
Sarah mengajak Hardi untuk berbicara, ada hal penting yang ingin Sarah bicarakan dengan Hardi dan Hardi pun setuju. Mereka menuju ke taman belakang sambil menikmati udara sejuk duduk di kursi di bawah pohon yang rindang. Hardi memegang secangkir kopi di tangannya yang sesekali ia minum perlahan. Sarah sudah duduk berhadapan dengan tangan ia letakkan di atas meja bundar disana.
" Mas, sebenarnya Cilla meminta aku untuk memberitahumu jika dia sedang dekat dengan seorang pria....."
" Apa? Siapa?" ujar Hardi meletakkan gelas di tangannya ke atas meja.
" Sebentar mas, aku belum selesai bicara. Cilla berkenalan dengannya saat di cafe sebulan lalu, pria tersebut baru-baru ini menyatakan rasa sukanya kepada Cilla...."
" Terus apa Cilla menerimanya? bagaimana dengan latar belakang dia?" ujar Hardi terlihat tak suka.
" Tolong jangan potong pembicaraan aku dulu mas! Cilla juga masih bingung dengan perasaannya namun sepertinya hari ini Cilla ingin menjawab pertanyaan cinta pria itu. Aku belum tahu semuanya tentang pria itu namun aku percaya Cilla jika dia bisa memilah mana yang baik dan mana yang tidak. Lagipula dia sudah beranjak dewasa dan sebentar lagi juga akan melepas seragam sekolahnya menjadi mahasiswa. Aku harap mas gak terlalu mengekang dia untuk dekat dengan pria namun kita juga harus mengawasi agar tak terjadi hal yang di inginkan."
" Ok, aku tak akan terlalu ikut campur atau terlalu mengekangnya tapi aku akan selidiki dulu latar belakang pria tersebut."
" Apa kamu tahu nama atau alamat pria yang dekat dengan Cilla?"
" Aku tak begitu tahu, mas."
" Yasudah, mudah bagiku menemukan identitasnya." tegas Hardi.
Sarah merasa lega namun dia juga merasa khawatir walaupun Hardi tak begitu marah namun terlihat di wajahnya rasa tidak suka atau rasa ingin melindungi putri kesayangannya. Sarah beranjak dari duduknya untuk masuk kedalam rumah sementara Hardi masih banyak pikiran dalam kepalanya. Hardi lalu menghubungi Rio untuk memberikan perintah kepadanya.
Hardi : ' Halo Rio! Bisa kamu cari tahu orang yang sedang dekat dengan Cilla, kamu awasi Cilla dan laporkan semuanya kepadaku."
Rio : ' Baik pak.'
' Aku tak akan langsung menyetujui atau menolaknya, aku harus cari tahu semuanya terlebih dahulu, aku akan melindungi putriku sampai kapanpun.'
___________
Di tempat lain, Cilla dan Adrian sedang duduk di pinggir pantai, Adrian gelisah harap-harap cemas akan jawaban apa yang akan Cilla ucapkan. Adrian meremas-remas tangannya karena terlalu gugup begitupun Cilla yang tampak gelisah susah mengungkapkan perasaannya dan bahkan untuk memulai obrolan pun enggan.
"Cilla! Adrian!" mereka berbicara serentak lalu kembali terdiam.
" Aku! Aku!" lagi-lagi mereka bicara bersamaan.
" Yasudah kamu duluan saja yang bilang." ujar Adrian.
" Tidak, kamu saja bicara terlebih dahulu."
Adrian memegang kedua tangan Cilla, " Ok, aku mulai yah. Baik... eemmn... itu... Cilla... aku akan mengungkapkan perasaanku sekali lagi, aku memang bukan pria yang romantis yang menyatakan cinta dengan sebuket bunga ataupun memberikan sebuah cincin namun aku hanya membawa perasaan tulus dari lubuk hatiku yang paling dalam, aku... aku sangat menyukaimu, aku sangat mencintaimu saat pertama kita bertemu. Aku ingin bersamamu dan menginginkan kau menjadi pendampingku." Adrian mengecup punggung tangan Cilla dengan lembut.
" Emm.. itu..." Cilla pun mengangguk dan tersenyum malu pertanda bahwa ia menerima cinta Adrian lalu Adrian langsung memeluknya dengan sangat bahagia. Setelah cukup lama berpelukan Adrian dan Cilla saling pandang, dengan senyum malu secara perlahan wajah mereka semakin mendekat dan semakin mendekat hingga bibir mereka saling bertemu, begitu hangat dan begitu lembut terasa. Dengan landscape sunset yang terlihat indah menambah keromantisan mereka. Cukup lama mereka berciuman walau untuk Cilla ini ciuman pertamanya namun terasa hangat dan manis. Wajah mereka menjauh, terpancar wajah malu keduanya yang merona, mereka merasakan getaran cinta yang teramat dalam dan kembali berpelukan sambil memandangi keindahan pantai di sore hari.
Cilla dan Adrian berjalan menyusuri pantai dengan saling bergandengan tangan, senyum selalu menghias bibir keduanya. Rasa bahagia sungguh terpancar dari keduanya, hingga langit mulai gelap. Adrian mengantarkan Cilla pulang dengan menggunakan motor sports merah favoritnya, Cilla memeluk erat pinggang Adrian dari belakang selama dalam perjalanan. Walaupun Adrian sengaja memperlambat laju motornya namun tetap saja terlalu cepat sampai rumah Cilla. Cilla turun dari motornya namun tangannya malah di genggam oleh Adrian hingga Cilla tak bisa pergi masuk ke gerbang rumahnya.
" Adrian! kita kan sudah sampai rumahku, sudah malam juga jadi aku harus masuk."
" Tapi aku masih ingin bersamamu."
" Aku kan belum memberitahu ayah soal hubungan kita jadi lepasin tangan aku, besok kita bertemu lagi."
Lalu datang mobil dari belakang dan menyalakan klakson secara mendadak membuat Cilla dan Adrian terkejut lalu menoleh ke arah mobil tersebut. Cilla segera menarik tangannya untuk lepas dari genggaman Adria dan Cilla terlihat seperti ketakutan.
" Cilla! Kenapa?" tanya Adrian tak mengerti.
" Itu... itu... mobil ayahku." balas Cilla setengah berbisik.
Hardi keluar dari mobilnya dengan tampang yang memperlihatkan rasa tidak suka, lalu memegang tangan Cilla.
__ADS_1
" Cilla! masuk kedalam mobil dan kau tolong pergi dari rumah saya." tegas Hardi dengan mata sedikit melotot.
Dengan sedikit takut Adrian beranjak pergi dengan motornya yang sebelumnya sudah berpamitan terlebih dahulu kepada Hardi. Hardi kembali masuk kedalam mobilnya dan duduk di sebelah Cilla namun hanya diam tak berkata apa-apa dengan alis yang mengkerut. Cilla pun hanya bisa diam dengan kepala yang menunduk tak berani melihat wajah ayahnya.
______
Sesampainya di rumah, Adrian sangat bahagia, senyuman terus menghiasi bibirnya. Ia memandangi langit-langit kamarnya membayangkan kecantikan wajah Cilla namun tiba-tiba wajah itu berubah menjadi wajah Hardi yang bengis hingga membuat Adrian bergidik ngeri.
' Aku sudah mendapatkan cinta orang yang sangat aku harapkan tapi ada saja rintangannya apalagi ini soal ayahnya. Ya Tuhan... bagaimana cara aku meluluhkan hati ayahnya yah! Akkkhhzz ... aku bingung.' Adrian mengacak rambutnya saking frustasinya memikirkan hal itu.
Tiba-tiba terdengar ponsel Adrian berbunyi dan terlihat nama Adikku di ponselnya.
Adrian : ' Halo bro! jadi loe mau ke Indonesia.'
A : ' Jadi Bang, gue kan udah lulus dan gue berencana ikut loe aja mumpung masih libur setelah ujian akhir dan masih cari-cari universitas buat aku nanti kuliah.'
Adrian : ' Loe mau kuliah di Australia atau di Indonesia.'
A : ' Entahlah bang, ntar aku ngomong orangtua dulu.'
Adrian : ' Yaudah, selama luang dan di Indonesia, loe di rumah abang aja.'
A : 'OK bang, thanks!'
___________
Rio datang ke ruangan Hardi lalu memberikan sebuah berkas kepada Hardi dan terlihat itu semua informasi yang Hardi minta tentang Adrian.
" Namanya Adrian Kusuma Dinata, dia adalah karyawan di perusahaan ini. Silahkan pak Hardi baca yang lengkap di berkasnya."
" OK Rio, kerjamu bagus."
Rio keluar dari ruangan Hardi sementara Hardi mulai membaca informasi tentang Adrian yang ia dapatkan dari Rio. ' Adrian Kusuma Dinata, anak pertama dari 2 bersaudara, seluruh keluarganya pindah ke Australia setahun yang lalu, kecuali dia yang memutuskan untuk tetap di Indonesia dan melanjutkan karirnya yang telah ia rintis selama 3 tahun. Jabatan manager marketing yang baru dia dapatkan setahun terakhir di perusahaan MK company, orang yang cakap, pintar dan kinerjanya bagus sehingga cepat mendapatkan posisi penting di perusahaan. Lahir di kota Y, 25 tahun lalu, sekarang hidup sendiri di sebuah apartemen elite. bla bla bla bla......'
' Aku harus mengamatinya secara langsung, karena data saja belum cukup untukku, aku juga tak ingin Cilla pacaran di umurnya yang masih terlalu muda. Aku harus lebih melindunginya.' pikir Hardi.
Hardi menghubungi Rio untuk menyiapkan 2 orang bodyguard untuk melindungi Cilla, agar saat Cilla berkuliah nanti ada yang melaporkan segala yang Cilla alami pada Hardi.
________
Cilla mendaftarkan diri ke perguruan tinggi di dekat rumahnya, Cilla lulus dengan nilai hampir sempurna dan itu membuatnya dengan mudah masuk ke universitas itu yang dinilai sangat di favoritkan banyak lulusan SMA.
" Kapan kuliah di mulai?" tanya Hardi ketika mereka semua sedang makan malam.
" Belum tahu ayah, biasanya sih awal tahun baru mulai."
" Ada yang ingin kamu katakan! Sepertinya dari tadi kamu menatap ayah terus?"
" Oh... itu..." Cilla ragu dia hanya bisa bergumam tak jelas.
" Begini loh mas, Cilla sedang dekat dengan seseorang......" sebelum selesai Sarah menjelaskan Hardi lalu memotong pembicaraannya.
" Cukup! aku sudah tahu tentang pria itu, dia termasuk karyawan perusahaan kita." ujar Harfi.
" Apa?" Cilla terkejut karena dia baru tahu dari ayahnya.
" Kamu benar-benar tidak tahu? Dia orang yang kompeten di bidangnya dan dia sekarang dekat denganmu, sekalian saja ayah ingin tahu semuanya tentang dia. Kamu undang dia ke rumah besok siang, ayah ingin mengenalnya secara langsung."
" Baik ayah." Cilla tidak bisa membantah.
__ADS_1
Setelah dikamar Cilla menghubungi Adrian untuk memberitahu jika Adrian di undang makan siang oleh ayahnya, Adrian terkejut mendengarnya dan Cilla menjelaskan jika Ayahnya sudah mencari tahu informasi tentang dirinya sampai tahu jika Adrian bekerja di perusahaannya. Adrian tambah terkejut dengan pernyataan itu, ternyata Cilla adalah anak dari pemilik perusahaan dimana dia bekerja, Adrian jadi tak enak hati. Dia bahkan di undang ke rumah Cilla, dia merasa khawatir mungkin saja dia akan di interogasi layaknya tersangka kejahatan.
Setelah telponnya usai, Adrian menghela nafas panjang, ia benar tidak tahu jika Cilla sekaya itu apalagi ayahnya adalah bos yang belum pernah ia temui selama ini walau dia mengerjakan tugasnya langsung namun melalui perantaraan yaitu Rio. Apa yang harus dia lakukan? Apa yang harus dia katakan? Apa bosnya akan suka padanya atau malah menentangnya?, banyak pertanyaan di dalam pikirannya.
ting toonnggg........
Terdengar suara bell berbunyi, lalu Adrian beranjak untuk membuka pintu.
" Reza!" ucap Adrian ketika melihat orang yang berdiri di depannya.
" Hai Bang! apa kabar?" ucap Reza lalu memeluk kakaknya.
" Hei... Loe bilang bakalan kesini akhir pekan, kok sekarang udah nyampe?" tanya Reza.
" Lah... apa gue gak di suruh masuk dulu nih."
" Iya sorry, ayo masuk." Adrian membantu membawakan koper adiknya masuk ke dalam rumah, keduanya pun duduk di sofa dengan nyaman.
" Waahhh.... apartemen loe luas juga yah, abang gue memang dari dulu suka bersih-bersih jafi terawat gini." ujar Reza sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling apartemen.
" Iya, gue kan gak suka berantakan. Oh loe belum jawab pertanyaan gue yang tadi."
" Yah gue sebenernya kabur dari nyokap bokap tahu, soalnya mereka nyuruh gue tetap kuliah di sana tapi gue pikir-pikir dulu, setelah datang ke sini kayaknya gue mending kuliah di Indonesia aja."
" Oh Yasudah kalau loe udah mutusin kuliah di sini, terus udah tahu milih kampusnya yang mana?"
" Udah, kayaknya gue akan ke universitas x yang unggulan dan populer itu bang, soalnya gue pengen banget masuk sekolah hukum."
" Ok, gue cuma bisa dukung dan bantu-bantu biayain kuliah loe. Nanti gue juga akan bilang ke orangtua kita kalau loe bakalan kuliah di Indonesia."
" Makasih banget bang, loe memang abang gue yang baik." Reza mengecup berkali-kali pipi abangnya.
" Apaan sih loe? risih gue dengan kebiasaan loe, ntar kita di kira apa-apa lagi." Adrian mendorong Reza menjauh.
" Habis gue seneng banget, gue sayang sama loe bang."
" Bawa kopernya kecil banget, apa gak kurang bajunya pasti sedikit?"
" Namanya kabur jadi gak bawa barang banyak, lah ukuran kita sama kan, aku bisa pakai baju loe, bang."
" Enak aja, ntar baju gue bau lagi hahhaa"
" Sialan loe, yah ntar gue nyicil beli, lagian gak masalah pakai baju seadanya, toh gak bakalan ada yang larang."
" Yaudah, loe mandi aja dulu biar enakan terus istirahat." ucap Adrian lalu membuka lemarinya untuk memilah milih pakaian.
" Loe kenapa bang? kayaknya milih baju aja pusing banget."
" Ini gue lagi cari yang pas untuk ketemu camer, gue bingung aja kesan pertama kan harus baik nanti di cancel jadi mantu."
" Emang loe udah punya pacar? sejak kapan? Loe kan selama ini jomblo dari lahir hahaha."
" Lah sekarang gue udah pecah telor, udah punya pacar cantik dan anaknya bos abang."
" Yang benar? Hebat loe dapat orang tajir, ok aku dukung semoga bisa sampai ke pelaminan."
" Sip, Yasudah sana mandi." Adrian melempar handuk ke arah Reza, lalu ia tangkap.
Adrian terus mencari baju yang akan ia kenakan akhir pekan nanti setelah cukup menimbang-nimbang dan memilah milih akhirnya dia memilih celana Chino hitam dengan kemeja polos warna navi. Adrian merasa itu saja cukup rapi dan sopan untuk bertemu dengan keluarga Cilla nanti. Dia sangat senang telah mendapatkan wanita idamannya selama ini dan berpikir untuk melangkah lebih jauh lagi ke arah yang lebih serius, ia tidak mau mempermainkan perempuan yang sudah dengan susah payah ia dapatkan sehingga ia harus bisa mengambil hati keluarga Cilla dengan tulus tanpa di buat-buat atau di paksakan.
__ADS_1
Bersambung.....
Jangan lupa untuk selalu dukung Author dengan cara memberi Hadiah, Like Vote dan komen .... terimakasih ☺️