menggoda istrinya, dia senang sekali jika melihat istrinya yang tersipu malu karena ulahnya yang nakal. Melihat reaksi Sarah yang kegelian karena ulahnya, Hardi malah tersenyum senang telah berhasil menjahili istri tercintanya yang berusaha menghindarinya namun sulit bergerak karena dalam keadaan hamil.
Penasaran dengan jenis kelamin anak mereka?
__ADS_1
terus nantikan up Author selanjutnya....
Bersambung....